Selasa, 30 September 2014

Kenali Godaan Terbesar Inovator

"Icarus, sebuah nama, sebuah mitos yang mengingatkan kita pada sebuah pesan, jangan terbang terlalu tinggi."

Icarus adalah putra Daedalus, seorang tinkerbell. Karena kesalahannya pada kerajaan, mereka berdua harus menjalani hukuman di sebuah pulau. Daedalus memiliki rencana cerdas untuk kabur dari sana dengan membuat sayap buatan yang direkatkan dengan lilin. Tiba harinya, mereka segera mengeksekusi rencana itu. Daedalus berpesan pada Icarus agar jangan terbang terlalu tinggi karena berbahaya. Tanpa tedeng aling-aling, Icarus segera meluncur. Sebuah pengalaman terbang yang keren. Saking asyiknya, ia lupa pesan ayahnya dan terbang mendekati matahari. Tanpa ia sadari, lilin perekat sayap-sayap itu meleleh dan satu persatu bagian sayap terlepas. Icarus kehilangan kendali dan terjatuh ke dalam samudra. Ia tidak pernah ditemukan kembali.

Godaan Icarus masih terus terjadi hingga saat ini. Inovator, yang notabene adalah orang-orang hebat, tidak terlepas dari godaan ini. Tanpa sadar, kita sebagai inovator sering menjadi pengabai pesan pasar karena sibuk dengan kepercayaan diri yang tinggi terhadap kehebatan produk/ karya yang kita ciptakan. Secara alami dan menurut penelitian-penelitian psikologi populer, manusia cenderung mengapresiasi lebih ide/ pikirannya dari yang semestinya. Kita tergoda membuat karya indah (menurut kita) dan berpikir orang lain memikirkan pikiran yang sama dengan kita. Para inovator percaya diri dan berlomba membuat karya yang ia pikir hebat dan ternyata, gagal ketika rilis di pasar.

Realitanya, di dalam bisnis karya yang terbaik adalah karya yang terjual dan dapat dinikmati konsumen. Produk hebat hanya menjadi pajangan museum jika tidak terserap pasar. Pebisnis dihadapkan dengan pilihan sulit, membuat produk menurut idealismenya atau menurut kemauan pasar. Tentunya, mengandalkan kepercayaan diri (idealisme) sangat berpotensi mengulangi tragedi Icarus. Sebaliknya, mengikuti maunya pasar akan mengeringkan passion kita.

Chris Guillebeau dalam $100 Startup memaparkan makna konvergensi, sebuah nilai kompromi yang dapat diterapkan di dalam inovasi produk. Saya mencoba mengembangkan tesis tersebut menjadi salah satu bagian penting dari permodelan bisnis LastingLean. Sebagai inovator dan pebisnis, sangat mungkin kita memadukan idealisme dan kemauan pasar melalui inovasi Compromised value.

Compromised Value

Tidak bisa dipungkiri, hasrat atau dorongan inovasi selalu bermula dari benak pikiran inovator. Namun, inovasi bukanlah inovasi yang baik jika tidak memberi manfaat bagi calon penggunanya. Untuk itulah, sebagai inovator, kita wajib membesarkan hati untuk menguji (validasi) ide atau produk kita ke pasar (sesuai segmen) yang dituju. Biarkan mereka menilai dan memberi feedback tentang fitur, disain, kebermanfaatan, dan segala hal terkait produk kita. Melalui iterasi dan pivoting yang tepat, kita akan menemukan sebuah harmoni kompromi antara idealisme kita dan kemauan pasar.

Mitos Icarus telah memperingatkan kita, jangan terbang terlalu tinggi. Di sisi lain, tidak baik pula terbang terlalu rendah karena sifat air laut akan mempengaruhi daya terbang. Diperlukan keseimbangan untuk mencapai kualitas terbang terbaik.


Semoga bermanaaf!


----------------------------------------------------------------------------------------------

Temukan strategi validasi Compromised Value di buku Lasting Lean
Dapatkan versi digital di: http://gramediana.com/books/detail/235140747-lasting-lean?locale=en

Minggu, 14 September 2014

3 Alasan Mengapa Entrepreneur Perlu Pake Ribet Bikin Model Bisnis

Dalam sebuah pelatihan LastingLean, seorang pengusaha digital bertanya, "Pak, mengapa sih kita mesti repot bikin model bisnis, hitung indeks, dan lain-lain?" Ini adalah salah satu pertanyaan dasar terbaik yang saya jumpai yang mungkin sering menjadi pertanyaan di benak Anda, ngapain kita meribetkan diri dengan urusan perhitungan toh bisnis kita jalan terus, bayaran klien juga lancar. Yah... bisa jadi itu terjadi. Namun berapa banyak bisnis (khususnya kongsi) yang pada akhirnya shutdown atau pecah kongsi karena diributkan masalah hitung-hitungan uang?

Business model merupakan salah satu prinsip inovasi aspek finansial dan akuntabilitas. Business model merupakan proses pemikiran dan perencanaan matang tentang roadmap dan milestone bisnis yang akan dijalani. Pakar-pakar bisnis mangibaratkannya dengan peta, kompas, buku panduan manual, atau alat pengendali. Tanpa perencanaan, panduan, dan pengendalian yang baik, sebuah bisnis tidak akan berjalan dengan baik. Dengan permodelan bisnis yang serius, sangat mungkin kinerja bisnis kita akan menjadi jauh lebih baik atau bahkan menghindari risiko konflik tanpa dasar. Saya mencatat 3 fungsi dasar mengapa kita perlu merancang model bisnis dengan matang:

1. Konsistensi
Business model membantu kita untuk tetap fokus dan konsisten dengan apa yang sudah direncanakan dari awal, terhadap visi dan pilihan strategis. Tanpa business model, bisnis akan berjalan mengalir, menciptakan keborosan, dan tim akan menghadapi kebingungan pengambilan keputusan, bahkan berjalan sendiri-sendiri karena tidak adanya arahan dan kesepakatan bersama secara tertulis.

2. Komitmen
Tanpa disadari, business model merupakan sebuah gentlemen agreement yang mengikat secara setiap anggota tim secara profesional. Business model merupakan komitmen yang memudahkan penyatuan orientasi setiap penggunaan resource (uang, tenaga, dan waktu).

3. Komunikator
Business model merupakan media komunikasi bisnis yang efektif. Kita dengan mudah berhadapan dengan stakeholder, kreditor, atau investor karena kita memiliki "bahasa" yang sama, yaitu bahasa bisnis. Sementara,  salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pelaku bisnis menggunakan bahasa teknis (misalkan penggunaan software dan teknik rendering yang hebat) untuk menghadapi pebisnis. Hal ini ibarat menggunakan bahasa Madura untuk berkomunikasi dengan orang Batak.

Semoga bermanfaat!


(Klik dan lihat permodelan bisnis sederhana LastingLean)

Kamis, 11 September 2014

3 Bahan Peledak Serial Mahabarata

Sejak tayang di ANTV, masyarakat Indonesia kian lekat dengan kisah Mahabarata karya sutradara Siddharth Anand Kumar, dkk. Sebuah serial yang meningkatkan rating bahkan sempat menduduki peringkat kedua dalam survey Daily Rating mengalahkan GGS. David Pardede, Corporate Secretary IMC (ANTV) membenarkan hal ini. Di tengah tren acara pencarian bakat, sinetron "plagiat", YKS, K-Drama, kisah Mahabarata mampu bersaing merebut hati masyarakat Indonesia. Apa rahasianya?

Aktor dan aktris yang cakep? Visual FX yang lumayan? Mungkin iya, mungkin tidak. Stasiun televisi tersebut menanyangkan beberapa serial dengan tokoh yang rupawan dan FX yang memadai (untuk kelas serial) namun ratingnya tidak setinggi Mahabarata. Ada sesuatu yang lain yang mampu membius penonton. Saya mencoba menganalisis produk ini dan menemukan 3 rahasia hebat dibalik kesuksesan sinetron Mahabarata. 

1. Cerita (story)
Sederhananya, kisah Mahabarata telah memenuhi pola storytelling yang ideal. Dari istana lalu terbuang ke hutan, mengalami kekelaman, pertemuan dengan para mentor, perjuangan dan pengasahan kompetensi, hingga pada "perang" besar dan akhirnya menang dan mengalami pencerahan. Coba perhatikan dengan cerita-cerita hebat lain seperti Ramayana atau kisah Nabi Musa atau Yusuf yang juga memiliki pola yang serupa. Dibanding sinetron lain (seperti Hatim), Mahabarata karya Wiyasa jelas memiliki kekuatan dan kualitas cerita yang jauh lebih baik. Mahabarata mampu menampilkan keindahan bahasa yang luar biasa hingga pesan-pesan moral yang diucapkan oleh para tokohnya terasa sebagai pesan pribadi untuk pemirsa.

2. Pesan Spiritual (meaning)
Sebagian kawan saya (terutama wanita) mengaku menyukai tokoh Krisna, ganteng dan bijaksana, kata-kata bijaknya mengena. Selain Krisna, pemirsa dapat belajar kebijaksanaan dan filosofi dasar kehidupan melalui penokohan tokoh-tokoh yang ada di dalam epos ini, bahkan Sengkuni-pun membawa pesan moral yang baik bagi umat manusia. Mahabarata merupakan epos India yang diinspirasi oleh proses hermeneutika dan pengalaman spiritual Wiyasa terhadap Weda. Hebatnya, pesan moral Mahabarata sangat kontekstual dan dapat diimplementasikan di berbagai aspek kehidupan, pekerjaan, rumah tangga, bahkan percintaan. Kisah demikian sangat relevan dengan kehidupan masyarakat yang sedang dalam tahap pencarian makna kehidupan (meaning).
"Kemenangan terbesar adalah kemenangan di dalam menguasai pikiran" -Bima
3. Terlalu Tervalidasi (validation)
Tidak ada bukti yang pasti kapan penyusunan epos tersebut. Beberapa sumber menyatakan sekitar 400-300 tahun SM. Mahabarata telah diterjemahkan dalam ratusan bahasa sejak zaman tersebut hingga saat ini. Inilah yang menjadi kekuatan penetrasi Mahabarata ke pasar. Secara alami, Mahabarata telah teruji waktu lebih dari dua ribu tahun. Kisah ini telah diterima masyarakat sebagai salah satu way of life. Mahabarata telah terlalu banyak melewati proses validasi. Sebagai contoh, di Jawa kisah Mahabarta telah megalami alkulturasi dengan budaya Jawa yang dapat dimaknai bahwa Mahabarata telah tervalidasi dan termodifikasi sebagai epos "baru" yang dinilai lebih pas dengan cara hidup masyarakat Jawa.

Cerita, pesan moral, dan validasi yang sangat kuat adalah kunci dasar suksesnya serial Mahabarata. Meskipun Mahabarata terus dikemas ulang dalam berbagai versi, selama alur dan esensi kisah tetap sama, serta penokohannya kuat, kisah Mahabarata akan terus diminati.

Semoga bermanfaat!

Selasa, 02 September 2014

Hakikat, Aturan Alam yang Wajib Diketahui Kreator

Hello Kitty, karakter imut dikembangkan oleh Sanrio sejak tahun 60an. Lepas dari kontroversi Hello Kitty adalah kucing atau gadis kecil, yang pasti pengaruh karakter ini sudah sangat kuat. Tokoh ini telah melekat di benak pikiran anak-anak hingga orang tua sejak populer di tahun 70an. Berbagai merchandise Hello Kitty sukses di pasar internasional. Sanrio mencatat total pendapatan mereka di tahun 2012 sebesar  ¥74, 233 juta atau setara 8.3 trilyun rupiah. Apa rahasianya?

