Sabtu, 14 Juni 2014

Mengapa Seseorang Gagal?

Saat itu, musim kering melanda desa. Sudah beberapa musim tidak turun hujan. 2 orang petani terancam gagal panen lagi tahun ini. Tiga bulan mereka berdoa memohon welas asih Sang Kuasa untuk sudi meneteskan hujan.

Hari berikutnya, mereka bertemu dan salah satu diantara mereka berkata, "Aku sudah capek berdoa, aku juga sudah capek menunggu. Sekarang aku pasrah saja." Petani ini akhirnya menjadi pesimis, menyerah dan berpangku tangan meratapi nasib yang yang memang selalu sial. Petani lainnya, tetap optimis. Ia mengambil langkah baru. Sambil tetap menjalankan ritualnya, ia mulai berjalan tegap menuju ladang, mencangkul tanah dan menyiapkan sebidang besar lahan untuk menanam benih. 

Tiga hari selanjutnya, si optimis mulai menanam benih jagung. Tepat hari kelima, keajaiban terjadi! Hujan lebat datang. Betapa bahagianya hati si optimis. Ia bersujud mengucap syukur pada Sang Pencipta. Dalam batinnya, Tuhan berkata, "terima kasih nak, kau telah menyiapkan wadah agar Aku dapat berkarya lewat hidupmu." Sebaliknya, si pesimis begitu menyesal. Sekali lagi ia harus melewati musim tanpa panen. Ia punya keyakinan yang baik, tapi tidak bersabar dan bertekun. Ia memang berdoa, namun tidak banyak bertindak.

Menjadi sukses bukan semata-mata tentang bermimpi dan berharap. Menjadi sukses perlu tindakan nyata. Sukses yang nyata akan dialami ketika seseorang mampu memperbesar kapasitas diri (wadah) untuk menerima kesuksesan. Makin besar sukses yang diharapkan, makin besar pula wadah yang harus disiapkan. Kapasitas dapat berupa bakat yang dikembangkan, perbaikan sikap dan karakter diri, atau kesiapan mental dan moral yang baik. Jika saat ini Anda telah berupaya memperbesar kapasitas Anda, tetap yakin dan bertekun, karena mungkin besok, minggu depan, atau bulan depan akan tiba masa panen Anda.

Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar