Rabu, 17 Desember 2014

Hoax SARA, Gudang Uang

Akhir-akhir ini wall facebook saya banyak dihiasi isu-isu tentang agama. Mulai sejak kasus Gubernur DKI, Kristenisasi, haram ucapan Natal, hingga larangan jilbab panjang.

Siapa sih yang tidak panas hati melihat dan mendengar (judul) berita yang menyinggung agama yang kita anut atau mengolok-olok kesukuan kita. Wajar, ketika menyimak berita demikian, seseorang akan menjadi sangat emosional. Reaksi emosional yang tidak disikapi dengan dewasa justru akan membuatnya menjadi provokator atau defender mati-matian dengan mencari bukti ayat-ayat suci.

Jika diperhatikan, rata-rata, jumlah like, share, dan comment berita demikian mencapai puluhan hingga ratusan, terkadang ribuan. Tanpa sadar, kita-kita yang terjerumus provokasi berita demikian adalah “cash cow” bagi pemilik portal atau situs berita tersebut. Partisipasi kita mendatangkan trafik yang besar yang berarti keuntungan bagi pemilik website, baik via ads atau penjualan database.

Jika kita perhatikan, gaya berita demikian (yang menyinggung SARA) semakin banyak dibuat, entah itu hoax atau hasil permainan hermeneutika (bahasa). Makin lama, makin provokatif, vulgar dan destruktif. Ini adalah salah satu bentuk kecerdasan pebisnis berita. Mereka makin pandai mencari peluang meningkatkan trafik dan mereka sudah menemukan formulanya.

Sederhananya, manusia terdiri dari 3 unsur, pikiran, jiwa, dan roh. Tentang hal ini, ada perbedaan cara pandang masyarakat Barat dengan Timur. Orang-orang Barat lebih mengutamakan pikiran. Mereka penganut faham modernisme, segala sesuatu mengutamakan rasio dan logika. Untuk menggerakkan mereka, kita harus menggunakan data, scientific research, dan rasionalisasi yang benar. Berbeda dengan bangsa Timur yang identik dengan upaya pencerahan keTuhanan. Mereka sangat sensitif dengan urusan roh, bahkan mereka sering melepas logikanya untuk urusan yang satu ini. Pendekatan kerohanian akan menjadi lebih efektif untuk menggerakkan mereka, termasuk memprovokasi mereka. Lihatlah bagaimana gerakan politis yang terjadi di negara kita seringkali menggunakan label agama. Itulah mengapa ada kalimat, untuk merusak sebuah bangsa, pecahbelahlah melalui agama dan suku. Dan kini, untuk meningkatkan trafik, buatlah berita yang menyinggung SARA.

Nah, sekarang kita tersadar, tanpa sadar kita sering menjadi alat dari pemuasan hasrat finansial pemilik portal berita dan personal branding kelompok politik. Selanjutnya, terserah Anda.


Semoga bermanfaat!

Kamis, 27 November 2014

4F Pemicu Sukses Online Shop

Katanya, bisnis toko online sangat menjanjikan. Minim investasi awal, minim risiko, dan memiliki fleksibilitas yang sangat tinggi. Contohnya, sebagian besar kaum hawa yang berbisnis online menjalankan dagangannya sambil mengasuh buah hati. Mereka tidak perlu stok barang karena kemudahan sistem drop ship. Mereka menunggu pelunasan baru melakukan pengiriman barang. Dalam sebulan penjual rumahan bisa meraup omset dari puluhan hingga ratusan juta.

Prospek demikian terus mendorong tumbuhpesatnya toko online. Ratusan toko online baru lahir di Indonesia setiap hari. Keramaian ini memicu tantangan baru. Pasar yang terlalu sesak menjadikan persaingan yang makin keras. Banyak pendatang baru yang gelar tikar, banyak pula yang gulung tikar. Kesalahan penentuan harga, respon, dan layanan segera memaksa toko online tutup. Akhirnya, hukum alam berlaku, siapa yang paling siap berinovasi, dia yang bertahan.

Kebetulan saya adalah penggemar action figure sekaligus salah satu pembelanja online yang cukup intens mencari seller dan bertransaksi. Saya telah berinteraksi lebih dari 20 toko hingga mengerucut menjadi tidak lebih dari 3 toko saja yang saya jadikan langganan. Ada 4 hal yang pada akhirnya memutuskan tali transaksi saya dengan belasan toko lainnya. 4 hal yang sederhana namun memberi dampak yang luar biasa seperti hukum yang berlaku bagi setiap toko online.

