Senin, 09 November 2015

Alasan Mengapa Inovasi yang Baik Berujung pada Kebangkrutan

Sahabat bisnis, pernahkah Anda mencoba allout melakukan inovasi produk, namun kenyataannya tidak diterima di pasaran? Anda berpikir bahwa Anda telah menambahkan value dan berbagai fitur pada produk Anda yang tidak dimiliki produk pesaing, tetapi faktanya, konsumen belum siap atau belum butuh dengan inovasi value Anda. Anda telah habis-habisan menghamburkan dana membuat ini itu, sesuatu yang wah dan wow, dengan harapan goodwill yang hebat. Dan sayangnya, Anda telah kehabisan dana dan tidak ada harapan revenue yang jelas.

Microsoft tercatat beberapa kali mengeluarkan produk gagal. Salah satunya, tablet Surface yang dirilis beberapa waktu lalu. Menurut The Verge, pimpinan Microsoft Ballmer membenarkan hal ini. Menurutnya, adopter OS Windows 8 tidak secepat yang diharapkan. Pasar masih saja berkonsentrasi pada OS buatan Mac dan Android. Microsoft terlalu yakin dan memposisikan pasar sudah siap beralih ke Windows 8 dengan perangkat yang supercanggij seperti cover keyboard dan kemampuan membaca storage USB. Untuk menutupi beban perusahaan, strategi iklan dan banting harga telah dilakukan dan tetap saja, belum berhasil. Mengapa?

Untuk memudahkan penjelasan konseptual, coba perhatikan bagan berikut:


Idealnya, proses penciptaan produk standar sesuai kebutuhan optimal konsumen berada pada area ideal product development range. Jika Anda pebisnis yang penuh idealis dan kreatif, tentunya Anda akan melakukan inovasi value. Namun perhatikan bahwa penciptaan value added juga ada batasannya (perhatikan value extension range). Titik optimal dari area ini akan menciptakan tingkat kepuasan maksimal konsumen. Proses inovasi value yang melebihi titik ini, justru akan membawa pebisnis pada area pemborosan (improvident range). Reaksi umum konsumen pada area pemborosan adalah menolak karena tidak paham, merasa tidak perlu, atau jenuh. Hal yang sama yang dialami tablet Surface. Sebagai contoh ilustrasi sederhana, jika konsumen membutuhkan produk dengan nilai 7, tambahkan sedikit nilai misalnya 2 untuk sebagai value added hingga nilai produk Anda adalah 9. Jika titik kepuasan konsumen telah maksimal di angka ini, pertahankan. Jangan berambisi menambah nilai hingga diatas 10 dan seterusnya dengan harapan konsumen makin puas, karena hasilnya justru penurunan kepuasan hingga penolakan.


Pesan dari catatan ini adalah, jangan pernah berinovasi berlebihan. Berpikirlah seperti konsumen. Temukan harapan optimal mereka dan berikan sedikit melebihi harapan tersebut. Selalu lakukan pengukuran dan pembelajaran secara berkala untuk melihat respon pasar dan menilai titik kepuasan optimal. Jika tidak, inovasi Anda bukan lagi tentang investasi, tetapi pemborosan biaya. 

Semoga bermanfaat!

Jumat, 30 Oktober 2015

Kekuatan Tersembunyi Taiwan yang Tidak Pernah Kita Dengar

Meteor Garden. Itulah salah satu kata yang terlintas di benak pikir saya saat mendengar kata Taiwan. Tidak ada hal lain yang bisa saya bayangkan tentang kehebatan negeri tengah samudra itu. Sebagai program rutin Pascasarjana Universitas Surabaya, bulan lalu saya berkesempatan mendampingi mahasiswa pascasarjana mengunjungi Taipei, ibu kota Taiwan. Cukup enggan awalnya. Tak terpikir bakal ada sesuatu yang spesial di sana. 5 hari menapaki Taipei membuat persepsi saya tentang Taiwan berubah 1800. Taiwan salah satu negara yang sudah cukup maju dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, kesejahteraan yang merata, dan patut dipertimbangkan sebagai salah satu negara kuat di Asia.

