Senin, 25 Desember 2017

Mengatasi Masalah Melalui Keajaiban Bernafas

Suatu ketika X mengendarai mobil menuju kantor. Berbegas dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya. Pagi itu ada rapat dewan direksi. Tiba-tiba, mobil mungil dari sisi kanan, sebut saja mobil Y mendahului dan memotong jalur. Tidak terima, X balas mendahului dan memotong jalur menghentikan mobil Y. Keduanya turun. Mulailah adu argumen, saling ngotot, bahkan saling pukul. Kedua mobil berhenti di tengah jalan, semua arah terkait jadi macet dan kacau. Polisi datang, kedua pihak dibawa ke kantor polisi terdekat untuk menyelesaikan masalah. Sampai kantor, sudah terlambat. Rapat sudah dimulai dan bos menyindir keterlambatan X. Ia dipermalukan di depan dewan direksi.

Siapa yang salah? X, Y, polisi, keadaan, bos, direksi, atau Tuhan? Jawaban Anda akan menunjukkan seberapa “sadar diri” atau mindful diri Anda.

Saya teringat salah seorang guru saya, Basuki menceritakan pengalaman sederhana Musashi. Suatu ketika, bersama beberapa kawanan ia memasuki sebuah desa. Tanpa hati-hati, kakinya menginjak sebuah paku yang ujungnya menganga ke atas. Lubang dan berdarah. Alih-alih menyalahkan orang yang menaruh paku sembarangan, Musashi berkata, “Akulah yang salah. Tidak berhati-hati saat melangkah.” Dalam hal ini, Musashi telah mencapai kesadaran diri penuh (true being) atau disebut kondisi mindful.

Kesadaran penuh jarang membawa kita pada masalah berkepanjangan. Sebaliknya, ia akan menghindarkan kita dari konflik “tidak penting”, menghabiskan enerji, konflik-konflik yang sebenarnya hanya hasil manipulasi pikiran sendiri dan korban keadaan. Kita sering terjebak dalam polemik, masalah hidup, tak berkesudahan, bertambah besar karena membiarkan pikiran dan keadaan menguasai kesadaran diri.

Kesadaran adalah kunci dari segala bentuk masalah hidup. Sayang, rutinitas, kesibukan, obsesi masa depan sering merampas kesempatan diri untuk menjadi sadar penuh. Banyak cara melatih kesadaran diri. Cara paling sederhana adalah dengan menyadari bahwa Anda sedang bernafas. Anda mungkin pernah mendapat nasehat untuk menarik nafas saat jiwa tidak tenang, gugup, dan takut. Benar, ini cara yang efektif.

Ketika Anda dihadapkan masalah, emosi dalam diri mulai bergejolak, jangan pernah ambil keputusan, berbicara, atau bertindak. Just breath… Tarik nafas perlahan, lepaskan perlahan. Sambil menarik dan melepas nafas, sadari bahwa Anda sedang bernafas. Observasi apa yang terjadi. Anda mulai marah atau sedih, sadari saja bahwa emosi Anda mulai bergejolak. Sadari apa yang sedang terjadi di sekeliling Anda. Cukup sadari saja, jangan biarkan prasangka dan pikiran mengambil alih kesadaran Anda. Jangan biarkan keadaan sekitar memanipulasi diri Anda. Terus bernafas hingga jiwa terasa tenang. Kemudian, barulah bersikap, berkata, atau bertindak.

Kembali pada ilustrasi si X. Jika ia mampu membangun kesadaran diri penuh sejak awal, ia tidak akan terlibat dalam konflik dengan Y, urusan dengan polisi, dan masalah dengan dewan direksi. Saat itu, ia hanya tidak mampu mengobservasi apa yang sedang terjadi di dalam batinnya. Emosi telah menguasainya, ego telah membutakannya. Kesadaran diri penuh perlahan akan menenangkan pikiran dan jiwa Anda. Kesadaran diri akan membawa diri Anda pada keadaan damai dan keputusan yang bijaksana.

Semoga bermanfaat!

Sabtu, 23 Desember 2017

Berdamai dengan Diri, Cara Terbaik Mengatasi Konflik

pic: womanatwork.in
Besarnya animo manusia untuk segera menikmati liburan akhir tahun, mencari hiburan cukup menggambarkan betapa pekerjaan, rutinitas, konflik membuat batin penat. Mungkin diantara kita meninggalkan jejak sentimen, pertentangan, dan kebencian di tempat kerja, pada atasan atau bawahan. Akhirnya kita tidak lagi merasa bahagia di sana. Bahkan hari pertama liburan masih saja teringat wajah-wajah orang yang berkonflik dengan Anda.

Coba renungkan kembali, mengapa konflik itu muncul? Ingat kembali pengalaman Anda... 

Konflik hanya akan terjadi ketika ada dua atau lebih pihak berbeda pendapat dan gagal menemukan titik kompromi atau win-win solution. Tidak ada yang mengalah dan semua menganggap dirinya benar.

Ya, merasa benar adalah akar dari segala konflik. Di dalam merasa benar, jelas ada pihak yang dirasa salah, sebagai sebuah dikotomi. Dua pihak berdebat dan sama-sama merasa paling benar, saling memaksakan pihak lawan untuk menerima perasaan benarnya, bagaikan membenturkan dua batu yang pada akhirnya retak atau pecah keduanya. Inilah manifestasi ego yang menjauhkan manusia dari menjadi bahagia.

Menyadari diri, rileks, dan tidak defensif disebut-sebut sebagai cara untuk menjauhkan diri dari konflik berkepanjangan yang berdampak negatif. Menyadari bahwa, saya adalah bagian kecil dari semesta yang hidup dalam tubuh dan pikiran yang terbatas, mampu menjadikan kita makhluk yang rendah hati. Kebenaran yang kita yakini, belum tentu benar bagi orang lain. Bahkan sampai kapanpun, tidak ada manusia yang mampu mencapai kebenaran sejati karena itu milik Sang Pencipta. Kebenaran atau lebih tepat, pembenaran yang kita anut hanya serpihan kecil dari kebenaran utuh yang tak terbatas.

Kedua, selalu berusaha rileks saat mendapati lawan bicara yang tidak setuju bahkan menentang keras pendapat Anda. Menarik nafas, menyadari peningkatan amarah dalam diri, dan kemudian mengendalikannya. Hanya dengan rileks, Anda akan menguasai diri dengan penuh, tidak impulsif, dan tidak gegabah. Anda bahkan mampu tampil dan mengambil keputusan lebih bijaksana. 

Ketiga, tidak difensif. Debat kusir, konflik berkepanjangan dipicu oleh sikap dan tindakan defensis. Ambisi ingin tampil lebih baik, membangun pembenaran dengan data untuk mengalahkan lawan bicara. Sesungguhnya sikap demikian tidak akan membawa kebahagiaan. Jika kebetulan Anda menang, yang Anda akan sombong, senang, sesaat, dan hilang. Jika sebaliknya, Anda akan menderita, sedih, merasa menjadi pecudang. Hal yang sama terjadi pada pihak lawan. Apapun hasilnya, sikap defensif akan membawa penderitaan pada saat satu pihak. Empati adalah kunci dari menghindarkan diri dari sikap defensif. Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah. Di dalam benar ada salah, dan di dalam salah ada benar. Mendengar, memahami lawan bicara, tidak segera menilai benar-salah, akan meningkatkan kebijaksanaan diri sekaligus menurunkan kadar ego kita, berdamai dengan diri sendiri. 

Sadar diri, rileks dalam menghadapi masalah, dan tidak difensif pada akhirnya akan menjadi modal utama membangun sebuah persatuan (unity), kompromi, dan sinerji.

Semoga bermanfaat! 

Kamis, 07 Desember 2017

Kenali Bahaya Micromanagement di Perusahaan Anda


pic: medicaljane

Pernahkah Anda bekerja dan mendapat pengawasan berlebihan? Seolah setiap gerak-gerik Anda harus di-scan dan dipastikan sesuai maunya perusahaan. Banyak mata-mata, banyak CCTV, banyak alat kendali yang sedang mengawasi Anda. Pihak manajemen mencampuri urusan-urusan yang Anda anggap, sepele, seperti uang kembalian yang kurang, nota pembelian bensin yang kelebihan, memilih penerbangan dinas termurah, apa yang Anda lakukan saat rehat, atau situs apa yang sedang Anda browse saat ini. Jika demikian, perusahaan tempat Anda bekerja sedang mengalami micromanaged.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh artikel Stop Being Micromanaged yang diterbitkan pada HBR (2011). Micromanaged adalah sebuah kondisi dimana pihak manajemen yang seharusnya memikirkan hal strategis, terjebak mengurusi hal-hal teknis, kecil, dan tidak signifikan. Menarik ketika artikel ini menyebutkan bahwa perilaku demikian akan sangat mengganggu kedamaian karyawan, menghambat pertumbuhan profesionalisme, dan kreativitas karyawan. Dari hasil survei terhadap pekerja di Amerika Serikat, ditemukan bahwa micromanagement lebih banyak membawa dampak negatif, salah satunya menurunkan produktivitas karyawan (hingga 55%). 
Mengapa terjadi?
Lack of Trust
Sistem kendali dibangun dengan asumsi bahwa manusia itu liar dan perlu diawasi setiap gerak-geriknya. Akibatnya, pihak manajemen terobsesi untuk kepo, selalu ingin tahu apa yang sedang staf lakukan, selalu curiga, dan berpikir negatif. Makin ketatnya pengendalian dalam sebuah organisasi mencerminkan makin lemahnya trust di dalamnya. Hilangnya trust adalah pemicu runtuhnya integritas dan teamwork.
Paranoid
Rendahnya kepercayaan yang memicu praktik micromanagement juga diakibatkan oleh faktor kejiwaan, ketakutan bahwa orang lain akan mengganggu, menyakiti dirinya. Fenomena demikian sering kita sebut dengan paranoid. Akibatnya, seseorang akan cenderung memperhatikan, menganalisis tindakan-tindakan orang lain yang ia anggap mengancam dirinya, memikirkannya secara berlebihan, dan tertekan. Paranoid bisa disebabkan pengalaman buruk/ trauma masa lalu, faktor lingkungan, dan rendahnya spiritualitas. Buruknya, jika keadaan ini digeneralisasi dan menganggap seluruh orang berbahaya.
Lack of Leadership
Micromanaged juga terjadi karena tidak memadainya kualitas kepemimpinan pihak manajemen. Bahkan mereka sulit membedakan mana hal strategis, mana hal teknis. Mana yang penting, mana yang tidak penting, mana yang mendesak, dan mana yang tidak mendesak. Kondisi ini akan memicu disorientasi strategis, pihak manajemen akan kehabisan waktu dan enerji dengan mengurus hal-hal kecil.
Tidak banyak manfaat dari micromanagement. Kondisi kerja menjadi penuh tekanan, saling curiga, melelahkan, dan rentan konflik. Kondisi yang memicu bom bunuh diri pada waktunya.
...

Jumat, 01 Desember 2017

Pemecah Belah Itu Bernama... Responsibility Accounting!

pic: journal.thriveglobal
Apakah Anda merasa kurang atau tidak adanya dukungan dari divisi lain di perusahaan Anda? Mereka tidak cukup peka peduli pada divisi Anda, sementara mereka sangat disiplin dan all out untuk kepentingannya?

Wajar jika Anda sedang mengalaminya. Ini adalah default accounting model yang diterapkan di seluruh perusahaan yang mangadosi model akuntansi barat. Dalam disiplin akuntansi, dikenal konsep responsibility accounting yang diimplementasikan dalam kerangka kerja responsibility centre (RC). Singkatnya, RC berasumsi bahwa setiap divisi dalam perusahaan harus memegang peran 1 pertanggungjawaban terkait dengan kinerja keuangan. Sebagai contoh, divisi purchasing harus bertanggung jawab penuh atas biaya (cost) karena fungsinya sebagai pusat biaya (cost centre), untuk membeli segala bahan baku atau sediaan. Targetnya, makin efisien biaya yang dikeluarkan dalam satu periode, maka kinerja divisi tersebut akan dinilai makin baik.

Begitu pula dengan pusat-pusat keuangan lain seperti pusat pendapatan (revenue centre), pusat keuntungan (profit centre), dan pusat investasi (investment centre). Setiap divisi dinilai berdasarkan peran keuangannya masing-masing dan wajar jika akhirnya mereka lebih memikirkan performanya, alih-alih mikirin performa orang lain.

Jika tidak dikelola dengan benar, RC justru menciptakan dikotomi performa dan kerusakan hubungan. Masing-masing "kerajaan" divisi berusaha menyelamatkan dirinya. "Raja-raja kecil" ingin tampil paling cantik di depan pemangku kepentingan atas keuangan yang maha esa. Risiko terburuk, perusahaan akan terpecah belah dan terjebak pada konflik kepentingan tiada akhir, kehilangan fokus terdisrupsi oleh dirinya. Ahli strategi Sun Zi mengatakan, "Dalam bergerak, seluruh pasukan harus menjadi satu tubuh bergerak ke arah yang sama." Persatuan adalah kunci keberhasilan organisasi. Namun realitanya, ilmu bisnis modern menciptakan dikotomi. 

Sudah saatnya organisasi (apapun) kembali pada tatanan organisasi yang saling bekerja sama, memikirkan nasib bersama, bukan pribadi divisi. Maju bersama dan sukses bersama. Bagaimana caranya?

Saya menyebutnya sebagai Value Centre (VC), sebuah model konseptual dimana masing-masing divisi berbicara tentang bagaimana memberi value pada divisi lain yang terkait (langsung atau tidak langsung). Tidak lagi memikirkan dirinya terlebih dahulu, namun mengutamakan kepenringan bersama. Key Performance Indicator (KPIbukan lagi berorientasi pada ego, namun pada seberapa besar value yang telah diberikan.  Pada akhirnya, performa sebuah divisi bukan karena kesombongan jerih payah divisi tersebut, namun lebih karena "bantuan" manfaat yang diberikan divisi lain. Saya telah memberikan pelatihan bisnis pada klien-klien saya tentang hal ini dan hasilnya lebih baik. Mereka memikirkan kembali strategi dan KPI secara sadar. Kesinambungan dan konsistensi VC pada akhirnya membangun empati organisasi yang membawa perusahaan dari sekadar good, tapi menjadi great corporate governance.

Semoga bermanfaat!

Kamis, 23 November 2017

Yuk Belajar "Disruption" dari Bedhes Putih

pic: wayangku
Disruption, jargon bisnis yang sedang trending. Kata ini kerap dikaitkan dengan kondisi startup dan teknologi kekinian. Istilah disruption dipopulerkan oleh Christensen pada tahun 1997 dalam bukunya Innovator's Dilemma. Pada tataran berikutnya, muncul berbagai versi pemahaman dan pemaknaan kata ini. Ada yang masih sejalan dengan konteks, ada pula yang sudah keluar dari paradigma mula-mula. 

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan disruption?

Saya terinspirasi dari salah seorang mahasiswa saya, si Christian yang menempuh spesialisasi innovation accounting. Saat itu, kami sedang membahas kisah Ramayana di dalam ruang kuliah Akuntansi dan Spiritualitas dalam Bisnis. Chris memotong kesunyian, memberi opini yang bagi saya mengagumkan. "Menurut saya, Hanoman adalah simbolisasi disruption. Saat kelompok pasukan Wanara menawarkan 3 bulan untuk mencari Sinta, dan kelompok Wanara lain menawarkan 1 bulan, Hanoman tiba-tiba datang dan menawarkan 1 hari saja untuk menemukan dimana Rahwana menawan Sinta", tuturnya. Alhasil, Raja Sugriwa memilih Hanoman sebagai ututsan pencari Sinta.

