Sabtu, 05 Juli 2014

Apa yang Terjadi di Benak Kita Saat Mengambil Keputusan?

Ada 3 hal yang konstan dalam kehidupan, yaitu perubahan, pilihan, dan prinsip” –Stephen Covey
Setiap saat, dalam setiap aspek, kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Kadang, kita dilema. Dalam kondisi ini, kita mengalamai semacam “tween”, suatu masa dan proses berurutan yang terjadi di benak kita, sebelum memutuskan pilihan, termasuk pilihan membeli produk, memilih pasangan, atau calon pemimpin Indonesia.

Sementara itu, pakar psikologi populer (Ariely, Kahneman, Tversky, dan Heath) mengungkap bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk irasional, bukan rasional seperti diungkap oleh teori ekonomi atau teori agensi terdahulu. Lalu, selama ini berarti keputusan yang kita ambil adalah irasional?

Coba simak ilustrasi berikut:
Bayangkan Anda dihadapkan dengan 2 pilihan (X atau Y), sesuatu yang "gratis". Ketika Anda tetap harus memilih, Anda akan menghadapi alternatif kondisi berikut:
  • Memilih Y karena Anda menyukainya
  • Memilih Y karena Anda tidak menyukai X
(atau sebaliknya)

Seringkali kita mengambil keputusan memilih sesuatu (misalnya Y) atas dasar karena sudah terlanjur jatuh cinta, kesan pertama yang mengesankan, pesona, prestis, atau kekaguman terhadap hal yang kita pilih. Kita memutuskan sesuatu belum kita hitung atau analisis terlebih dahulu. Bisa saja keputusan itu hanya berdasar atas cerita orang yang kita percaya atau hormati dan kadang hanya berdasar intuisi. Dalam konteks pemilihan figur (seperti pemimpin), adanya kesamaan impian, prinsip, keyakinan, keadaan, dan kisah yang melekat dapat pula menjadi penguat keputusan.

Kemudian, ketika saat itu seseorang bertanya “Mengapa Anda pilih Y?” Maka otak kita akan bekerja keras mencari dalih atau pembenaran untuk memantabkan/ menggenapkan pilihan kita. Otak kita akan melakukan proses asosiasi dari dari serangkaian data/ informasi atau dikenal sebagai discontent construction sehingga pilihan kita akan terkesan logis.

Begitu pula dengan alternatif kedua. Mungkin saja kita “terpaksa” memilih Y karena kita tidak suka atau membenci pilihan X. Rasa tidak suka, sentimen juga terjadi karena kita adalah pemikir yang irasional. Selanjutnya, kita akan mencari dalih dan pembenaran/ penggenapan yang meyakinkan diri kita bahwa pilihan kita adalah benar. Konsekuensinya, kita akan mencintai berita-berita yang menyudutkan pilihan X dan merasa nyaman mendengar berita yang positif tentang pilihan Y, dan sebaliknya.

Sulit memang menjadi pribadi yang obyektif, setidaknya tips berikut dapat membantu kita menjadi pengambil keputusan yang lebih obyektif:
  1. Selalu berefleksi diri dan mengklarifikasi pilihan yang telah diambil, setidaknya untuk meningkatkan obyektifitas.
  2. Sebagai penunjang tips pertama, cari data dan informasi hanya dari sumber yang dipercaya dan bebas kepentingan karena era teknologi memungkinkan setiap orang bisa membuat berita semau gue.
  3. Hindari membuka mengikuti comment atau post negatif yang belum terkonfirmasi kebenarannya karena hal ini akan menyesakkan jiwa kita.


Selamat mengambil keputusan, Semoga bermanfaat!