Berawal dari Touyuan Airport, tempat perpisahan Sancai dengan Dao Ming Se hingga Shilin Market, saya belajar nilai humanisme yang besar telah menjadi resep percepatan akselerasi negara bertajuk The Heart of Asia ini.

Malam hari pertama mencoba berpetualang mengunjungi Xi Men, pusat nongkrong anak muda. Bersama beberapa siswa, sempat mengalami kebingungan rute MRT. Selang beberapa detik, seorang wanita mendatangi kami, “Can I help you?” begitu tukasnya. Wanita berjaket hangat itu mencoba menawarkan bantuan begitu melihat bahasa tubuh kami. Wow… ini kali pertama berkunjung ke negeri orang dan menemukan penduduk yang baik hati, proaktif memberi pertolongan. Melanjutkan rute, beberapa kali kami bertanya arah pada penduduk dan selalu mendapat respon yang baik. Sebagian besar penduduk Taiwan cukup ramah dan suka membantu. Hari-hari berikutnya kami mengunjungi beberapa perusahaan dan kampus besar. CTBC, bank swasta terbesar di Taiwan menjadi salah satu sasaran business visit kami.

Bis kami memasuki area headquarter CTBC di Nangang District. Dari lantai atas bis, saya melihat beberapa staf berbaju sangat rapi telah berdiri menyambut kami. Sebuah kehormatan luar biasa mendapat sambutan dari jajaran manajemen. Memasuki ruang pertemuan, kami mendapat sharing ilmu dari Peter Liu dan Frank Shih, dua orang yang masing-masing memegang peran sebagai Executive Vice President. Sebuah pengalaman yang langka, bagaimana CTBC mengupayakan 2 orang posisi puncak untuk memberi kuliah gratis pada kami. Mereka adalah para chief yang ramah dan terbuka. Ilmu yang kami dapatkan di hari itu sangat menginspirasi. Bukan hal mudah bagi perusahaan untuk melakukan hal yang sama. Time is money dan kesibukan para chief cukup menjadi alasan mengapa kita sulit menemui mereka. Budaya organisasi CTBC sungguh berbeda. Nilai humanisme sangat kental di sana. Bagi mereka, siapapun yang datang dan membangun relasi, mereka adalah keluarga.

Di tengah perjalanan menuju hotel di New Taipei City, tour leader kami memberikan insight tentang Taiwan. Salah satu kata kunci yang saya catat adalah, Taipei itu kota yang aman.

Malam hari kedua, kembali saya menikmati waktu bebas dan berpetualang ke Taipei Main Station, pusat toko action figure terbesar di sana. Berjalan menuju tempat pembelian koin MRT, saya melihat sebuah dompet tebal di atas mesin koin. Mungkin dompet orang yang tertinggal. Orang berlalu-lalang silih berganti di sana, tapi tak satupun saya perhatikan berani menyentuh dompet itu. Bahkan beberapa menit kemudian saya kembali melihat dompet itu masih di sana. Wow… pemandangan yang langka bagi saya. Memang relatif lebih aman. Sudah hal biasa pula melihat anak-anak SD SMP naik MRT malam hari seorang diri karena keamanan cukup terjamin. 

Bagaimana bisa?

Pertumbuhan ekonomi Taiwan sangat menjanjikan. Tercatat pada 2013, GDP Taiwan mencapai 489.21 milyar USD. Kesejahteraan masyarakat cukup merata dan sudah baik. Di sana kita akan melihat bagaimana mobil diatas rata-rata semacam Livina atau Wish dijadikan armada taxi umum. Sistem pemerintahan juga berjalan wajar tanpa huruhara politik kepentingan perut. Bahkan, saya tidak terlalu was-was saat berbelanja disana. Harga yang mereka tawarkan cukup wajar, di pasar, kota, bahkan bandara (walaupun pada beberapa kasus kita boleh menawar kembali).

Aroma The Heart of Asia benar dapat saya rasakan saat di sana. Internalisasi visi benar-benar terjadi. Taiwan bukan negara agama, namun penduduknya telah menerapkan arti spiritualisme, ada hal yang lebih penting dari uang dan kapital. Bahkan beberapa kampus disana telah menerapkan penyatuan dengan alam sebagai turunan dari konsep spiritualisme. Bagi masyarakat Taiwan humanisme adalah hal yang utama. Dibanding negara adikuasa, Taiwan adalah negara kecil namun memiliki kebesaran hati. Dan kesimpulan saya, human capital tetap menjadi kunci utama pembesaran kualitas negara. Bukan hanya pada faktor intelektual, pendidikan moral dan karakter tidak cukup menjadi tekstual di sekolah, namun harus termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari.

Terima kasih, Taiwan touch my heart!

Minggu, 02 Agustus 2015

7 Prinsip Membuat Konten Posting Menarik di Sosmed yang Wajib Diketahui Pebisnis

http://fullmarketingnyc.com/
Hadirnya sosmed (social media) diharapkan menjadi udara segar marketing era digital. Logo Facebook, Twitter, dan Instagram, 3 sosmed tak jarang jadi embel-embel media promosi produk. Alasan terbesar dari survey awal saya sangat sederhana, karena mereka berpikir gratisan.

Yang jadi masalah adalah, bagaimana meramaikan akun/ page kita? Kedua, bagaimana membangun responsiveness follower terhadap postingan kita? Ketiga, bagaimana menggerakkan mereka membeli produk kita, atau setidaknya membangun brand awareness? Karena setiap saat ada sekian puluh atau ratus posting baru memenuhi wall dan menenggelamkan postingan  kita. Tentunya, tiap sosmed memiliki keunikan. Namun diantara keunikan tersebut, saya mencoba melihat sebuah pola kesamaan prinsip komunikasi. Kali ini, saya akan berbagi 7 prinsip dasar bagaimana membuat posting menarik di sosmed.

1.     Keunikan
Posting yang unik akan membedakan dengan posting Anda dengan posting lain. Unik tidak hanya tentang produk, tapi pemilihan topik, tulisan, dan pemilihan gambar/ video. Manusia selalu mengalami kejenuhan saat berhadapan dengan rutinitas, sesuatu yang mainstream. Menjadi antimainstream, menciptakan keunikan akan menjadi solusi yang baik.

2.     Komposisi
Sejujurnya, kita semua membangun persepsi konten dari tampilan. Gambar adalah tampilan yang paling mudah diserap oleh mata. Jangan meremehkan kekuatan gambar. Pengambilan foto, editing gambar yang asal-asalan tidak akan cukup menarik perhatian pengunjung. Pelajari aturan-aturan fotografi dan komposisi warna-tata letak dengan baik.

3.     Kesamaan
Dalam psikologi dikenal teori matching atau teknik membangun kesamaan. Faktanya, orang yang sedang kita hadapi akan merasa lebih nyaman ketika kita punya kesamaan sesuatu dengannya. Kesamaan hobi, usia, keadaan ekonomi, masalah, atau impian akan merekatkan 2 orang saling asing yang bertemu. Selalu pastikan ada unsur kesamaan di dalam postingan Anda terhadap segmen yang Anda tuju.

4.     Kesukaan
Wajar, kita akan meng-klik sesuatu yang kita suka. Dengan memahami perilaku dan kesukaan segmen yang Anda tuju, maka peluang partisipasi mereka akan lebih tinggi. Saya mengamati perilaku facebooker yang meng-unfriend kawan-kawan mereka karena postingan yang tidak mereka sukai. Unfriend adalah penolakan atau bias perceraian. Sulit berharap kembali menjadi friend. Jangan pernah memposting sesuatu yang segmen Anda benci atau mereka akan meninggalkan Anda.

5.     Keaslian
Kadang banyak bohong justru menciptakan keuntungan. Bisa jadi, tapi yang pasti ketika kebohongan terkuak, habis sudah nama Anda. Tidak ada orang yang suka dibohongi. Jujur, menjadi diri sendiri apa adanya akan mendorong terciptanya trust sebagai keuntungan jangka panjang. Pilahlah dengan cermat dan bijaksana apa yang baik dan tidak baik untuk bahan posting.

6.     Kebermaknaan
Apa yang menggerakkan Anda  mengunjungi OLX atau Tokopedia? Tentu karena ada sesuatu yang Anda cari. Manusia hidup dalam pencarian. Mengetahui apa yang sedang dicari segmen Anda akan menciptakan kebermaknaan. Menyediakan apa yang mereka cari akan menciptakan keuntungan. Tampilan posting-posting yang mengandung kebermaknaan, nilai, solusi, atau inspirasi.