Saya mencoba memikirkan celoteh si Chris, merenungkan kembali peran Hanoman, (bangsa wanara, dalam rupa separuh manusia separuh bedhes putih) dalam novel cantik Anak Bajang Menggiring Angin. Benar, Hanoman boleh kita maknai sebagai simbol, bahkan simulakra dari disruption. Masyarakat bisnis memaknai kata ini sebagai fenomena perusahaan yang mampu memanfaatkan teknologi lebih cepat, bekerja lebih efisien, dan segera menggerogoti pangsa pasar industri yang ada (the existing). Demikian pula, bagaimana saat Hanoman muncul di tengah kericuhan tentang tawar-menawar cara menemukan Sinta. Saat itu para kesatria unjuk kebolehan dan menawarkan durasi waktu pencarian Sinta, ada yang 3 bulan dan ada yang 1 bulan. Sayangnya, bagi Sri Rama, itu terlalu lama. Tak ada yang mampu memenuhi harapannya. Value yang ditawarkan the existing belum mampu menjangkau kebutuhan Rama sebagai "klien". 

Tiba-tiba Hanoman angkat suara. Dengan kepercayaan diri yang besar berani menawarkan durasi 1 hari saja. Semua mata tertuju padanya. "Bagaimana mungkin?", guman kawanan Wanara. Bahkan Sugriwa meragukan ini. Hanya Rama yang mencoba menaruh rasa percaya padanya. Atas nasehat Rama, Sugriwa rela mengutus Hanoman. Singkat cerita, Hanoman berhasil menemukan lokasi Alengka, dimana Raja Rahwana menawan Sinta, hanya dalam 1 hari. Begitulah para disruptor bekerja. Mereka lebih cepat mengambil peluang, memanfaatkan teknologi, dan berproses dengan sangat efisien.  Mereka berhasil memenuhi harapan dan kebutuhan konsumen dengan lebih murah sekaligus berbeda dan berkualitas, sambil seolah meruntuhkan teori generic strategy. Hanoman tidak hanya menemukan lokasi Sinta dalam 1 hari, ia mampu mendapat informasi bahwa Sinta masih suci sekaligus membawa kalung titipan Sinta untuk Sri Rama. Satu lagi, Hanoman berhasil memporak-porandakan Alengka sambil memberi ancaman moril pada Indrajit. 

Bagaimana ia melakukannya? 

Ini adalah poin penting yang boleh menjadi pelajaran bagi kita semua, betapa kebijaksanaan lokal itu terlalu bernilai. Saya mencatat 5 prinsip utama, bagaimana Hanoman berhasil sebagai disruptor

1. Proses Diri
Hanoman adalah "putra" Batara Bayu, dewa angin. Kesaktiannya mengalir pada darah Hanoman. Ia memiliki kemampuan melebihi makhluk lain. Aji-aji atau kesaktian dan senjata adalah simbol teknologi. Tidak hanya memiliki, namun kemauan, kemampuan menguasai dan menggunakan teknologi dengan tepat adalah syarat penting disruptor. Menjadi ahli bidang adalah proses yang dilalui dengan perjuangan.  Hanoman, putra Retno Anjani telah menjadi sebatang kara sejak masa ia masih menyusu. Hanoman yang malang harus berjuang untuk bertahan hidup. Keberanian, kemandirian, dan pencarian tujuan hidup ia jalani dengan keras. Namun, siapa sangka pengalaman pahit ini berbuah manis dan Hanoman tumbuh menjadi wanara yang paling berwibawa, bermoral, dan bermental baja diantara kaumnya, bahkan Sri Rama sangat berkenan padanya. Tidak ada disruptor yang muncul tiba-tiba. Mereka semua menjalani proses, ketakutan, penderitaan, dan pada akhirnya mereka mampu merubah paradigma, kegagalan menjadi jalan menuju sukses. 

2. Orientasi pada Kebaikan
Tidak ada motif lain Hanoman selain menjalani Dharma-nya. Ia "mengabdi" pada Rama sebagai titisan Wisnu, pemelihara alam semesta. Motivasi dan tujuan adalah faktor penggerak utama. Saya sempat berpikir bahwa disruption sebenarnya hanya mitos, imajinasi dan rasionalisasi untuk mencari kambing hitam. Lihat bagaimana gmail telah menggeser posisi yahoo mail, facebook "menonaktifkan "friendster, toko online menggerus toko tradisional, dan taksi online menggoyah posisi aman taksi konvensional. Inovator pendatang baru tidak berambisi untuk menghancurkan the existing. Mereka hanya lebih peka dan mampu  menawarkan value yang sedang dicari oleh pasar. Mereka berorientasi untuk membantu orang agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan lebih baik, efektif dan efisien. Sebaliknya, the existing, karena comfort zone atau karena konflik internal organisasi menjadikannya tidak lagi fokus pada visinya. Mereka (the existing) yang gagal sebenarnya telah mendisrupsi dirinya, fokusnya sendiri.

3. Kesempatan
Hanoman datang pada saat atau kesempatan yang tepat. Jika ia terlambat, mungkin peran duta itu sudah diemban pihak lain. Demikian pula menjadi unggul di pasar. Kita perlu melihat peluang dengan jeli dan sesegera mungkin mengambil peluang itu. Memang banyak pelatih bisnis berkicau, jangan tunggu kesempatan, namun ciptakan. Bisa jadi cara ini berhasil, namun jelas betapa besar risiko bisnisnya di tengah era pasar yang tidak terduga. Hanoman telah mendengar semua perbicangan dan tawaran pesaingnya. Ia membaca kelemahan the existing dan kemudian berusaha mengisi kekosongan tersebut atau value gap, yaitu durasi pencarian yang sangat cepat dengan informasi yang terpercaya.

