Rabu, 28 Mei 2014

5 Prinsip Dasar Kepemimpinan Sun Tzu yang Harus Kita Ketahui

Suatu ketika, Sun Tzu (seorang ahli strategi militer) ingin mengabdikan diri pada Raja Helu di Negeri Wu. Sun Tzu berbekal catatan teori perang yang ia tulis dalam bilah-bilah bambu. Karena penasaran, Helu ingin menguji tesis yang ia tulis dalam 13 bab tersebut. Pagi-pagi sekali, Helu menantang Sun Tzu untuk melatih selir-selirnya beberapa gerakan dasar baris-berbaris. Targetnya jelas, sebelum siang tengah hari, seluruh selir harus mampu baris-berbaris. Sementara, perdana menteri memanggil selir-selir raja. Luar biasa, bukan 3 atau 9 saja. Helu memiliki 180 selir! "Antjrit!!!", gerutu Sun Tzu. Segera Sun Tzu menawarkan aturan main, "Selama latihan, prajurit adalah tanggungjawab jenderal dan tak satupun pimpinan lain boleh turut campur!" Helu pun menyanggupi syarat kecil ini.

Sun Tzu mulai membagi mereka dalam 2 kelompok. Sayap kiri dan kanan. Kemudian, Sun Tzu memilih masing-masing 1 selir favorit Helu dari tiap kelompok untuk jadi komandan lapangan (mungkin seperti Raisa dan Melody :) Ia panggil keduanya untuk mendapat instruksi. Sederhananya, jika mendengar genderang ditabuh sekali, maka hadaplah ke kiri. Jika ditabuh dua kali, hadaplah ke kanan. Jika ditabuh terus-menerus, berputarlah seiring jarum jam. "Anda mengerti?!" tanya Sun Tzu. Dengan senyum genitnya, mereka menjawab, "Mengerti tuan". Sun Tzu melanjutkan, "Jika gagal, kepala kalian taruhannya!" Mereka kembali ke depan barisan dan mulai untuk memimpin kelompokknya.

Sun Tzu mulai menabuh genderang pertama dan... tidak berhasil. Selir-selir hanya tertawa dan bersenda gurau melihat kelucuan satu sama lain. Yah, maklum saja, keahlian mereka "melayani" raja, bukan baris-berbaris. Helu terlihat bahagia melihat parodi ini sambil menyindir, "Sudah, hentikan saja permainan ini". Sekali lagi Sun Tzu memanggil kedua selir sambil berkata pada raja, "Jika pasukan tidak tertib, mungkin perintah saya sebagai jenderal tidak jelas. Saya akan ulangi prosedur ini" Sekali lagi Sun Tzu memberi instruksi yang sama pada kedua selir. Ia sekali lagi menegaskan dengan nada keras, "Jika kalian main-main, kepala kalian akan dipenggal! Mengerti!?" "Mengerti tuan", jawab kedua selir sambil kembali menempati posisi.

Kedua kalinya, Sun Tzu menabuh genderang pertama dan... masih saja tidak berhasil! Tawa dan canda selir makin menjadi-jadi. Raja dan beberapa menteri makin terhibur bak menonton opera van java versi live. Di tegah kericuhan tawa, Sun Tzu berteriak sambil mengeluarkan perintah "PENGAWAL... PANCUNG KEPALA MEREKA (baca: kedua selir)!!!" Sejenak, suasana jadi mencekam, seolah dewa pencabut nyawa sedang dibangunkan. Semua terdiam. Helu berdiri dan angkat bicara, "Hentikan latihan ini! Bukannya ini hanya main-main saja!? Mereka bukan prajurit perang." Sambil menebaskan jubahnya, Sun Tzu memandang tajam raja sambil berkata, "Pelatihan pasukan tidak boleh main-main. Perang menyangkut nasib dan nyawa rakyat! Prosedur latihan harus dilaksanakan menyeluruh jika ingin melihat efektivitas teori perang, termasuk pemberian sanksi. Kedua, seperti kesepakatan awal kita, bahwa dalam urusan lapangan, raja sekalipun tidak boleh turut campur! Tunjukkan integritas raja!" Tak berkutik, Helu kembali duduk lemas melihat proses pemancungan kedua selir kesayangannya.

Sesi ketiga dimulai. Sun Tzu memilih acak 2 orang selir lain untuk menjadi komandan pengganti. Ia memberikan instruksi yang sama dan ancaman sanksi/ konsekuensi yang sama. Genderang pertama ditabuh, kedua, dan berikutnya. Luar biasa, seluruh selir bergerak mengikuti instruksi dengan tertib. Tak satupun berani melawan. Dalam hati, Helu sangat tertegun dan takjub dengan kehebatan Sun Tzu. Sejak itu, Sun Tzu diangkat sebagai jenderal besar Negeri Wu dan konon tidak pernah kalah dalam perang dan pertempuran. Teori dan catatan perang itu dikenal dengan Seni Perang Sun Tzu (atau Sun Zi).

Saya mencatat 5 prinsip dasar kepemimpinan yang hebat dari kejadian ini:

1. Integritas
Integritas adalah kesesuaian prinsip, ucapan, dengan tindakan. Sun Tzu mengingatkan peran integritas pada Helu dengan tegas. Tanpa integritas, latihan tersebut tidak akan berhasil. Demikian pula Sun Tzu memegang integritasnya dengan tegas menajalankan hukuman pada selir kesayangan raja. Bahkan ia tidak takut dengan He Lu, ia tetap menjalankan hukum militer. Integritas tidak pernah bisa dibeli oleh uang dan jabatan. Seorang pemimpin tanpa integritas tidak akan pernah menjadi pemimpin yang baik karena ia hanya menjadi si oportunis. Hilangnya integritas dalam organisasi adalah gejala runtuhnya moral di sana. 

2. Tujuan harus spesifik
Sun Tzu memiliki tujuan yang jelas, sebelum tengah hari, seluruh selir harus mampu melakukan gerakan dasar baris-berbaris. Tujuan akan menggerakkan orang. Tanpa target, tujuan, dan roadmap yang jelas, sebuah organisasi akan menjadi kacau karena setiap orang di dalamnya akan menciptakan tujuannya masing-masing, yang seringkali adalah tujuan pribadi. Selain itu, kemampuan menyatukan visi dan tujuan juga menjadi syarat mutlak seorang pemimpin, dan ini membutuhkan kemampuan komunikasi dan persuasi yang baik.

3. Aturan main yang jelas
Prosedur yang diberikan Sun Tzu sangat jelas, bahkan ia beberapa kali mengulanginya. Begitu pula aturan main dengan pihak raja, bahwa dalam perang, titah raja harus tunduk pada hukum militer. Selain tujuan, aturan main atau prosedur kerja yang tidak jelas akan meningkatkan pemborosan atau mengurangi produktivitas. Job des, SOP, dan sistem kendali perlu dirancang dengan jelas. Jika tidak, setiap saat pemimpin akan terpaksa sibuk mengurusi urusan teknis, administratif dan tidak punya cukup waktu berpikir strategis. 

4. Pemberdayaan orang kunci
Pertanyaan penting dari kejadian tersebut adalah, mengapa Sun Tzu memilih selir favorit raja? Ini adalah bentuk menajemen tipping point. Sebuah seni memilih orang kunci yang dianggap memiliki pengaruh di dalam kelompoknya. Coba bayangkan perasaan selir lain ketika mengetahui selir kesayangan saja dibiarkan mati terpenggal, tentu lebih mudah lagi menghukum selir yang bukan favorit. Seringkali pemimpin bukan datang dari jabatan formal. Kemampuan pemimpin formal untuk mengambil hati dan mengendalikan pemimpin informal (tipping point person), akan memudahkan proses pengendalian. Inilah seni bagaimana mengendalikan sekelompok karyawan bermasalah di dalam organisasi.


Semoga bermanfaat!

Sabtu, 24 Mei 2014

Cara Terbaik Sukses dan Menjadi Kaya

"Banyak orang bermimpi untuk sukses dan mengidentikkannya dengan menjadi kaya. Mereka bekerja keras, mencari dan mengumpulkan uang. Tapi sepertinya uang itu tidak pernah terkumpul hingga berpuluh-puluh tahun."
Suatu sore seorang anak bernama Jono berjalan ke sebuah taman bunga di dekat rumah. Ia berlari kesana kemari hendak menangkap kupu-kupu. Satu, dua, dan tiga kupu-kupu berhasil ia tangkap untuk dipelihara di dalam sebuah wadah kaca yang besar. Ia pecinta kupu-kupu. Jono menyimpan wadah itu di dalam kamar tidurnya agar teman-teman sehobi tidak gampang datang dan mencurinya. Begitu pula kehidupan Jono setiap sore hari sepulang sekolah. Mencari, menangkap kupu-kupu dan menyimpannya di dalam rumah. Pada pagi yang tak terduga, dengan ceroboh kaki Jono memancal wadah itu dan..... pyar!!! Wadah besar itu pecah. Segera kupu-kupu Jono yang dikumpulkan dan dipelihara kabur dalam hitungan detik.

Pada sore yang sama, seorang anak yang lain bernama Joni datang ke sebuah tanah kosong di dekat taman itu. Ia membawa peralatan berkebun dan mulai mencangkul sebidang kecil tanah, kemudian mengambil beberapa benih tanaman bunga dari kantongnya dan mulai memberi pupuk dan air. Satu, dua, tiga, dan hingga beberapa minggu, benih itu mulai tumbuh. Setiap hari Joni memelihara tanaman kecil itu dan hingga pada saatnya mulai berbunga. Perlahan, satu, dua, dan tiga kupu-kupu berdatangan ke sana. Joni begitu menikmati kebun kecil dan kupu-kupu itu. Hari berikutnya, Joni mencangkul tanah yang lain dan menanam benih tanaman bunga. Berbulan-bulan kemudian, kebun Joni mulai tampak indah. Tak terhitung jumlah kupu-kupu yang datang dan pergi. Joni memilih fokus untuk terus mengembangkan tamannya daripada mengurusi anak-anak lain yang datang ke sana dan mengambil kupu-kupu seperti Jono. Joni hanya meyakini bahwa selama ia memelihara taman dengan baik, kupu-kupu akan selalu ada di sana.