7.     Keberlanjutan
Poin ini cukup sulit dilakukan. Selain memerlukan konsistensi dan ketekunan untuk merawat, mengupdate akun sosmed, Anda perlu memastikan postingan Anda mendapat respon sesuai harapan, seperti like, komen, atau share dan berapa target responsiveness-nya. Contohnya, membuat pertanyaan, meminta saran, atau statement “Like kalo kamu setuju, Share kalo kamu peduli”.

Demikian sharing saya tentang 7 Prinsip Membuat Konten Posting Menarik di Sosmed. Tentunya ada banyak cara membuat page/ postingan Anda menarik dan ramai, seperti membuat berita provokatif kontroversif dan sejumlah trik lain. Tips ini hanya bersifat melengkapi dan semoga bermanfaat!

Senin, 11 Mei 2015

Pertimbangkan Hal Ini Sebelum Deal dengan Investor-1

Banyak cara untuk melakukan scaling keuangan bisnis startup, salah satunya melalui dukungan investor. Cara ini dinilai cukup strategis, risiko lebih kecil, dan memiliki kepastian lebih tinggi, disamping cara lain seperti bootstrapping atau kredit usaha. Kenyataannya tidak juga. Tidak jarang startuper yang bermimpi indah, mendapat investasi, dan pada akhirnya meratapi penyesalan keputusan menerima investor sebagai bagian dari bisnisnya.

Para investor berubah menjadi Doc Frankenstein yang “sembarangan” membongkar pasang tim Anda, merubah orientasi bisnis Anda, bahkan mendepak Anda dari perusahaan. Dan mereka dilindungi hukum! Hal serupa yang dialami Walt Disney saat mendapat investasi dari Universal Studio. Saat itu secara sepihak, US mematenkan karakter andalan Walt, Oswald Rabbit dan “mengeluarkan” Walt dari bisnis tersebut. Tanpa pertimbangan investasi yang sangat matang, mungkin kita akan senasib dengan Walt.

Hal ini menjadi tantangan menarik bagi startuper masa kini. Kita dituntut memiliki kemampuan akuntansi, merger, akuisisi, dan manajemen keuangan yang sebelumnya belum pernah kita sentuh sama sekali. Di berbagai pelatihan startup saya sering mendapat pertanyaan, bagaimana menentukan nilai perusahaan saat berhadapan dengan calon investor? Berapa besar pembagian kepemilikan nantinya? Bagaimana peran masing-masing? Menentukan nilai perusahaan dan menentukan prosentase kepemilikan merupakan 2 hal yang sangat memengaruhi nasib dan bisnis Anda di masa depan. Kesalahan penilaian akan berakibat fatal.

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi poin pertama, bagaimana menentukan nilai perusahaan kita.

Sebagai ilustrasi, jika saat ini ada calon investor menawar perusahaan Anda senilai Rp.500juta, apakah Anda akan terima atau tolak? Apa pertimbangan Anda?

Idealnya, hitung semua aset terlebih dahulu. Nyatanya, seringkali startuper menilai terlalu rendah bisnisnya (undervalued) daripada seharusnya.

Sebenarnya, pertanyaan pentingnya adalah, apa saja yang disebut aset? Aset dapat berwujud (tangible) dan tak berwujud (intangible). Sangat mudah menghitung nilai aset berwujud, seperti uang tunai, piutang klien, alat produksi, stok, kendaraan, paket software aplikasi, atau bangunan. Dapat menggunakan harga perolehan awal atau harga pasar (jika mengikuti standar akuntansi saat ini) dikurangi nilai penyusutan yang sudah terjadi. Untuk aset tak berwujud, kita memerlukan kecermatan lebih tinggi untuk menghitungnya. Apa saja yang termasuk sebagai aset tak berwujud? Berikut beberapa kategori aset tak berwujud dalam industri kreatif yang wajib diperhitungkan untuk menciptakan nilai yang lebih fair:

1.    Paten
Merk, nama, pendaftaran resep produk, dan hal terkait HAKI lain yang sudah pernah didaftarkan harus menjadi prioritas perhitungan karena seringkali startuper lupa akan hal ini. Terutama untuk paten yang sudah bertahun-tahun lalu. Jika tidak, investor berhak menikmatinya tanpa menanggung pembiayaannya.

2.    Human Capital
Bagaimana menilai manusia adalah masalah yang belum terselesaikan di dunia akuntansi, seperti penilaian pemain sepak bola yang cenderung irasional. Manusia adalah sumber kreativitas dan inovasi. Guru yang saya kagumi, Steve Blank mengatakan bahwa investor yang baik membeli personal, bukan sekadar produk. Jika Anda memiliki bukti nyata tim dengan karakter dan performa kerja tinggi, maka bukan hal yang berlebihan jika menilai lebih tinggi.

3.    Brand value
Berikutnya, brand perusahaan Anda. Jika perusahaan Anda sudah well-known, terkenal dan banyak diliput media, tentu saja Anda perlu mempertimbangkan penilaian lebih dari sekadar penilaian pendaftaran HAKI di atas kertas. Anda dapat menawarkan 2 skenario perbandingan plus-minus, antara melanjutkan usaha (bersama investor) dengan nama yang sudah ada atau membuat nama baru dan memulai dari nol lagi.

4.    Goodwill
Goodwill, sederhananya merupakan harapan baik masa mendatang atas apa yang kita punya. Misalnya, Anda pebisnis Apps dan punya satu Killer Apps yang usernya Anda prediksi akan jutaan pada beberapa tahun mendatang. Nah nilai user pada tahun mendatang harus dikapitalisasi/ dinilai sekarang atau di-present value kan juga. Jika tidak, Anda akan sangat meratapi kerugian di masa mendatang.

5.    Penilaian ulang produk
Dalam hal ini, seringkali kasalahan startuper terjadi karena mereka menilai nilai produk dari sisi biaya produksi (tenaga kerja, biaya inovasi, bahan baku, biaya overhead) saja. Saat proses akuisisi atau merger, produk-produk yang kita miliki harus dinilai sesuai harga jual wajar, bukan biaya produksi. Jika tidak, kita akan menanggung kerugian undervalued.

Tentunya perhitungan nilai perusahan tetap perlu mempertimbangkan adanya sisa kewajiban yang sedang berjalan serta aspek persona calon investor, apakah cocok dengan jiwa bisnis kita. Namun dengan perhitungan yang matang aset berwujud dan tak berwujud, setidaknya kita bisa terhindar dari hukum transaksional bisnis yang selalu berusaha menilai “barang” dengan harga semurah-murahnya.

Semoga bermanfaat!

Selasa, 21 April 2015

VPD: Cara Mudah Menemukan Customer Value

Ketepatan penciptaan customer value adalah syarat mutlak kesuksesan produk atau layanan. Produk yang baik adalah produk yang dibutuhkan konsumen. Sayang, seringkali apa yang kita pikir terbaik, bagi konsumen tidak demikian adanya. Anda mungkin merasa telah melakukan riset dengan baik, namun tetap saja tidak menghasilkan data yang valid.

Lalu, bagaimana cara efektif untuk menciptakan customer value? Get Out of The Building, tentu saja. Tapi, bagaimana mendapatkan data yang valid sebagai dasar penemuan customer value?

Osterwalder menawarkan solusi penciptaan value secara visual dengan konsep Value Proposition Design (VPD). Mudah, praktis, cepat, dan valid. Itulah kesan saya saat mempelajari dan mencoba menerapkannya. VPD adalah metoda pemetaan dan kompromi kebutuhan pasar dan kompetensi-kapasitas pebisnis. Di dalam buku LastingLean, saya menyebutnya dengan Compromised Value. Saya telah memberikan pelatihan-pelatihan tentang VPD di perusahaan-perusahaan dan hasilnya sangat memuaskan. Pekerjaan riset pebisnis untuk menciptakan customer value menjadi lebih mudah dan valid.