4. Aliansi
Peran Hanoman dalam epos ramayana tak lain adalah sebagai "konektor" antara Rama dan Sinta. Tanpanya, Dharma itu tidak pernah tergenapi, Rama tidak akan pernah berjumpa kembali dengan Sinta. Hanoman menjadi mulia bukan karena kesaktiannya, namun keberhasilannya mempertemukan keduanya. Liber, dkk dalam buku Network Imperatives memberi pencerahan baru tentang survabilitas perusahaan inovatif. Sebut saja Amazon, Ebay, Uber, dan Airbnb. Apa yang mereka miliki? Bahkan sekelas Uber tidak pernah memiliki stok ban mobil. Mereka sukses menjadi mediator atau konektor antara penyedia (vendor) dan pemakai (user) atau penjual dan pembeli. Itu saja! Dengan modal disain jaringan kerja dan teknologi mereka menguasai pangsa pasar dan menjadi raja bisnis. 

5. Dukungan Pemerintah
Dukungan pemerintah, merupakan faktor eksternal yang sangat menentukan keberhasilan. Hanoman tidak akan berangkat menunaikan tugasnya tanpa restu dari Sugriwa, maharaja negeri Kiskenda.  Tidak hanya mendukung secara moril, Sugriwa mempersiapkan segala kebutuhan Hanoman. Kebijaksanaan pemerintah dalam mengambil keputusan sangat menentukan going concern inovasi anak negeri. Inovasi anak negeri akan sia-sia tanpa dukungan kuat pemerintah. Sudah sering kita tahu bagaimana suka duka para CEO perusahaan transportasi online di negeri kita dan di beberapa belahan dunia lain, yang malah mendapat kecaman dari the existing dan "hambatan" dari pemerintah sendiri. Cepat atau lambat, visi dari para inovator yang dikambinghitamkan dalam istilah disruptor itu akan menjadi nyata, layaknya sebuah hiperealitas. Hakikatnya, seperti Sugriwa menerima Hanoman, mereka yang berdamai dengan kemajuan akan berjaya dan mereka yang menolak perubahan akan celaka.

Semoga bermanfaat!

Jumat, 17 November 2017

Sudahkah Anda Memenuhi 5 Kriteria Riset Yang Baik?

pic: www.123rf.com
Riset, salah satu critical outcome perguruan tinggi. Hukumnya wajib! Dosen dan mahasiswa membuat karya ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, atau entah apapun sebutannya. Di kalangan akademisi, sering muncul pertanyaan, apa sih ciri-ciri riset yang baik? Dapat nilai A, diterbitkan aliansi Scopus, atau mendapat hibah dari pemerintah? 

Sering, persepsi umum dan target ambisius demikian malah jadi beban mental peneliti untuk mulai berkarya, beban untuk lulus atau beban untuk naik pangkat. Riset bicara tentang kebermanfaatan. Artinya, sumbangsih riset kita kepada masyarakat adalah yang utama, bukan sekadar pemenuhan ego. Kebermanfaatan adalah salah 1 dari 5 kriteria riset yang baik. Berikut uraian kelima kriteria tersebut:

1. Impressive
Ya, riset yang mengesankan memiliki daya pikat pembaca. Kesan pertama dibangun dari judul yang kreatif bahkan provokatif. Bagaimanapun juga, kita menilai buku dari sampul. Namun demikian, judul tetap wajib mencerminkan isi. Sesuatu yang mengesankan juga dapat dinilai pada hasil penelitian, temuan yang tidak biasa, bahkan temuan yang mengejutkan. 

2. Insightful
Berikutnya, mampu memberi wawasan atau cara pandang baru. Jika kita meneliti mengapa benda itu jatuh ke bawah atau apakah kelelahan bekerja berpengaruh pada produktivitas, maka ini bukan riset yang berwawasan. Tidak ada yang mendapat hal baru karena semua orang sudah tahu jawabannya. Makin banyak hal atau kebenaran baru yang mampu diungkap, maka riset itu dikatakan berwawasan luas, memberi wacana baru, dan menjadi media belajar yang baik. 

3. Innovative
Inovasi diartikan sebagai tindakan atas dasar kreasi yang memberi manfaat. Kebermanfaatan adalah kunci penting riset yang baik. Sayangnya, kita sering melewati begitu saja bagian manfaat penelitian. Kita menganggapnya sebagai formalitas yang pokoknya ada. Sejatinya, adalah kesia-siaan jika hasil riset kita tidak mampu memberi manfaat nyata pada masyarakat, walaupun mendapat nilai A. Bahkan menurut catatan biografi, Frederick Smith, pendiri Fed-Ex dikisahkan hanya mendapat nilai C saat mengajukan ide bisnis ekspedisi internasional kepada dosennya. 

4. Inspiring
Tidak cukup memberi wawasan (insightful). Riset yang baik harus mampu menjadi inspirasi bagi orang lain untuk mempelajarinya, mengembangkan, mengikuti jejak, bahkan mengkritiknya. Riset yang baik akan dirujuk oleh banyak orang. Dirujuk secara natural bukan dengan cara memaksa mahasiswa mengutip karya dosen.

5. Informative
Terkahir, riset yang baik bersifat informatif. Artinya, mudah dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Bahkan masyarakat awampun bisa turut menikmati karya tersebut. Eisntein mengatakan, "Jika Anda tidak mampu menjelaskan ide Anda pada anak 6 tahun, sesungguhnya Anda tidak menguasai ide tersebut". Orang-orang hebat memiliki kemampuan menjelaskan sesuatu yang rumit dengan cara sederhana, bukan sebaliknya. Demikian pula laporan riset yang idealnya ditulis dengan alur bepikir dan cerita yang menarik dan mudah dipahami.

Sudahkah penelitian Anda memenuhi 5 kriteria tersebut? 



Dr. Bonnie S
Akademisi | Konsultan Bisnis | Penulis Buku

Sabtu, 04 November 2017

Mahkota Sakura Bisnis Akihabara

pic: japan.stripes.com
Akihabara, katanya surga para Otaku (pecinta pop culture Jepang). Memang benar! Hari ketiga, bersama tim, saya berkesempatan berpetualang di Akihabara. Sekitar 10 menit dari East57. Berbeda dengan Shinjuku, Shibuya, atau Harajuku sebagai pusat belanja fashion, Akihabara fokus pada kawasan belanja seputar anime. Berbagai gerai penjual pernak pernik manga (komik) anime (animasi) seperti Hatsune Miku, One Piece, Gundam, Doraemon, Love Live, Pokemon, Ultraman, menguasai perekonomian distrik Akihabara. Terdapat lini bisnis lain di sana seperti café (yang ternama Maid Café), elektronik, dan fashion. Sejak buka pukul 10.00 waktu Jepang hingga tutup, kawasan ini tidak pernah sepi, bahkan di hari kerjapun terasa liburan. 

Perputaran uang di sana sangat menggiurkan. Bahkan produsen anime, Hayao Miyazaki mengkritik bahwa masyarakat Jepang saat ini sudah terlalu konsumtif terhadap barang-barang pop culture. Bayangkan saja, dalam laporan keuangannya per 2015 Bandai (produsen mainan dan game) mencatat pendapatannya  sebesar ¥565.5 milyar, 2016 Pokemon Company mencatat pendapatannya sebesar 3.3 milyar USD. Memang omset itu adalah kelas dunia, namun konsentrasi tertinggi bisnis IP Jepang masih di negeri itu sendiri. Mereka (anak muda Jepang) menjadi materialis hingga mendewakan imajinasinya. Bayangkan saja ada berapa ribu IP beredar di sana. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan kocek demi tokoh impian.
pic: volks (one of the big toy stores)

Hampir sehari terdampar di sana, waktu berjalan terlalu cepat. Namun petualangan tersesat di blok-blok Akiha menorehkan pelajaran industri kreatif yang sangat inspiratif. Saya mencatat 3 prinsip bisnis dasar, yang saya sebut 3 mahkota Sakura sebagai ikon keindahan musim semi Jepang:

1.     Waktu Yang Berharga
Pukul 09.45 saya tiba di Ami Ami, salah satu toko action figure terbesar di sana. Belum buka. Tertulis “kami buka jam 10.00”. Sambil bersantai, kami menunggu di sana. Beberapa saat, tepat jam 10.00 pintu langsung dibuka dan pelayan menyapa kami. Luar biasa, jam 10.00 adalah jam 10.00 tidak pakai kurang atau lebih. Dan sesaat saja mereka siap melayani transaksi. Mereka sangat profesional. Penasaran, pukul 12.00 saya mengunjungi toko lain. Mandarake adalah toko mainan langka yang sudah tidak beredar di pasaran. Sekali lagi, kami terlalu pagi. Menunggu sesaat dan tepat jam 12.00 mereka membuka gerai toko. Nampaknya gaya bisnis disiplin waktu ini sudah menjadi habit. Waktu sangat berharga dan dioptimalkan dengan baik.

Pengalaman yang bertolak belakang, suatu ketika saya mengunjungi pusat belanja di Surabaya, sekitar pukul 10.00. Belum sarapan, setelah berjalan 30 menitan perut saya keroncongan. Sekeluarga saya segera mencari resto terdekat. Waktu menunjukkan pukul 10.40. Pegawai resto menyapa, “mohon maaf kami belum siap, kira-kira 15 menit lagi.” Kecewa? Tentu saja. Namun marah pun tidak akan membuat mereka lebih cepat bersiap.

Malam hari, sekitar pukul 20.50 saya mengunjungi toko kecil penjual kaos. Disainnya menarik hati saya, seputar Kaiju. Lama sekali saya memilih mengingat harganya lumayan tinggi. Tepat pukul 21.00 seorang pegawai mendatangi saya dan mengatakan “Sorry, we’re close. You can comeback tomorrow”.  Wow… saya diusir neh. Kalau pengalaman ini, di negeri kita juga banyak namun lebih pada motif pegawai pengen cepat pulang.

Saya belajar, menjadi profesional tidak selalu terkonsentrasi pada hal-hal besar dan heboh. Yang utama adalah membangun habit profesional yang diawali dari hal-hal kecil, seperti disiplin dan menghargai waktu.