1. Fantastic Product Offering
Pilihan produk lengkap, bahkan menjual barang-barang rare (tidak pasaran) adalah salah satu daya tarik sebuah toko. Buyer online seringkali membeli lebih dari 1 item sekaligus dan lebih suka membeli pada 1 toko yang sama. Bukan hanya masalah ribet harus transfer ke beberapa toko, namun juga ongkir yang harus ditanggung beberapa kali juga. Menariknya, saat ini banyak toko-toko yang sudah membantu buyer untuk mendapat produk impor terbaru dengan fasilitas PO (Pre Order).

2. Fair Price
Sebagian besar pembeli (baru) cukup price sensitive. Beda Rp.5.000,- bisa ke lain hati. Dengan barang yang sama, harga akan menjadi sangat bersaing. Persaingan harga tidak hanya terjadi diantara toko online nasional, namun telah menjadi persaingan dunia. Kita bersaing dengan toko-toko di Ebay, bahkan Amazon. Sebelum membeli barang yang material, saya selalu melakukan survey menjelajah marketplace untuk mencari harga pembanding. Dan ada kalanya membeli barang pada seller luar negeri ternyata lebih murah (sudah termasuk ongkir) daripada seller lokal.

3. Friendly Service
Normalnya, dilayani dengan baik adalah harapan setiap konsumen. Tidak ada orang yang suka dicuekin atau diperlakukan ketus. Sudah menjadi kebiasaan sebagian besar seller yang ramai, supersibuk sehingga merespon buyer dengan sangat singkat dan kadangkala tidak jelas maksudnya. Begitu ditanya kembali, jawabnya tidak cukup ramah. Tidak cukup mengandalkan profesionalisme dan etika bisnis. Seller yang disukai adalah mereka yang paham kekuatan membangun dan menjaga sebuah hubungan karena mereka berhadapan dengan manusia, bukan mesin.

4. Fast Respon
Respon cepat merupakan faktor utama dalam bisnis online, mulai dari prospek hingga proses pembayaran dan pengiriman. Sangat alami calon buyer ingin segera mendapat respon, membayar, dan memegang barang pesanannya. Kemampuan memberi respon cepat adalah kekuatan bersaing sebuah toko online. Makin lambat respon diberikan, makin besar pula kekhawatiran calon buyer atas kredibilitas toko, dan pada akhirnya makin banyak pula alternatif seller yang ia temukan. Buyer dapat saja menghubungi seller pada jam-jam yang sulit diprediksi. Kadang waktu jam istirahat kantor, kadang larut malam. Dan inilah tantangan tanggungjawab besar ketika kita memutuskan berbisnis online yang tidak mengenal waktu istirahat.


Semoga bermanfaat!

Senin, 10 November 2014

Perang, Kekuatan, dan Kemerdekaan Disain

Mendefinisikan desain cukup mudah, namun cukup sulit. Banyak diantara kita terjebak pada aspek visual, mengidentikkan desain dengan tampilan yang dapat dilihat langsung. Steve Jobs mengatakan:

“Design is a funny word. Some people think design means how it looks. But of course, if you dig deeper, it's really how it works.”

Disain tidak terbatas pada hal visual, namun lebih pada bagaimana sesuatu itu bekerja. Bentuk paling dasar dari disain adalah imajinasi. Disain adalah proses rasional (pikiran), emosional (jiwa), dan spiritual (roh) untuk menciptakan solusi atas masalah hidup dengan berlandaskan pada value. Penulis buku, John Haskett memandang sebuah disain sebagai sesuatu yang sangat bernilai. Yang intinya adalah tentang utilitas (fungsional) dan kebermaknaan (emosional dan spiritual).

Gambar, teks visual, tata letak, suara harmonis, patung, produk dan media lain merupakan format atau bentuk akhir dari desain, bukan desain itu sendiri.


Bisnis Adalah Perang Disain
Kita semua mengenal kisah Ford. Pada era industri 1918, Ford automobile memang sangat berjaya dengan strateginya “hitam”nya. Ia mengatakan:

"Any customer can have a car painted any color that he wants so long as it is black.”

