Selasa, 12 April 2016

Konflik Generasi, Bom Waktu Organisasi (Bisnis) Mapan

pic:businessnewsdaily
"Generasi muda sekarang susah diatur, suka menerobos birokrasi, maunya sendiri dan suka berhitung", itulah keluh kesah beberapa klien saya pada manajemen senior, yang mungkin juga terjadi pada perusahaan Anda. Satu hal yang perlu dipertanyakan, pernahkah manajemen (senior) mencoba melakukan justifikasi terhadap fenomena tersebut? Mengapa generasi muda demikian? Sebaliknya, saya bergaul dengan generasi muda profesional yang mengeluhkan perilaku para senior, "kaku, birokratis, suka mempermasalahkan masalah teknis, bawaannya penuh curiga, dan penghindar risiko" adalah beberapa kata yang muncul dari kalangan mereka. Jika demikian adanya, muncul konflik-konflik baru, tidak ada solusi, maka perusahaan Anda sebenarnya sedang berhenti tumbuh. Perusahaan Anda sedang dalam masa kritis yang saya sebut dengan, konflik generasi.

Sebelumnya, kita bahas sekilas mengenai katagori generasi. 

Saat ini, pakar demografi telah mengkategorikan perbedaan generasi ke dalam beberapa kategori. Walau terdapat perbedaan satu sama lain, pada dasarnya kategorisasi generasi mengandung prinsip yang sama. Umumnya, organisasi masa kini memelihara 3 generasi sekaligus, generasi baby boomer, generasi X, dan generasi Y. Baby boomer adalah mereka yang lahir di tahun 45-60an. X adalah mereka yang lahir di tahun 60-80an, dan Y adalah mereka yang lahir tahun 80-95an. Setiap generasi hidup di zaman dan lingkungan yang berbeda yang membentuk karakter mereka. 

Konflik generasi merupakan sebuah keadaan dimana sebuah organsiasi yang dikelola oleh orang-orang dari 2 atau lebih generasi tidak memiliki kesepahaman dan upaya saling memahami satu sama lain, sehingga memicu persepsi negatif hingga berujung pada sebuah konflik lintas generasi. Konflik demikian sering terjadi akibat strategi pengendalian SDM yang salah kaprah. Sebagai contoh, penggunaan paradigma dan prosedur pengendalian era baby boomer atau X untuk mengendalikan generasi Y. Memang benar pada era terdahulu prosedur tersebut efektif, generasi baby boomer memiliki loyalitas besar, lebih taat, dapat dikelola dengan skema militer dan punishment. Namun berbeda dengan generasi Y yang lebih mencari value of work daripada sekadar loyalitas dan menyukai fleksibilitas, mereka tidak menyukai birokrasi berlebihan. Gen Y lebih ekspresif, tidak suka keseragaman dan rutinitas, mudah resign dari pekerjaan jika tidak mendapat value of work, mencari perusahaan yang lebih baik, hijrah ke luar negeri, atau memilih jadi pengusaha. Tantangannya, sementara ini, organisasi tengah memasuki masa transisi kepemimpinan dimana generasi Y seharusnya sudah mulai menduduki kursi pimpinan. 

Lalu bagaimana perusahaan mapan mengatasi konflik generasi? 

Ikuti perbincangan saya di Radio Suara Surabaya, Sabtu, 16 April 2016 pukul 10.00-11.00 WIB, bisa juga livestreaming http://www.suarasurabaya.net/radio/

Stay tuned dan Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar