Senin, 11 Mei 2015

Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Deal dengan Investor-1

Banyak cara untuk melakukan scaling keuangan bisnis startup, salah satunya melalui dukungan investor. Cara ini dinilai cukup strategis, risiko lebih kecil, dan memiliki kepastian lebih tinggi, disamping cara lain seperti bootstrapping atau kredit usaha. Kenyataannya tidak juga. Tidak jarang startuper yang bermimpi indah, mendapat investasi, dan pada akhirnya meratapi penyesalan keputusan menerima investor sebagai bagian dari bisnisnya.

Para investor berubah menjadi Doc Frankenstein yang “sembarangan” membongkar pasang tim Anda, merubah orientasi bisnis Anda, bahkan mendepak Anda dari perusahaan. Dan mereka dilindungi hukum! Hal serupa yang dialami Walt Disney saat mendapat investasi dari Universal Studio. Saat itu secara sepihak, US mematenkan karakter andalan Walt, Oswald Rabbit dan “mengeluarkan” Walt dari bisnis tersebut. Tanpa pertimbangan investasi yang sangat matang, mungkin kita akan senasib dengan Walt.

Hal ini menjadi tantangan menarik bagi startuper masa kini. Kita dituntut memiliki kemampuan akuntansi, merger, akuisisi, dan manajemen keuangan yang sebelumnya belum pernah kita sentuh sama sekali. Di berbagai pelatihan startup saya sering mendapat pertanyaan, bagaimana menentukan nilai perusahaan saat berhadapan dengan calon investor? Berapa besar pembagian kepemilikan nantinya? Bagaimana peran masing-masing? Menentukan nilai perusahaan dan menentukan prosentase kepemilikan merupakan 2 hal yang sangat memengaruhi nasib dan bisnis Anda di masa depan. Kesalahan penilaian akan berakibat fatal.

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi poin pertama, bagaimana menentukan nilai perusahaan kita.

Sebagai ilustrasi, jika saat ini ada calon investor menawar perusahaan Anda senilai Rp.500juta, apakah Anda akan terima atau tolak? Apa pertimbangan Anda?

Idealnya, hitung semua aset terlebih dahulu. Nyatanya, seringkali startuper menilai terlalu rendah bisnisnya (undervalued) daripada seharusnya.

Sebenarnya, pertanyaan pentingnya adalah, apa saja yang disebut aset? Aset dapat berwujud (tangible) dan tak berwujud (intangible). Sangat mudah menghitung nilai aset berwujud, seperti uang tunai, piutang klien, alat produksi, stok, kendaraan, paket software aplikasi, atau bangunan. Dapat menggunakan harga perolehan awal atau harga pasar (jika mengikuti standar akuntansi saat ini) dikurangi nilai penyusutan yang sudah terjadi. Untuk aset tak berwujud, kita memerlukan kecermatan lebih tinggi untuk menghitungnya. Apa saja yang termasuk sebagai aset tak berwujud? Berikut beberapa kategori aset tak berwujud dalam industri kreatif yang wajib diperhitungkan untuk menciptakan nilai yang lebih fair:

1.    Paten
Merk, nama, pendaftaran resep produk, dan hal terkait HAKI lain yang sudah pernah didaftarkan harus menjadi prioritas perhitungan karena seringkali startuper lupa akan hal ini. Terutama untuk paten yang sudah bertahun-tahun lalu. Jika tidak, investor berhak menikmatinya tanpa menanggung pembiayaannya.

2.    Human Capital
Bagaimana menilai manusia adalah masalah yang belum terselesaikan di dunia akuntansi, seperti penilaian pemain sepak bola yang cenderung irasional. Manusia adalah sumber kreativitas dan inovasi. Guru yang saya kagumi, Steve Blank mengatakan bahwa investor yang baik membeli personal, bukan sekadar produk. Jika Anda memiliki bukti nyata tim dengan karakter dan performa kerja tinggi, maka bukan hal yang berlebihan jika menilai lebih tinggi.

3.    Brand value
Berikutnya, brand perusahaan Anda. Jika perusahaan Anda sudah well-known, terkenal dan banyak diliput media, tentu saja Anda perlu mempertimbangkan penilaian lebih dari sekadar penilaian pendaftaran HAKI di atas kertas. Anda dapat menawarkan 2 skenario perbandingan plus-minus, antara melanjutkan usaha (bersama investor) dengan nama yang sudah ada atau membuat nama baru dan memulai dari nol lagi.

4.    Goodwill
Goodwill, sederhananya merupakan harapan baik masa mendatang atas apa yang kita punya. Misalnya, Anda pebisnis Apps dan punya satu Killer Apps yang usernya Anda prediksi akan jutaan pada beberapa tahun mendatang. Nah nilai user pada tahun mendatang harus dikapitalisasi/ dinilai sekarang atau di-present value kan juga. Jika tidak, Anda akan sangat meratapi kerugian di masa mendatang.

5.    Penilaian ulang produk
Dalam hal ini, seringkali kasalahan startuper terjadi karena mereka menilai nilai produk dari sisi biaya produksi (tenaga kerja, biaya inovasi, bahan baku, biaya overhead) saja. Saat proses akuisisi atau merger, produk-produk yang kita miliki harus dinilai sesuai harga jual wajar, bukan biaya produksi. Jika tidak, kita akan menanggung kerugian undervalued.

Tentunya perhitungan nilai perusahan tetap perlu mempertimbangkan adanya sisa kewajiban yang sedang berjalan serta aspek persona calon investor, apakah cocok dengan jiwa bisnis kita. Namun dengan perhitungan yang matang aset berwujud dan tak berwujud, setidaknya kita bisa terhindar dari hukum transaksional bisnis yang selalu berusaha menilai “barang” dengan harga semurah-murahnya.

Semoga bermanfaat!