Selasa, 24 Mei 2016

Hepi Inside, Hepi Outside: Layani Karyawan Anda Sebelum Menuntutnya Melayani Stakeholder

Layanan adalah faktor krusial dalam perusahaan apapun. Berbagai program layanan konsumen dan stakeholder dilakukan untuk menjaga hubungan dan reputasi. Tantangannya, seringkali sulit rasanya membuat karyawan mau memberikan layanan yang baik. Layanan dilakukan sebatas terpaksa, rutinitas, tanpa motivasi. Mengapa demikian?

Kinerja seseorang sangat dipengaruhi kondisi rumah tangga. Semangat dan performa seseorang yang berangkat bekerja dengan pelukan suami/ istri dan anak akan berbeda dengan yang berangkat dengan konflik keluarga. Intinya, "rumah/ home" yang bahagia akan memicu semangat bekerja yang tinggi. Kebahagiaan yang ia bawa dari rumah akan ia teruskan di tempat kerja. Hepi inside, hepi outside!

Ya, bisa jadi karyawan yang tidak mau bersemangat memberi layanan terbaik bagi stakeholder tidak merasakan nuansa "homy" dalam perusahaan dimana ia bekerja.

Starbucks (Amerika) dikenal sebagai tempat kerja yang memberikan kenyamanan bagi para pekerjanya. Kuncinya, Starbucks menganggap pekerjanya sebagai partner! Starbucks menjamin kesejahteraan karyawan, contohnya berani memberi jaminan asuransi kesehatan kepada pekerja yang bekerja selama 20 jam perminggu saat perusahaan lain belum menerapkannya. Dalam hal ini, ia mempelopori program peningkatan kesejahteraan pekerja.

Berikutnya, Starbucks juga memiliki program kepemilikan karyawan. Penawaran saham Starbucks dilakukan tanpa pandang bulu (baca: status dan jabatan). Tak hanya orang-orang kunci di perusahaan saja yang mendapat tawaran untuk membeli saham Starbucks, tapi semua partnernya yang bekerja selama 20 jam perminggu atau lebih juga punya kesempatan yang sama untuk memiliki Starbucks.

Satu hal yang menarik lainnya, untuk memastikan kebijakan, prosedur, ataupun perilaku dari pimpinan sesuai dengan komitmen bersama (yang menganggap karyawannya sebagai partner), Starbuck membentuk Mission Review Committee sebuah forum yang salah satunya untuk membicarakan "fairness" bagi karyawan. Teladan yang inspiratif, Starbucks tidak hanya menuntut karyawan memberi layanan terbaik buat pelanggan, tapi ia memulainya dengan memberi layanan terbaik buat karyawannya. 

Berbagai kebijakan tersebut diyakini mampu membawa atmosfer kerja yang kondusif dan menyenangkan. Mereka melayani tiap pelanggan dengan ramah dan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat para pelanggan merasakan kenyamanan yang terlebih dahulu telah mereka alami. Hasilnya, saat ini Starbucks berhasil menjadi salah satu jaringan kedai kopi terbesar di dunia.


Semoga bermanfaat!


Minggu, 22 Mei 2016

Desaturasi Strategi Bersaing, Analogi Sederhana Ketika Pro Wrestling Sudah Tidak "Sekeren" Street Fighters

Tekken Image
Di tahun 86an, Anda ingat Nintendo memanjakan fans-nya dengan game fighting berjudul Pro Wrestling. Game yang sempat membuat saya tidak berhenti bermain, pagi sebelum sekolah, siang sepulang sekolah hingga malam hari. Sebuah pertandingan gulat yang menawarkan pilihan karakter-karakter keren seperti Starman dan The Amazon. Masing-masing tokoh memiliki spesialisasi “jurus” gulat yang unik. Pemain memiliki misi untuk menjadi jawara gulat terbaik dengan cara mengalahkan seluruh pegulat yang ada. Sejak era Urban Champion dan Pro Wrestling, genre game fighting mulai menemukan posisinya. Kemudian disusul sukses besar Capcom di tahun 1991 dengan merilis game sejenis, Street Fighter II.

Kehadiran Street Fighter II benar-benar merebut hati gamers, sekaligus pasar game-game fighting sebelumnya. Selain peningkatan grafis, Street Fighter II memberikan sensasi dan pengalaman yang sangat kaya, memadukan berbagai jenis beladiri dunia dalam satu game, seperti freestyle karate, gulat, kung fu, militer, hingga yoga. Para karakter juga didisain begitu universal dan cukup mewakili ras dan bangsa di dunia. Setelah era Street Fighter, game dengan pola demikian makin laris. Kita mengenal judul Tekken, Soul Calibur, Marvel vs Capcom, dan sebagainya. Game fighthing dengan peningkatan grafis 3D yang superkeren, makin berani mencampuradukkan apapun yang menarik untuk diperangtandingkan. Beruang, dinosaurus, cewek-cewek kawaii, robot, monster, malaikat dengan berbagai gaya bertarung dan senjata mesin, semua masuk disana. Segalanya menjadi lebih menarik. Model kompetisi bergeser, dari pertandingan dengan gaya tarung yang sama menjadi pertandingan dengan berbagai gaya bertarung dalam sebuah arena.

Analogi yang sama terjadi pada medan bisnis. Sebelum era 90an, persaingan masih berkonsentrasi pada cakupan industri, pemain bisnis dengan jenis usaha yang relatif sama atau usaha dengan produk substitusi yang mendekati. Bisnis otomotif akan berhadapan dengan pemain otomotif, bisnis mainan berhadapan dengan bisnis mainan, dan seterusnya. Begitu pula dengan perilaku pasar yang masih mengutamakan nilai sebuah barang dari aspek fungsional. Pergeseran era, dari era informasi menuju era konseptual membawa perubahan sikap dan pola pengambilan keputusan pasar yang cukup signifikan. Calon konsumen tidak lagi hanya terpatok pada aspek fungsional produk, mereka mempertimbangkan aspek emosional dan bahkan spiritual yang melekat pada produk atau brand.

Strategi fokus pada rival movement atau persaingan mungkin cocok untuk era industri, dimana penguasa resource dan modal akan menjadi pemenang. Namun era konseptual telah membuka model persaingan yang lebih luas. Pemenang persaingan bukan lagi pemilik modal besar, namun siapa saja dapat menjadi pemenang selama ia memiliki inovasi yang hebat. Manuver pendatang baru akan sangat sulit diprediksi. Mereka seperti Daud yang tiba-tiba mampu menjatuhkan Goliat. Kedua, era konspetual membuat batasan industri menjadi semakin kabur. Berbagai jenis usaha, produk, dan jasa dapat berkumpul memperebutkan pasar yang sama. Saat ini, pesawat terbang sudah menjadi pesaing bis antarkota, Cinema XXI bisa menjadi pesaing taman hiburan, cafĂ© menjadi pesaing layanan pijat refleksi, aplikasi edugame menjadi pesaing lembaga kursus, atau ekstrimnya, konser Lady Gaga sudah menjadi pesaing even keagamaan. Ya, inilah fenomena era of distraction atau era keambiguan, dimana istilah dan batasan industri sudah tidak jelas. Medan pertempuran bisnis bukan lagi antarbisnis sejenis dalam satu industri, namun sudah bergeser menjadi sebuah arena, dimana jenis bisnis apapun dapat saling bertarung memperebutkan pasar yang sama. Bisa dipastikan bahwa strategi fokus pada persaingan akan membuat pebisnis makin depresi. Tanpa kesadaran dan kemampuan untuk move on, maka sebuah bisnis akan menjadi agresif, sembrono, berisiko untuk jatuh.

Kesesakan dan ketatnya persaingan, baik antarperusahaan maupun antarmarketer dalam arena bisnis memicu agresifitas. Sebagai konsekuensinya, peran marketing berisiko mengalami proses desaturasi, pemudaran value. Pasar sudah (mulai) jenuh dengan pesan-pesan iklan yang memaksa, baik dalam bentuk spam atau tindakan agresif lain. Jika di era lampau marketer lebih banyak berbicara, saat ini marketer perlu lebih banyak mendengar, mencari tahu value konsumen. Jika masa lampau medan persaingan bisnis masih dikuasai oleh penguasa modal dan resource, saat ini penguasa bisnis adalah siapa saja yang memiliki kemampuan inovasi value yang tinggi. Marketing bukanlah lagi kegiatan mekanistik, namun tindakan humanis berbasis moral dan value. Ketika tidak ada lagi value yang dapat ditawarkan kepada konsumen, dengan mudah konsumen akan beralih hati.  

Hal ini memicu pentingnya transformasi strategi bisnis yang bergerak mulai dari fokus pada rival movement, kemudian product dan market development, menuju pada customer value development. Era informasi dan konseptual menciptakan kondisi red ocean atau abundance hingga startuper atau inovator hampir tidak memiliki pasar baru karena semua industri sudah padat dengan pesaing. Satu-satunya cara untuk keluar dari kesesakan tersebut adalah dengan merefokus pandangan perusahaan dari rival movement kepada penciptaan customer value dan menciptakan pasar baru, bukan menguasai pasar yang sudah ada, atau yang sedang kekinian dengan istilah disrupt innovation.


Semoga bermanfaat!


Selasa, 17 Mei 2016

Rahasia Bisnis Pencipta Aliran Uang

13 Mei lalu kampus saya kedatangan pembicara seminar, Rina Novita. Dia CEO DNA, pemegang lisensi dan pengembang inovasi bisnis Upin&Ipin, Bo Boi Boy, serta promotor sederet artis ternama. Sebuah kehormatan saya menjadi moderator. 

Menarik, model bisnis Upin&Ipin tercatat berhasil mengumpulkan rata-rata revenue 300 milyar rupiah setiap tahun dari channel lisensi. Nilai ini belum termasuk nilai transaksi pengusaha-pengusaha lain atas "pembajakan" IP tersebut. Di sisi lain, Bo Boi Boy, IP yang lebih baru berhasil mencuri hati anak-anak di Asia, termasuk Indonesia. Peluang bagus ini diambil oleh Mayora yang membeli lisensi Bo Boi Boy dan berhasil meningkatkan revenue hingga 400%. Saya penasaran, bagaimana melakukannya?

"Kunci utamanya idealisme", tutur Rina. Idealisme dalam arti memberi dampak positif kepada orang lain. Mengerjakan kedua IP tersebut, DNA hanya berfokus pada membuat karya yang baik dan menyampaikan nilai kebaikan kepada anak-anak seperti yang disampaikan melalui episod Upin&Ipin berpuasa dan rajin sholat. Baginya, berbisnis adalah tentang berbuat kebaikan. Hilangkan pikiran mengejar revenue karena keuntungan akan datang sendiri ketika kebaikan itu telah tersampaikan.

Apa yang bisa kita pelajari?

Kita seringkali merasa telah berusaha keras namun tidak mendatangkan hasil. Kita sudah melakukan upaya promosi, menghabiskan anggaran marketing, namun tetap saja tidak ada penjualan (yang signifikan). Mengapa demikian? Salah satu penyebab utama adalah kita terlalu fokus pada mengejar revenue. Buktinya, kita segera stress begitu melihat catatan revenue yang buruk, terkadang menyesal telah berinvestasi tanpa hasil. Paradigma demikian cukup membuktikan kita lebih fokus mengejar keuntungan finansial daripada menciptakan value (of goodness). Paradigma pengejaran keuntungan finansial dengan mudah akan mengaburkan fokus kita menciptakan value.

Keberhasilan Upin&Ipin bukan dibangun dari keutamaan pengejaran keuntungan bisnis, namun mengutamakan pada proses penciptaan produk yang memberi dampak positif bagi audien. Produk yang baik dan memberi solusi atas masalah kehidupan (dalam hal ini moral anak) dengan sendirinya akan diburu oleh masyarakat dan mendatangkan keuntungan. 


Semoga bermanfaat!

Kamis, 12 Mei 2016

Gagal Fokus, Puncak dari Civil War

Steve Rogers (Captain America) bersitegang dengan Tony Stark (Iron Man). Keduanya superhero yang cukup lama saling bekerja sama dalam The Avengers. Masalahnya sebatas prinsip, Stark ingin menandatangani perjanjian peraturan tindakan superhero dan Rogers menolak. Pemerintah menilai keberadaan Avengers membahayakan rakyat sipil dan mereka perlu diatur dalam hukum yang jelas.

Saat itu, dunia tengah menghadapi serangan teroris yang tidak diketahui dalangnya. Rogers bersama timnya memilih menggunakan caranya sendiri untuk tetap memburu para teroris. Mereka bergerak melawan hukum dengan dalih bahwa terorisme akan makin berbahaya jika tidak segera dilumpuhkan dalangnya. Mengetahui hal ini, Stark bersama timnya berusaha menghentikan tindakan outlaw Rogers dan tim. Akhirnya terjadi pertempuran diantara mereka. Pertarungan 2 kubu superhero memang sangat dahsyat, tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang mau menyerah. Berhasil lolos, dengan pesawatnya Rogers segera meluncur menuju Kreischberg, yang disinyalir sebagai lokasi keberadaan si dalang. Stark berhasil mengejar Rogers. Kali ini ia telah bertekad untuk membantu Rogers. 

Di lokasi, niat baik Stark urung. Sekali lagi keduanya kembali saling baku hantam, kali ini beda pemicu. Stark menjadi geram mengetahui dikhianati Rogers yang selama ini telah menyembunyikan misteri tewasnya kedua orang tua Stark. Pada akhirnya semua terkuak. Baron Zemo-lah yang menjadi penyebab semua ini terjadi. Kecerdasan Zemo mampu memecah belah Avengers, ia berhasil membuat para superhero saling curiga dan saling melumpuhkan melalui berbagai skenario rapi. Walau Zemo berhasil ditangkap pemerintah, kedua kubu Avengers terlanjur saling menyakiti.

Itulah sekilas gambaran Civil War, karya Marvel yang sempat mendominasi ruang-ruang bioskop tanah air. Cukup banyak pelajaran yang bisa kita petik. Menontonnya, saya teringat sebuah buku berjudul Focus -Daniel Goleman. Sukses atau gagal fokus menjadi masalah puncak dalam Civil War.

Mari kita berdiri di sisi Rogers. Ia punya misi besar untuk menangkap dalang terorisme. Namun perhatikan, perjalanannya sangat panjang dan melelahkan. Di setiap tindakan, selalu saja ada "interupsi" dan "penganggu", mulai dari masalah pribadi hingga masalah politik. Kubu Stark beberapa kali berusaha membujuknya untuk mau menandatangi perjanjian tindakan superhero, dan ia tetap bersitegas menolak. Ia punya prinsip bahwa teroris akan lebih berbahaya jika tidak segera dilumpuhkan, dengan cara Avenegers. Itulah tugas superhero, itulah integritas! Lepas dari asumsi lain, sikap Rogers adalah pemicu berhasilnya penangkapan Zemo. Tindakan berdasar nilai kebenaran pada akhirnya membuka mata hati kubu Stark. Saya teringat kalimat bijaksana Ghandi, "First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win!" Tindakan berintegritas Rogers telah memenangkan hati para penolaknya. Sebaliknya, Stark mengalami gagal fokus pada pertempuran puncak. Provokasi Zemo membuatnya menjadi benci kepada Rogers. Niat awal membantu Rogers berubah menjadi niat untuk membunuh sahabat Rogers (Winter Soldier) sekaligus melumpuhkan Rogers yang dianggap pengkhianat. Tujuan baik, berubah menjadi tujuan baru yang tidak lebih baik. Saat itu Stark sedang mengalami gagal fokus.

Gagal fokus adalah masalah utama kegagalan pencapaian performa. Sebagai manusia yang hidup di era konektivitas, nampaknya maaslah fokus akan menjadi tantangan yang makin sulit diselesaikan. Baru serius kerja, eh tiba-tiba muncul notifikasi facebook. Sering kita jadi penasaran dan sejenak meninggalkan pekerjaan untuk bersosmed. Sebentar lagi bekerja, tang ting tung suara notifikasi Line berbunyi dan kembali membuat kita penasaran untuk membukanya. Itulah gambaran sederhana gagal fokus. Jika dibiarkan, bisa jadi pekerjaan 1 jam baru selesai 3 jam. Belum lagi gangguan dan godaan lain yang sering mendatangi kita saat bekerja, seperti ajakan ngobrol rekan.

Seringkali, sebuah pekerjaan tidak selesai bukan karena kita tidak punya kompetensi, namun karena sulit untuk konsentrasi dan fokus. Sama seperti Stark, informasi bias dari Zemo membuatnya memutar fokus awal membantu Rogers menjadi "membantai" Rogers. Emosi negatif dan kebencian telah menguasai diri dan menggagalkan niat mula-mula. Dalam kehidupan organsiasi, gagal fokus (visi) yang diboncengi emosi negatif sangat potensial untuk menjadi konflik layaknya Civil War. Dalam hal ini, mari belajar dari Rogers. Apapun yang terjadi ia tidak pernah lupa fokus dan tujuan hidupnya. Ia menyelesaikan masalah dan interupsi yang terjadi, namun ia tetap menjaga integritas pada visi hidupnya. Faktor "pengganggu" dan interupsi tidak lepas dari kehidupan kita, namun kendali untuk ikut arus lain atau stay focus ada di tangan kita.


Semoga bermanfaat!

Minggu, 08 Mei 2016

Kerja Keras, Kurang Piknik, Penyebab Kematian Dini

pic: healthdoctrine
Beberapa waktu lalu, seorang partner perusahaan jasa konsultan datang dan berbincang bersama saya. Ia menceritakan kabar duka. Salah seorang rekan kerjanya baru saja meninggal dunia. Usianya 44 tahun, tergolong masih muda untuk terkena serangan jantung. Spontan saya menanyakan bagaimana kejadiannya? Ia menyampaikan beberapa spekulasi, kecapaian, tekanan deadline dan target kerjaan, makan tidak teratur, dan tidak pernah olah raga. Almahrum bukanlah seorang perokok. Ia hanya pekerja keras yang ingin hidup layak secara ekonomi. Ia hanya ingin membahagiakan keluarganya. Dan pada akhirnya, pekerjaan dan pola hidup segera mengakhiri masa mudanya sebelum merasa bisa membahagiakan keluarga kecilnya.

Saya melanjutkan pertanyaan, nah bagaimana ritme kerja di kantor kamu? Hampir setiap hari lembur, non stop kerja, kadang lupa makan. Bahkan memasuki bulan Februari sampai April sering pulang jam 11 malam menyelesaikan urusan pajak klien. Sabtupun tetap masuk kerja. Memang ada upah lembur yang katanya sepadan. Lalu bagaimana keluarganya (almahrum)? Ia meninggalkan 3 orang anak dan kini istrinya menjadi janda. Memang ada asuransi jiwa, namun uang sebesar apapun tidak akan pernah bisa mengembalikan keutuhan keluarga mereka. Memang dalam beberapa hari kantor akan sepi dan berduka. Setelah itu akan sibuk kembali dan mencari staf pengganti. Sebaliknya, keluarga yang ditinggal akan berduka seumur hidup.

Kapitalisme, materialisme telah merubah citra perusahaan. Mereka menjadi mesin uang dan menjadikan manusia sebagai sapi perahan dan seringkali robot, demi kemakmuran pemilik. Kekuatan otak dan tubuh manusia ada batasannya, perlu istirahat, oleh raga, dan asupan gizi yang cukup. Jika tidak, kita sedang memperpendek usia kemampuan sistem tubuh kita. Memang hidup adalah pilihan. Akan selalu ada sebagian dari kita yang memilih bekerja keras melebihi kekuatan dan kebahagiaan, dan modusnya demi tabungan atau keluarga. Pertanyaannya, keluarga yang mana? Tidak ada keluarga baik yang ingin anggotanya lekas "pulang". Tidak ada istri yang suka jablai. Tidak ada anak-anak yang tidak ingin memiliki kuantitas dan kualitas waktu bersama orang tuanya. Jika Anda karyawan profesional, bekerja, kejar rejeki secara seimbang, lakukan sesuatu yang membuat Anda  dan keluarga bahagia, jaga kondisi tubuh dan jiwa, jangan kurang piknik. Seperti kata Dalai Lama, tidak bijaksana jika kita mengorbankan kesehatan masa muda hanya untuk uang, dan kemudian kita mengorbankan uang demi kesehatan. Dari kisah curhat kawan saya tadi, sejatinya, kebahagiaan dan kesehatan lah kekayaan sebenarnya. Seorang bijaksana mengatakan, kaya itu hanya masalah kemampuan syukur.

Lalu bagaimana jika bos Anda memperlakukan Anda seperti "mesin"? Jika demikian halnya, sesungguhnya ia tidak pernah peduli pada diri Anda, kesehatan, apalagi keluarga Anda. Ia hanya peduli pada keamanan posisi dimuka klien dan pemilik. Jika ini terjadi, Anda kehilangan damai sejahtera, dan tidak mampu mengendalikan segalanya, mungkin saja ini tanda dari Sang Pencipta yang sedang membuka jalan lebih baik untuk Anda. Tapi sekali lagi, hidup adalah pilihan.

Semoga bermanfaat!