Disamping model bisnis yang kokoh, kekuatan Hello Kitty terletak pada aspek disain. Disain karakter Hello Kitty begitu sederhana, hanya sedikit goresan dengan warna minimalis. Namun berkat kesederhanannya inilah karakter Hello Kitty mampu membius hati anak-anak di dunia, bahkan menjadi magnet perusahaan-perusahaan besar untuk meminangnya sebagai "bintang iklan" produk-produknya. Kesederhanaan dan keimutan Hello Kitty mampu merepresentasi karakter dan cara berpikir anak-anak.

Suatu ketika, seorang guru bertanya pada saya, "Apa itu bunga?" Spontan saya menjawab "Sesuatu yang memiliki tangkai, kelopak, mahkota, benang sari, dan putik". Beliau melanjutkan, jika sesuatu itu tidak memiliki salah satu bagian bunga (yang Anda sebutkan), apakah ia tetap disebut bunga? "Bisa jadi", jawab saya. "Lalu, apa itu bunga?" Ia bertanya lagi. Terdiam beberapa detik, dan akhirnya saya berhasil tidak menjawab sepatah katapun. Ia mencoba memberi sebuah ilustrasi, "Seandainya Anda datang ke sebuah hutan dan melihat sebuah tanaman, bisakah Anda membedakan mana yang bunga, mana buah, mana daun?" "Tentu bisa", spontan jawab saya. Ia melanjutkan pertanyaannya, "Tanpa tahu arti bunga, mengapa Anda dapat berpikir bahwa Anda dapat membedakan bunga dengan bagian tanaman lainnya?" "Itulah yang disebut sebagai hakikat", tegasnya.

Hakikat adalah aturan alam, sesuatu yang melekat pada sesuatu, namun tidak mengikat sesuatu itu. Contohnya, secara naluri seorang anak anak berpikir sederhana, seorang anak gadis akan menyukai boneka, atau anak laki-laki menyukai mobil-mobilan. Aturan alam ini berlaku pada seluruh aspek kehidupan. Segala sesuatu harus bergerak seirama dengan hakikatnya. Melawan hakikat sama dengan melawan aturan alam. Jika kita kaitkan hal ini dengan kasus Hello Kitty, mungkin Anda mulai dapat mereka-reka rahasia dibalik kesuksesan disain Hello Kitty.

Hello Kitty didisain untuk anak-anak (khususnya perempuan). Hakikatnya, seorang anak gadis menyukai sesuatu yang cantik, pink, imut, dan sederhana. Hello Kitty memiliki semua aspek tersebut. Anak-anak tidak berpikir kompleks, mereka berpikir heuristik. Disain Hello Kitty sangat sederhana bahkan anak-anak usia 2 tahunpun mudah menirunya. Inilah aplikasi hakikat di dalam pengembangan produk.

Sebagian besar kegagalan awal proses disain produk adalah kurangnya perhatian pada aspek hakikat. Seringkali kreator mendisain produk sesuai apa yang ia sukai dan berharap pasar akan menyukai kesukaannya. Bagaimanapun juga, produk yang baik adalah produk yang terjual dan mampu memberi value added bagi konsumen. Sebagai contoh di dalam bisnis animasi, disain karakter dan cerita semacam Transformer memang keren abis, namun anak kecil akan cepat bosan dan gagal paham kompleksitas ceritanya karena memang ditujukan pada segmen remaja, bukan anak-anak.

Setiap segmen memiliki hakikat/ personanya sendiri, melawan hakikat sama dengan membangun kegagalan. Sebuah disain yang kompleks dan dewasa tidak akan pernah diterima oleh segmen anak-anak, sebuah disain yang terkesan lowend akan ditolak oleh segmen highend, dan seterusnya. Prinsip pengembangan produk wajib mengikuti hakikat segmen yang dituju. Dengan kata lain, langkah utama di dalam disain produk adalah mempelajari dengan sangat baik hakikat segmen yang dituju kemudian berusaha berempati terhadap segmen tersebut. Prinsip hakikat demikianlah yang juga membawa IP  besar seperti Dora the Explorer, Pororo, Naruto, Ultraman, dan Avengers suskes besar di segmennya masing-masing.

Semoga bermanfaat!