2.     Segmentasi dan Strategi Marketing Emosional Akihabara
Mendengar istilah anime dan manga, mungkin sebagian besar dari kita berpikir tentang dunia anak. Pemandangan yang berbeda. Pusat belanja Akihabara didominasi pembeli remaja, dewasa muda, dan khususnya profesional muda. Jepang memiliki kategori usia pada anime dan manga. Sebagian besar iklan di sana ditujukan pada pasar remaja ke atas. Bahkan di pusat arcade, kita jarang menjumpai anak kecil bermain. Malam hari, bukan keanehan kita melihat pekerja kantoran pakai jas dan dasi asyik bermain Aikatsu dan sejenisnya, atau uji keberuntungan bola Gacha.  

Sungguh menarik medokumentasikan fenomena ini. Segmentasi bisnis IP (Intellectual Property) Jepang terkonsentrasi pada pekerja muda. Mengapa? Karena mereka memiliki daya beli tinggi dan tidak tergantung pada orang tua dalam mengelola uang. Berbeda dengan anak kecil yang masih harus minta uang kepada orang tua dan kemungkinan besar jawabannya adalah “tidak”.

Cara produsen menjual IP juga melalui strategi yang tidak biasa, yaitu transmedia storytelling. Hampir seluruh IP memiliki cerita dan kemudian disebarluaskan melalui berbagai platform media seperti manga, anime, game, dan segudang lini bisnis merchandise. Saya pernah menuliskan strategi ini di buku saya Exist or Extinct dan saya sebut strategi pengepungan. Bisnis IP menyasar seluruh kemampuan serap informasi manusia. Mereka yang suka musik, disuguhi dengan OST. Mereka yang suka film disuguhi anime. Mereka yang suka fashion disuguhi cosplay dan seterusnya. Jadi tidak heran, toko apa saja selalu ada saja pengunjung dan pembelinya.
pic: amiami (one of the big toy stores)

Transmedia storytelling yang tepat tidak hanya menciptakan pelanggan, namun fans, evangelis, bahkan “jemaat". Cerita adalah kekuatan yang menembus ruang dan waktu, emosional, dan mampu mempersuasi dan memengaruhi dengan halus. Analogi yang mirip dengan penyebaran agama di dunia melalui cerita nabi-nabi. Tidak mengherankan jika siang itu saya memandangi antrian laki-laki lebih dari 2 km hanya untuk berjumpa dengan seiyu (pengisi suara pada anime). Bahkan bagi fans akut, tokoh pujaan mereka sudah seperti dewa dewi, dan mereka bersedia membayar berapapun untuk memiliki “berhala” yang mereka inginkan.

Keberhasilan bisnis cerita IP Jepang mungkin bisa menjadi inspirasi Anda untuk memperkuat brand bisnis atau personal Anda.
                                                                                                                       
3.     Integritas Adalah Hidup dan Bisnis
Tentang integritas, saya punya kisah lain yang menarik disana. Malam itu, saya mengunjungi Don-Quijote, pusat belanja oleh-oleh khas Jepang. Seperti mall 8 lantai dan penuh pernak pernik berbagai lini. Mulai makanan kecil, kaos, tas, cosplay, gacha, console, hingga properti khusus 18++. Anda wajib mampir jika kesana. Harganya jauh dibawa Seven Eleven atau gerai lain. Asyik comot sana comot sini dan tibalah di lantai 7, pusat arcade. Sambil merogoh saku mengambil receh untuk main, tak sadar HP saya jatuh. Terus kondisi ini tidak saya sadari hingga lebih dari 30 menit. Menjelang pukul 22.30, kami pulang dan ingin rasanya foto selfie di depan toko. Baru sadar, HP saya tidak ada di saku. Hancur rasanya.

“Tenang saja, kita tanyakan ke pelayan toko pelan-pelan” ajak rekan sekaligus kawan saya. Akhirnya, berdua kami menyusuri tiap lantai. Tidak banyak pelayan paham bahasa Inggris dan meskipun paham, logat mereka sangat aneh seperti mengatakan Ulutolaman untuk Ultraman. Hampir frustasi di lantai 5. Lanjut, kami ke lantai 6, di sana kasir sudah tutup, tidak ada pelayan atau penjaga karena mereka percaya tidak akan ada pencuri. Kami naik ke lantai 7 dan menanyai seorang petugas arcade begini, “I lost my” sambil menunjuk HP kawan saya. “The color is” kemudian menunjuk obyek warna kuning. “Wait-wait” katanya. Sebentar ia masuk ruang staf dan tidak lebih dari 2 menit keluar membawa HP saya. Wow… rasanya bagai musafir di padang gurun menemukan sumber air. Saya sudah sangat pesimis mengingat waktu itu lokasi Don-Quijote sangat ramai, apalagi di lantai arcade. Sambil mengembalikan HP, ia hanya meminta saya menulis nama saya. Tidak ada identitas paspor dan alamat yang mereka minta. Ia begitu percaya pada saya.
pic: gacha station

Penduduk Jepang sebagian besar sangat menghargai keberadaan manusia lain. Mereka tidak suka mengganggu dan diganggu. Mereka akan membantu orang yang membutuhkan bantuan. Saya teringat pengalaman lain di Disneyland. Saat itu saya sibuk foto selfie, saya gesar-geser HP saya “koq semua angle jelek” pikir saya. Ya mungkin saya yang pas-pasan. Tiba-tiba seorang staf berjalan cepat mendatangi saya dan menawarkan bantuan untuk mengambil gambar saya. Itulah integritas dan gaya hidup mereka. Hidup dan bisnis adalah ketulusan, kejujuran., dan menolong orang lain Hanya saja kendala bahasa cukup menyulitkan berpetualang di sana.

