Jumat, 30 Oktober 2015

Kekuatan Tersembunyi Taiwan yang Tidak Pernah Kita Dengar

Meteor Garden. Itulah salah satu kata yang terlintas di benak pikir saya saat mendengar kata Taiwan. Tidak ada hal lain yang bisa saya bayangkan tentang kehebatan negeri tengah samudra itu. Sebagai program rutin Pascasarjana Universitas Surabaya, bulan lalu saya berkesempatan mendampingi mahasiswa pascasarjana mengunjungi Taipei, ibu kota Taiwan. Cukup enggan awalnya. Tak terpikir bakal ada sesuatu yang spesial di sana. 5 hari menapaki Taipei membuat persepsi saya tentang Taiwan berubah 1800. Taiwan salah satu negara yang sudah cukup maju dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, kesejahteraan yang merata, dan patut dipertimbangkan sebagai salah satu negara kuat di Asia.

Berawal dari Touyuan Airport, tempat perpisahan Sancai dengan Dao Ming Se hingga Shilin Market, saya belajar nilai humanisme yang besar telah menjadi resep percepatan akselerasi negara bertajuk The Heart of Asia ini.

Malam hari pertama mencoba berpetualang mengunjungi Xi Men, pusat nongkrong anak muda. Bersama beberapa siswa, sempat mengalami kebingungan rute MRT. Selang beberapa detik, seorang wanita mendatangi kami, “Can I help you?” begitu tukasnya. Wanita berjaket hangat itu mencoba menawarkan bantuan begitu melihat bahasa tubuh kami. Wow… ini kali pertama berkunjung ke negeri orang dan menemukan penduduk yang baik hati, proaktif memberi pertolongan. Melanjutkan rute, beberapa kali kami bertanya arah pada penduduk dan selalu mendapat respon yang baik. Sebagian besar penduduk Taiwan cukup ramah dan suka membantu. Hari-hari berikutnya kami mengunjungi beberapa perusahaan dan kampus besar. CTBC, bank swasta terbesar di Taiwan menjadi salah satu sasaran business visit kami.

Bis kami memasuki area headquarter CTBC di Nangang District. Dari lantai atas bis, saya melihat beberapa staf berbaju sangat rapi telah berdiri menyambut kami. Sebuah kehormatan luar biasa mendapat sambutan dari jajaran manajemen. Memasuki ruang pertemuan, kami mendapat sharing ilmu dari Peter Liu dan Frank Shih, dua orang yang masing-masing memegang peran sebagai Executive Vice President. Sebuah pengalaman yang langka, bagaimana CTBC mengupayakan 2 orang posisi puncak untuk memberi kuliah gratis pada kami. Mereka adalah para chief yang ramah dan terbuka. Ilmu yang kami dapatkan di hari itu sangat menginspirasi. Bukan hal mudah bagi perusahaan untuk melakukan hal yang sama. Time is money dan kesibukan para chief cukup menjadi alasan mengapa kita sulit menemui mereka. Budaya organisasi CTBC sungguh berbeda. Nilai humanisme sangat kental di sana. Bagi mereka, siapapun yang datang dan membangun relasi, mereka adalah keluarga.

Di tengah perjalanan menuju hotel di New Taipei City, tour leader kami memberikan insight tentang Taiwan. Salah satu kata kunci yang saya catat adalah, Taipei itu kota yang aman.

Malam hari kedua, kembali saya menikmati waktu bebas dan berpetualang ke Taipei Main Station, pusat toko action figure terbesar di sana. Berjalan menuju tempat pembelian koin MRT, saya melihat sebuah dompet tebal di atas mesin koin. Mungkin dompet orang yang tertinggal. Orang berlalu-lalang silih berganti di sana, tapi tak satupun saya perhatikan berani menyentuh dompet itu. Bahkan beberapa menit kemudian saya kembali melihat dompet itu masih di sana. Wow… pemandangan yang langka bagi saya. Memang relatif lebih aman. Sudah hal biasa pula melihat anak-anak SD SMP naik MRT malam hari seorang diri karena keamanan cukup terjamin. 

Bagaimana bisa?

Pertumbuhan ekonomi Taiwan sangat menjanjikan. Tercatat pada 2013, GDP Taiwan mencapai 489.21 milyar USD. Kesejahteraan masyarakat cukup merata dan sudah baik. Di sana kita akan melihat bagaimana mobil diatas rata-rata semacam Livina atau Wish dijadikan armada taxi umum. Sistem pemerintahan juga berjalan wajar tanpa huruhara politik kepentingan perut. Bahkan, saya tidak terlalu was-was saat berbelanja disana. Harga yang mereka tawarkan cukup wajar, di pasar, kota, bahkan bandara (walaupun pada beberapa kasus kita boleh menawar kembali).

Aroma The Heart of Asia benar dapat saya rasakan saat di sana. Internalisasi visi benar-benar terjadi. Taiwan bukan negara agama, namun penduduknya telah menerapkan arti spiritualisme, ada hal yang lebih penting dari uang dan kapital. Bahkan beberapa kampus disana telah menerapkan penyatuan dengan alam sebagai turunan dari konsep spiritualisme. Bagi masyarakat Taiwan humanisme adalah hal yang utama. Dibanding negara adikuasa, Taiwan adalah negara kecil namun memiliki kebesaran hati. Dan kesimpulan saya, human capital tetap menjadi kunci utama pembesaran kualitas negara. Bukan hanya pada faktor intelektual, pendidikan moral dan karakter tidak cukup menjadi tekstual di sekolah, namun harus termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari.

Terima kasih, Taiwan touch my heart!

1 komentar: