Sabtu, 15 Maret 2014

Mempertanyakan Compatibility Lean Startup untuk Nonstartup Company

Konsep Lean Startup makin menjadi andalan startuper masa kini. Secara inovatif Eric Ries mendapatkan ilham implikasi konsep tersebut dari pengalaman pribadinya memulai bisnis (IMVU), begitu pula dengan contoh-contoh kasus perusahaan startup dan asumsi dasar yang diangkat di dalam buku tersebut. Asumsi dasar startup di sini adalah perusahaan yang baru didirikan, dengan keterbatasan modal, tidak terkenal, keterbatasan tim, dan masa depannya belum nampak jelas. Biasanya mereka bermodal produk inovatif dengan idealisme yang tinggi. 


Lean Startup dan NonStartuper?
Menariknya, tren Lean Startup mulai merambah ke tingkat perusahaan mapan. Mereka yang sedang getol dengan proyek inovasinya mulai berharap pada Lean Startup. Satu pertanyaan yang perlu kita refleksikan, jika Lean Startup dibangun dari asumsi dasar peneiltian dengan obyek perusahaan startup, lalu bagaimana relevansinya dengan perusahaan mapan, apalagi yang sudah memiliki brand terkenal dengan modal yang sangat kuat? Seringkali mereka membangun pembenaran dengan menyamakan istilah startup dengan ide produk atau inovasi produk baru yang sedang dikembangkan (di dalam unit bisnis baru). Mungkin saja Lean Startup menjadi relevan ketika perusahaan tersebut “menendang” beberapa tim karyawan keluar bangunan, tanpa memberinya gaji, dukungan nama, kemudian menuntutnya untuk berinovasi. Lean Startup mungkin bekerja efektif untuk perusahaan startup, namun apakah dapat begitu saja digeneralisasi pada perusahaan besar?


Lean Startup Bukan “Science”
Salah satu kritik terhadap Lean Startup adalah bahwa konsep ini bukanlah science seperti yang disebutkan Ries. Ada benarnya, jika kita memandang science sebagai hasil falsifikasi yang dapat digeneralisasi. Lean Startup bukan bentuk dari hasil riset positivism atau kuantitatif. Lean Startup adalah hasil riset kualitatif yang memang bukan menghasilkan generalisasi, namun lebih tepatnya menghasilkan konsep yang memiliki sifat transferabilitas, atau perlu penyesuasikan lebih lanjut ketika ingin diimplementasikan pada perusahaan yang memiliki perbedaan sifat dasar dengan perusahaan startup. Pemahaman ini sama dengan cara pandang kita terhadap konsep populer seperti Balanced Scorecard atau Blue Ocean Strategy.

Secara filosofi, Lean sangat relevan dengan perusahaan apapun, namun untuk perusahaan nonstartup, mungkin lebih tepat dikembangkan menjadi Lean Corporate atau Lasting Lean untuk memastikan Lean tidak hanya pada tahapan startup, namun juga menjaga longlasting proses inovasi tersebut. Pemahaman ini dapat bermanfaat dengan baik ketika pebisnis tidak terjebak pada (istilah) teknis Ries seperti validasi, get out of the building, penciptaan MVP, iterasi, pivoting, dan sebagainya. Namun lebih menekankan pada pemaknaan terhadap filosofi Lean itu sendiri.


Lean Startup Penyebab System Crashes?
Lalu, bagaimana jika sebuah perusahaan nonstartup memaksakan diri menerapkan Lean Startup? Saya mencoba melakukan analisis strategis dan menemukan 3 risiko besar yang harus ditanggung ketika perusahaan nonstartup memaksakan implementasi Lean Startup.

1. Masalah penyelarasan dengan value chain
Umumnya perusahaan mapan telah memiliki workflow dalam skema value chain activities yang telah berjalan. Demikian pula dengan Lean Startup yang memiliki perspektifnya sendiri. Model bisnis Lean dikembangkan dalam Lean Canvas yang sebenarnya hasil modifikasi Business Model Canvas. Lean Canvas hanya pemetaan dari elemen bisnis dan tidak cukup mencerminkan alur bisnis sebenarnya. Tanpa pemahaman alur bisnis utama dari para inovator, penerapan Lean Startup akan berisiko crash terhadap model bisnis korporat atau minimal akan muncul kerajaan-kerajaan kecil di dalam kerajaan besar.