Memang tidak semua yang ada di Jepang adalah baik, namun setidaknya kita belajar mengambil pelajaran terbaik di sana. Semoga bermanfaat!

Selasa, 31 Oktober 2017

Mencipta Cita Rasa Tinggi Ala Jepang: Fokus pada Kesempurnaan, dan Sempurna dalam Berfokus

Hari kedua, saya berkesempatan mengunjungi Noguchi Glass - Fusion Factory, perusahaan produsen kaca seni. Cukup jauh dari Asakusabashi, kami menempuhnya dengan bis menuju lokasi di Kanagawa. Sampai juga, dan satu persatu dari kami dari 31 orang turun. Menariknya, sopir mengucapkan arigatou gozaimasu (terima kasih) kepada setia penumpang yang turun, dalam kasus ini 31 kali, tidak ada yang terlewat. Ia terlihat begitu tulus menghormati setiap orang. Apakah ini ciri khas orang Jepang? 

Benar, saya menjumpai hal serupa di salah satu gerai Mc.D di Akihabara. Saat itu, salah seorang rekan saya memesan menu yang kebetulan belum ready. Sigap, manajer gerai mendatangi kami dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Bagi saya, mungkin kejadian demikian tidak biasa saya alami di Indonesia. Seorang manajer sendiri mendatangi dan meminta maaf pada pembeli. Namun bagi mereka, “kegagalan” melayani konsumen adalah kesalahan besar dan harus diselesaikan secara profesional sekaligus tulus. Membutuhkan kepekaan, kesadaran penuh, fokus, dan konsentrasi untuk mampu demikian. 

Berjalan beberapa menit, sampailah di Fusion. Bangunan pabrik sederhana yang berada satu lokasi dengan pabrik lain. Seperti ciri khas East57 pada catatan saya sebelumnya, yaitu optimalisasi tanah atau lean. Factory guide bersama CEO, Mieko Noguchi sudah menunggu kedatangan kami. Setelah briefing, kami memasuki lokasi produksi dan showroom. Tidak terlihat banyak karyawan di sana, hanya sekitar 15 orang bekerja di dalam ruang yang tidak terlalu besar. Demo pembuatan kaca seni dimulai dan sangat memukau prosesnya, dari serbuk kaca yang dipanaskan hingga pembentukannya. Semua memerlukan ketangkasan dan fokus tinggi. Beberapa waktu kemudian, kami memasuki showroom kaca seni. Terdapat berbagai koleksi baik yang dikomersialkan maupun yang hanya disimpan sebagai pajangan, koleksi pribadi. Sangat indah penampakannya, sangat detil tekstur dan pewarnaannya. 
pic: karya Fusion (aurora gunung salju)

Fusion mengambil tema tentang kehidupan, alam, binatang, manusia, musim, dan budaya. Mieko mengaku bahwa alam adalah sumber inspirasi yang kaya akan keindahan. Waktu produksi untuk sebuah kaca seni bisa memakan 7 hari. Menariknya, ketika ditemukan ketidaksempurnaan, maka mereka akan meleburkan kembali kaca seni itu dan membuatnya dari awal. Saya jadi teringat kisah bagaimana Walt mengulang seluruh proses produksi film Pinokio pada saat akhir ditemukan bentuk Jiminy (jangkrik) dinilai tidak pas. Mereka sangat menjaga kesempurnaan. Fusion mempekerjakan seniman profesional, mereka yang tidak mudah puas dan terus berkreasi menuju yang terbaik. Karya-karya mereka memang dapat dirasakan pancaran semangat kesempurnaannya.

pic: Gundam (Odaiba)
Istilah proses tidak akan mengkhianati hasil nampak dari cara mereka (orang Jepang) bekerja. Saya mulai menyadarinya, prinsip-prinsip bisnis ala Jepang yang kita kenal seperti Lean, Kanban, Kaizen, kemudian pada tataran teknis ada JIT merupakan prinsip yang memang berfokus pada proses. Proses yang terfokus dan sempurna. Bekerja dulu baru berhasil kemudian, bukan sebaliknya. Saya jadi teringat celetuk kawan saya di sana, “Gundam ukuran nyatanya keren dan detil banget” saat berada di Odaiba Gundam Base. Sebuah patung elektronik raksasa berwujud robot legendaris, Gundam Unicorn. Detilnya memang terlihat begitu sempurna dan dikerjakan dengan serius. 


Fokus dan kesempurnaan adalah kunci tradisional Jepang, termasuk Fusion yang terus berusaha dilestarikan. Sebagai tambahan, mungkin Anda pernah mengetahui tentang upacara teh Jepang. Proses yang begitu panjang dan sarat dengan makna spesifik, mulai dari cara meracik bahan, menggunakan alat seperti okama, mizu sashi, koboshi dsb, menuang ke cangkir, posisi badan penyaji dan tamu, cara memutar cangkir, dan sebagainya. Proses ini wajib dilakukan dengan sadar, fokus, konsentrasi, dan sempurna. Kesempurnaan fokus dan fokus kesempurnaan yang sering dikenal dengan istilah mindfulness. Dan tak boleh dilewatkan bahwa proses demikianlah yang mampu menghasilkan karya yang bernilai tinggi.

Pertanyaan kontemplatif, bagaimana Anda melakukan pekerjaan Anda?