Kamis, 08 Desember 2016

Kesulitan Deal dengan Klien? Baca ini!

pic: 4harmony
Beberapa bulan lalu, saya berbincang dengan salah seorang klien, owner usaha manufaktur besar. Menikmati hidangan ringan, perbincangan kami sampai pada topik personal. Singkat cerita dia bertanya santai, “Pak, bapak tau ngga, kenapa dulu saya akhirnya memutuskan berpartner dengan bapak?” Pertanyaan yang sulit dijawab. Mungkin melihat saya tampak berpikir keras, ia melanjutkan, “Awalnya ada calon partner konsultan lain yang beberapa kali datang. Sudah hampir deal, namun akhirnya saya memutuskan berpartner dengan bapak saja.” Alasannya, “Tim bapak bisa memahami apa yang saya mau”.
Saya sungguh belajar banyak dari pengalaman sederhana ini. Saya belajar bagaimana kemauan diri untuk mengerti memahami orang lain adalah hal yang penting. Saya tidak memiliki media marketing canggih, menjual gelar atau pengalaman. Saya hanya belajar mencoba mengerti, apa sih mau calon klien saya. Argumen saya juga sederhana, dokter idealnya harus menemukan akar penyebab rasa sakit sebelum memberi treatment atau obat untuk menyembuhkan penyakit. Tidak semua kepala pusing obatnya Panad**. Bisa jadi sakit kepala karena sakit hati. Setiap pribadi (klien) memiliki kompleksitas hidup yang berbeda.
Daniel Pink, mengungkap hasil penelitiannya di sebuah sekolah kedokteran Amerika. Ia menemukan bahwa rata-rata dokter akan mengakhiri konsultasi dengan pasien pada detik ke-23. Artinya, pekerjaannya akan sangat tergesa-gesa. Entah karena ramai pasien, kejar omset, atau memang tidak memiliki empati. Saya penasaran, bagaimana di Indonesia? 
Dibutuhkan pendekatan yang berbeda di dalam berkomunikasi untuk memahami setiap pribadi. Memang butuh effort lebih besar, waktu lebih banyak, dan beban pikiran yang lebih berat. Dalam psikologi, sederhananya kemauan dan kemampuan untuk memahami, bahkan hingga bergerak untuk orang lain dikenal dengan istilah empati. Sebuah sikap yang akhirnya menciptakan keselarasan pandangan, kesamaan cara pandang. Kata kunci utama yang dapat kita temukan disini adalah “kesamaan”. Kesamaan adalah pendorong empati dan empati pada akhirnya mendorong trust.
Berbagai pengalaman bertemu klien menjadi inspirasi terbaik bagi saya untuk menyelesaikan buku terakhir saya, EXIST OR EXTINCT. Secara khusus saya membahas faktor di pada Bab Mirror Tween. Faktor kesamaan merupakan faktor pembangun awareness yang cukup efektif sebab secara alami, manusia lebih menyukai manusia lain yang memiliki kesamaan dengannya. Sebaliknya, tanpa adanya empati, faktor kesamaan, sebuah komunikasi akan kering dan tidak menyenangkan. Tidak ada keputusan yang sepenuhnya rasional. Keputusan manusia lebih sering dikendalikan faktor irasional. 
Mungkin salah satu kegagalan kita selama ini bukan karena produk/ tawaran kita tidak berkualitas, namun lebih pada karena belum dibutuhkan konsumen. Kita terlalu sibuk menjelaskan fitur dan kehebatan produk kita tanpa memahami apa kebutuhan konsumen dan kita menganggap pola pikir calon konsumen sama dengan pola pikir kita.
Empati yang menimbulkan rasa nyaman, cocok, dan percaya adalah kunci dasar pencipta hubungan baik yang sangat berarti bagi stakeholder anda. Nyaman, ada kecocokan, dan saling percaya akan menjadi value yang tidak mudah tergantikan. 

Semoga bermanfaat! 

Minggu, 30 Oktober 2016

Kita, Manusia "Penjual" Tuhan

Kotori LoveLive (Sunrise)
Mendekati Pilgub Jakarta, dinding sosmed Anda jelas makin dipenuhi berita-berita politik. Dengan input dan proses yang benar, berita tersebut bisa jadi informasi yang berguna. Sebaliknya, akan menjadi sampah atau hoax. Faktanya, justru kuantitas berita sampah tersebut lebih mendominasi dinding sosmed kita dengan topik seputar SARA, utamanya agama. Sejak Ahok jadi gubernur Jakarta, isu-isu yang beredar konsisten seputar hal tersebut, lepas dari kontribusi yang beliau berikan buat Jakarta. 

Saya bukan fans Ahok, juga bukan pembenci. Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sejenak tentang sebuah pola dekonstruksi yang terjadi di negeri ini. Mengapa isu utama yang diangkat untuk "menyerang" Ahok selalu isu seputar agama? Bukan masalah jenis kelamin, rapor kinerja masa lalu, status ekonomi, atau atribut demografi lain? Jelas ada yang menarik dari aspek agama.

Agama merupakan "tata cara" pencarian manusia kepada Tuhan. Dengan kata lain, agama merupakan media spiritual. Dalam kajian Wilber tentang The Great Nest of Human Being, disebutkan manusia utuh terdiri dari 4 dimensi, yaitu tubuh, pikiran, jiwa, dan roh (spirit). Spirit merupakan elemen utama yang menggerakkan segalanya. Manusia akan melakukan apa saja demi dorongan spiritual. LoveLive, merupakan salah satu anime idol group sukses besar di Jepang dan di beberapa negara Asia lain. Menariknya, LoveLive mampu membangun fans, bahkan umat yang super loyal. Di beberapa tempat main arcade Jepang misalnya telah menyediakan tempat "pemujaan" tokoh-tokoh LoveLive. Bahkan tahun lalu di Cina saat kereta bawah tanah bergambar tokoh LoveLive diresmikan, tak sungkan para fans menunggu kedatangan kereta dan bersujud di sana. Mereka menganggap para tokoh anime itu "tuhan" mereka. Ya memang, secara logika mereka tidak waras. Dalam konteks lain terjadi pada fans produk ternama seperti Apple atau Harley Davidson yang mampu membentuk spiritual fans dengan tingkat loyalitas terparah, cult loyalty. 

Dari kasus singkat di atas mungkin Anda sudah mulai bisa menjawab, mengapa isu agama lebih menarik dibakar daripada isu lain? 

Benar, ketika bicara topik spiritual, khususnya agama, manusia cenderung tidak lagi memakai pikiran logisnya, bahkan perasaan takut, sungkan, atau empati. Mereka mudah sensitif dan marah ketika apa yang mereka yakini benar disinggung atau dicaci, walaupun istilah spiritualitas tidak sepenuhnya sama dengan agama. Jadi, memang benar lebih mudah menggerakkan manusia dengan mengangkat isu spiritual (agama) daripada isu lain. Mereka tidak pikir panjang dan cepat bergerak, atau menggunakan jalan pikiran tipe I (dalam konsep kerangka pikiran menurut Kahneman). 

Jelas sudah kenapa isu agama menjadi senjata ampuh para elit potik untuk menggoncang dan menggagalkan suksesi calon gubernur Ahok. Sesuatu yang diyakini benar dan berhubungan dengan keTuhanan selalu akan menjadi strategi yang efektif untuk memobilisasi manusia. Mereka akan mudah tersulut emosi dan menjadi rendah logika ketika dipancing dengan pembenaran-pembenaran berbasis ajaran agama. Manusia akan melakukan apa saja, bahkan ekstrimnya tanpa perhitungan logis yang matang. Sebaliknya, ketika manusia bersandar penuh pada logika, maka mereka akan mengingkari fenomena spiritual.

Pribadi, saya tidak yakin bahwa oknum pencipta "teror" seputar politik adalah orang-orang yang memiliki tingkat spiritualitas yang baik, karena spiritualitas merupakan sesuatu yang jauh melampaui ikatan atribut agama, tentang hubungan pribadi manusia dengan Sang Penciptanya, serta menifestasi dalam tindakan kasih atas segala ciptaanNya, termasuk manusia lain dan alam. Mereka (oknum provokator) hanya "pedagang" yang kreatif, menjual nama "Tuhan" untuk traffic, kekuasaan, dan urusan perut segelintir orang. Jika direnungkan, sejak dahulu hingga masa kini, (nama) Tuhan memang sudah diperjualbelikan dengan cara dan konteks yang berbeda. Dan, sebagian besar bisnis yang mengatasnamakan "tuhan" begitu diminati dan mendatangkan profit besar. Betapa rendahnya kita. 

Save NKRI, Semoga bermanfaat!


Temukan ulasan dan kasus bisnis dan marketing berbasis spiritualitas lainnya di buku terbaru saya, Exist or Extinct (klik disini untuk ulasannya).

















Jumat, 21 Oktober 2016

Kisah Bijak: Kejujuran Berbuah Emas

pic:crosswalk.com
Saya teringat sebuah kisah bijak Jepang yang mengajar tentang kejujuran.

Di sebuah desa, hidup seorang penebang kayu bernama Takeshi. Ia hidup sederhana bersama keluarganya. Suatu pagi, ia berangkat ke hutan mencari kayu untuk ditebang. Ia sudah berkeliling ke sana kemari namun cukup sulit menemukan pohon tua yang siap ditebang. Ia terus berjalan menuju rute baru dan sampailah ia di sisi danau kecil yang rindang. Terlihat pohon tua di tepi air yang siap ditebang. Ia mengambil kapak kesayangannya dan mulai menebang pohon. Tanpa sengaja, kapak itu terlempar jatuh ke danau. Takeshi menjadi bingung.

Danau itu dalam dan dingin airnya. Ia termenung dan duduk cukup lama di sana. Ia menjadi sedih karena tidak membawa hasil untuk menghidupi keluarganya. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba air danau itu beriak, bergoncang, ada sesuatu yang muncul di sana. Sosok bidadari yang anggun. Bidadari itu terlihat memegang dua buah kapak yang terbuat dari emas dan perak. “Kamu mencari kapak yang hilang?” tanya bidadari. “Benar” jawab Takeshi. Bidadari itu melanjutkan, “Dari dua kapak ini, manakah milikmu?” Dengan polos dan jujur Takeshi menjawab, “Bukan keduanya. Milikku hanya kapak tua yang tebuat dari kayu dan besi.”

Bidadari itu tampak puas dengan jawaban Takeshi. “Karena kejujuranmu, ambillah kedua kapak ini menjadi milikmu,” pinta bidadari. Takeshi sangat bahagia, ia pulang dan menceritakan hal ini kepada keluarga dan tetangganya. Kejujurannya berbuah kekayaan, yang mensejahterakan dan mendamaikan hidup.

Mendengar kisah itu, Itachi tetangga Takeshi berniat melakukan hal sama. Ia pergi ke danau yang sama dan dengan sengaja menjatuhkan kapak besinya ke danau. Hal yang sama terjadi. Bidadari itu muncul dan menanyakan hal yang sama, “Dari kedua kapak emas dan perak ini, manakah milikmu?” Itachi sangat bahagia dan tanpa beban ia berkata, “Yang emas, itu milikku.” Mendengar kebohongannya, bidadari menjadi marah dan menenggelamkan Itachi ke dalam danau.

Dari Takeshi dan Itachi kita belajar tentang kejujuran. Takeshi adalah tokoh yang mengutamakan kejujuran. Ia hanya berkata hal yang sebenarnya terjadi. Ia tidak berorientasi pada emas dan perak yang menggiurkan. Namun pada akhirnya, kejujuran membawanya pada kehidupan lebih baik, bidadari menghadiahkan emas dan perak kepadanya. Berbeda dengan Itachi yang hidupnya berorientasi pada kekayaan. Ia mengorbankan kejujuran dan ia kehilangan keduanya, integritas dan kekayaan. Membangun kepercayaan dalam profesi dan bisnis itu sederhana, sesederhana jalan pikiran Takeshi. Kepercayaan dibangun dari kejujuran dan keterbukaan. Dan jelas, langkah ini membutuhkan lompatan iman.

Semoga bermanfaat!


(Dikutip dari buku terbaru, Exist or Extinct -Bonnie Soeherman)


















Selasa, 04 Oktober 2016

Menghadapi Teror Seller Tipu-Tipu, Stay Fool Stay Cool

Sudah terlalu banyak kasus penipuan jual-beli di dunia internet. Selalu saja ada korban. Mereka (baca: penipu) menggunakan berbagai teknik yang unik dan kreatif. Baru saja saya mendapat pengalaman berinteraksi dengan fake seller alias seller tipu-tipu. Syukurlah akhirnya saya terhindar dari "gendam" beberapa hari lalu.

Sabtu, 1 Oktober lalu saya mendapatkan private message (pm) dari si S, orang yang tidak saya kenal. Dengan sapa ramah ia menawarkan penjualan Action Figure (AF). Bahkan sempat ia memuji, "Agan kuliah di kampus XXXX ya, hebat. Itu kampus terbaik se-Asia Tenggara". Saya berguman, "Bathukmu sempal, surveynya mbahmu apa." Ia melacak postingan saya dan benar kebetulan saya pernah memasang postingan WTB (want to buy) barang "X" di sebuah forum jual beli facebook. Sebagai calon buyer rasional, pertanyaan pertama saya adalah berapa harganya. S menawarkan harga seperti harga pasaran, asal sebut saja 500rebu. Saya mencoba menawar 450rebu. Proses tawar-menawar cukup alot dan akhirnya kami deal di harga, misalnya 450rebu. Langkah kedua, saya meminta foto barang X. Selang beberapa saat, F mengirimkan foto melalui chat fb. "Wow, ini seller beneran", batin saya. Segera ia mem-follow-up, "Gan kalau minat ambil boleh transfer sekarang karena siang ini saya je JNE". 

Sebelum transaksi lebih lanjut. Saya iseng bertanya, "Gan punya barang Y, Z, dan A?" "Ada gan", jawabnya. "Berapa duit?", tanya saya. Dengan responsif ia menjawab dan memberi info harga masing-masing item yang saya tanyakan. Saya makin tertarik karena ia menawarkan harga miring. "Berapa total jika saya ambil semua?" Ia memberikan angka bagus untuk keempat barang tersebut dan gratis ongkos kirim. Kembali S mencoba menagih saya, "Kalau minat transfer hari ini gan, barang langsung saya packing". Sebelum merespon tagihan, saya tidak begitu saja percaya, mengingat 3 item barang yang saya tanyakan cukup langka di pasaran. Saya meminta foto kedua kalinya untuk 3 barang tersebut. Tidak cepat responnya. Hampir 12 jam si S baru mengirimkan foto yang saya minta. Benar, ketiga item yang saya cari memang ada fotonya. Saya melakukan tracking via google image untuk melihat similarity dengan gambar lain dan hasilnya, tidak ditemukan. Ya saya makin yakin ini seller wahid.

Keesokkan harinya, S kontak kembali dan menanyakan niat saya untuk beli. Sekali lagi, dia berusaha menagih uang untuk keempat item tersebut, bahkan ia sudah memberi info rekening bank sesuai namanya, si S. Saya mulai was-was, baru kali ini ada seller mental miskin nagih melulu padahal belum deal. Saya mulai menginterogasi beliau, dari mana asalnya hingga motif nagihnya. Cukup terkejut saya mendapat pengakuan bahwa S sedang butuh uang untuk lunasin POan pribadinya, AF Ironman bermerk Hot Toys, wow! Saya pikir kembali, lalu apa urusan saya, koq malah saya yang didesak dan bingung ngelunasin utangnya. Memang ada pengkuan bahwa S bukan pemilik toko. ia hanya seller personal (catatan: dalam jual-beli AF tidak semua pemilik toko dan banyak pemain personal yang tidak punya akun Toped atau Bukalapak). Untuk meminimalisasi risiko, saya coba pecah transaksi. Saya berniat membeli 1 item dahulu dan menunda pembayaran hingga esok pagi. Jika benar barang sampai di alamat saya, baru saya melakukan transaksi selanjutnya. Dari kohesi dan koherensi kalimat-kalimat yang ditulis, S cukup kecewa dengan keputusan saya. 

Tiba hari berikutnya, dan sekali lagi S menagih saya, "Gimana gan jadi transfer? Saya kebetulan di deadline seller saya hari ini. Jadi butuh uang." Saya makin tidak simpati dengan sikapnya. Saya ulur 1 jam lagi sebelum pembayaran. Saya ingin melakukan tracking profil S di dalam fb. Benar ada akun atas nama S dengan foto-toto aktivitas bersama teman dan keluarga, anehnya tidak ada 1 foto tentang AF. Saya masih penasaran dan mencari kembali melalui pencarian google. Warrr biasah! Saya menemukan nama S yang lain dengan foto yang berbeda. Awalnya, ia mengaku berasal dari Semarang dan kali ini saya menemukan S lain (sebut saja S Asli) yang berasal dari kota pahlawan. Kebetulan nama lengkap S bukan nama yang umum dan saya makin curiga. Saya segera kontak salah seorang kawan saya yang juga sering jual-beli AF. Kami berdua merancang strategi untuk menemukan siapa dan apa motif Mr S tersebut. Kawan saya menyarankan untuk melacak nomor rekening yang diberikan dan ternyata, nomor rekening tersebut memang dimiliki oleh orang bernama Mr S. Menariknya, saya menemukan nomor dan keterangan pemilik rekening ini pada sebuah situs topup voucher game dan sejenisnya. Sebuah ecommerce yang dimiliki oleh S Asli. Benar, ini penipuan!!! Fake S yang mengaku beli Ironman ternyata beli voucher game onlen. Fake S mencoba memanfaatkan kebodohan saya untuk mentraktir voucher gratisan senilai jutaan rupiah. 

Alur penipuan yang sederhana, namun perhatikan bagaimana ia bisa mendapat foto-foto barang rare yang saya cari. Besar hipotesis saya ia php-in calon seller lain. Saya telah melakukan konfirmasi pada si S Asli yang memang benar adalah seorang pebisnis voucher topup dan sejenisnya. Mengetahui hal ini, saya segera membatalkan transaksi. Tidak mudah, fake S tidak terima dan mengatakan saya php, tidak punya integritas dan bla-bla-bla. Tantangan saya satu, "Agan kontak aja S Asli, ajak ngobrol via chat untuk menjelaskan akun bank tersebut miliki siapa sebenarnya, kemudian capture dan kirim pada saya hasilnya debatnya". Demikian, dan tidak ada lagi komunikasi kelanjutan, mungkin fake S sudah lelahhhh menghadapi kebodohan saya.

Saya yakin ini bukan perbuatan personal. Ini sebuah jaringan yang hobi mengkloning profil seseorang dan memanfaatkannya untuk keuntungan kotor. Dari pengalaman ini saya mencatat beberapa tips untuk menghindari penipuan berkedok seller:

1. Mintalah foto asli produk, jika perlu foto selfie atau dengan ktp. Memang tidak semua seller suka hal ini, namun ini adalah salah satu tes reliabilitas yang efektif.
2. Lakukan pencarian similarity melalui fitur google image. 
3. Tantang untuk melakukan transaksi via Toped atau Bukalapak yang memiliki risiko penipuan lebih kecil (namun bukan nol).
4. Tetap berusaha rasional, karena baper akan memudahkan Anda terjerumus jebakan batman-nya.
5. Lacak profil seller di medsos atau melalui google. Jika pencarian di medsos tidak memuaskan, segera telusuri melalui google.
6. Lacak pemilik nomor rekening yang diberikan. Jika bukan namanya, perlu diwaspadai. Namun jika memang benar namanya cari sekali lagi siapa sosok dibalik nama tersebut karena bisa jadi ini adalah "kloningan". Anda dapat melakukan klarifikasi pada pemilik akun/ rekening yang asli.

Demikian sharing saya, semoga bermanfaat!

Selasa, 27 September 2016

WTF Song PPAP Goes Viral!!!!!! Koq bisa?

Penampakan asli DJ Piko Taro
Sekitar sebulan dirilisnya via Youtube, video musik PPAP (Pen Pinapple Apple Pen) mampu menyedot perhatian lebih dari 6.500.000 netizen. Sebagian besar komentar bernada miring, "WTF I hear?" Anda juga mungkin demikian. Lagu ngga jelas, bikin otak kacau, dan bla bla bla... Menariknya, sebagian dari kawan saya mengaku terhibur dan tersenyum ketika melihatnya, faktanya PPAP berhasil menjadi gerakan viral di Asia. Di sisi lain berapa banyak uploader konten yang mengerjakannya dengan rumit, serius, dan matang, malah tidak cukup berhasil mendapat respon.  

Video musik PPAP adalah karya "geje" garapan DJ Piko Taro yang bernama asli Kazuhiko Kosaka. Beatnya sederhana, kata-katanya diulang-ulang dan tanpa maksud yang jelas. Coba putar video berikut:

"I have a pen, I have an apple. Apple pen. I have a pen, I have pineapple. Pineapple pen. Pen pineapple apple pen!" (lihat video)



Apa rahasia PPAP? Apakah ini tanda dari kiamat sudah dekat :D

Seperti saya bahas di dalam buku Exist or Extinct, manusia adalah makhluk yang kompleks, punya pikiran rasional, jiwa, dan roh. Sebagian besar keputusannya diambil secara emosional atau spiritual. Demikian pula kita menilai performa DJ Piko Taro. Awalnya kita pikir, ini lagu apaan sih? Ngga masuk akal dan tanpa maksud. Namun lama-lama mulai tersenyum dan tertarik performa konyolnya hingga ikutan bernyanyi bahkan menari. Kita menjadi terhibur liat DJ Taro yang kocak. Fenomena yang mirip dengan ketika PSY merilis Gangnam Style dan kita akhirnya menyukainya. Awalnya benci, lama-lama jadi suka. Ada kesamaan pola yang dapat kita pelajari disini:

1. Play and Fun
Secara khusus, PPAP menampilkan karakter yang antik, lucu, dan sedikit jijay :) Namun kelucuan inilah yang mampu merebut hati penonton. Dalam buku A Whole New Mind, Pink menjelaskan bahwa konsumen pada era konseptual (sekarang), memang menyukai sesuatu yang menghibur. Manusia sudah sesak dengan efek negatif modernisme, tribalisme, dan kapitalisme. Kehidupan yang penuh tekanan mendorong mereka mencari hiburan dan kesenangan. Produk-produk yang mampu memenuhi kebutuhan akan kesenangan dan permainan akan memiliki peluang sukses lebih besar.

2. Memory Attachment Process
Coba perhatikan lagi beat dan lirik PPAP, gitu-gitu aja dan diulang-ulang. Justru pengulangan inilah yang memudahkan orang untuk menjadi suka. Dalam teori psikologi belajar, pengulangan adalah hal yang utama. Ketika menikmati sebuah obyek baru secara empiris, terjadi proses coding dalam otak manusia hingga kita menangkapnya sebagai gambaran baru seperti proses creating new file dalam komputer. Proses ini akan lebih efektif ketika kita melakukan pengulangan, sebelum akhirnya disimpan di dalam memori manusia. Jumlah lirik yang sedikit inilah yang mempercepat proses penanaman dalam memori karena manusia terbatas dan tidak dapat menangkap banyak informasi dalam waktu pendek. Dalam bisnis umum, strategi ini dapat dilakukan melalui penetapan tagline yang singkat dan nampol, kemudian disebarkan dan secara konsisten dan terus berulang dipakai.

3. Simplicity
Unsur berikutnya yang menjadi daya tarik PPAP adalah kesederhanaannya. Lagu, lirik, dan gerakan yang sederhana dan mudah ditiru. Sekali lagi putar klip PPAP. Poin ini sangat terkait dengan poin sebelumnya, memori otak. Kesederhanaan inilah yang akhirnya mudah diduplikat orang. Duplikasi netizen secara otomatis akan memperbesar gerakan viral PPAP. Bayangkan jika gerakan DJ Taro rumit dan mustahil dilakukan orang awam, tentunya tidak banyak evangelist muncul. Manusia modern sudah jenuh dengan kompleksitas, butuh kesederhanaan dan kemudahan hidup. Kunci dari strategi viralisasi sosial media adalah jadilah first mover. Walau ada yang membuat serupa, netizen sedunia tahu, Anda tetap penciptanya. 

4. Lean Always
Perhatikan kembali video PPAP. Latar putih polos, hanya om-om kocak berkostum norak menari tarian tidak jelas. Tidak perlu aktor atau aktris sebagai bintang video, tidak perlu visual efek yang mahal dan dahsyat. Gerakannya, juga tidak perlu sekelas Alvin Ailey. Semuanya relatif berbiaya murah. Lean adalah salah satu filosofi kebangkitan Jepang dan DJ Taro mampu mengimplementasikannya dengan baik. Inti dari poin ini adalah bahwa kreatif tidak selalu harus mahal. Proses inovasi tidak perlu dibangun dari suntikan dana besar dan tim R&D yang rumit. Mengasah kemampuan otak kanan berkala adalah salah satu cara untuk menciptakan kreasi berbiaya murah.

Itu saja sharing saya, semoga terhibur dan salam PPAk, ups... PPAP :)
Semoga bermanfaat!

Minggu, 28 Agustus 2016

Era Ketika Marketer Sudah Jadi Zombie

(pic of Plant vs Zombie)
Siang itu, saya menunggu kabar telepon dari calon klien. Di sela-sela waktu rehat, hape saya bergetar. Spontan saya mengambil hp. “Ini dia…” guman saya. Sambil segera mengaktifkan tombol call, saya siap menyapa calon klien dengan penuh semangat. “Selamat siang Bapak Boni?” sapa penelpon yang kebetulan seorang wanita. “Hhmm, iya. Maaf dari mana ini, mbak?” “Saya Dewi dari Bank X, sebelumnya kami ucapakan terima kasih atas kesetiaan Bapak menjadi nasabah kami. Sebagai tanda bukti terima kasih kami dan untuk meningkatkan mutu layanan kami, kami memberikan program perlindungan ekstra bla, bla, bla…  untuk mendapat manfaat tersebut, kami hanya melakukan debit otomatis hanya sebesar X rupiah setiap bulan secara praktis, bla, bla, bla…”

Rasanya sulit sekali memotong pembicaraan tanpa titik tersebut. Arah pembicaraan makin mengerucut pada tawaran semacam program perlindungan. Karena belum cukup tertarik, saya mencoba menolaknya dengan halus, “Maaf mbak, saya sudah ada program lain dan belum berminat dengan tawaran Anda.” Saya pikir dia akan mengakhiri pembicaraan dan ternyata tidak. Jawaban saya ternyata membuka topik baru. Ia lanjut bertanya, “Jika boleh tahu, program apa Pak? Mungkin kami bisa memberi penjelasan lebih rinci kelebihan manfaat program kami.” Jika diteruskan, bisa-bisa saya mendapat pertanyaan, “Mas Bon masih jomblo atau… ?”

