Senin, 23 Juni 2014

Renungan Kepemimpinan: Tragedi "Kiskenda"

"Tragedi terbesar Negeri Kiskenda bukan terjadi akibat ketidakmampuan raja memimpin rakyat, tapi ketidakmampuannya memimpin diri sendiri."
Senja itu, di sebuah hutan, keheningan terpantul dari rupa-rupa makhluk tanpa dosa, gemercik air menyejukkan jiwa yang dahaga atas belaian Sang Kasih, hembusan angin dan gemulai tari dedaunan bagai malaikat Suwargaloka yang sedang bersuka cita. Namun dalam sekejab, suara gaduh bergerak begitu cepat membelah kenikmatan sabat itu. Sekilas, 5 sosok makhluk dari 2 ras yang berbeda beekejar-kejaran, Wanara dan Sura. Mereka, Subali (raja Kiskenda, raja kaum Wanara) dan Sugriwa (adik subali) nampaknya menghadapi serangan sekelompok siluman Sura, separuh kerbau, Maesasura, Lembusura, dan Jatasura. Pertarungan mahasakti berkecamuk mengusik kedamaian flora-fauna. Serangan saling balas menyambarkan kilatan sinar sakti sekejab merusak ruang suci semesta. 

Pertarungan sengit nampak berimbang. Berpikir cepat, spontan Subali memancing para siluman untuk masuk ke dalam sebuah goa untuk bertarung habis-habisan di sana. Subali memiliki kesaktian Pancasona yang membuatnya sulit ditembus senjata dan serangan apapun. Sambil melesat terbang, ia berpesan pada Sugriwa,"Jika nanti keluar darah merah, berarti aku kalah (karena darah siluman itu hijau warnanya). Saat itu, kau segera tutup goa dengan batu besar. Lebih baik kami mati bersama di dalam goa." Beberapa jam terdengar terus besutan senjata dan suara pukulan dengan tenaga dalam hingga akhirnya sampai pada titik sunyi. Tidak ada suara apapun. Sugriwa mulai cemas, jangan-jangan... Perlahan cairan berwarna merah dan putih mengalir keluar merembas diantara bebatuan. Melihat ini, Sugriwa sigap mengambil batu besar dan menutup goa seperti perintah kakanda Subali. Sekali lagi ia mencermati apakah benar itu darah Wanara dan memang benar.

Sugriwa sedih, menangis. Ia pergi menyampaikan kabar duka ke kerajaan Wanara. Sungguh nasib, semua sudah terjadi. Dewi Tara, permaisuri Subali yang cantik rupa dan hati, langsung jatuh tersungkur meratapi kepergian suami yang dicintainya. Tak seorangpun tahu, dari dalam goa, terdengar teriakan Subali, "Sugriwa adikku, kau begitu tega menjebakku. Kurang ajar! Pengkhianat laknat! Serendah itu ternyata ambisimu selama ini." Subali belum seda, hanya luka tusukan tanduk Maesasura yang membuatnya berdarah-darah. Cairan putih yang mengalir adalah cairan dari otak para siluman yang kepalanya dipecahkan oleh Subali. Ia terlajur terperangkap dan Sugriwa terlanjur diangkat menjadi raja pengganti. Dalam hati, Subali terus mengutuki saudaranya, ia pikir Sugriwa sengaja bermain politik kotor, menggingkan tahta dengan cara kotor. Mengumpulkan tenaga dalam beberapa hari, akhirnya Subali berhasil memecah batu raksasa penutup goa dengan satu jari. Ia bangkit menuntut balas dan pertarungan saudara dimulai. 


Betapa kaget Sugriwa melihat Subali kembali dengan penuh luka namun tetap tegar. Pelukan Sugriwa dihempaskan begitu saja oleh Subali yang kalap karena kemarahan. Subali langsung memukul habis Sugriwa sampai hampir mati. Hujaman ribuan pukulan Subali diringi fitnah dan tuduhan murahan yang sangat menyakitkan hati Sugriwa. Untung, Sugriwa masih bisa kabur meloloskan diri bersama beberapa pasukan, termasuk Hanoman. Dalam hatinya, Sugriwa tidak merasa salah. Ia hanya korban arogansi dan gengsi Subali. Ia merasa ditelanjangi dengan fitnahan keji Subali di depan rakyat. Serangan mendadak telak ini memicu amarah dan kebencian Sugriwa kepada saudaranya. Berbulan-bulan ia mencari akal membalas nista Subali hingga ia dipertemukan dengan Rama dan Laksmana. Pertemuan ini menjadi harapan besar baik bagi Sugriwa yang ingin memberi pelajaran saudaranya, juga bagi Rama yang sedang mencari dukungan untuk melakukan serangan ke Alengka demi menyelamatkan istrinya, Sinta. Mereka beraliansi dan singkat cerita Subali berhasil dikalahkan dan tewas ditangan Rama. 

Apa yang dapat kita pelajari dari Epos menakjubkan ini? Saya mencatat 3 moral penting yang saya pandang dari perspektif kepemimpinan dan penyelesaian masalah (leadership & problem solving skill), baik itu kepemimpinan bisnis, maupun bentuk organisasi lain. Semoga 3 pesan moral berikut bisa kita jadikan bahan renungan untuk berpikir lebih dewasa tentang kepemimpinan, khususnya kepemimpinan diri.

1. Tidak ada yang salah, yang ada hanya saling merasa paling benar
Antara Subali dan Sugriwa, keduanya pada dasarnya tidak bersalah. Yang terjadi hanya misunderstanding dan miscommunication. Subali merasa dikhianati, Sugriwa merasa dizolimi di depan publik. Akhirnya keduanya saling menyalahkan, mencari dalih untuk saling menjatuhkan. Berbicara kebenaran dalam tataran logika manusia sangat relatif hasilnya. Dengan otaknya yang hebat, setiap orang mampu membangun pembenaran untuk mencapai tujuannya. Kericuhan kedua Wanara kuat ini akhirnya memecah Kiskenda menjadi 2 kubu yang dipimpin oleh Subali dan Sugriwa dan perang dimulai. Pastinya, dalam perang apapun, rakyat hanya menjadi korban. Bagaimana dengan fenomena di sekitar Anda? 

2. Siapa musuh kita sesungguhnya
Mari kita selami semiotik kisah ini lebih dalam. Sebenarnya, ada segerombol sosok yang menjadi aktor perpecahan dan Subali dan Sugriwa. Bukan para siluman yang menjadi musuh mereka, bukan pula kemiskinan, keadaan buruk, kursi raja, atau permaisuri cantik. Mereka adalah hawa nafsu, ambisi, arogansi, amarah, kecurigaan, dan kebencian. Sosok inilah yang tengah asyik bermain memainkan kehidupan manusia. Mereka mampu memainkan saudara sebagai tokoh antagonis. Segala aspek keidupan selalu terdiri dari 2 kutub, hitam dan putih. Jika kita mengabdi pada kebencian, maka kita kehilangan kasih. Jika kita mengabdi pada kasih, kita akan terjauhkan dari kebencian. Seperti konon pernah dikatakan Hanoman, "Lebih baik kera berhati manusia, daripada manusia berhati kera." Bagaimana dengan fenomena di sekitar Anda?

3. Tidak ada win-win solution tanpa kerendahan dan kebesaran hati
Adakah win-win solution itu? Solusi utopia ini tidak akan pernah terjadi tanpa adanya kerendahan dan kebesaran hati. Kebesaran hati mengakui orang lain lebih baik, lebih sukses dan kerendahan hati menghargai perbedaan pendapat. Tidak ada kemerdekaan hati yang dibangun dari arogansi. Tanpa sikap hati yang baik, yang terjadi hanyalah perasaan menjadi korban dan perasaan diperlakukan tidak adil, pemberontakan, permusuhan yang menghalalkan segala cara, termasuk cara yang tidak hahal. Departemen Pengadilan Ilahi tetap buka walaupun hukum manusia tidak pernah adil. Setiap orang dianugerasi kesempatan untuk menang/ sukses, namun tidak semua orang mau memperbesar kapasitas diri untuk sukses dan berlari menjemput sukses. Mereka memilih sibuk mencari kesalahan pada orang lain dan Tuhan seperti yang dilakukan Subali. Ini adalah masalah kepemimpinan diri. Bagaimana dengan fenomena di sekitar Anda?