Pada saat itu, semua mobil Model T diproduksi didominasi dengan warna hitam untuk menjaga efisiensi karena warna hitam cenderung lebih cepat kering. Ford bisa meraup keuntungan besar pada era tersebut mengingat tidak banyaknya pesaing dan masih berlaku hukum kapitalisme modern secara kuat. Namun bisa Anda bayangkan, apa yang terjadi jika saat ini Ford masih memegang teguh pemikirannya, semua mobil hitam?

Tidak laku.

Sekarang, kita mengenal Ford dengan baru dengan berbagai tipe dan varian warna, seperti Fiesta, Ecosport, Everest, atau Ranger dengan warna-warni menarik. Itulah tuntutan pasar, itulah tekanan persaingan yang memicu demokratisasi disain.

Era konseptual telah memerdekaan disain. Di dalam proses mencipta produk, fungsi adalah hal mutlak yang wajib dipenuhi, semacam tiket memasuki industri. Sekarang, desain telah mengambil alih keunggulan bersaing. Demokrasi disain merubah pola persaingan. Dasar kemenangan bukan lagi logika low cost atau diferensiasi produk, tetapi desain.

Kemerdekaan desain sangat terlihat pada industri automobile. Jika pada masa lampau Ford menjadi merdeka dengan strategi kompetitif-nya, sekarang mereka mencari kemerdekaannya dengan membicarakan harmony and balance. Chris Bangel, perwakilan BMW juga mengklaim bahwa BMW tidak membuat mobil, mereka membuat penggerakan pekerjaan seni yang mengekspresikan kecintaan dan kualitas driver. Dan satu lagi, Toyota yang mendisain strategi branding dengan model edukasi. Kita mengenal konsep bisnis seperti Just-in Time, Lean Manufacturing, juga Monozukuri wa Hitozukuri berkat kehebatan Toyota di dalam mengedukasi pasar sekaligus membangun brand awareness. 

Inilah demokratisasi desain yang menunjukkan bahwa fungsi adalah syarat mutlak bagi pebisnis untuk memasuki industri seperti tiket nonton XXI. Selebihnya, ditentukan oleh kemampuan mendisain.


Kekuatan Truly Asia
Anda familiar dengan tagline “Truly Asia”?

Benar, itu adalah tagline program pariwisata negara tetangga, Malaysia. Lepas dari kontroversi kita terhadap konten tayangan commercial ads Truly Asia, Malaysia adalah satu contoh negara yang mampu mendudukkan dirinya secara unik dan kokoh. Malaysia adalah Asia, Malaysia adalah hub yang menghubungkan seluruh Asia. Jika Anda ingin melihat Asia, datanglah melalui Malaysia. Lebih dari itu, Malaysia adalah negara multiculture yang sangat menghargai perbedaan. Dari orang Cina, India, Melayu, Barat, semua ada di sana. Begitulah kira-kira pesan dari Truly Asia.

Jika direnungkan, potensi kekayaan budaya dan ragam tempat wisata Indonesia jauh lebih baik. Namun faktanya, Malaysia mampu mendisain sebuah tagline dengan lebih baik. Kita mungkin membutuhkan Christoper Columbus untuk mencipta produk, namun kita memerlukan Amerigo Vespuci untuk menjualnya.


Semoga bermanfaat!

Senin, 20 Oktober 2014

Mengatasi "Perang" Tim Disain dan Tim Teknik

Konon, pada tahun 1850 seorang pelukis James Wishler melamar masuk akademi militer West Coast. Dalam sebuah ujian, seorang instruktur memintanya menggambar sebuah jembatan. Ia mencoba menyuguhkan gambar yang indah, jembatan di sebuah taman bunga. Terlihat 2 anak kecil sedang memancing bahagia. Melihat karya James, instruktur menegur keras, "Hapus 2 anak itu dari jembatan! Saya ingin jembatan bersih!" James menghapus kedua anak itu dan memperbaiki gambarnya kembali. Ia menggambarkan kedua anak itu di tepi sungai, duduk dan memancing. Kedua kalinya instruktur geram, "James! Ini pelajaran teknik, hapus dua anak itu dari kanvas!" KEtiga kalinya James merevisi gambarnya. Kali ini ia menghapus obyek kedua anak, dan ia menambahkan 2 batu nisan di dekat taman itu. "Gambar apa itu?" tanya instruktur sambil menunjuk gambar batu nisan. "Ini adalah nisan kedua anak itu, Pak", jawab James. Singkat cerita, James dinyatakan gagal.

Sahabat bisnis, apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini?