Tentu Anda pernah menjumpai atau mengalami pengalaman serupa, bahkan dalam satu hari bisa mendapat 2 hingga 3 panggilan “spam”. Tawaran-tawaran penuh paksaan dan “jebakan”. Anda didesak, di-framing sedemikian rupa hingga mungkin sampai memutuskan berkata “ya” dan setiap bulan, saldo bank Anda terus terkuras. Anda mulai menyesal dan berasa kena “gendam”. Memang, Anda masih punya kesempatan untuk membatalkannya. Namun pada umumnya, prosedur pembatalan dirancang sebirokratif mungkin dan pakai lama agar Anda tidak mudah keluar dari ikatan tersebut.

Strategi marketing demikian sedang marak diadopsi perusahaan di Indonesia, khususnya penjual eceran baik itu produk jasa atau barang. Gerakan-gerakan marketing agresif yang bersifat offline banyak ditemui di pusat keramaian seperti mall. Bahkan mereka (SPG) tidak segan-segan menggandeng, menarik tangan pengunjung untuk (minimal) mendatangi stan-nya. Para salesman/ SPG dibentuk sebagai pemaksa yang agresif. Perusahaan menjanjikan bonus penjualan yang menggiurkan melalui prinsip sell or “die”.

Saya menilai hal ini sebagai pemudaran (desaturasi) value di dalam kegiatan marketing. Marketing bukan lagi menjadi proses bisnis yang sehat, namun menjadi arena persaingan yang keras, baik antarmarketer, baik di dalam satu perusahaan maupun antarperusahaan. Akibatnya, marketer identik dengan stereotip sebagai pemaksa dan pekerja ulet yang hanya peduli omzet dan keuntungan pribadi. Blogger dan pakar marketing Drew Beechler mengumpulkan data persepsi masyarakat yang menyebut marketer modern sebagai mad man drama, workaholic,  dan professional spammer. Saya tidak akan membahas stereotip tersebut, namun lebih melihat ke belakang, mengapa mereka bersikap agresif demikian?

Hakikinya, marketing adalah konsep yang baik karena aktivitas inilah yang nantinya menjadi mediator penyampaian value dari tangan produsen ke tangan pengguna/ konsumen. Persaingan bisnis, munculnya produk alternatif, dan tekanan regulasi pemerintah ditengarai sebagai penyebab desaturasi marketing. Namun jika dianalisis lebih mendalam, desaturasi marketing terjadi bukan hanya karena faktor eksternal, namun sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis tim manajemen perusahaan seperti kekhawatiran perusahaan akan going concern di masa mendatang dan ketakutan terhadap manuver pesaing yang spektakular. Akhirnya, strategi yang dianggap baik untuk survive adalah bergerak lebih agresif mengalahkan pesaing dan menguasai pasar. Filosofi kebaikan marketing telah memudar, kehilangan jiwa layaknya zombie.

...
...
...


*Pendahuluan buku Exist/ Extinct (Bonnie Soeherman), September-Oktober 2016

Senin, 22 Agustus 2016

Intimacy Manifesto: 5 Kunci Utama Pembangun Hubungan Bisnis

Dalam sebuah wawancara bisnis, Christian Louboutin, pemilik merek sepatu wanita bergengsi mendapat pertanyaan, apa rahasia suskes produk Anda? Louboutin menjawab, “Because I love woman.” Bagi saya, jawaban ini sangat keren mengingat banyak pebisnis sepatu wanita menjawab, “Karena ada pasar di sana.”

Louboutin begitu memahami hati wanita dan ia seorang pria! Louboutin lebih mengenal wanita daripada wanita itu sendiri. Ia memberikan satu ilustrasi kasus, wanita California tidak suka berjalan kaki. Berbeda dengan wanita New York yang lebih menikmati berjalan kaki. Untuk itu, desain dan material yang dipasarkan di California harus berbeda dengan New York. Louboutin dengan tegas mendahulukan kebutuhan wanita dalam membuat produk. Kepedulian, perhatian, dan kecintaan Louboutin kepada konsumen adalah resep utama membangun intimasi.

Membangun hubungan merupakan keahlian yang wajib dimiliki pebisnis. Membangun hubungan dengan konsumen dapat dianalogikan dengan membangun hubungan dengan kekasih. Saya mencatat lima unsur bangunan hubungan yang saya sebut Intimacy Manifesto.

1. Attention
Perhatian adalah unsur pertama dalam intimasi. Dalam hal ini, perhatian yang dimaksud adalah perhatian utuh. Dalam membangun hubungan, mulailah dengan memberi perhatian, bukan mencari perhatian. Perhatian yang natural dan tulus untuk mengatasi masalah hidup atau memenuhi value yang dibutuhkan konsumen.

2. Passion
Berbisnis bukan urusan bagaimana mencari uang, melainkan upaya atau keinginan membantu orang lain menyelesaikan masalahnya dan membangun hubungan jangka panjang. Keuntungan finansial hanyalah “bonus” dari hal baik yang Anda lakukan. Tujuan ini akan menjadi efektif ketika kita memiliki resource yang bekerja dengan penuh gairah. Melihat tim Anda penuh gairah, tentu saja konsumen akan menjadi antusias dengan produk/brand Anda.

3. Communication
Cara Anda memulai komunikasi akan memengaruhi bagaimana respons lawan bicara Anda. Perhatian dan semangat akan kandas tiba-tiba ketika tidak dikomunikasikan dengan baik. Komunikasi tidak terbatas pada tatap muka langsung, namun juga via media seperti telepon, texting, juga via media sosial. Namun, Anda perlu berhati-hati ketika menggunakan sebuah media komunikasi. Permasalahan komunikasi justru sering terjadi ketika manusia menggunakan mediasi. Gunakan media komunikasi (sosial) yang tepat dengan cara yang tepat.

4. Interaction
Komunikasi akan menjadi efektif ketika ada interaksi kedua belah pihak. Di dalam komunikasi dengan konsumen, berikan tanggapan secara cepat. Respons yang lamban memicu prasangka dan persepsi buruk dari konsumen. Demikian halnya ketika memberi respons terhadap kritik konsumen. Berikan tanggapan cepat agar masalah cepat terselesaikan dan tidak menyebar ke mana-mana. Kedua, gunakan bahasa santun dan kalimat positif. Seburuk apa pun respons orang, stay cool dan tetap positif. Menanggapi respons negatif dengan cara negatif ibarat membenturkan batu yang sama keras dan akan sama hancur. Ketiga, pastikan pesan Anda efisien, singkat dan jelas. Tidak perlu bertele-tele, terutama ketika Anda menggunakan teks atau media sosial.

5. Appreciation
Komponen terkahir dari membangun keintiman adalah berikan apresiasi pada lawan bicara. Selalu ucapkan terima kasih atas respons orang. Bagaimana pun, memerlukan effort untuk membuat komentar atau kritik. Tidak ada orang yang tidak suka dihargai.  Anda dapat mengembangkan program-program loyalitas seperti kartu keanggotaan, fasilitas lebih bagi anggota (member), diskon ulang tahun, atau diskon bagi kritik terbaik.


Semoga bermanfaat!

(cuplikan dari buku Exist / Extinct: The Rise of Experiencers*)
*tersedia Oktober 2016 

Rabu, 20 Juli 2016

Disrupt Innovation dan Kekuatan Experience Design Ala Pokemon Go

Aplikasi game Pokemon Go sedang menjadi fenomena industri game dunia. Sejak tanggal rilisnya, tercatat sekitar 10 juta download dalam seminggu. Kompas Tekno online mencatat pendapatan Niantic mencapai rekor 143 juta permenit. Itupun secara resmi hanya dari penduduk 3 negara Amerika, Inggris, dan Australia, ditambah Indonesia secara tidak resmi. Banyak aplikasi game dirilis tiap hari, namun pesona Pokemon sedang merebut penuh hati gamers dunia. Apa yang menarik dari game ini?

Pengalaman baru!

Sensasi gamer experience yang dibangun Pokemon Go sungguh berbeda dari game-game yang pernah ada. Ia menggabungkan teknik geolocation, grafis augmented reality, serta menuntut psikomotorik pengguna. Seorang pemain wajib bergerak, berjalan menyusuri area tertentu untuk menemukan Pokemon-Pokemon yang unik, semacam mencari lokasi harta karun. Ada petualangan yang dibangun. Kehadiran Pokemon Go seolah mematahkan hipotesis masa depan dalam film Wall-E yang menggambarkan manusia mengalami obesitas karena teknologi membuat manusia enggan bergerak. Pokemon Go hanya dapat dimainkan ketika kita bergerak. Pertemuan antar gamers dalam sebuah Pokestop (stop point), menciptakan interaksi antarpemain hingga sebuah komunitas masal. Pokemon Go telah menggabungkan seluruh elemen game mechanic dengan baik, tantangan, tujuan, kolektibilitas, penghargaan, leaderboard, dan sosialisasi. Selain itu, Pokemon Go punya elemen rahasia yang tidak dimiliki game lain, yaitu roleplay nyata sebagai Pokemon hunter dan trainer yang memadukan aspek pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotorik serta story yang telah dibangun dan kokoh sejak tahun 96 melalui komik, anime, dan aplikasi game sebelumnya. Tentunya ini menjadi pengalaman baru yang belum pernah ada, sensasi baru dalam bermain. Para trainer dapat bertemu, beradu menjadi trainer terhebat. Pengalaman dan sensasi baru inilah yang menjadi kekuatan Pokemon Go.

Kehadiran Pokemon Go yang memadukan dunia maya dan nyata, kemudian sangat diminati pasar, dan menghasilkan revenue yang menggiurkan merupakan bentuk dari disrupt innovation pada industri game. Pokemon Go merubah pola umum produk permainan dan menjadi pemimpin industri. Itu karena kekuatan experience. Jelas, kedepannya akan muncul aplikasi game yang memadukan geolocationroleplay, serta augmented reality.

Dunia bisnis masa kini membutuhkan tim baru yang bukan sekadar mencipta produk dan menjual. Tenaga inovator dan marketing perlu mendapat suntikan kompetensi baru. Kompetensi untuk mampu menciptakan user experience atau yang saya sebut The Experiencer. Tim inilah kemudian yang memberi lebih banyak perlindungan untuk menghadapi disrupt economy.


Senin, 06 Juni 2016

Kisah Sukses Kusuma, Buah dalam Pesona Pariwisata

photo: Edy Antoro
(travel.kompas)
Batu, salah satu kota destinasi liburan saya bersama keluarga. Batu memang kota penuh pesona. Terletak di lereng pegunungan Panderman dan Arjuna yang terselimuti udara sejuk dan menawarkan banyak situs wisata. Jatim Park, Selecta, BNS, Cangar, dan Kusuma Agrowisata tercatat sebagai tempat favorit wisatawan lokal dan mancanegara. Roda perekonomian Batu kian berputar cepat. Bisnis perhotelan, kuliner, dan tiket wisata bermunculan seperti jamur. Persaingan bisnis semakin ketat. Bisnis pendatang baru terus berdatangan, menawarkan berbagai fasilitas kreatif. Pemain-pemain lama harus terus berjuang. Sayangnya, banyak diantara mereka yang akhirnya tinggal nama.

Dari sekian banyak pemain lama, Kusuma Agrowisata merupakan satu yang mampu bertahan dan terus bertumbuh sejak tahun 1989. Holding yang sukses ditangan Edy Antoro ini telah memiliki beberapa anak perusahaan yang berkontribusi secara signifikan. Hotel Kusuma hampir selalu menjadi persinggahan tetap saya dan keluarga setiap berkunjung ke Batu. Konsep nuansa alam yang ditawarkan begitu menarik hati saya, terutama anak-anak saya. Entah apa rahasianya, saya hanya dapat merasakan kenyamanan yang sulit diucapkan.

Beruntung, kemarin saya mendampingi mahasiswa pascasarjana Universitas Surabaya dalam business visit. Kami mendapat sharing dari Rudy Setiawan, manager yang mengelola divisi hotel dan agrowisata. Ia menceritakan bagaimana perjuangan seorang Edy Antoro dari titik nol hingga membawa Kusuma sebagai agrowisata terbaik di Indonesia dengan pendapatan dan nilai perusahaan yang menurut saya luar biasa. Sebagai peserta saya belajar banyak tentang hal-hal dibalik indahnya Kusuma. Saya mencatat 5 poin penting dari sesi tersebut.

1. Ciptakan dan konsisten dengan keunikan/ kekuatan
Kusuma merupakan bisnis agrowisata dan hotel bernuansa alam. Itulah ciri utamanya. Dari dahulu hingga kini, masih mengedepankan ciri tersebut. Di tengah maraknya perhotelan modern, Kusuma tetap eksis dan tidak akan kehilangan pelanggannya. Tidak mudah dan butuh waktu puluhan tahun untuk menata keselarasan alam dan bangunan. Saat ini mungkin Kusuma mematok tiket cukup mahal untuk petik apel atau buah lain. Hal ini dilakukan karena value yang berusaha ditawarkan seperti kebersihan, kenyamanan rute, shuttle, kualitas buah, kesigapan pemandu, dan beberapa fasilitas lain. Itulah persona yang dituju secara konsisten, mereka yang memperhatikan kualitas layanan.  

2. Menjual produk melalui wisata
Ketika seorang peserta bertanya, sebenarnya apa model bisnis Kusuma, Rudy menjawab, “Kami menjual produk melalui pariwisata.” Kusuma menjual hasil panen alam. Buah yang dijual melalui sensasi petik dan fasilitas inap (hotel). Ini adalah bentuk paling sederhana dari transmedia storytelling dan strategi cross selling, dimana pengusaha mengerahkan berbagai media untuk menjual satu produk, serta memanfaatkan berbagai channel penjualan untuk saling “mempromosikan” satu sama lain, pengalaman petik buah, waterpark, penjualan produk olahan buah, dengan hotel.

3. Jaga keseimbangan kesejahteraan pemilik, karyawan, dan masyarakat sekitar
Di sela sesinya, Rudy menyampaikan bisnis yang sehat adalah yang mampu memberi kesejahteraan bagi pemilik, karyawan, dan masyarakat sekitar, berimbang. Itulah semangat Kusuma di dalam mengembangkan bisnisnya. Tidak baik jika kesejahteraan hanya miliki investor saja. Bagaimanapun juga tim manajemenlah yang berjuang di garis depan meraih segala keuntungan. Begitu pula dengan usaha pengembangan masyarakat sekitar yang juga terus digalakkan, seperti kemitraan dengan usaha kecil dan pegembangan desa.
                                                                                        
4. Hindari sampah
Kusuma memiliki program upaya zero waste. Semua limbah akan diolah hingga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Buah-buahan yang jatuh diberi sentuhan rekayasa alami untuk kemudian mampu diolah menjadi produk minuman berkualitas; limbah hotel dan dedaunan yang rontok dikelola untuk menjadi pupuk alam. Segala sampah diupayakan jadi sesuatu yang berguna. Kepedulian dan kecintaan pada alam telah ada dihati Edy yang memang meyukai dunia flora sejak masa muda. Semangat inilah yang kemudian terbangun di dalam manajemen Kusuma.

5. Tidak pernah berhenti berinovasi
“Setidaknya 6 bulan sekali ada perubahan”, itulah tekad manajemen Kusuma. Entah upaya renovasi kamar, penambahan koleksi hewan, pengecatan, perluasan area tanam, dan sebagainya. Proses inovasi Kusuma tidak boleh berhenti untuk menjaga eksistensi. Kusuma tidak hanya melakukan inovasi pada aspek produk barang dan jasa, namun juga pada area manajemen yang makin menuju pada profesionalisme penuh. Inovasi adalah syarat utama eksistensi bisnis. Sebaliknya, stagnasi dan kenyamanan adalah pemicu kepunahan. Hadirnya competitor dan pertumbuhan pariwisata Batu tetap menjadi motivasi Kusuma untuk terus berinovasi.


Semoga bermanfaat!