Semoga bermanfaat!

Kamis, 19 Juni 2014

Belajar dari Negeri Tokusatsu: Local Identity, Golden Ticket Masuk Arena Bisnis

Suka atau tidak, saat ini kita masih dijajah Jepang! "Penjajahan" kali ini bukan serangan fisik atau perebutan area dan penguasaan resource. Penjajahan kali adalah penjajahan moral dengan medan pertempuran yang melibatkan hati dan pikiran anak (muda). Bayangkan saja saat ini sebagian besar generasi muda kita lebih mencintai dan mengenal cerita dan tokoh kejeJepangan daripada cerita lokal sendiri. Mereka lebih bangga menggunakan atribut sono daripada atribut sendiri. Anda ingat? Sejak 80an kita mengenal film kartun (anime) Voltus V, Go Shogun, Ultraman, Doraemon, Kamen Rider, dan sebagainya. Saat itulah, "penjajahan" kedua mulai dilakukan.

Tak bisa dipungkiri, anime, manga (komik) yang berisi karakter-karakter made in Japan menarik untuk disimak. Ada Dragon Ball, Naruto, Bleach, One Piece, Gundam, hingga sederet nama jagoan berkostum (Tokusatsu) yang lekat dengan hati anak muda. Tanpa sadar, kita  mulai mengenal istilah dorayaki, ramen, samurai, shogun, ninja, bahkan mulai mampu berbahasa Jepang karena kebiasaan menonton anime. Jepang adalah salah satu negara yang sukses membawa produk industri kreatifnya goes international sejak tahun 50an. Industri tersebut telah menjadi penopang ekonomi Jepang secara luar biasa. Bagaimana mereka melakukannya?

Mempelajari karakteristik beberapa Intellectual Property (IP) menghantarkan saya pada satu kesimpulan, terdapat kesamaan pola pengembangan produk antar IP. Mereka percaya diri menjual muatan lokal (local content). Coba perhatikan beberapa gambar berikut:

IP Kamen Rider Gaim

 IP Gundam & Kostum Samurai Shogun

IP One Piece & Bleach

Pola apa yang dapat Anda simpulkan? Selalu ada unsur budaya Jepang disana!

Mereka begitu yakin bahwa unsur budaya inilah yang membuat mereka eksis dan berasa unik. Mereka mampu mengkombinasikan budaya tradisional dengan budaya pop secara tepat melalui disain alur cerita yang baik dan benar. Saya mencoba mendekonstruksi 3 poin kunci dari aturan pengembangan IP Jepang yang dapat kita pertimbangkan:

1. Jadilah diri sendiri
Local content adalah keunikan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Tidak perlu menjadi Amerika, Eropa, Jepang, atau Korea untuk dapat bersaing. Kita pasti kalah jika menjadi seperti mereka karena mereka jauh lebih ahli. Jadilah diri Anda sendiri. Apapun produk Anda, apapun brand yang sedang Anda kembangkan (entah itu personal brand), menemukan keunikan diri/ muatan lokal adalah hukum pertama keunggulan besaing. Keunikan potensial menjadi kekuatan. Hanya dengan jatidiri yang jelas, daya saing akan muncul dengan sendirinya. 

2. Bagaimana membuat jadi menarik
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana membuat keunikan tersebut menjadi menarik dan layak dinikmati pasar masa kini. Jepang melakukannya melalui strategi sintesis dan sinerji. Mereka selalu meramu dan mengkombinasikan secara apik antara budaya tradisional dan pop. Local content sebagai simbol keunggulan bersaing dan jatidiri, sedangkan budaya pop dan teknologi sebagai "media" untuk memasuki kekinian pasar. Seringkali kita perlu sedikit memutar jalan sebelum sampai ke tujuan. Industri kreatif Jepang tidak menjual budaya tradisional secara vulgar. Mereka tidak terang-terangan menampilkan opera klasik untuk konsumsi pasa sekarang. Mereka menggunakan strategi softselling. Mereka sedikit men-twist budaya lokal menjadi seolah-olah budaya pop modern. 

3. Jual pada pasar yang tepat dengan cara yang tepat
Hal terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana cara jual yang tepat? Tentunya kita wajib memahami persona segmen kita. Saya menulis dalam artikel lain tentang Ultraman (baca selengkapnya) . Saya menceritakan analisis saya atas alasan Tsuburaya tetap mempertahankan teknik live action yang antik dan cerita sederhana yang diulang-ulang. Semua ini dipertahankan karena segmentasi. Audien Ultraman adalah anak-anak yang sederhana dan menyukai pengulangan. Selain mengenal persona, poin penting dari menjual adalah gunakan channel dan media yang tepat. Sebagian besar bisnis IP Jepang menggunakan strategi transmedia storytelling. Strategi yang akhirnya juga "diadopsi" perusahaan hebat seperti Apple dan Walt Disney.

Sukses industri konten kreatif Jepang telah mengajarkan kita semua pentingnya local identity, satu keunikan yang menjadi golden ticket memasuki industri, arena bisnis kelas nasional maupun internasional. Konsep ini tidak hanya efektif untuk bisnis IP. Semua jenis bisnis perlu membangun diferensiasi. Menariknya, Tuhan telah menciptakan masing-masing kita dengan keunikan. Keunikan yang jelas bertujuan. Temukan, kemas, dan jual keunikan bisnis Anda dan semoga sukses!

Rabu, 18 Juni 2014

American Dream: Mengakhiri Offshoring, Membangun Autobots

"If you're thinking of outsourcing/ offshoring as the most efficient procurement strategy, you are quite out of date"
Dalam The World is Flat, Thomas Friedman memberikan visi besar tentang outsourcing dan offshoring sebagai dampak dari globalisasi. Menurutnya, pergeseran ini akan merubah tatanan model bisnis dunia. Negara besar seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa tengah melemparkan proses produksi dan pekerjaan jasa mereka ke Asia, terutama China dan India. 

Thesis ini diperkuat kembali dengan hadirnya A Whole New Mind karya Daniel Pink yang juga menegaskan tentang dominasi China dan India terhadap perekonomian dunia karena perannya sebagai tujuan offshoring. Akibatnya, salah satu tugas berat presiden Amerika Serikat adalah menanggulangi masalah pengangguran besar-besaran yang terjadi di sana. Kenyataan ini menjadi paradoks bagi negara-negara besar, khususnya Amerika. Di satu sisi, perusahaan ingin melakukan outsourcing/ offshoring dengan tujuan efisiensi besar-besarnya untuk mencapai kemakmuran yang makin besar pula. Di sisi lain, pengangguran mulai berkembang luas. Lapangan pekerjaan makin tertutup bagi pekerja Amerika.

Tanpa disadari secara penuh, proses transfer pengetahuan, teknologi, dan inovasi juga telah terjadi secara gratis ke China dan India, serta negara produsen lain. Mereka, khususnya China mulai membangun bran-bran sendiri yang siap bersaing berebut pasar dengan bran Amerika. Zhang Xin, ratu properti China dalam sebuah wawancara memprediksi bahwa suatu saat China tidak lagi menjadi negara sasaran offshoring, bangsa China bukan lagi pekerja murahan, namun akan bangkit dan sejajar dengan negara-negara penguasa dunia lainnya. Bahkan, diam-diam saat ini para akademia India tengah sibuk membangun fokus penelitian bagi permodelan bisnis India yang jelas tujuannya, untuk bersejajar dengan negara besar lain, seperti yang dituturkan oleh Ranjit Goswami, Dekan IMT Nagpur. Revolusi bisnis China dan India sangat identik dengan revolusi yang dilakukan Jepang setelah revolusi Meiji. Mereka berawal dengan memposisikan diri sebagai negara penjiplak, pengembang tanpa henti, hingga akhirnya menjadi negara “pencipta”.

Lalu, bagaimana dengan Amerika?

Amerika bukan negara newbie. Mereka tidak diam saja. Rethink Robotics, salah satu perusahaan manufaktur pencipta robot di Boston telah sepakat membangun The Dream of America dengan menarik kembali pekerjaan-pekerjaan yang telah dilemparkan ke negara lain. Mereka siap membangun pasukan autobot untuk mengurangi outsourcing dan offshoring. Baxter, salah satu robot ciptaan RR yang memiliki kepekaan dan kemampuan membaca dan menirukan gerakan fisik manusia siap untuk menjiplak kegiatan operasional rutin yang dilakukan secara otomatis, lebih stabil, cepat, dan efisien. Memang secara perhitungan, hal ini belum cukup mengembalikan lapangan kerja Amerika yang teralihkan. Namun setidaknya, pembangunan infrastruktur robot diharapkan akan mengembalikan peredaran kapital (termasuk resep intellectual capital) yang telah lama berpindah tangan. Selamat datang di pergeseran era baru, Autosourcing, sebuah era yang sedang benar-benar serius berambisi menggantikan pekerjaan manusia.


Semoga bermanfaat!

Sabtu, 14 Juni 2014

Mengapa Seseorang Gagal?

Saat itu, musim kering melanda desa. Sudah beberapa musim tidak turun hujan. 2 orang petani terancam gagal panen lagi tahun ini. Tiga bulan mereka berdoa memohon welas asih Sang Kuasa untuk sudi meneteskan hujan.

Hari berikutnya, mereka bertemu dan salah satu diantara mereka berkata, "Aku sudah capek berdoa, aku juga sudah capek menunggu. Sekarang aku pasrah saja." Petani ini akhirnya menjadi pesimis, menyerah dan berpangku tangan meratapi nasib yang yang memang selalu sial. Petani lainnya, tetap optimis. Ia mengambil langkah baru. Sambil tetap menjalankan ritualnya, ia mulai berjalan tegap menuju ladang, mencangkul tanah dan menyiapkan sebidang besar lahan untuk menanam benih. 

Tiga hari selanjutnya, si optimis mulai menanam benih jagung. Tepat hari kelima, keajaiban terjadi! Hujan lebat datang. Betapa bahagianya hati si optimis. Ia bersujud mengucap syukur pada Sang Pencipta. Dalam batinnya, Tuhan berkata, "terima kasih nak, kau telah menyiapkan wadah agar Aku dapat berkarya lewat hidupmu." Sebaliknya, si pesimis begitu menyesal. Sekali lagi ia harus melewati musim tanpa panen. Ia punya keyakinan yang baik, tapi tidak bersabar dan bertekun. Ia memang berdoa, namun tidak banyak bertindak.

Menjadi sukses bukan semata-mata tentang bermimpi dan berharap. Menjadi sukses perlu tindakan nyata. Sukses yang nyata akan dialami ketika seseorang mampu memperbesar kapasitas diri (wadah) untuk menerima kesuksesan. Makin besar sukses yang diharapkan, makin besar pula wadah yang harus disiapkan. Kapasitas dapat berupa bakat yang dikembangkan, perbaikan sikap dan karakter diri, atau kesiapan mental dan moral yang baik. Jika saat ini Anda telah berupaya memperbesar kapasitas Anda, tetap yakin dan bertekun, karena mungkin besok, minggu depan, atau bulan depan akan tiba masa panen Anda.

Semoga bermanfaat!

Minggu, 08 Juni 2014

Mengapa Cuma Iklan Bisa Membuat Kita Menangis?

Anda pernah melihat iklan Silent of Love dari Thai Life Insurance? (lihat disini)
Umunya, seseorang akan tersentuh, terharu, bahkan menangis saat melihat iklan tersebut. Konsepnya sederhana, seolah tidak ada yang spesial, dan hanya mengangkat kejadian sekitar kita. Menariknya, lebih banyak orang tergerak dan terpengaruh iklan-iklan demikian. Mengapa?

Apa rahasianya?
Iklan tersebut membawa kita melihat kondisi penuh keprihatinan dan konflik antara ayah yang bisu dengan anak gadisnya yang memasuki masa puber. Si gadis mulai merasa malu dengan keadaan ayahnya yang bisu dan hanya berprofesi sebagai pedagang makanan kaki lima. Bullying dari teman sebayanya menambah beban dan membawanya pada pergaulan bebas. Hingga suatu saat, tepat di hari ulang tahunnya, anak itu mengalami kecelakan dan membutuhkan transfusi darah. (Sempat ditampilkan adegan sang ayah sedang menyiapkan kue ulang tahun, meskipun ia tahu bahwa anak gadisnya membenci dirinya). Dalam kondisi mendesak dan kritis, satu-satunya cara menyelamatkan anaknya adalah dengan mengorbankan sebagian besar darah alias nyawanya untuk sang anak.

Misteri apa yang terjadi di sela-sela frame video ini?
Sejak ditampilkannya adegan anak gadis yang membenci ayahnya, pikiran dan emosi kita telah di-frame untuk melihat sosok anak yang menyebalkan dan tidak tahu bersyukur. Dan dengan tiba-tiba, kita dibawa pada adegan ayah yang sangat mengasihi dan mengorbankan nyawa untuk anaknya. Emosi kita dibuat bergejolak menghadapi dua kondisi ekstrim tersebut seperti menabrakkan sisi kebencian dan kasih. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Kita diajak untuk melihat adegan menyedihkan (sang ayah berlari berjuang membawa si anak dalam kondisi koma menuju rumah sakit) disambung dengan keadaan bahagia (yang digambarkan dengan kenangan-kenangan manis ayah dan anak di masa lalu) secara bergantian seperti menabrakkan kesedihan dan kebahagiaan. Sekali lagi emosi kita dipaksa untuk bergejolak. Apalagi dengan dentingan background music yang sangat melankolik. Luapan-luapan dan tabrakan-tabrakan emosi demikianlah yang akhirnya membuat kita terharu dan meneteskan air mata.

Akhirnya, Pesan Moral yang Kuat!
Konsep iklan ini sangat matang dan mampu bekerja melalui alam bawah sadar, menyentuh emosi, dan akhirnya mempengaruhi logika kita. Pemilihan obyek ayah dan anak mengandung pesan khusus bahwa normalnya, orang tua yang baik akan lebih melakukan apa saja untuk anaknya dibanding untuk orang tua atau pasangannya. Dan pada bagian akhir disampaikan sebuah pesan moral yang luar biasa:
“There are no perfect fathers, but a father will always love perfectly.”
Dari sini, kita juga mendapatkan gambaran segmentasi tajam iklan tersebut, pria menuju usia tengah baya, kepala rumah tangga, atau ayah yang mencintai keluarga (anak). Iklan ini bekerja secara emosional memalui alur cerita sederhana. Inilah kunci membangun sebuah hubungan atau ikatan antara brand atau produk dengan penonton atau calon klien, melalui cerita yang emosional.

Semoga bermanfaat!
(dicuplik dari buku: LastingLean)

Selasa, 03 Juni 2014

12 Tips Menjadi Lebih Produktif

Pada dasarnya setiap orang (merasa) sibuk dan apa yang disibukkannya dirasa penting. Akibatnya, banyak diantara mereka kekurangan waktu, sementara masih banyak mimpi yang belum kesampaian dan usia yang terus bertambah (tanpa kompromi). Di sisi lain, dengan "jatah" waktu yang sama, orang-orang lainnya terlihat sangat produktif dan berprestasi. Apa rahasianya?

Sebenarnya tidak ada rahasianya, kuncinya adalah pengendalian diri. Mungkin, 12 tips ini bisa membantu kita bekerja lebih produktif dan merapikan manajemen enerji dengan lebih baik:


1. Imajinasi diri di masa depan
Sebelum bicara visi hidup, coba imajinasikan 5, 10, atau 20 tahun lagi, ketika kawan-kawan SMP/ SMA Anda mengajak reuni. Bagaimana perasaan hati Anda? Sangat antusias? Tentu saja, jika Anda sudah menjadi pribadi hebat, pasti ingin datang dan meceritakan kisah perjalanan sukses Anda. Ini adalah pertanyaan reflektif biasa yang dalam jika dimaknai dengan sungguh. Mengimajinasikan diri di masa depan akan membantu kita untuk menentukan arah dan tujuan hidup. Gambaran diri seperti apa yang kita inginkan di masa depan.

2. Buat visi jelas dan pasang di dekat Anda
Selain membuat visi yang jelas, perlu bagi kita untuk sering membaca catatan visi hidup yang telah kita buat. Anda dapat memasangnya di ruang kerja atau wallpaper handphone/ komputer. Percayalah dengan sering membaca dan meyakininya (selama niat itu baik), Anda akan mendapatkan yang terbaik, inilah the law of attraction.

3. Pasang foto motivator Anda
Pada akhirnya, setiap perjuangan memiliki motif untuk membahagiakan diri atau membahagiakan orang lain. Jika Anda seorang pria yang bekerja keras untuk keluarga tercinta, pasang foto-foto keluarga Anda ditempat yang sering dilihat, seperti meja kerja atau dompet. Melihat wajah-wajah orang yang Anda kasihi dan ingin Anda bahagiakan mampu meningkatkan gairah kerja yang luar biasa. Jika Anda menginginkan sebuah sepeda motor dari hasil kerja Anda sendiri, pasang gambar motor idaman Anda.

4. Tentukan skala prioritas
Kita selalu dihadapkan dengan pilihan sulit, baik dalam pekerjaan maupun urusan rumah tangga. Setiap hari dihadapkan dengan segudang masalah dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Setiap pilihan akan mengorbankan pilihan lain. Cara termudah untuk mengatur enerji dan waktu adalah dengan membuat tabel matriks penting-mendesak dan isilah tiap sel dengan daftar tugas yang harus Anda selesaikan.

Penting-Mendesak

Tidak Penting-Mendesak
Penting-Tidak Mendesak

Tidak Penting-Tidak Mendesak

Dengan demikian, lebih mudah bagi Anda untuk mengambil langkah selanjutnya.

5. Bawa buku catatan dan alat tulis
Untuk memudahkan manajemen diri dan memori, selalu bawa alat mencatat (tablet PC, notes pada HP, atau kertas dan alat tulis). Biasakan mencatat apa yang penting, mengingat memori makin lama makin lemot. Jika perlu, pada saat Anda mengendarai kendaraan dan mendapat ilham, menepi dan berhentilah untuk sekadar mencatat ilham tersebut. Catatlah hal-hal yang berkaitan atau setidaknya dapat Anda kaitkan pada pencapaian visi. Tidak hanya itu, biasa mencatat dan berpikir akan meningkatkan ketahanan otak dan meningkatkan kemampuan sintesis dengan cepat.

6. Manajemen diri
Salah satu penyebab tidak tertatanya kehidupan seseorang adalah kurangnya penghargaan atas waktu. Mengelola waktu adalah tentang mengelola diri karena pada dasarnya waktu itu tetap dan tidak dapat kita dikelola. Atur dengan disiplin penggunaan waktu Anda. Berapa jam dalam sehari harus bekerja efektif, berapa jam bersama keluarga, berapa jam hangout di facebook dan sebagainya. Jika tidak, kita akan membuang waktu hanya untuk asyik bergosip di kantor. Tanpa disiplin dan manajemen diri yang ketat, dipastikan kita akan sering merasa kehabisan waktu. Dan, beranilah berkata tidak pada diri sendiri.

