Kamis, 27 November 2014

4F Pemicu Sukses Online Shop

Katanya, bisnis toko online sangat menjanjikan. Minim investasi awal, minim risiko, dan memiliki fleksibilitas yang sangat tinggi. Contohnya, sebagian besar kaum hawa yang berbisnis online menjalankan dagangannya sambil mengasuh buah hati. Mereka tidak perlu stok barang karena kemudahan sistem drop ship. Mereka menunggu pelunasan baru melakukan pengiriman barang. Dalam sebulan penjual rumahan bisa meraup omset dari puluhan hingga ratusan juta.

Prospek demikian terus mendorong tumbuhpesatnya toko online. Ratusan toko online baru lahir di Indonesia setiap hari. Keramaian ini memicu tantangan baru. Pasar yang terlalu sesak menjadikan persaingan yang makin keras. Banyak pendatang baru yang gelar tikar, banyak pula yang gulung tikar. Kesalahan penentuan harga, respon, dan layanan segera memaksa toko online tutup. Akhirnya, hukum alam berlaku, siapa yang paling siap berinovasi, dia yang bertahan.

Kebetulan saya adalah penggemar action figure sekaligus salah satu pembelanja online yang cukup intens mencari seller dan bertransaksi. Saya telah berinteraksi lebih dari 20 toko hingga mengerucut menjadi tidak lebih dari 3 toko saja yang saya jadikan langganan. Ada 4 hal yang pada akhirnya memutuskan tali transaksi saya dengan belasan toko lainnya. 4 hal yang sederhana namun memberi dampak yang luar biasa seperti hukum yang berlaku bagi setiap toko online.

1. Fantastic Product Offering
Pilihan produk lengkap, bahkan menjual barang-barang rare (tidak pasaran) adalah salah satu daya tarik sebuah toko. Buyer online seringkali membeli lebih dari 1 item sekaligus dan lebih suka membeli pada 1 toko yang sama. Bukan hanya masalah ribet harus transfer ke beberapa toko, namun juga ongkir yang harus ditanggung beberapa kali juga. Menariknya, saat ini banyak toko-toko yang sudah membantu buyer untuk mendapat produk impor terbaru dengan fasilitas PO (Pre Order).

2. Fair Price
Sebagian besar pembeli (baru) cukup price sensitive. Beda Rp.5.000,- bisa ke lain hati. Dengan barang yang sama, harga akan menjadi sangat bersaing. Persaingan harga tidak hanya terjadi diantara toko online nasional, namun telah menjadi persaingan dunia. Kita bersaing dengan toko-toko di Ebay, bahkan Amazon. Sebelum membeli barang yang material, saya selalu melakukan survey menjelajah marketplace untuk mencari harga pembanding. Dan ada kalanya membeli barang pada seller luar negeri ternyata lebih murah (sudah termasuk ongkir) daripada seller lokal.

3. Friendly Service
Normalnya, dilayani dengan baik adalah harapan setiap konsumen. Tidak ada orang yang suka dicuekin atau diperlakukan ketus. Sudah menjadi kebiasaan sebagian besar seller yang ramai, supersibuk sehingga merespon buyer dengan sangat singkat dan kadangkala tidak jelas maksudnya. Begitu ditanya kembali, jawabnya tidak cukup ramah. Tidak cukup mengandalkan profesionalisme dan etika bisnis. Seller yang disukai adalah mereka yang paham kekuatan membangun dan menjaga sebuah hubungan karena mereka berhadapan dengan manusia, bukan mesin.

4. Fast Respon
Respon cepat merupakan faktor utama dalam bisnis online, mulai dari prospek hingga proses pembayaran dan pengiriman. Sangat alami calon buyer ingin segera mendapat respon, membayar, dan memegang barang pesanannya. Kemampuan memberi respon cepat adalah kekuatan bersaing sebuah toko online. Makin lambat respon diberikan, makin besar pula kekhawatiran calon buyer atas kredibilitas toko, dan pada akhirnya makin banyak pula alternatif seller yang ia temukan. Buyer dapat saja menghubungi seller pada jam-jam yang sulit diprediksi. Kadang waktu jam istirahat kantor, kadang larut malam. Dan inilah tantangan tanggungjawab besar ketika kita memutuskan berbisnis online yang tidak mengenal waktu istirahat.


Semoga bermanfaat!

