Sabtu, 25 Februari 2017

Tips Menjadi Bahagia

pic: petsittersireland
Di sebuah kelas, saya bertanya, "Apa tujuan Anda sekolah tinggi?"
Seorang murid menjawab, "Agar mendapat pekerjaan yang baik dengan take home pay besar". Saya lanjut bertanya, "Setelah itu?" Murid yang lain menyambung, "Agar bisa nabung untuk menikah." Lalu? "Punya keluarga bahagia".

Mungkin Anda pernah berpikir serupa. Bahwa bersekolah adalah jalan untuk menjadi orang bahagia. Tanpa disadari, mindset demikian dapat terbangun akibat indoktrinasi orang tua sejak masa kanak-kanak. Mindset yang akan memberatkan masa hidup bahwa bahagia adalah tujuan nan jauh di sana, penuh perjuangan dan pengorbanan, bahwa untuk bahagia itu "mahal".

Faktanya, banyak di sekitar kita orang-orang dengan prestasi belajar tinggi dan tidak bahagia, orang-orang dengan jabatan dan gaji tinggi dan hidupnya penuh depresi, juga orang-orang berkeluarga yang akhirnya saling membenci. Mereka tidak lagi merasa bahagia. Bagaimana bisa?

Bahagia adalah pilihan!
Setiap orang dapat memilih kondisinya. Jika mau, saat ini juga Anda bisa bahagia, dan sebaliknya, apapun keadaannya. Bahagia adalah kondisi batin yang dibangun dari dalam diri manusia. Bahagia tidak melulu ditentukan faktor eksternal. Bahagia adalah kemampuan dari dalam diri untuk mengkondisikan lingkungan sekitar atau disebut internal locus of control. Bahagia tidak lagi melekat pada prestasi akademik, jabatan, atau status.

Ciri-ciri orang yang berbahagia adalah selalu berpikir positif dan yang utama, selalu mensyukuri setiap kejadian dan pencapaian. Mereka percaya bahwa apapun yang terjadi, apapun yang diraihnya adalah atas ijin Sang Pencipta, dan oleh karena-Nya, segala sesuatu akan mendatangkan kebaikan.

Sekali lagi, bahagia adalah pilihan dan Andalah yang menentukan pilihan itu.


Semoga bermanfaat!

Sabtu, 04 Februari 2017

Dibalik Skripsi Tuyul Yang Menuai Polemik

Kisah skripsi seputar Akuntansi dan Tuyul telah menjadi berita viral sejak Jumat lalu di sejumlah forum, terutama forum akademis. Membaca judulnya, langsung menghentak hati dan pikiran berbagai khalayak, ada yang pro dan kontra. Ada yang mengapresiasi, ada yang mencibir, mempertanyakan relevansi keilmuannya. Apapun reaksinya, saya yakini bahwa setiap komentar bertujuan baik, dengan warna rasionalisasinya masing-masing. Sebagai pembimbing Febi, pemudi di balik karya tersebut, saya ingin berbagi kisahnya bersama Anda.

Sekitar 6 bulan lalu, seperti kebiasaan awal semester, saya mengumpulkan seluruh mahasiswa bimbingan skripsi. Saya melontarkan pertanyaan, “Apa yang Anda harapkan dari skripsi Anda? Apa nilai yang Anda impikan?” Umumnya, mahasiswa dengan IP tinggi penuh PD menjawab ingin dapat A. Sebaliknya, yang merasa biasa-biasa cenderung konservatif memilih target B, ada pula yang pokoknya lulus. Tiba pada giliran Febi, dengan tegas ia menyatakan, “Saya ingin dapat nilai terbaik (A) dan saya akan lakukan yang terbaik untuk Tuhan”. Saya tertegun dan terdiam sejenak. Kali pertama saya mendapat jawaban demikian. Febi bukan siswi dengan prestasi sempurna, performa di kelas juga biasa saja. Saat itu, saya yakin sekali ia mampu melakukannya.

Proses bimbingan mingguan mulai berjalan. “Topik apa yang cocok buat saya, pak?” tanya Febi pada saya. “Apa yang hati kamu suka, itulah topik yang baik buat kamu, selama kamu bisa jelaskan relevansinya dengan keilmuan akuntansi. Pastikan juga, topik yang diangkat adalah hal yang unik. Jika biasa saja dan semua orang sudah tahu, itu bukan penelitian.”, tegas saya. Ia sempat mengajukan beberapa topik hingga sampai pada topik pertuyulan. Sempat saya sampaikan, “Saya tidak bisa jamin Febi pasti lulus, tapi sacara moral saya akan support kamu”. Saya hanya mencoba memberikan kepercayaan diri yang kuat, mengingat ia bukan anak yang terlalu PD. Saya ingin belajar menghargai dan memahami cara berpikir orang lain, yang tidak selalu sama dengan saya. Saya juga ingin membantunya mengeluarkan potensi terbaiknya.

Dari mana asal idenya?
Saya akan berikan ilustrasi sederhana. Anda pernah minum kopi di Starbucks? Harga pergelas kopi bisa mencapai puluhan ribu rupiah, jauh diatas total biayanya. Starbucks tidak hanya menjual kopi, tapi ada value lain yang ia jual, serta telah menjadi pertimbangan dalam penentuan harga. Starbucks menjual lifestyle. Orang bisa merasa lebih keren dan kekinian jika ngopi sambil meet up bersama klien di Starbucks, daripada warkop depan kampus. Mereka bisa berlama-lama, seolah menyewa tempat. Ada sesuatu yang nampaknya “irasional” dalam penentuan harga, sesuatu yang berkaitan dengan emosi dan kondisi kejiwaan seseorang. Menariknya, bagi penikmat Starbucks, mereka akan merasa worth denga harga tersebut. Mereka memiliki rasionalisasinya. Sebaliknya, orang yang bukan menjadi segmen Starbucks akan berpikir, pengunjung Starbucks itu tidak rasional. Fenomena yang serupa terjadi pada bisnis-bisnis bombastis seperti ikan Louhan atau batu akik, yang mematok harga sangat tinggi dan tetap digandrungi pasarnya.

Apa tujuan riset tersebut?
Hal itulah yang menjadi motivasi Febi untuk mencari bisnis apa yang juga memiliki pola demikian, khususnya yang tidak lekang oleh tren sesaat. Sampailah pada ide untuk mengangkat kasus jual-beli dan sewa Tuyul. Dengan kesederhanaannya, Febi ingin melihat bagaimana aspek irasional berperan di dalam penetapan harga jual Tuyul. Dua dasar teori yang ia gunakan, akuntansi manajemen pada aspek pricing, serta akuntansi keperilakuan. Penelitian ini tidak membahas eksistensi Tuyul dan kepercayaan lain, kebetulan saja ia mengangkat kasus jual-beli dan sewa Tuyul sebagai satu bisnis yang dianggap menarik. Penelitiannya menggunakan pendekatan kualitatif interpretif. Tujuannya bukan untuk generalisasi, namun mengungkap fenomena unik yang eksis di sekitar kita. Penelitian ini murni membahas perilaku penjual (dalam hal ini dukun) di dalam menetapkan harga. Ya, mungkin belum terpublikasinya penelitian ini yang menimbulkan polemik degradasi moral terhadap dunia akuntansi. Memang sudah ada keinginan untuk mempublikasikannya di dalam forum akademis setelah dilakukan beberapa peningkatan konten.

Melewati berbagai masalah dan tantangan, akhirnya Febi berhasil mengemas dengan baik penelitian tentang akuntansi keperilakukan dalam proses pricing tersebut. Tentunya, baik dalam konteks kemampuan atau level kompetensi S1, tidak lebih. Sebuah pelajaran berharga bagi saya, seorang guru sederhana, bahwa setiap anak punya talenta dan potensi. Mereka memiliki masa depan, dan sudah menjadi tugas saya untuk membantunya menemukannya selama dalam koridor keilmuan yang relevan.

Semoga bermanfaat!