Minggu, 30 Oktober 2016

Kita, Manusia "Penjual" Tuhan

Kotori LoveLive (Sunrise)
Mendekati Pilgub Jakarta, dinding sosmed Anda jelas makin dipenuhi berita-berita politik. Dengan input dan proses yang benar, berita tersebut bisa jadi informasi yang berguna. Sebaliknya, akan menjadi sampah atau hoax. Faktanya, justru kuantitas berita sampah tersebut lebih mendominasi dinding sosmed kita dengan topik seputar SARA, utamanya agama. Sejak Ahok jadi gubernur Jakarta, isu-isu yang beredar konsisten seputar hal tersebut, lepas dari kontribusi yang beliau berikan buat Jakarta. 

Saya bukan fans Ahok, juga bukan pembenci. Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sejenak tentang sebuah pola dekonstruksi yang terjadi di negeri ini. Mengapa isu utama yang diangkat untuk "menyerang" Ahok selalu isu seputar agama? Bukan masalah jenis kelamin, rapor kinerja masa lalu, status ekonomi, atau atribut demografi lain? Jelas ada yang menarik dari aspek agama.

Agama merupakan "tata cara" pencarian manusia kepada Tuhan. Dengan kata lain, agama merupakan media spiritual. Dalam kajian Wilber tentang The Great Nest of Human Being, disebutkan manusia utuh terdiri dari 4 dimensi, yaitu tubuh, pikiran, jiwa, dan roh (spirit). Spirit merupakan elemen utama yang menggerakkan segalanya. Manusia akan melakukan apa saja demi dorongan spiritual. LoveLive, merupakan salah satu anime idol group sukses besar di Jepang dan di beberapa negara Asia lain. Menariknya, LoveLive mampu membangun fans, bahkan umat yang super loyal. Di beberapa tempat main arcade Jepang misalnya telah menyediakan tempat "pemujaan" tokoh-tokoh LoveLive. Bahkan tahun lalu di Cina saat kereta bawah tanah bergambar tokoh LoveLive diresmikan, tak sungkan para fans menunggu kedatangan kereta dan bersujud di sana. Mereka menganggap para tokoh anime itu "tuhan" mereka. Ya memang, secara logika mereka tidak waras. Dalam konteks lain terjadi pada fans produk ternama seperti Apple atau Harley Davidson yang mampu membentuk spiritual fans dengan tingkat loyalitas terparah, cult loyalty. 

Dari kasus singkat di atas mungkin Anda sudah mulai bisa menjawab, mengapa isu agama lebih menarik dibakar daripada isu lain? 

Benar, ketika bicara topik spiritual, khususnya agama, manusia cenderung tidak lagi memakai pikiran logisnya, bahkan perasaan takut, sungkan, atau empati. Mereka mudah sensitif dan marah ketika apa yang mereka yakini benar disinggung atau dicaci, walaupun istilah spiritualitas tidak sepenuhnya sama dengan agama. Jadi, memang benar lebih mudah menggerakkan manusia dengan mengangkat isu spiritual (agama) daripada isu lain. Mereka tidak pikir panjang dan cepat bergerak, atau menggunakan jalan pikiran tipe I (dalam konsep kerangka pikiran menurut Kahneman). 

Jelas sudah kenapa isu agama menjadi senjata ampuh para elit potik untuk menggoncang dan menggagalkan suksesi calon gubernur Ahok. Sesuatu yang diyakini benar dan berhubungan dengan keTuhanan selalu akan menjadi strategi yang efektif untuk memobilisasi manusia. Mereka akan mudah tersulut emosi dan menjadi rendah logika ketika dipancing dengan pembenaran-pembenaran berbasis ajaran agama. Manusia akan melakukan apa saja, bahkan ekstrimnya tanpa perhitungan logis yang matang. Sebaliknya, ketika manusia bersandar penuh pada logika, maka mereka akan mengingkari fenomena spiritual.

Pribadi, saya tidak yakin bahwa oknum pencipta "teror" seputar politik adalah orang-orang yang memiliki tingkat spiritualitas yang baik, karena spiritualitas merupakan sesuatu yang jauh melampaui ikatan atribut agama, tentang hubungan pribadi manusia dengan Sang Penciptanya, serta menifestasi dalam tindakan kasih atas segala ciptaanNya, termasuk manusia lain dan alam. Mereka (oknum provokator) hanya "pedagang" yang kreatif, menjual nama "Tuhan" untuk traffic, kekuasaan, dan urusan perut segelintir orang. Jika direnungkan, sejak dahulu hingga masa kini, (nama) Tuhan memang sudah diperjualbelikan dengan cara dan konteks yang berbeda. Dan, sebagian besar bisnis yang mengatasnamakan "tuhan" begitu diminati dan mendatangkan profit besar. Betapa rendahnya kita. 

Save NKRI, Semoga bermanfaat!


Temukan ulasan dan kasus bisnis dan marketing berbasis spiritualitas lainnya di buku terbaru saya, Exist or Extinct (klik disini untuk ulasannya).

















Jumat, 21 Oktober 2016

Kisah Bijak: Kejujuran Berbuah Emas

pic:crosswalk.com
Saya teringat sebuah kisah bijak Jepang yang mengajar tentang kejujuran.

Di sebuah desa, hidup seorang penebang kayu bernama Takeshi. Ia hidup sederhana bersama keluarganya. Suatu pagi, ia berangkat ke hutan mencari kayu untuk ditebang. Ia sudah berkeliling ke sana kemari namun cukup sulit menemukan pohon tua yang siap ditebang. Ia terus berjalan menuju rute baru dan sampailah ia di sisi danau kecil yang rindang. Terlihat pohon tua di tepi air yang siap ditebang. Ia mengambil kapak kesayangannya dan mulai menebang pohon. Tanpa sengaja, kapak itu terlempar jatuh ke danau. Takeshi menjadi bingung.

Danau itu dalam dan dingin airnya. Ia termenung dan duduk cukup lama di sana. Ia menjadi sedih karena tidak membawa hasil untuk menghidupi keluarganya. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba air danau itu beriak, bergoncang, ada sesuatu yang muncul di sana. Sosok bidadari yang anggun. Bidadari itu terlihat memegang dua buah kapak yang terbuat dari emas dan perak. “Kamu mencari kapak yang hilang?” tanya bidadari. “Benar” jawab Takeshi. Bidadari itu melanjutkan, “Dari dua kapak ini, manakah milikmu?” Dengan polos dan jujur Takeshi menjawab, “Bukan keduanya. Milikku hanya kapak tua yang tebuat dari kayu dan besi.”

Bidadari itu tampak puas dengan jawaban Takeshi. “Karena kejujuranmu, ambillah kedua kapak ini menjadi milikmu,” pinta bidadari. Takeshi sangat bahagia, ia pulang dan menceritakan hal ini kepada keluarga dan tetangganya. Kejujurannya berbuah kekayaan, yang mensejahterakan dan mendamaikan hidup.

Mendengar kisah itu, Itachi tetangga Takeshi berniat melakukan hal sama. Ia pergi ke danau yang sama dan dengan sengaja menjatuhkan kapak besinya ke danau. Hal yang sama terjadi. Bidadari itu muncul dan menanyakan hal yang sama, “Dari kedua kapak emas dan perak ini, manakah milikmu?” Itachi sangat bahagia dan tanpa beban ia berkata, “Yang emas, itu milikku.” Mendengar kebohongannya, bidadari menjadi marah dan menenggelamkan Itachi ke dalam danau.

Dari Takeshi dan Itachi kita belajar tentang kejujuran. Takeshi adalah tokoh yang mengutamakan kejujuran. Ia hanya berkata hal yang sebenarnya terjadi. Ia tidak berorientasi pada emas dan perak yang menggiurkan. Namun pada akhirnya, kejujuran membawanya pada kehidupan lebih baik, bidadari menghadiahkan emas dan perak kepadanya. Berbeda dengan Itachi yang hidupnya berorientasi pada kekayaan. Ia mengorbankan kejujuran dan ia kehilangan keduanya, integritas dan kekayaan. Membangun kepercayaan dalam profesi dan bisnis itu sederhana, sesederhana jalan pikiran Takeshi. Kepercayaan dibangun dari kejujuran dan keterbukaan. Dan jelas, langkah ini membutuhkan lompatan iman.

Semoga bermanfaat!


(Dikutip dari buku terbaru, Exist or Extinct -Bonnie Soeherman)


















Selasa, 04 Oktober 2016

Menghadapi Teror Seller Tipu-Tipu, Stay Fool Stay Cool

Sudah terlalu banyak kasus penipuan jual-beli di dunia internet. Selalu saja ada korban. Mereka (baca: penipu) menggunakan berbagai teknik yang unik dan kreatif. Baru saja saya mendapat pengalaman berinteraksi dengan fake seller alias seller tipu-tipu. Syukurlah akhirnya saya terhindar dari "gendam" beberapa hari lalu.

Sabtu, 1 Oktober lalu saya mendapatkan private message (pm) dari si S, orang yang tidak saya kenal. Dengan sapa ramah ia menawarkan penjualan Action Figure (AF). Bahkan sempat ia memuji, "Agan kuliah di kampus XXXX ya, hebat. Itu kampus terbaik se-Asia Tenggara". Saya berguman, "Bathukmu sempal, surveynya mbahmu apa." Ia melacak postingan saya dan benar kebetulan saya pernah memasang postingan WTB (want to buy) barang "X" di sebuah forum jual beli facebook. Sebagai calon buyer rasional, pertanyaan pertama saya adalah berapa harganya. S menawarkan harga seperti harga pasaran, asal sebut saja 500rebu. Saya mencoba menawar 450rebu. Proses tawar-menawar cukup alot dan akhirnya kami deal di harga, misalnya 450rebu. Langkah kedua, saya meminta foto barang X. Selang beberapa saat, F mengirimkan foto melalui chat fb. "Wow, ini seller beneran", batin saya. Segera ia mem-follow-up, "Gan kalau minat ambil boleh transfer sekarang karena siang ini saya je JNE". 

Sebelum transaksi lebih lanjut. Saya iseng bertanya, "Gan punya barang Y, Z, dan A?" "Ada gan", jawabnya. "Berapa duit?", tanya saya. Dengan responsif ia menjawab dan memberi info harga masing-masing item yang saya tanyakan. Saya makin tertarik karena ia menawarkan harga miring. "Berapa total jika saya ambil semua?" Ia memberikan angka bagus untuk keempat barang tersebut dan gratis ongkos kirim. Kembali S mencoba menagih saya, "Kalau minat transfer hari ini gan, barang langsung saya packing". Sebelum merespon tagihan, saya tidak begitu saja percaya, mengingat 3 item barang yang saya tanyakan cukup langka di pasaran. Saya meminta foto kedua kalinya untuk 3 barang tersebut. Tidak cepat responnya. Hampir 12 jam si S baru mengirimkan foto yang saya minta. Benar, ketiga item yang saya cari memang ada fotonya. Saya melakukan tracking via google image untuk melihat similarity dengan gambar lain dan hasilnya, tidak ditemukan. Ya saya makin yakin ini seller wahid.

Keesokkan harinya, S kontak kembali dan menanyakan niat saya untuk beli. Sekali lagi, dia berusaha menagih uang untuk keempat item tersebut, bahkan ia sudah memberi info rekening bank sesuai namanya, si S. Saya mulai was-was, baru kali ini ada seller mental miskin nagih melulu padahal belum deal. Saya mulai menginterogasi beliau, dari mana asalnya hingga motif nagihnya. Cukup terkejut saya mendapat pengakuan bahwa S sedang butuh uang untuk lunasin POan pribadinya, AF Ironman bermerk Hot Toys, wow! Saya pikir kembali, lalu apa urusan saya, koq malah saya yang didesak dan bingung ngelunasin utangnya. Memang ada pengkuan bahwa S bukan pemilik toko. ia hanya seller personal (catatan: dalam jual-beli AF tidak semua pemilik toko dan banyak pemain personal yang tidak punya akun Toped atau Bukalapak). Untuk meminimalisasi risiko, saya coba pecah transaksi. Saya berniat membeli 1 item dahulu dan menunda pembayaran hingga esok pagi. Jika benar barang sampai di alamat saya, baru saya melakukan transaksi selanjutnya. Dari kohesi dan koherensi kalimat-kalimat yang ditulis, S cukup kecewa dengan keputusan saya. 

Tiba hari berikutnya, dan sekali lagi S menagih saya, "Gimana gan jadi transfer? Saya kebetulan di deadline seller saya hari ini. Jadi butuh uang." Saya makin tidak simpati dengan sikapnya. Saya ulur 1 jam lagi sebelum pembayaran. Saya ingin melakukan tracking profil S di dalam fb. Benar ada akun atas nama S dengan foto-toto aktivitas bersama teman dan keluarga, anehnya tidak ada 1 foto tentang AF. Saya masih penasaran dan mencari kembali melalui pencarian google. Warrr biasah! Saya menemukan nama S yang lain dengan foto yang berbeda. Awalnya, ia mengaku berasal dari Semarang dan kali ini saya menemukan S lain (sebut saja S Asli) yang berasal dari kota pahlawan. Kebetulan nama lengkap S bukan nama yang umum dan saya makin curiga. Saya segera kontak salah seorang kawan saya yang juga sering jual-beli AF. Kami berdua merancang strategi untuk menemukan siapa dan apa motif Mr S tersebut. Kawan saya menyarankan untuk melacak nomor rekening yang diberikan dan ternyata, nomor rekening tersebut memang dimiliki oleh orang bernama Mr S. Menariknya, saya menemukan nomor dan keterangan pemilik rekening ini pada sebuah situs topup voucher game dan sejenisnya. Sebuah ecommerce yang dimiliki oleh S Asli. Benar, ini penipuan!!! Fake S yang mengaku beli Ironman ternyata beli voucher game onlen. Fake S mencoba memanfaatkan kebodohan saya untuk mentraktir voucher gratisan senilai jutaan rupiah. 

Alur penipuan yang sederhana, namun perhatikan bagaimana ia bisa mendapat foto-foto barang rare yang saya cari. Besar hipotesis saya ia php-in calon seller lain. Saya telah melakukan konfirmasi pada si S Asli yang memang benar adalah seorang pebisnis voucher topup dan sejenisnya. Mengetahui hal ini, saya segera membatalkan transaksi. Tidak mudah, fake S tidak terima dan mengatakan saya php, tidak punya integritas dan bla-bla-bla. Tantangan saya satu, "Agan kontak aja S Asli, ajak ngobrol via chat untuk menjelaskan akun bank tersebut miliki siapa sebenarnya, kemudian capture dan kirim pada saya hasilnya debatnya". Demikian, dan tidak ada lagi komunikasi kelanjutan, mungkin fake S sudah lelahhhh menghadapi kebodohan saya.

Saya yakin ini bukan perbuatan personal. Ini sebuah jaringan yang hobi mengkloning profil seseorang dan memanfaatkannya untuk keuntungan kotor. Dari pengalaman ini saya mencatat beberapa tips untuk menghindari penipuan berkedok seller:

1. Mintalah foto asli produk, jika perlu foto selfie atau dengan ktp. Memang tidak semua seller suka hal ini, namun ini adalah salah satu tes reliabilitas yang efektif.
2. Lakukan pencarian similarity melalui fitur google image. 
3. Tantang untuk melakukan transaksi via Toped atau Bukalapak yang memiliki risiko penipuan lebih kecil (namun bukan nol).
4. Tetap berusaha rasional, karena baper akan memudahkan Anda terjerumus jebakan batman-nya.
5. Lacak profil seller di medsos atau melalui google. Jika pencarian di medsos tidak memuaskan, segera telusuri melalui google.
6. Lacak pemilik nomor rekening yang diberikan. Jika bukan namanya, perlu diwaspadai. Namun jika memang benar namanya cari sekali lagi siapa sosok dibalik nama tersebut karena bisa jadi ini adalah "kloningan". Anda dapat melakukan klarifikasi pada pemilik akun/ rekening yang asli.

Demikian sharing saya, semoga bermanfaat!