Senin, 10 November 2014

Perang, Kekuatan, dan Kemerdekaan Disain

Mendefinisikan desain cukup mudah, namun cukup sulit. Banyak diantara kita terjebak pada aspek visual, mengidentikkan desain dengan tampilan yang dapat dilihat langsung. Steve Jobs mengatakan:

“Design is a funny word. Some people think design means how it looks. But of course, if you dig deeper, it's really how it works.”

Disain tidak terbatas pada hal visual, namun lebih pada bagaimana sesuatu itu bekerja. Bentuk paling dasar dari disain adalah imajinasi. Disain adalah proses rasional (pikiran), emosional (jiwa), dan spiritual (roh) untuk menciptakan solusi atas masalah hidup dengan berlandaskan pada value. Penulis buku, John Haskett memandang sebuah disain sebagai sesuatu yang sangat bernilai. Yang intinya adalah tentang utilitas (fungsional) dan kebermaknaan (emosional dan spiritual).

Gambar, teks visual, tata letak, suara harmonis, patung, produk dan media lain merupakan format atau bentuk akhir dari desain, bukan desain itu sendiri.


Bisnis Adalah Perang Disain
Kita semua mengenal kisah Ford. Pada era industri 1918, Ford automobile memang sangat berjaya dengan strateginya “hitam”nya. Ia mengatakan:

"Any customer can have a car painted any color that he wants so long as it is black.”

Pada saat itu, semua mobil Model T diproduksi didominasi dengan warna hitam untuk menjaga efisiensi karena warna hitam cenderung lebih cepat kering. Ford bisa meraup keuntungan besar pada era tersebut mengingat tidak banyaknya pesaing dan masih berlaku hukum kapitalisme modern secara kuat. Namun bisa Anda bayangkan, apa yang terjadi jika saat ini Ford masih memegang teguh pemikirannya, semua mobil hitam?

Tidak laku.

Sekarang, kita mengenal Ford dengan baru dengan berbagai tipe dan varian warna, seperti Fiesta, Ecosport, Everest, atau Ranger dengan warna-warni menarik. Itulah tuntutan pasar, itulah tekanan persaingan yang memicu demokratisasi disain.

Era konseptual telah memerdekaan disain. Di dalam proses mencipta produk, fungsi adalah hal mutlak yang wajib dipenuhi, semacam tiket memasuki industri. Sekarang, desain telah mengambil alih keunggulan bersaing. Demokrasi disain merubah pola persaingan. Dasar kemenangan bukan lagi logika low cost atau diferensiasi produk, tetapi desain.

Kemerdekaan desain sangat terlihat pada industri automobile. Jika pada masa lampau Ford menjadi merdeka dengan strategi kompetitif-nya, sekarang mereka mencari kemerdekaannya dengan membicarakan harmony and balance. Chris Bangel, perwakilan BMW juga mengklaim bahwa BMW tidak membuat mobil, mereka membuat penggerakan pekerjaan seni yang mengekspresikan kecintaan dan kualitas driver. Dan satu lagi, Toyota yang mendisain strategi branding dengan model edukasi. Kita mengenal konsep bisnis seperti Just-in Time, Lean Manufacturing, juga Monozukuri wa Hitozukuri berkat kehebatan Toyota di dalam mengedukasi pasar sekaligus membangun brand awareness. 

Inilah demokratisasi desain yang menunjukkan bahwa fungsi adalah syarat mutlak bagi pebisnis untuk memasuki industri seperti tiket nonton XXI. Selebihnya, ditentukan oleh kemampuan mendisain.


Kekuatan Truly Asia
Anda familiar dengan tagline “Truly Asia”?

Benar, itu adalah tagline program pariwisata negara tetangga, Malaysia. Lepas dari kontroversi kita terhadap konten tayangan commercial ads Truly Asia, Malaysia adalah satu contoh negara yang mampu mendudukkan dirinya secara unik dan kokoh. Malaysia adalah Asia, Malaysia adalah hub yang menghubungkan seluruh Asia. Jika Anda ingin melihat Asia, datanglah melalui Malaysia. Lebih dari itu, Malaysia adalah negara multiculture yang sangat menghargai perbedaan. Dari orang Cina, India, Melayu, Barat, semua ada di sana. Begitulah kira-kira pesan dari Truly Asia.

Jika direnungkan, potensi kekayaan budaya dan ragam tempat wisata Indonesia jauh lebih baik. Namun faktanya, Malaysia mampu mendisain sebuah tagline dengan lebih baik. Kita mungkin membutuhkan Christoper Columbus untuk mencipta produk, namun kita memerlukan Amerigo Vespuci untuk menjualnya.


Semoga bermanfaat!