Kupu-kupu ibarat uang, dan taman ibarat potensi diri kita. Jono adalah tipe orang yang fokus hidupnya mengejar dan mengumpulkan uang. Hingga suatu saat ia kehilangan miliknya dan harus memulai dari awal untuk mengumpulkannya kembali, itupun jika masih ada waktu dan kesempatan. Sebaliknya, Joni adalah tipe anak yang berfokus pada membangun postensi diri. Ia percaya ketika ia memiliki potensi diri yang baik, sukses dan kekayaan akan menghampirinya. Roger Hamilton, penulis dan praktisi social entrepreneur terkenal mengatakan:
"Orang disebut kaya bukan dari seberapa banyak uang yang ia miliki, tapi apa yang ia miliki ketika ia tidak memiliki uang."
Inilah dinamika kehidupan dan kesuksesan yang membuka dua pilihan, hidup untuk mengumpulkan uang atau membangun "penghasil" uang. 


Semoga bermanfaat!

Jumat, 16 Mei 2014

3 Hal yang Dicari Investor dari Startupers

Joni, seorang startuper yang berjuang dalam satu kompetisi bisnis startup bergengsi. Ia memiliki tim hebat dan produk yang menakjubkan. Bahkan, ia pernah menjadi lulusan terbaik fakultas bisnis. Bicara kemampuan membuat business plan sama dengan membalik telapak tangan. Melihat pesaing-pesaingnya yang terlihat biasa-biasa saja, ia begitu yakin akan menang, mendapat dana segar, dan kontrak besar.

Setelah menunggu cukup lama, tiba giliran Joni presentasi. Dengan piawai ia memberikan seluruh pengetahuannya sambil mendemokan produknya. Ia berusaha mempengaruhi juri untuk memahami dan tertarik dengan visinya. Dengan mudah, ia patahkan kritik, sanggahan, dan pertanyaan tersulit juri. Tak seorang juripun berkutik menghadapi kehebatan persuasi Joni. 

Tiba saatnya pengumuman pemenang, juara 1, 2, dan 3. Sungguh diluar dugaannya, Joni tidak berhasil masuk jajaran juara. Karena tidak terima, ia segera menantang protes panitia dan juri untuk menampilkan penilaian secara transparan dan fair. Tak digubris panitia, ia segera mengambil gadget dan memposting kekecewaannya di social media. 

Mungkin Anda pernah menjumpai kondisi serupa. Orang-orang rasional dan pintar seperti Joni seringkali lupa, bahwa ada sisi irasional yang lebih mempengaruhi keputusan seseorang, termasuk juri. Mereka adalah manusia yang sangat emosional dan irasional. Tidak cukup mengandalkan kesombongan akademis dan rasio karena hal ini akan menyakiti secara emosional. Dengan kata lain, berhadapan dengan calon investor/ juri/ calon partner tidak cukup bermodal produk keren atau kemampuan akademis. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan sangat signifikan. Mereka adalah visi, personaliti, dan kemampuan manajerial & inovasi. 

1. Visi
Seperti halnya dalam urusan perang, penyatuan visi antara Jenderal dan pasukan sangatlah penting. Kesamaan visi kita dengan calon investor atau partner akan menjadi titik temu dari awal kerjasama bisnis. Visi seringkali identik dengan impian, hal yang ingin dicapai di masa depan. Mempelajari visi calon investor atau partner dan mempertimbangkannya sebelum menghadap mereka adalah cara yang sangat bijaksana. Bukan sebaliknya, memaksa mereka memahami dan mengikuti visi kita. Pastikan business plan atau produk yang kita tawarkan memang selaras dengan visi mereka.

2. Personaliti
Selain visi yang sama, personaliti juga merupakan faktor penting di dalam menilai calon partner bisnis. Saya sempat berdiskusi dalam dengan salah tokoh dibalik layar salah satu kompetisi startup terbesar, Indigo Venture. Ia menuturkan bahwa seringkali calon investor atau partner lebih menekankan pada faktor personaliti daripada faktor lainnya. Personaliti yang baik akan memberi jaminan keberlanjutan kerja sama di masa mendatang karena bagaimanapun juga manusia atau human capital adalah unsur utama bagi organisasi apapun yang akan mempengaruhi market value.

3. Kemampuan manajerial & inovasi
Faktor skill menajerial dan berinovasi juga menjadi penopang dalam kesuksesan deal sebuah kerjasama. Datang ke calon investor atau partner hanya membawa produk keren tidaklah cukup. Mereka akan mempertanyakan bagaimana Anda mengkonversi produk tersebut menjadi value dan uang. Itulah mengapa sebuah rencana bisnis lebih banyak membahas aspek manajerial daripada proses pembuatan produk, seperti perhitungan proyeksi keuangan dalam Net Present Value, Internal Rate of Return, Payback Period, ROI, dan sebagainya.

(diambil dari: buku LastingLean)

Semoga bermanfaat!