Minggu, 08 Mei 2016

Kerja Keras, Kurang Piknik, Penyebab Kematian Dini

pic: healthdoctrine
Beberapa waktu lalu, seorang partner perusahaan jasa konsultan datang dan berbincang bersama saya. Ia menceritakan kabar duka. Salah seorang rekan kerjanya baru saja meninggal dunia. Usianya 44 tahun, tergolong masih muda untuk terkena serangan jantung. Spontan saya menanyakan bagaimana kejadiannya? Ia menyampaikan beberapa spekulasi, kecapaian, tekanan deadline dan target kerjaan, makan tidak teratur, dan tidak pernah olah raga. Almahrum bukanlah seorang perokok. Ia hanya pekerja keras yang ingin hidup layak secara ekonomi. Ia hanya ingin membahagiakan keluarganya. Dan pada akhirnya, pekerjaan dan pola hidup segera mengakhiri masa mudanya sebelum merasa bisa membahagiakan keluarga kecilnya.

Saya melanjutkan pertanyaan, nah bagaimana ritme kerja di kantor kamu? Hampir setiap hari lembur, non stop kerja, kadang lupa makan. Bahkan memasuki bulan Februari sampai April sering pulang jam 11 malam menyelesaikan urusan pajak klien. Sabtupun tetap masuk kerja. Memang ada upah lembur yang katanya sepadan. Lalu bagaimana keluarganya (almahrum)? Ia meninggalkan 3 orang anak dan kini istrinya menjadi janda. Memang ada asuransi jiwa, namun uang sebesar apapun tidak akan pernah bisa mengembalikan keutuhan keluarga mereka. Memang dalam beberapa hari kantor akan sepi dan berduka. Setelah itu akan sibuk kembali dan mencari staf pengganti. Sebaliknya, keluarga yang ditinggal akan berduka seumur hidup.

Kapitalisme, materialisme telah merubah citra perusahaan. Mereka menjadi mesin uang dan menjadikan manusia sebagai sapi perahan dan seringkali robot, demi kemakmuran pemilik. Kekuatan otak dan tubuh manusia ada batasannya, perlu istirahat, oleh raga, dan asupan gizi yang cukup. Jika tidak, kita sedang memperpendek usia kemampuan sistem tubuh kita. Memang hidup adalah pilihan. Akan selalu ada sebagian dari kita yang memilih bekerja keras melebihi kekuatan dan kebahagiaan, dan modusnya demi tabungan atau keluarga. Pertanyaannya, keluarga yang mana? Tidak ada keluarga baik yang ingin anggotanya lekas "pulang". Tidak ada istri yang suka jablai. Tidak ada anak-anak yang tidak ingin memiliki kuantitas dan kualitas waktu bersama orang tuanya. Jika Anda karyawan profesional, bekerja, kejar rejeki secara seimbang, lakukan sesuatu yang membuat Anda  dan keluarga bahagia, jaga kondisi tubuh dan jiwa, jangan kurang piknik. Seperti kata Dalai Lama, tidak bijaksana jika kita mengorbankan kesehatan masa muda hanya untuk uang, dan kemudian kita mengorbankan uang demi kesehatan. Dari kisah curhat kawan saya tadi, sejatinya, kebahagiaan dan kesehatan lah kekayaan sebenarnya. Seorang bijaksana mengatakan, kaya itu hanya masalah kemampuan syukur.

Lalu bagaimana jika bos Anda memperlakukan Anda seperti "mesin"? Jika demikian halnya, sesungguhnya ia tidak pernah peduli pada diri Anda, kesehatan, apalagi keluarga Anda. Ia hanya peduli pada keamanan posisi dimuka klien dan pemilik. Jika ini terjadi, Anda kehilangan damai sejahtera, dan tidak mampu mengendalikan segalanya, mungkin saja ini tanda dari Sang Pencipta yang sedang membuka jalan lebih baik untuk Anda. Tapi sekali lagi, hidup adalah pilihan.

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar