Senin, 06 Juni 2016

Kisah Sukses Kusuma, Buah dalam Pesona Pariwisata

photo: Edy Antoro
(travel.kompas)
Batu, salah satu kota destinasi liburan saya bersama keluarga. Batu memang kota penuh pesona. Terletak di lereng pegunungan Panderman dan Arjuna yang terselimuti udara sejuk dan menawarkan banyak situs wisata. Jatim Park, Selecta, BNS, Cangar, dan Kusuma Agrowisata tercatat sebagai tempat favorit wisatawan lokal dan mancanegara. Roda perekonomian Batu kian berputar cepat. Bisnis perhotelan, kuliner, dan tiket wisata bermunculan seperti jamur. Persaingan bisnis semakin ketat. Bisnis pendatang baru terus berdatangan, menawarkan berbagai fasilitas kreatif. Pemain-pemain lama harus terus berjuang. Sayangnya, banyak diantara mereka yang akhirnya tinggal nama.

Dari sekian banyak pemain lama, Kusuma Agrowisata merupakan satu yang mampu bertahan dan terus bertumbuh sejak tahun 1989. Holding yang sukses ditangan Edy Antoro ini telah memiliki beberapa anak perusahaan yang berkontribusi secara signifikan. Hotel Kusuma hampir selalu menjadi persinggahan tetap saya dan keluarga setiap berkunjung ke Batu. Konsep nuansa alam yang ditawarkan begitu menarik hati saya, terutama anak-anak saya. Entah apa rahasianya, saya hanya dapat merasakan kenyamanan yang sulit diucapkan.

Beruntung, kemarin saya mendampingi mahasiswa pascasarjana Universitas Surabaya dalam business visit. Kami mendapat sharing dari Rudy Setiawan, manager yang mengelola divisi hotel dan agrowisata. Ia menceritakan bagaimana perjuangan seorang Edy Antoro dari titik nol hingga membawa Kusuma sebagai agrowisata terbaik di Indonesia dengan pendapatan dan nilai perusahaan yang menurut saya luar biasa. Sebagai peserta saya belajar banyak tentang hal-hal dibalik indahnya Kusuma. Saya mencatat 5 poin penting dari sesi tersebut.

1. Ciptakan dan konsisten dengan keunikan/ kekuatan
Kusuma merupakan bisnis agrowisata dan hotel bernuansa alam. Itulah ciri utamanya. Dari dahulu hingga kini, masih mengedepankan ciri tersebut. Di tengah maraknya perhotelan modern, Kusuma tetap eksis dan tidak akan kehilangan pelanggannya. Tidak mudah dan butuh waktu puluhan tahun untuk menata keselarasan alam dan bangunan. Saat ini mungkin Kusuma mematok tiket cukup mahal untuk petik apel atau buah lain. Hal ini dilakukan karena value yang berusaha ditawarkan seperti kebersihan, kenyamanan rute, shuttle, kualitas buah, kesigapan pemandu, dan beberapa fasilitas lain. Itulah persona yang dituju secara konsisten, mereka yang memperhatikan kualitas layanan.  

2. Menjual produk melalui wisata
Ketika seorang peserta bertanya, sebenarnya apa model bisnis Kusuma, Rudy menjawab, “Kami menjual produk melalui pariwisata.” Kusuma menjual hasil panen alam. Buah yang dijual melalui sensasi petik dan fasilitas inap (hotel). Ini adalah bentuk paling sederhana dari transmedia storytelling dan strategi cross selling, dimana pengusaha mengerahkan berbagai media untuk menjual satu produk, serta memanfaatkan berbagai channel penjualan untuk saling “mempromosikan” satu sama lain, pengalaman petik buah, waterpark, penjualan produk olahan buah, dengan hotel.

3. Jaga keseimbangan kesejahteraan pemilik, karyawan, dan masyarakat sekitar
Di sela sesinya, Rudy menyampaikan bisnis yang sehat adalah yang mampu memberi kesejahteraan bagi pemilik, karyawan, dan masyarakat sekitar, berimbang. Itulah semangat Kusuma di dalam mengembangkan bisnisnya. Tidak baik jika kesejahteraan hanya miliki investor saja. Bagaimanapun juga tim manajemenlah yang berjuang di garis depan meraih segala keuntungan. Begitu pula dengan usaha pengembangan masyarakat sekitar yang juga terus digalakkan, seperti kemitraan dengan usaha kecil dan pegembangan desa.
                                                                                        
4. Hindari sampah
Kusuma memiliki program upaya zero waste. Semua limbah akan diolah hingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Buah-buahan yang jatuh diberi sentuhan rekayasa alami untuk kemudian mampu diolah menjadi produk minuman berkualitas; limbah hotel dan dedaunan yang rontok dikelola untuk menjadi pupuk alam. Segala sampah diupayakan jadi sesuatu yang berguna. Kepedulian dan kecintaan pada alam telah ada dihati Edy yang memang meyukai dunia flora sejak masa muda. Semangat inilah yang kemudian terbangun di dalam manajemen Kusuma.

5. Tidak pernah berhenti berinovasi
“Setidaknya 6 bulan sekali ada perubahan”, itulah tekad manajemen Kusuma. Entah upaya renovasi kamar, penambahan koleksi hewan, pengecatan, perluasan area tanam, dan sebagainya. Proses inovasi Kusuma tidak boleh berhenti untuk menjaga eksistensi. Kusuma tidak hanya melakukan inovasi pada aspek produk barang dan jasa, namun juga pada area manajemen yang makin menuju pada profesionalisme penuh. Inovasi adalah syarat utama eksistensi bisnis. Sebaliknya, stagnasi dan kenyamanan adalah pemicu kepunahan. Hadirnya competitor dan pertumbuhan pariwisata Batu tetap menjadi motivasi Kusuma untuk terus berinovasi.


Semoga bermanfaat!