7. Living Lean
Lean adalah filosofi perampingan, mempertahankan hal-hal yang bernilai tambah sambil menghilangkan hal-hal yang tidak berguna, semacam diet sehat. Selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan dengan segera, bukan tergesa-gesa. Gunakan enerji secukupnya. Jika Anda seorang ibu yang peduli, berilah nasehat secukupnya dan logis pada anak-anak. Jika Anda sedang bersusah, segeralah bangkit, tidak perlu membuang enerji untuk stress berkepanjangan karena enerji yang Anda keluarkan untuk bersedih jauh lebih besar daripada untuk tersenyum. Jika tidak, Anda sedang kehabisan enerji untuk bangun dan mencari solusi.

8. Pikiran positif
Berpikir positif adalah bentuk lain dari living lean. Berpikiran negatif selalu akan memicu kecurigaan hingga kebencian dan ini membutuhkan enerji yang besar. Setiap orang yang berkonflik selalu memiliki pembenarannya masing-masing yang sangat relatif. Jika saya bilang warna biru itu bagus, mungkin Anda tidak. Kuncinya, bukan menyalahkan orang yang tidak menyukai biru, namun berusaha memahami mengapa orang lain suka merah. Hal menarik apa dari warna merah.

9. Luangkan waktu bersenang-senang setiap hari
Jam kerja 9 to 5 seringkali membuat orang menjadi tidak produktif. Seharian bekerja di kantor dengan setumpuk tugas dan ratusan file yang harus diproses. Waktu istirahat cuma satu jam dan itupun habis untuk makan siang. Setiap hari, selama berpuluh-puluh tahun. Google memberikan karyawannya 20% jam kerja untuk bersenang-senang dan sebagian besar inovasi Google muncul di waktu tersebut. Istirahat dan bersenang-senang adalah cara terbaik untuk menyegarkan pikiran dan mencari ide kreatif.

10. Hindari eskalasi komitmen negatif
Salah satu kegagalan jangka panjang terbesar diakibatkan sikap eskalasi komitmen yang negatif. Satu sikap yang diambil untuk tetap meneruskan operasi/ kegiatan yang memang sudah jelas tidak berprospek. Biasanya sikap demikian dipicu oleh ketakutan kehilangan harga diri atau idealisme yang besar. Milestone atau target boleh berubah. Bahkan jika diperlukan, visi juga harus direvisi. Untuk siapa Anda berjuang, siapa motivator Anda, cukup bahagiakan mereka. Mungkin keluarga kecil Anda, orang tua, atau orang-orang di sekitar Anda.

11. Berliburlah
Apa yang terjadi jika kepala kita terasa penuh, penat, dan jenuh? Berhenti bekerja dan berliburlah. Berlibur dalam arti bebas dari pekerjaan apapun, bukan berlibur sambil diganggu telepon dari bos. Luangkan waktu bersenang-senang dengan orang yang Anda kasihi, seminggu, atau sebulan penuh. Sesekali ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Hal ini sering disebut sebagai tindakan sabatikal. Hal ini akan menyegarkan pikiran, ibarat baterai sekarat yang di-charge kembali.

12. Refleksi akhir pekan
Tips terakhir yang dapat kita upayakan untuk meningkatkan produktivitas adalah melakukan refleksi diri. Jika sempat, setiap malam adalah waktu yang baik untuk merenungkan kembali, hal-hal apa yang telah kita capai hari ini. Hal baik/ tidak baik apa saja yang telah kita perbuat. Lalu apa solusinya untuk esok? Refleksi akan mendewasakan diri dan meningkatkan kebijaksanaan diri, karena umumnya lebih sulit menilai diri daripada menghakimi orang lain. Jika Anda sudah berkeluarga, lakukan refleksi bersama pasangan Anda, atau dengan anak-anak (selama konteksnya sesuai). Pendapat orang lain akan sangat membantu.

Semoga bermanfaat!