Senin, 09 November 2015

Alasan Mengapa Inovasi yang Baik Berujung pada Kebangkrutan

Sahabat bisnis, pernahkah Anda mencoba allout melakukan inovasi produk, namun kenyataannya tidak diterima di pasaran? Anda berpikir bahwa Anda telah menambahkan value dan berbagai fitur pada produk Anda yang tidak dimiliki produk pesaing, tetapi faktanya, konsumen belum siap atau belum butuh dengan inovasi value Anda. Anda telah habis-habisan menghamburkan dana membuat ini itu, sesuatu yang wah dan wow, dengan harapan goodwill yang hebat. Dan sayangnya, Anda telah kehabisan dana dan tidak ada harapan revenue yang jelas.

Microsoft tercatat beberapa kali mengeluarkan produk gagal. Salah satunya, tablet Surface yang dirilis beberapa waktu lalu. Menurut The Verge, pimpinan Microsoft Ballmer membenarkan hal ini. Menurutnya, adopter OS Windows 8 tidak secepat yang diharapkan. Pasar masih saja berkonsentrasi pada OS buatan Mac dan Android. Microsoft terlalu yakin dan memposisikan pasar sudah siap beralih ke Windows 8 dengan perangkat yang supercanggij seperti cover keyboard dan kemampuan membaca storage USB. Untuk menutupi beban perusahaan, strategi iklan dan banting harga telah dilakukan dan tetap saja, belum berhasil. Mengapa?

Untuk memudahkan penjelasan konseptual, coba perhatikan bagan berikut:


Idealnya, proses penciptaan produk standar sesuai kebutuhan optimal konsumen berada pada area ideal product development range. Jika Anda pebisnis yang penuh idealis dan kreatif, tentunya Anda akan melakukan inovasi value. Namun perhatikan bahwa penciptaan value added juga ada batasannya (perhatikan value extension range). Titik optimal dari area ini akan menciptakan tingkat kepuasan maksimal konsumen. Proses inovasi value yang melebihi titik ini, justru akan membawa pebisnis pada area pemborosan (improvident range). Reaksi umum konsumen pada area pemborosan adalah menolak karena tidak paham, merasa tidak perlu, atau jenuh. Hal yang sama yang dialami tablet Surface. Sebagai contoh ilustrasi sederhana, jika konsumen membutuhkan produk dengan nilai 7, tambahkan sedikit nilai misalnya 2 untuk sebagai value added hingga nilai produk Anda adalah 9. Jika titik kepuasan konsumen telah maksimal di angka ini, pertahankan. Jangan berambisi menambah nilai hingga diatas 10 dan seterusnya dengan harapan konsumen makin puas, karena hasilnya justru penurunan kepuasan hingga penolakan.


Pesan dari catatan ini adalah, jangan pernah berinovasi berlebihan. Berpikirlah seperti konsumen. Temukan harapan optimal mereka dan berikan sedikit melebihi harapan tersebut. Selalu lakukan pengukuran dan pembelajaran secara berkala untuk melihat respon pasar dan menilai titik kepuasan optimal. Jika tidak, inovasi Anda bukan lagi tentang investasi, tetapi pemborosan biaya. 

Semoga bermanfaat!