2. Masalah penyelarasan dengan performance engine
Lean Startup sebenarnya telah mengajarkan pentingnya innovation accounting. Namun dalam implementasinya, pengguna lebih banyak terjebak pada proses validasi dan penciptaan produk ketimbang proses akuntansi. Demikian pula di dalam pelatihan-pelatihan Lean Startup yang lebih banyak diasyikkan dengan aktivitas get out of the building. Inovasi akuntansi Ries memang sangat konseptual dan ia tidak menejelaskan teknis pelaksanaannya. Tanpa memikirkan secara holistik, penerapan Lean Startup yang berkutat pada validasi akan mengaburkan peran sistem pengukuran, sementara itu kita tidak pernah bisa mengelola apa yang tidak bisa kita ukur.


3. Masalah penyelarasan dengan management control systems
Secara dasar, inovasi terbagi atas 2 jenis, inovasi produk dan proses. Kedua jenis tersebut dapat dikategorikan lagi menjadi inovasi repetitif atau inovasi kustom. Bagi perusahaan startup, seringkali founder dan tim kecil bekerja serabutan sebagai inovator segalanya dan seringkali efektif. Berbeda dengan perusahaan besar yang sudah memiliki SOP dan job desc yang rutin dan jelas, beserta sistem insentifnya. Akan menjadi masalah besar jika perusahaan tidak merekayasa kembali sistem pengendalian manajemennya dengan baik karena justru akan memicu kebingungan kerja dari para inovator dan tim-nya.

Sekali lagi, diperlukan kontekstualisasi dan perekayasaaan ulang dari Lean Startup jika ingin diterapkan di dalam manajemen bisnis perusahaan mapan dan besar.


Semoga bermanfaat!


Selasa, 11 Maret 2014

Tips Kolaborasi Hobi dan Bisnis

Kata orang, bisnis yang baik adalah bisnis yang sesuai hobi. Idealnya memang demikian. Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Hobi dan bisnis masing-masing memiliki karakteristik unik yang kadang bertolak belakang. Sebut saja, hobi selalu menghabiskan uang dan bisnis harus menghasilkan uang. Berikut gambaran singkat perbedaan keduanya:
Namun demikian, bukan berarti tidak mungkin untuk menyatukan hobi dan bisnis. Perlu untuk mengikis idealisme dan hasrat yang berlebihan, kemudian menyeimbangkannya dengan logika dan perhitungan bisnis secara matang. Dari tabel perbedaan di atas, kita bisa mencoba untuk memadukannya menjadi tips berikut:

1. Lakukan apa yang benar-benar kita cintai, dan bertekunlah.
2. Investasikan resource seminimal mungkin, ciptakan aliran revenue sebanyak mungkin.
3. Gunakan manajemen waktu yang teratur dan isilah dengan optimal.
4. Lihat dan belajarlah dari orang sukses, validasikan dan jual produk pada calon pasar.
5. Bangun/ ikuti komunitas dan selalu eksis dan menjadi manfaat.
6. Senangkanlah konsumen, dan kesenangan itu akan datang pada kita.

Selamat mencoba, dan semoga bermanfaat!

Senin, 10 Maret 2014

The Fall of Goliath: Lean Lesson from David

"Di dalam kelemahan, Daud mampu menemukan Kekuatan. Di dalam keterbatasannya, ia menemukan Ketidakterbatasan."
Kisah klasik Daud melawan Goliat memberi inspirasi terbaik bagi saya tentang definisi dan manfaat prinsip Lean. Sementara itu, persepsi umum mengatakan bahwa Daud menang karena disertai Tuhan, titik. Ya, itu ada benarnya. Namun setiap kesuksesan bukankah memerlukan keseimbangan antara iman dan perbuatan?

Kisah ini tidak sekadar mengajarkan tentang mengandalkan Tuhan. Kisah ini mengandung hikmat yang luar biasa tentang pemikiran, sikap, dan tindakan di dalam kesederhanaan dan keterbatasan yang justru membawa pada kesuksesan. Daud dengan sangat mudah merobohkan Goliat yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih besar hanya dengan senjata sederhana. Apa rahasianya?

Saya mencatat 3 hal besar yang menjadi penyebab kemenangan Daud atau kekalahan Goliat yang menjadi inspirasi bagi pemikiran manajemen strategis:

1. Fokus
Gladwell memaparkan bukti historis bahwa Goliat mengalami kelainan gen Akromegali, satu kelainan yang membuat sel terus berkembang dan tubuh terus tumbuh menjadi sangat besar. Akibatnya, mata menjadi rabun. Di medan tempur, dikisahkan Goliat membawa seorang ajudan penunjuk arah. Selain itu, Goliat sempat beseru kepada Daud, "Kau pikir aku anjing sehingga kau membawa tongkat-tongkat?" Padahal Daud hanya membawa satu tongkat pada saat itu. Ya, inilah efek dari kelainan itu.

Ketidakfokusan Goliat menjadi peluang baik bagi Daud untuk mengalahkannya dengan mudah. Di samping itu, Daud telah terbiasa bekerja menggembalakan kambing domba ayahnya dari serangan beruang dan singa dengan mengandalkan lemparan batu (karena memang Daud tidak pernah punya kesempatan untuk menjadi prajurit seperti kakak-kakaknya). "Pelatihan" ini justru menjadikan Daud memiliki fokus yang sangat tajam pada setiap obyek serangannya. Bayangkan saja, betapa mudahnya ia melempar batu pada dahi Goliat setelah ia terbiasa melempar batu untuk mengusir singa.

Dalam implikasi bisnis, tantangan untuk tetap fokus pada strategi bukanlah hal yang mudah. Seringkali godaan konflik kepentingan dan politis merabunkan performa perusahaan secara keseluruhan. Hal ini mudah terjadi peda perusahaan besar yang tidak memiliki sistem kendali yang memadai. Di sana muncul kelompok-kelompok yang saling bertentangan dan bermusuhan. Namun satu yang pasti, ketika kita kehilangan fokus, maka saat ituah kita memberi peluang lawan untuk menang. Dengan menjaga efisiensi, pemberdayaan optimal, dan pengendalian yang tepat pada aspek SDM, maka pencapaian dan penyelarasan fokus bersama akan lebih mudah dicapai.


2. Strategi
Pada saat itu, Goliat datang ke medan tempur dengan baju besi yang sangat berat. Ia juga membawa tameng dan pedang besar untuk melindungi diri sekaligus menyerang lawan. Dikisahkan tidak ada prajurit raja Saul yang berani menghadapinya hingga tiba-tiba, bocah bernama Daud datang kepada Saul dan meminta restu untuk melawan Goliat.

Saya yakin bahwa Daud sudah memiliki perhitungan yang matang untuk menghadapi Goliat. Ia sudah berpengalaman menghadapi binatang buas yang memiliki kecepatan dan kekuatan fisik melebihi manusia. Saat ini, ia akan menghadapi Goliat yang berat, bergerak lambat, dan rabun. Daud memilih untuk tidak menggunakan atribut perang apapun. Ia menolak jubah besi atau senjata berat, Ia hanya mengandalkan umban dan batu yang dilesatkan tepat di dahi Goliat, dan ... seketika roboh! Mengapa?

Daud ingin menjaga kecepatan manuvernya. Ia juga ingin memastikan tangannya mudah untuk melempar batu. Bayangkan saja jika Daud juga memakai baju besi dan pedang berat. Ia hanya akan jadi mainan si Goliat. Daud menggunakan strategi yang tidak diprediksi Goliat. Ia menggunakan kecepatan untuk melawan kelambatan, ia menggunakan ketepatan untuk melawan ketidakfokusan, ia menggunakan senjata yang tidak umum untuk militer. Dalam hal ini, Goliat terlalu meremehkan lawan. Ia menggunakan strategi biasa untuk menghadapi lawan luar biasa.

Demikian pula lanskap bisnis masa kini yang jauh berbeda dengan masa lampau. Menghadapi lanskap masa kini membutuhkan strategi yang berbeda. Bahkan menghadapi lawan yang berbeda, diperlukan strategi yang berbeda. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, jika kita mengandalkan strategi itu-itu saja untuk menghadapi kondisi yang berbeda atau bahkan mengandalkan strategi pemikiran tahun 90an untuk menghadapi medan bisnis tahun 2014.


3. Penilaian dan Pengukuran
Jika dipikir dengan logika, ukuran Daud jauh lebih kecil dibanding Goliat. Demikian pula dengan kondisi kekuatan fisik Daud yang juga dibawah Goliat. Namun dalam kasus ini, size doesn't matter. Goliat begitu meremehkan Daud. Ia sangat yakin akan menang. Namun kenyataannya tidak demikian.

Implikasi ini sangat relevan dengan praktik illusion of control. Sebuah kondisi dimana perusahaan salah di dalam menggunakan alat pengukuran/ penilaian. Sebagai contoh, apakah omset yang sangat besar menunjukkan kinerja perusahaan baik? Belum tentu! Akan menjadi bencana jika dibalik penjualan besar perusahaan masih menanggung risiko piutang tidak tertagih yang besar. Untuk itu, sistem pengukuran perlu dirancang dengan matang dalam skema performance engine dan business analytic yang tepat. Jika tidak, kita akan seperti Goliat, terjebak pada satu sisi pengukuran saja.

Filosofi Lean mengajarkan pada kita untuk tetap menjaga efisiensi, small is great. Bagi saya, Daud adalah salah satu ikon Lean yang hebat. Dengan keterbatasannya, ia menemukan kekuatannya. Ia mampu memikirkan strategi kreatif yang bahkan tidak dipikirkan oleh lawannya. Dan ia juga menyadari bahwa ukuran fisik bukan satu-satunya penentu kesuksesan.

Semoga bermanfaat!

Selasa, 04 Maret 2014

Lean Startup, Kepatuhan, Kelatahan, atau Kebutuhan?

Saat ini, metodologi Lean Startup sedang menjamur di Indonesia. istilah validasi, pivot, customer development, lean canvas, dan validation board sedang marak diperbincangkan pelaku bisnis, termasuk startupers. Lean Startup mulai diyakini sebagai cara terbaik untuk memperbaiki nasib bisnis di masa depan. Jika Anda salah satu dari mereka, pertanyaan paling dasar yang harus mampu terjawab adalah, apa arti LEAN? Apa saja asumsi dasar dan pemikiran filosofis yang dibangun dibalik penciptaan Lean Startup yang dibangun untuk startup? 
Saya mempertanyakan hal ini di setiap seminar atau pelatihan dan hingga saya menulis post ini, belum ada satupun audien yang mampu menjawab dengan benar. Beberapa staf inovasi perusahaan yang saya datangi mengaku bahwa penerapan Lean Startup karena kebijaksanaan yang telah dibuat oleh atasan. 
Kondisi ini mulai menyiratkan hipotesis yang mungkin bisa Anda jawab, penyebaran prinsip Lean adalah bentuk kepatuhan, kelatahan, atau memang karena kebutuhan?

LEAN, DIET, DAN BONSAI
Ketika mencari kata sepadan untuk Lean, satu kata yang muncul di benak pikiran saya, yaitu healthy diet atau diet sehat. Diet merupakan program kesehatan dan perbaikan penampilan dengan merancang menu dan jadwal makanan khusus yang diperlukan secara ideal oleh tubuh diimbangi dengan olah raga dan istirahat cukup. Sebaliknya, berbagai racun dan zat yang tidak banyak dibutuhkan tubuh seperti lemak dan kolesterol akan dikurangi secara signifikan.
Sama halnya dengan Lean dalam konteks bisnis. Perusahaan yang ingin hidup sehat perlu melakukan program demikian, meningkatkan aktivitas value added dan membuang aktivitas non value added (sampah). Prinsip Lean pada mulanya diperkenalkan oleh manajemen Toyota dengan konsep Lean Manufacturing
Secara filosofis, sebagian besar kemajuan Jepang dibangun dari prinsip ini. Sebut saja seni bonsai, sebuah seni rekayasa tanaman menjadi mungil, ramah ruang, namun tetap terlihat cantik. Jepang dibangun dari banyak keterbatasan termasuk dalam aspek geografis. Bonsai merupakan saah satu wujud nyata dari implementasi filosofi Lean.

PERAN ERIC RIES
Di dalam perkembangannya, prinsip Lean mulai masuk ke Barat dalam konteks yang makin variatif. Eric Ries, salah seorang pakar bisnis startup secara cerdas mengembangkan dan mengkontekstualisasikan Lean ke dalam pemikiran strategis bisnis startup dengan konsep Lean Startup. Lean Startup merupakan konsep inovasi dan reengineering bisnis yang berusaha meminimalkan risiko dan memaksimalkan peluang keberhasilan. 
Secara umum, Lean Startup terbagi dalam 3 tahap yaitu proses pembangunan (build), pengukuran (measure), dan pembelajaran (learn) melalui validasi dan innovation accounting. Konsep ini juga memiliki misi yang sama dengan konsep Lean orijinal, meminimalkan aktifitas sampah dan membangun aktifitas value added. Berikut gambaran skema alur berpikir Lean Startup:

Demikian gambaran singkat apa itu Lean. Tanpa memahaminya, dapat dipastikan penerapan Lean di dalam perusahaan hanya sebatas kepatuhan atau kelatahan.

Semoga bermanfaat!