Senin, 20 Oktober 2014

Mengatasi "Perang" Tim Disain dan Tim Teknik

Konon, pada tahun 1850 seorang pelukis James Wishler melamar masuk akademi militer West Coast. Dalam sebuah ujian, seorang instruktur memintanya menggambar sebuah jembatan. Ia mencoba menyuguhkan gambar yang indah, jembatan di sebuah taman bunga. Terlihat 2 anak kecil sedang memancing bahagia. Melihat karya James, instruktur menegur keras, "Hapus 2 anak itu dari jembatan! Saya ingin jembatan bersih!" James menghapus kedua anak itu dan memperbaiki gambarnya kembali. Ia menggambarkan kedua anak itu di tepi sungai, duduk dan memancing. Kedua kalinya instruktur geram, "James! Ini pelajaran teknik, hapus dua anak itu dari kanvas!" KEtiga kalinya James merevisi gambarnya. Kali ini ia menghapus obyek kedua anak, dan ia menambahkan 2 batu nisan di dekat taman itu. "Gambar apa itu?" tanya instruktur sambil menunjuk gambar batu nisan. "Ini adalah nisan kedua anak itu, Pak", jawab James. Singkat cerita, James dinyatakan gagal.

Sahabat bisnis, apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini?

Sebuah gambaran yang tidak jauh dari praktik di sekitar kita. Ini adalah "pertempuran" tim seni dan tim teknik. Seringkali tim disain dengan kemampuan otak kanan yang hebat berimajinasi dan menginginkan produk yang spektakuler. Namun ketika diimplementasikan dalam tataran teknis, bentrokan atas nama kelayakan (feasibility) mulai terjadi, biaya, waktu pengerjaan, atau kesediaan teknologi. Jika tidak, maka akan terjadi pembengkakan biaya.

Lalu bagaimana menyelesaikan masalah ini?

Baik tim seni dan tim teknis, keduanya tentu memiliki argumentasi yang benar. Validasikan kembali value kepada calon konsumen, itu kuncinya. Perdebatan tanpa ujung kedua tim hanya dapat dijawab oleh riset pasar. Kembalikan pada misi awal, bahwa kita menjual produk untuk dinikmati konsumen, bukan tim disain atau tim teknis. Mengenai kemungkinan modifikasi, penyederhanaan, atau reengineering proses tetap harus dilakukan untuk memenuhi customer value dengan pertimbangan investasi yang tepat. 

Kedua, masalah kepemimpinan. Al dan Laura Ries dalam bukunya War in The Boardroom mengupas konflik idealisme demikian dan mengungkap peran pemimpin di dalam menjembatani konflik-konflik demikian. Ya, pemimpin yang visioner, fleksibel, dan mampu berpikir sinerjis dan sintesis, tanpa mengorbankan kepentingan dan harga diri timnya.

Mungkin kita tidak perlu membuat jembatan yang sangat indah dengan 2 anak yang sedang berbahagia. Kita juga mungkin tidak perlu membuat jembatan berkonstruksi rumit. Mungkin konsumen berharap jembatan tali yang sederhana dan cukup indah. Atau mungkin konsumen butuh teleporter canggih.

Semoga bermanfaat!