Selasa, 14 Maret 2017

Disruptive Boomerang: Taxi Online, Inovasi yang Menjegal Sang Inovator


pic: kompasiana
Di tengah nikmatnya kemudahan dan murahnya taxi onlen, tiba-tiba kita dikejutkan berita demo besar sopir transportasi umum (khususnya taxi) di beberapa kota besar. Mereka menolak kehadiran taxi online yang dianggap menyusahkan "wong cilik" dan pengelola transportasi tradisional. Pemerintah didesak untuk membatasi kehadiran taxi online. Dan sampai saat ini keresahan itu masih terjadi. Apakah ini bukti dari ketidaksiapan kita menerima teknologi baru? Apakah ini merupakan ini manifestasi dari ketakutan dalam diri mereka yang tersisihkan? Apakah ini gerakan kaum kapitalis dengan dalih kesejahteraan wong cilik?

Mulanya, saya menilai first mover Go-Jek di Indonesia sebagai bentuk disruptive innovation. Perusahaan new entrant yang begitu saja nyelonong mematahkan pola permainan industri tradisional dan menjadi pemimpin permainan baru dengan model bisnis yang lebih canggih. Disusul Uber, Grab, dan banyak startup serupa lain. Jutaan user telah mengunduh aplikasi transportasi online karena memang value yang ditawarkan memang lebih sesuai dengan kebutuhan market, kemudahan, kecepatan, dan murah. Mereka adalah produk-produk layanan yang telah tervalidasi dengan metode lean startup mendekati sempurna. Nyatanya, taxi online mendapat tekanan besar dari masyarakat Indonesia, tekanan yang dimediasi oleh kekuatan politik. Dan nampaknya, disruptive innovation taxi online sekarang menjadi bumerang bagi para inovatornya atau saya sebut Disruptive Boomerang.

Mengapa baru sekarang demo?
Sudah barang biasa ketika sebuah inovasi pada mulanya diapresiasi hingga inovasi tersebut menjadi faktor disruptor. Sekarang, siapakah yang sebenarnya terusik? Pengemudi taxi? Atau pengelola dan pemilik bisnis taxi? Tentu Anda sudah mengetahui siapa dalang dibalik narasi drama besar ini? Jelas, semua berujung pada uang. Ketakutan kehilangan pangsa pasar, ketakutan kehilangan pelanggan, bahkan ketakutan kehilangan investor. Itulah hipotesis saya. 

Lalu apakah disruptive innovation hanya mitos?
Mungkin benar, mungkin tidak. Di berbagai perusahaan besar saat ini sedang heboh dengan istilah ini, bahkan berlomba-lomba menjadi disruptor dengan kekuatan inovasinya. Disruptive innovation memiliki asumsi dasar yang sering diabaikan, yaitu kondisi masyarakat. Disruption tidak serta merta dapat diimplementasikan di setiap daerah. Memang benar di Amrik sono, disruptive innovation seperti Google, facebook, dan iPhone dapat berjalan dengan lancar jaya. Mengapa? Karena struktur dan mindset masyarakatnya sudah sekian langkah lebih maju. Kehidupan ekonomi mereka rata-rata sudah lebih baik, mereka tidak lagi menjadi budak materi, mereka mencari sesuatu yang lain, yang melampaui bisnis adalah uang saja. Sedangkan sebagian besar masyarakat kita masih hidup dalam ekonomi yang sederhana mengingat sebagian besar kekayaan negara kita masih dikuasai segelintir orang saja. Tentu hadirnya disruptive inovation yang mengusik aspek UUD akan menjadi polemik dan konflik besar. Lalu bagaimana dengan Alibaba yang muncul di Cina? 

Alibaba muncul dengan visi mulia, membantu pengusaha kecil untuk memasarkan produknya secara internasional. Alibaba muncul sebagai pahlawan ekonomi masyarakat dan jelas ini akan mendapat dukungan hebat dari wong cilik. Sebaliknya, fenomena taxi online dinilai sebaliknya, mereka memakan "jatah" lapangan kerja masyarakat. Lepas sebenarnya ini adalah jatah wong cilik atau kaum kapitalis di balik layar, pastinya industri transportasi kita secara mental dan moral belum siap menerima disruptive innovation. Menjadi tantangan bagi kita semua, bagaimana menyadarkan pentingnya inovasi dan survival. Secara pribadi, sebagai dosen saya juga harus bertanggungjawab untuk menginspirasi orang lain tentang pentingnya inovasi dan survival, agar tidak mudah terkejut atas perubahan tiba-tiba, dilema, apalagi mengaksikan demo drama untuk mendapat belas kasihan. Dan saya bersyukur, sejak tahun lalu, saya bersama tim kurikulum telah sepakat membuka peminatan innovation accounting pada jenjang pendidikan magister akuntansi di tempat saya mengabdi, Universitas Surabaya. 

Mengakhiri, sekali lagi disruptive innovation itu bersyarat. Struktur dan mindset masyarakat sangat menentukan keberhasilan implementasi disruptive innovation!


Semoga bermanfaat!

Minggu, 05 Maret 2017

Dunia Pendidikan yang Sedang Terdisrupsi dan Perlahan Mati-1

pic:marketingmag
"Kemajuan teknologi pembelajaran yang makin hebat berbanding terbalik dengan pertumbuhan dan kemampuan survival sekolah-sekolah. Artinya, di masa depan, akan banyak sekolah-sekolah yang akan mengalami kemerosotan, penurunan jumlah murid potensial hingga kondisi terburuk, tutup. Saat itu, sekolah bukan lagi satu-satunya pilihan orang tua agar anaknya sukses di masa depan."

Suatu ketika saya bertanya kepada peserta seminar yang sebagian besar adalah pendidik, "Siapa pesaing sekolah Anda?" Berbagai merk sekolah nasional disebutkan. Jawaban yang wajar bahwa logikanya pesaing sekolah adalah sekolah lain. Ini adalah paradigma pemikir industrial yang cenderung linear. Pengusaha kuliner bersaing dengan pengusaha kuliner lain, pabrik mobil bersaing dengan pabrik mobil lain. Perspektif industrial berkembang sejak era tahun 70 hingga 90an dengan segudang asumsi klasik yang mendasarinya. Jika Anda termasuk pemikir demikian, cubit keras pipi Anda dan bangun! Ini sudah tahun 2017. 

Rita McGrath di dalam buku kritis, The End of Competitive Advantage memaparkan saat ini kita tidak lagi hidup dalam era industri, dimana persaingan bisnis bersifat linier. Kita sedang hidup dalam era arena. Era Arena ditandai dengan peta persaingan yang tidak lagi linier, namun lebih bersifat nonlinier. Contohnya, jasa travel darat sedang bersaing dengan jasa penerbangan. Starbucks bisa menjadi pesaing penyedia layanan virtual office. Kalangan tertentu lebih memilih bertemu dengan partner kerja atau klien di cafe ketimbang harus bayar biaya tetap periodik untuk sewa tempat. Mereka cukup membeli segelas kopi dan berlama-lama di sana dengan suasana lebih cozy dan berkelas. Penjual tiket-tiket konser musisi ternama bisa sedang bersaing dengan channel-channel Youtube yang serba gratis. Era arena memungkinkan jago karate bertarung melawan jago pencak silat, tinju, atau sumo, layaknya UFC.

Dalam perspektif arena, siapa pesaing sekolah?
Salah satunya, kursus online. Jutaan tawaran kursus online bisa kita temukan di internet, dari lembaga newbie hingga kelas dunia seperti Harvard telah menyediakan online learning, jasa seminar dan workshop online. Kita tidak perlu ke luar negeri untuk mencari ilmu, segalanya dapat dilakukan dari rumah. Bahkan sertifikat digital dapat dikirimkan via email. 

Pesaing besar yang paling diwaspadai adalah Google! Google menyediakan pintu menuju ilmu tak terbatas. Hanya dengan mengetik kata kunci, kita dapat berpetualang mencari pengetahuan apapun. Pikirkan saja, seberapa hebat pengetahuan seorang guru atau dosen dibanding mbah Google? Sangat jelas, ketika sekolah hanya menjadi tempat transfer ilmu, pada saatnya nanti akan ditinggalkan. Untuk mencari jawaban pertanyaan guru dan menyelesaikan tugas sekolah, cukup googling saja. Jika demikian, apa yang menjadi dasar kuat pasar akan memilih belajar di lembaga pendidikan tradisional beberapa puluh tahun nanti? Ijazah? Mungkin ya, mungkin tidak lagi. 

Sejalan hipotesis tersebut, tren Generasi Y dan mendatang menunjukkan makin besar harapan mereka untuk memiliki bisnis sendiri, dan tidak lagi tergantung pada ijazah. Kauffman Foundation mengungkap 46% dari mereka ingin jadi pengusaha. Dari survey yang dilakukan Careerplug, ditemukan pula bahwa 63% dari karyawan generasi Y bekerja sambil menjalankan usaha sampingannya. Pertanyaan yang sama, masihkah suatu saat nanti sekolah masih menjadi satu-satunya jalan yang dipilih oleh generasi masa depan? 

Sekolah tradisional akan terdisrupsi oleh teknologi, satu-persatu akan tergerus dari arena. Sekarang kita mengenal internet dan Google sebagai media disruptor terbesar. 10, 20, 30 tahun lagi jelas akan muncul para disruptor yang jauh lebih powerfull. Tidak ada yang mampu membendung disruptor. Kita hanya bisa berusaha berdamai dengan mereka. 

Apa yang seharusnya dilakukan oleh dunia pendidikan?

(bersambung)