Jumat, 01 Agustus 2014

7 Prinsip Membangun Teamwork Ala Avengers

Bekerja dalam sebuah tim bisa jadi terasa lebih sulit daripada bekerja sendiri. Apa yang kita mau, seringkali tidak seperti yang anggota tim lain mau. Ya, itulah uniknya manusia yang memiliki kehendak bebas dan ego. Ketakutan, kekhawatiran demikianlah yang sering menjadi momok bagi kita untuk berani terjun membangun tim baru. Memang, usaha dan pengorbanan untuk membangun tim akan lebih besar daripada bekerja 1 man show. Namun hakikinya, manusia juga diciptakan sebagai makhluk sosial. Ada satu enerji besar ketika sebuah tim bisa bekerja dalam "satu tubuh" yang disebut sinerji, dimana 1 + 1 bukan lagi sama dengan 2, tapi lebih dari 2. Sebenarnya yang menjadi tantangan utama dalam hal ini adalah, bagaimana cara membangun tim baru yang baik?

Kisah Avengers karya Marvel menyimpan prinsip hebat tentang bagaimana membangun sebuah tim yang ideal. Saya mencatat 7 hal penting yang dapat kita jadikan sebagai referensi:

1. Visi yang sama
Tim Avengers sangat jelas memilki visi yang sama, mereka kumpulan orang baik yang ingin melindungi umat manusia dari serangan teroris. Kesamaan visi adalah hal utama di dalam membangun tim. Sebagai contoh, di dalam teori organisasi dikenal 2 norma, yaitu norma ekonomi dan norma sosial. Norma ekonomi berasumsi bahwa organisasi bertujuan untuk bisnis, bukan sebagai alat sosial. Sebaliknya, norma sosial berasumsi bahwa organisasi harus berada pada jalur sosial. Penggabungan keduanya dapat merisikokan organisasi berada dalam status stuck in the middle. Umumnya, perusahaan mulai bergerak menuju norma sosial setelah mencapai fase kemakmuran. Tanpa kesamaan visi, proses penyatuan akan sulit dicapai. Kita bisa belajar dari episod Avengers Disassembled dan Civil War, ketika Cap dan Ironman berbeda visi dan tidak ada lagi rekonsiliasi, tim Avengers terpecah.

2. Anggota tim harus unik
Coba pikirkan, bagaimana jika tim Avengers terdiri dari 5 Hulk? atau 5 Captain America? Tentu tidak akan sinerjis. Setiap karakter adalah unik dari aspek kemampuan, skill, dan personaliti. Ada yang keras kepala, suka narsis, kuat secara fisik, pandai, dan sebagainya. Selama 10 tahun saya memperhatikan sekian ratus mahasiswa (dalam tim penyelesaian proyek) terjebak di dalam ilusi kesamaan. Orang-orang dengan IP tinggi bergabung dengan sesamanya, mereka berpikir homogenitas adalah solusi yang baik. Begitu pula sebaliknya, akhirnya, anak-anak dengan IP pas-pasan berkumpul sendiri. Pada dasarnya, setiap orang itu hebat, punya kelebihan dan kekurangan. Hanya saja dunia pendidikan yang buta hanya mengukur kehebatan dengan cara otak kiri. Sinerji akan terjadi ketika kita mendedikasikan kelebihan kita untuk mengisi kekurangan orang, dan membuka diri mempersilahkan kelebihan orang mengisi kekurangan kita. 

3. Menekan ego
Ego adalah sesuatu yang baik jika dikelola dengan baik. Diperlukan pengendalian diri yang kuat untuk mampu mengelola ego. Kesabaran, kemampuan empati, dan kepercayaan adalah unsur utama manejemen diri dalam sebuah tim. Di dalam Avengers, masing-masing anggota nampak hebat ketika menjadi solois, namun ketika tergabung dalam sebuah tim, setiap anggota harus belajar mau dipimpim oleh orang (yang mungkin secara IQ tidak lebih baik dari kita). Hulk dan Ironman jelas memiliki kemampuan IQ paling baik, namun kekuatan tim tidak hanya ditentukan oleh aspek intelektual. Kemampuan mengendalikan diri jauh lebih penting, bahkan seorang pemimpinpun harus berjuang untuk menahan godaan gaya kepemimpinan diktator yang sudah tidak cukup relevan di era konseptual.

4. IQ bukan syarat utama pemimpin 
Dari pengamatan terhadap perilaku mahasiswa, saya memperhatikan kecenderungan sebuah tim untuk memilih pemimpin yang punya IP paling baik, atau setidaknya ahli di bidang yang sedang dijalani. Ini adalah kesalahan fatal! Coba perhatikan plot Avengers, apakah Nick Fury punya kemampuan bertarung paling baik? Tentu tidak. Mengapa? Karena kepemimpinan bukan sekadar tentang intelejensi, namun tentang sikap dan personaliti. Ahli perang Sun Tzu mencatat 5 karakter pemimpin yang baik, yaitu sikap bijaksana, kasih, ketulusan, keberanian, dan integritas. Pemimpin yang baik tidak harus hebat di semua bidang, tapi ia secara cerdas mampu men-simfoni-kan orang-orang hebat.

5. "Nepotisme" itu penting
Nick mengenal dengan baik dan menyimpan data para superhero. Ketika ada proyek/ misi baru, ia akan memilih orang yang sesuai dan menyatukannya dalam tim. Merekrut orang yang sudah kita kenal dan jelas pribadi dan kompetensinya akan meminimalkan risiko kegagalan misi. Bagi saya, pertimbangan demikian bukanlah kesalahan atau ketidakprofesionalan. Itulah mengapa surat rekomendasi itu cukup berperan. Selain itu, prosedur rekrutmen konvensional juga tidak menjamin the right man on the right place.

6. Size does matter
Jumlah, inilah bedanya Avengers dan AKB48 :) Tim inti avengers hanya terdir sekitar 5-7 orang (tergantung versi universe), selebihnya adalah tim gabungan. Membangun tim perlu mempertimbangkan efisiensi atau bahasa kerennya, lean (ramping). Tim yang tidak efisien akan menciptakan kondisi idle, pembesaran biaya, dan potensi konflik yang makin besar. Model operasi bisnis saat ini sudah megarah pada efisiensi melalui outsourcing, bahkan offshoring. Sebisa mungkin, mereka menghindari beban fixed cost yang besar, bukan sebaliknya. Sebagian besar barang yang Anda pakai adalah made in China, walupun konsep dan strategi bisnis tetap dipegang oleh negara pencipta IP. Tim kecil yang efektif akan mendatangkan keuntungan bagi bisnis Anda.

7. Selalu dinamis
Inovasi adalah kunci dari dinamisasi perusahaan. Kita bisa belajar dari sikap Tony Stark yang haus akan inovasi. Musuh dan kondisi alam yang berbeda memerlukan disain armor yang berbeda. Ia terus menciptakan armor baru yang relevan dengan medan tempurnya. Demikian pula prinsip survival sebuah perusahaan. Menghadapi proyek baru membutuhkan strategi baru dan mungkin komposisi tim baru. Tim Avengers tidak selalu sama dan dibangun berdasarkan kebutuhan kompetensi pada misi yang akan dihadapi. Perusahaan yang inovatif selalu siap menghadapi tantangan baru, pemimpin yang inovatif selalu siap mengelola dan bekerja sama dengan orang-orang baru dan beradaptasi dengan cepat. Di sinilah perlunya kecerdasan emosi dan spiritual yang baik.

Semoga bermanfaat!