Rabu, 17 Desember 2014

Hoax SARA, Gudang Uang

Akhir-akhir ini wall facebook saya banyak dihiasi isu-isu tentang agama. Mulai sejak kasus Gubernur DKI, Kristenisasi, haram ucapan Natal, hingga larangan jilbab panjang.

Siapa sih yang tidak panas hati melihat dan mendengar (judul) berita yang menyinggung agama yang kita anut atau mengolok-olok kesukuan kita. Wajar, ketika menyimak berita demikian, seseorang akan menjadi sangat emosional. Reaksi emosional yang tidak disikapi dengan dewasa justru akan membuatnya menjadi provokator atau defender mati-matian dengan mencari bukti ayat-ayat suci.

Jika diperhatikan, rata-rata, jumlah like, share, dan comment berita demikian mencapai puluhan hingga ratusan, terkadang ribuan. Tanpa sadar, kita-kita yang terjerumus provokasi berita demikian adalah “cash cow” bagi pemilik portal atau situs berita tersebut. Partisipasi kita mendatangkan trafik yang besar yang berarti keuntungan bagi pemilik website, baik via ads atau penjualan database.

Jika kita perhatikan, gaya berita demikian (yang menyinggung SARA) semakin banyak dibuat, entah itu hoax atau hasil permainan hermeneutika (bahasa). Makin lama, makin provokatif, vulgar dan destruktif. Ini adalah salah satu bentuk kecerdasan pebisnis berita. Mereka makin pandai mencari peluang meningkatkan trafik dan mereka sudah menemukan formulanya.

Sederhananya, manusia terdiri dari 3 unsur, pikiran, jiwa, dan roh. Tentang hal ini, ada perbedaan cara pandang masyarakat Barat dengan Timur. Orang-orang Barat lebih mengutamakan pikiran. Mereka penganut faham modernisme, segala sesuatu mengutamakan rasio dan logika. Untuk menggerakkan mereka, kita harus menggunakan data, scientific research, dan rasionalisasi yang benar. Berbeda dengan bangsa Timur yang identik dengan upaya pencerahan keTuhanan. Mereka sangat sensitif dengan urusan roh, bahkan mereka sering melepas logikanya untuk urusan yang satu ini. Pendekatan kerohanian akan menjadi lebih efektif untuk menggerakkan mereka, termasuk memprovokasi mereka. Lihatlah bagaimana gerakan politis yang terjadi di negara kita seringkali menggunakan label agama. Itulah mengapa ada kalimat, untuk merusak sebuah bangsa, pecahbelahlah melalui agama dan suku. Dan kini, untuk meningkatkan trafik, buatlah berita yang menyinggung SARA.

Nah, sekarang kita tersadar, tanpa sadar kita sering menjadi alat dari pemuasan hasrat finansial pemilik portal berita dan personal branding kelompok politik. Selanjutnya, terserah Anda.


Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar