Selasa, 04 Oktober 2016

Menghadapi Teror Seller Tipu-Tipu, Stay Fool Stay Cool

Sudah terlalu banyak kasus penipuan jual-beli di dunia internet. Selalu saja ada korban. Mereka (baca: penipu) menggunakan berbagai teknik yang unik dan kreatif. Baru saja saya mendapat pengalaman berinteraksi dengan fake seller alias seller tipu-tipu. Syukurlah akhirnya saya terhindar dari "gendam" beberapa hari lalu.

Sabtu, 1 Oktober lalu saya mendapatkan private message (pm) dari si S, orang yang tidak saya kenal. Dengan sapa ramah ia menawarkan penjualan Action Figure (AF). Bahkan sempat ia memuji, "Agan kuliah di kampus XXXX ya, hebat. Itu kampus terbaik se-Asia Tenggara". Saya berguman, "Bathukmu sempal, surveynya mbahmu apa." Ia melacak postingan saya dan benar kebetulan saya pernah memasang postingan WTB (want to buy) barang "X" di sebuah forum jual beli facebook. Sebagai calon buyer rasional, pertanyaan pertama saya adalah berapa harganya. S menawarkan harga seperti harga pasaran, asal sebut saja 500rebu. Saya mencoba menawar 450rebu. Proses tawar-menawar cukup alot dan akhirnya kami deal di harga, misalnya 450rebu. Langkah kedua, saya meminta foto barang X. Selang beberapa saat, F mengirimkan foto melalui chat fb. "Wow, ini seller beneran", batin saya. Segera ia mem-follow-up, "Gan kalau minat ambil boleh transfer sekarang karena siang ini saya je JNE". 

Sebelum transaksi lebih lanjut. Saya iseng bertanya, "Gan punya barang Y, Z, dan A?" "Ada gan", jawabnya. "Berapa duit?", tanya saya. Dengan responsif ia menjawab dan memberi info harga masing-masing item yang saya tanyakan. Saya makin tertarik karena ia menawarkan harga miring. "Berapa total jika saya ambil semua?" Ia memberikan angka bagus untuk keempat barang tersebut dan gratis ongkos kirim. Kembali S mencoba menagih saya, "Kalau minat transfer hari ini gan, barang langsung saya packing". Sebelum merespon tagihan, saya tidak begitu saja percaya, mengingat 3 item barang yang saya tanyakan cukup langka di pasaran. Saya meminta foto kedua kalinya untuk 3 barang tersebut. Tidak cepat responnya. Hampir 12 jam si S baru mengirimkan foto yang saya minta. Benar, ketiga item yang saya cari memang ada fotonya. Saya melakukan tracking via google image untuk melihat similarity dengan gambar lain dan hasilnya, tidak ditemukan. Ya saya makin yakin ini seller wahid.

Keesokkan harinya, S kontak kembali dan menanyakan niat saya untuk beli. Sekali lagi, dia berusaha menagih uang untuk keempat item tersebut, bahkan ia sudah memberi info rekening bank sesuai namanya, si S. Saya mulai was-was, baru kali ini ada seller mental miskin nagih melulu padahal belum deal. Saya mulai menginterogasi beliau, dari mana asalnya hingga motif nagihnya. Cukup terkejut saya mendapat pengakuan bahwa S sedang butuh uang untuk lunasin POan pribadinya, AF Ironman bermerk Hot Toys, wow! Saya pikir kembali, lalu apa urusan saya, koq malah saya yang didesak dan bingung ngelunasin utangnya. Memang ada pengkuan bahwa S bukan pemilik toko. ia hanya seller personal (catatan: dalam jual-beli AF tidak semua pemilik toko dan banyak pemain personal yang tidak punya akun Toped atau Bukalapak). Untuk meminimalisasi risiko, saya coba pecah transaksi. Saya berniat membeli 1 item dahulu dan menunda pembayaran hingga esok pagi. Jika benar barang sampai di alamat saya, baru saya melakukan transaksi selanjutnya. Dari kohesi dan koherensi kalimat-kalimat yang ditulis, S cukup kecewa dengan keputusan saya. 