Pemetaan VPD
Penciptaan value yang baik idealnya dimulai dari pasar. Ada 4 data yang harus ditangkap yaitu siapa segmen yang akan kita garap, aktivitas (jobs) calon konsumen yang ingin kita tingkatkan produktivitasnya, masalah (pain) yang menjadi penghambat penyelesaian pekerjaan mereka, dan harapan capaian (gain) jika mereka berhasil menyelesaikan aktivitas atau pekerjaan tersebut. VPD menawarkan Customer Profile Map untuk memetakan temuan tersebut secara ringkas.

Customer Profile Map (copyright Strategizer)

Setelah mengetahui profil konsumen, tahap kedua adalah mengembangkan value-base product berdasarkan kompetensi-kapasitas yang kita miliki. Pertama, kita tentukan alternatif produk atau layanan yang ingin kita lawarkan, kemudian tentukan bagaimana produk/ layanan tersebut mampu menjadi penyelesai masalah aktivitas/ pekerjaan konsumen dan pemicu percepatan pencapaian hasil atas pekerjaan konsumen tersebut. Ketiga temuan ini kemudian dipetakan di dalam Value Map.

Value Map (copyright Strategizer)

Fitting
Setelah memetakan profil konsumen dan value, tahap berikutnya adalah melakukan fitting atau pencocokan antara kebutuhan segmen dan produk/ layanan yang kita tawarkan.
Fitting (copyright Strategizer)
Kejelian dan kecermatan proses fitting akan menetukan efektivitas value yang kita tawarkan sebagai solusi atas masalah konsumen.
Fitting Example


Implikasi VPD
VPD bukan perangkat yang menyaingi perangkat model bisnis yang sudah ada. VPD hanya membantu pebisnis untuk melihat lebih detil (zoom-in) tentang proses penemuan customer value. Proses VPD merupakan dasar dari pengembangan prototipe Minimum Viable Product (MVP), validasi, dan permodelan bisnis.

Sabtu, 21 Maret 2015

KanColle: Bisnis Gila Perkawinan Gadis Imut dan Kapal Perang

Awalnya penasaran. Sejak tahun lalu, dinding facebook saya sering dihiasi aktivitas jual-beli action figure gadis imut memakai armor ala kapal perang. Secara tampilan, sangat unik dan menarik. Telusur demi telusur, sampailah pada satu nama, Kantai Collection (KanColle). Demikianlah judul yang diusung oleh perusahaan Kadokawa, pencipta dan pemegang hak cipta para gadis armor tersebut.

KanColle adalah sebuah casual online game fenomenal tentang pengaturan armada perang dan pertempuran dengan konsep dan disain game yang tidak jauh berbeda dengan game sejenis lainnya. Bahkan KanColle terbilang relatif sederhana dengan konsep freemiun. Menariknya, situs KanColle mampu meraih prestasi yang sangat luar biasa. Meraih 15.464 unique visitor, 23.351 view/ hari, pendapatan ads Rp.12 juta/ day, peringkat k-3 Google, dengan nilai situs sebesar Rp.2,4 trilyun. Nilai ini belum termasuk revenue dari lini bisnis KanColle lain, seperti in-app purchase, kartu fisik, merchandising, lisensi, dan sebagainya. Menurut informasi, IP KanColle saat ini menduduki peringkat 3 tertinggi di Jepang, mengalahkan Vocaloid dan Attack on Titan. Yang artinya, jumlah fans dan tentu saja revenue dari merchandising KanColle sangat besar. Sebagai informasi saja, Tsuburaya dan Bandai mengaku menghasilkan revenue dari penjualan mainan lini Ultraman sebesar Rp.2 trilyun setahun, sedangkan IP tersebut posisinya jauh dibawah KanColle (T T)

Bagaimana mereka melakukannya?

Selain model bisnis transmedia storytelling dan pembangunan fans loyalty yang matang, pesona game dengan lebih dari 2 juta pemain aktif ini dibangun dari kekuatan disain karakter. Saya mencoba mendekonstruksi daya tarik tersebut dan menemukan 3 poin yang dapat kita jadikan pelajaran tentang bagaimana menciptakan produk yang baik.

1. Merancang (Design)
Kongou
Hal pertama yang menarik dari KanColle adalah jajaran karakternya. Gadis-gadis cantik, moe, dan menarik namun terkesan cool dengan armor super deform-nya. Inilah seni merancang. Merancang atau disain identik dengan grafis visual. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar atau salah. Rancangan merupakan produk dari imajinasi, yang berarti kemampuan berpikir. Kemampuan merancang memiliki beberapa tingkatan manifestasi dan KONSEP merupakan tingkatan tertinggi rancangan. Kemampuan merancang dan berimajinasi dapat diasah dengan melatih kebiasaan berpikir. Selain imajinasi, kemampuan merancang juga dipicu oleh kemauan untuk belajar, membuka indera (mata, telinga, dan perasaan). Memperbanyak wawasan, referensi, pemandangan, pendengaran, dan perasaan akan mempertajam kemampuan merancang. Rancangan konsep kemudian akan dimanifestasikan di dalam media yang mampu ditangkap oleh indera manusia, seperti gambar visual. Bagaimanapun juga "orang akan menilai sesuatu berdasarkan sampulnya".

2. Menghubungkan (Symphony) 
Kapal Izumo dan KanColle Izumo
Selain tampilan fisik karakternya, pesona KanColle jelas terletak pada disain armor khas kapal perang. Dan jika kita perhatikan, disain kapal perang yang melekat pada tubuh karakter KanColle bukan sembarang kapal perang. Mereka didominasi gaya kapal-kapal perang Jepang semasa perang dunia II. Tiap karakter mewakili karakteristik kapal-kapan perang tersebut. Setiap karakter diberi nama seperti nama kapal perang yang dipersonifikasikannya, seperti Yamato, Shimakaze, Nagato, Haruna, Izumo, dan sebagainya. Perancangan yang jauh diluar pemikiran mainstream. KanColle berhasil mengkawinkan disain cewek imut dengan kapal perang yang sangar. Kemampuan menghubungkan dengan harmonis inilah yang makin menguatkan karakter KanColle. Strategi yang sama dengan Kamen Rider Gaim yang menggabungkan armor tradisional, buah-buahan, dan kekhasan Kamen Rider. Sama halnya dengan mengasah kemampuan merancang, kemampuan menghubungkan juga diasah melalui imajinasi dan banyak mencari wawasan atau referensi, kemudian melakukan pivoting untuk menemukan simfoni terbaik.


3. Memberi Makna (Meaning)
Kapal Yamato dan Shimakaze
Reaksi pertama saya setelah mengetahui bahwa kapal perang dunia menjadi inspirasi KanColle adalah segera mencari tahu seperti apa bentuk kapal aslinya. Perlahan saya baca sejarah dibalik kapal-kapal tersebut dan tanpa sadar, saya sedang belajar sejarah Jepang. KanColle menghipnotis dan membawa saya kembali pada masa perang dan mengenali armada laut Jepang. Bagi saya, strategi pengenalan Jepang demikian sangat luar biasa. Kita belajar mengenal mereka tanpa merasa sedang diajari. Kita belajar dengan perasaaan penasaran seperti layaknya peneliti sejarah, dan dengan senang hati. Ya, produsen IP memang ahlinya membubuhkan pesan-pesan tersembunyi untuk membangun kebanggaan terhadap Jepang. Sebut saja Gundam, Kenshin, Doraemon, atau Naruto yang secara implisit berusaha menamamkan identitas budaya Jepang di dalamnya. Kemampuan memaknai adalah kemampuan yang lebih banyak diasalh melalui roh (spirit) yang ada di dalam diri kita. Makna adalah roh dari sebuah IP karakter. Melatih konsentrasi, melakukan perenungan, melatih kemampuan interpretasi, dan kontekstualisasi akan memudahkan kita untuk menciptakan makna.

Produk yang baik selalu dihasilkan dari imajinasi "liar", berpikir di luar kotak, kemudian menghubungkannya dengan sesuatu untuk menciptakan unfair advantage yang kuat. Dan pada tahap akhir, menghembuskan nyawa dengan memberinya makna.

Nah, jika Anda ingin menjadi perancang yang hebat, sudahkah Anda memiliki habit berpikir dan belajar? Ketekunan berinovasi, mencoba, gagal, dan terus mencoba? Dan kebiasaan merenungkan setiap kejadian dan berusaha memaknainya?

Semoga bermanaat!

*Seluruh gambar adalah IP dari Kadokawa