Tiba hari berikutnya, dan sekali lagi S menagih saya, "Gimana gan jadi transfer? Saya kebetulan di deadline seller saya hari ini. Jadi butuh uang." Saya makin tidak simpati dengan sikapnya. Saya ulur 1 jam lagi sebelum pembayaran. Saya ingin melakukan tracking profil S di dalam fb. Benar ada akun atas nama S dengan foto-toto aktivitas bersama teman dan keluarga, anehnya tidak ada 1 foto tentang AF. Saya masih penasaran dan mencari kembali melalui pencarian google. Warrr biasah! Saya menemukan nama S yang lain dengan foto yang berbeda. Awalnya, ia mengaku berasal dari Semarang dan kali ini saya menemukan S lain (sebut saja S Asli) yang berasal dari kota pahlawan. Kebetulan nama lengkap S bukan nama yang umum dan saya makin curiga. Saya segera kontak salah seorang kawan saya yang juga sering jual-beli AF. Kami berdua merancang strategi untuk menemukan siapa dan apa motif Mr S tersebut. Kawan saya menyarankan untuk melacak nomor rekening yang diberikan dan ternyata, nomor rekening tersebut memang dimiliki oleh orang bernama Mr S. Menariknya, saya menemukan nomor dan keterangan pemilik rekening ini pada sebuah situs topup voucher game dan sejenisnya. Sebuah ecommerce yang dimiliki oleh S Asli. Benar, ini penipuan!!! Fake S yang mengaku beli Ironman ternyata beli voucher game onlen. Fake S mencoba memanfaatkan kebodohan saya untuk mentraktir voucher gratisan senilai jutaan rupiah. 

Alur penipuan yang sederhana, namun perhatikan bagaimana ia bisa mendapat foto-foto barang rare yang saya cari. Besar hipotesis saya ia php-in calon seller lain. Saya telah melakukan konfirmasi pada si S Asli yang memang benar adalah seorang pebisnis voucher topup dan sejenisnya. Mengetahui hal ini, saya segera membatalkan transaksi. Tidak mudah, fake S tidak terima dan mengatakan saya php, tidak punya integritas dan bla-bla-bla. Tantangan saya satu, "Agan kontak aja S Asli, ajak ngobrol via chat untuk menjelaskan akun bank tersebut miliki siapa sebenarnya, kemudian capture dan kirim pada saya hasilnya debatnya". Demikian, dan tidak ada lagi komunikasi kelanjutan, mungkin fake S sudah lelahhhh menghadapi kebodohan saya.

Saya yakin ini bukan perbuatan personal. Ini sebuah jaringan yang hobi mengkloning profil seseorang dan memanfaatkannya untuk keuntungan kotor. Dari pengalaman ini saya mencatat beberapa tips untuk menghindari penipuan berkedok seller:

1. Mintalah foto asli produk, jika perlu foto selfie atau dengan ktp. Memang tidak semua seller suka hal ini, namun ini adalah salah satu tes reliabilitas yang efektif.
2. Lakukan pencarian similarity melalui fitur google image. 
3. Tantang untuk melakukan transaksi via Toped atau Bukalapak yang memiliki risiko penipuan lebih kecil (namun bukan nol).
4. Tetap berusaha rasional, karena baper akan memudahkan Anda terjerumus jebakan batman-nya.
5. Lacak profil seller di medsos atau melalui google. Jika pencarian di medsos tidak memuaskan, segera telusuri melalui google.
6. Lacak pemilik nomor rekening yang diberikan. Jika bukan namanya, perlu diwaspadai. Namun jika memang benar namanya cari sekali lagi siapa sosok dibalik nama tersebut karena bisa jadi ini adalah "kloningan". Anda dapat melakukan klarifikasi pada pemilik akun/ rekening yang asli.

Demikian sharing saya, semoga bermanfaat!

1 komentar:

  1. the Shuraydas of Tubna, Cheap Jordan Shoes, who by the 1860s could field 500 armed men (and women) in the al-Kura region further north. Both families had served as local tax collectors for various distant Ottoman governors in Damascus in the 19th century. By and large, shaykhs like the Furayhats and Shuraydas did not always feel the need to amass large personal estates for themselves at this time. Control over economic surplus was what mattered, not titular rights to ownership. Since shqykhs were able to use their position to expropriate tribute payments in the form of grain and animals from their protegees, they saw no need to rely solely upon personal agricultural exploitation for survival. In turn, these settled shaykhs were still sometimes subject to extortions from even more powerful bedouin tribes like the 'Adwan and Bam Sakhr. http://www.newjordanstrade.com

    BalasHapus