Sebuah gambaran yang tidak jauh dari praktik di sekitar kita. Ini adalah "pertempuran" tim seni dan tim teknik. Seringkali tim disain dengan kemampuan otak kanan yang hebat berimajinasi dan menginginkan produk yang spektakuler. Namun ketika diimplementasikan dalam tataran teknis, bentrokan atas nama kelayakan (feasibility) mulai terjadi, biaya, waktu pengerjaan, atau kesediaan teknologi. Jika tidak, maka akan terjadi pembengkakan biaya.

Lalu bagaimana menyelesaikan masalah ini?

Baik tim seni dan tim teknis, keduanya tentu memiliki argumentasi yang benar. Validasikan kembali value kepada calon konsumen, itu kuncinya. Perdebatan tanpa ujung kedua tim hanya dapat dijawab oleh riset pasar. Kembalikan pada misi awal, bahwa kita menjual produk untuk dinikmati konsumen, bukan tim disain atau tim teknis. Mengenai kemungkinan modifikasi, penyederhanaan, atau reengineering proses tetap harus dilakukan untuk memenuhi customer value dengan pertimbangan investasi yang tepat. 

Kedua, masalah kepemimpinan. Al dan Laura Ries dalam bukunya War in The Boardroom mengupas konflik idealisme demikian dan mengungkap peran pemimpin di dalam menjembatani konflik-konflik demikian. Ya, pemimpin yang visioner, fleksibel, dan mampu berpikir sinerjis dan sintesis, tanpa mengorbankan kepentingan dan harga diri timnya.

Mungkin kita tidak perlu membuat jembatan yang sangat indah dengan 2 anak yang sedang berbahagia. Kita juga mungkin tidak perlu membuat jembatan berkonstruksi rumit. Mungkin konsumen berharap jembatan tali yang sederhana dan cukup indah. Atau mungkin konsumen butuh teleporter canggih.

Semoga bermanfaat!

Selasa, 30 September 2014

Kenali Godaan Terbesar Inovator

"Icarus, sebuah nama, sebuah mitos yang mengingatkan kita pada sebuah pesan, jangan terbang terlalu tinggi."

Icarus adalah putra Daedalus, seorang tinkerbell. Karena kesalahannya pada kerajaan, mereka berdua harus menjalani hukuman di sebuah pulau. Daedalus memiliki rencana cerdas untuk kabur dari sana dengan membuat sayap buatan yang direkatkan dengan lilin. Tiba harinya, mereka segera mengeksekusi rencana itu. Daedalus berpesan pada Icarus agar jangan terbang terlalu tinggi karena berbahaya. Tanpa tedeng aling-aling, Icarus segera meluncur. Sebuah pengalaman terbang yang keren. Saking asyiknya, ia lupa pesan ayahnya dan terbang mendekati matahari. Tanpa ia sadari, lilin perekat sayap-sayap itu meleleh dan satu persatu bagian sayap terlepas. Icarus kehilangan kendali dan terjatuh ke dalam samudra. Ia tidak pernah ditemukan kembali.

Godaan Icarus masih terus terjadi hingga saat ini. Inovator, yang notabene adalah orang-orang hebat, tidak terlepas dari godaan ini. Tanpa sadar, kita sebagai inovator sering menjadi pengabai pesan pasar karena sibuk dengan kepercayaan diri yang tinggi terhadap kehebatan produk/ karya yang kita ciptakan. Secara alami dan menurut penelitian-penelitian psikologi populer, manusia cenderung mengapresiasi lebih ide/ pikirannya dari yang semestinya. Kita tergoda membuat karya indah (menurut kita) dan berpikir orang lain memikirkan pikiran yang sama dengan kita. Para inovator percaya diri dan berlomba membuat karya yang ia pikir hebat dan ternyata, gagal ketika rilis di pasar.

Realitanya, di dalam bisnis karya yang terbaik adalah karya yang terjual dan dapat dinikmati konsumen. Produk hebat hanya menjadi pajangan museum jika tidak terserap pasar. Pebisnis dihadapkan dengan pilihan sulit, membuat produk menurut idealismenya atau menurut kemauan pasar. Tentunya, mengandalkan kepercayaan diri (idealisme) sangat berpotensi mengulangi tragedi Icarus. Sebaliknya, mengikuti maunya pasar akan mengeringkan passion kita.

Chris Guillebeau dalam $100 Startup memaparkan makna konvergensi, sebuah nilai kompromi yang dapat diterapkan di dalam inovasi produk. Saya mencoba mengembangkan tesis tersebut menjadi salah satu bagian penting dari permodelan bisnis LastingLean. Sebagai inovator dan pebisnis, sangat mungkin kita memadukan idealisme dan kemauan pasar melalui inovasi Compromised value.

Compromised Value

Tidak bisa dipungkiri, hasrat atau dorongan inovasi selalu bermula dari benak pikiran inovator. Namun, inovasi bukanlah inovasi yang baik jika tidak memberi manfaat bagi calon penggunanya. Untuk itulah, sebagai inovator, kita wajib membesarkan hati untuk menguji (validasi) ide atau produk kita ke pasar (sesuai segmen) yang dituju. Biarkan mereka menilai dan memberi feedback tentang fitur, disain, kebermanfaatan, dan segala hal terkait produk kita. Melalui iterasi dan pivoting yang tepat, kita akan menemukan sebuah harmoni kompromi antara idealisme kita dan kemauan pasar.

Mitos Icarus telah memperingatkan kita, jangan terbang terlalu tinggi. Di sisi lain, tidak baik pula terbang terlalu rendah karena sifat air laut akan mempengaruhi daya terbang. Diperlukan keseimbangan untuk mencapai kualitas terbang terbaik.


Semoga bermanaaf!


----------------------------------------------------------------------------------------------

Temukan strategi validasi Compromised Value di buku Lasting Lean
Dapatkan versi digital di: http://gramediana.com/books/detail/235140747-lasting-lean?locale=en

Minggu, 14 September 2014

3 Alasan Mengapa Entrepreneur Perlu Pake Ribet Bikin Model Bisnis

Dalam sebuah pelatihan LastingLean, seorang pengusaha digital bertanya, "Pak, mengapa sih kita mesti repot bikin model bisnis, hitung indeks, dan lain-lain?" Ini adalah salah satu pertanyaan dasar terbaik yang saya jumpai yang mungkin sering menjadi pertanyaan di benak Anda, ngapain kita meribetkan diri dengan urusan perhitungan toh bisnis kita jalan terus, bayaran klien juga lancar. Yah... bisa jadi itu terjadi. Namun berapa banyak bisnis (khususnya kongsi) yang pada akhirnya shutdown atau pecah kongsi karena diributkan masalah hitung-hitungan uang?

Business model merupakan salah satu prinsip inovasi aspek finansial dan akuntabilitas. Business model merupakan proses pemikiran dan perencanaan matang tentang roadmap dan milestone bisnis yang akan dijalani. Pakar-pakar bisnis mangibaratkannya dengan peta, kompas, buku panduan manual, atau alat pengendali. Tanpa perencanaan, panduan, dan pengendalian yang baik, sebuah bisnis tidak akan berjalan dengan baik. Dengan permodelan bisnis yang serius, sangat mungkin kinerja bisnis kita akan menjadi jauh lebih baik atau bahkan menghindari risiko konflik tanpa dasar. Saya mencatat 3 fungsi dasar mengapa kita perlu merancang model bisnis dengan matang:

1. Konsistensi
Business model membantu kita untuk tetap fokus dan konsisten dengan apa yang sudah direncanakan dari awal, terhadap visi dan pilihan strategis. Tanpa business model, bisnis akan berjalan mengalir, menciptakan keborosan, dan tim akan menghadapi kebingungan pengambilan keputusan, bahkan berjalan sendiri-sendiri karena tidak adanya arahan dan kesepakatan bersama secara tertulis.

2. Komitmen
Tanpa disadari, business model merupakan sebuah gentlemen agreement yang mengikat secara setiap anggota tim secara profesional. Business model merupakan komitmen yang memudahkan penyatuan orientasi setiap penggunaan resource (uang, tenaga, dan waktu).

3. Komunikator
Business model merupakan media komunikasi bisnis yang efektif. Kita dengan mudah berhadapan dengan stakeholder, kreditor, atau investor karena kita memiliki "bahasa" yang sama, yaitu bahasa bisnis. Sementara,  salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pelaku bisnis menggunakan bahasa teknis (misalkan penggunaan software dan teknik rendering yang hebat) untuk menghadapi pebisnis. Hal ini ibarat menggunakan bahasa Madura untuk berkomunikasi dengan orang Batak.

Semoga bermanfaat!


(Klik dan lihat permodelan bisnis sederhana LastingLean)

Kamis, 11 September 2014

3 Bahan Peledak Serial Mahabarata

Sejak tayang di ANTV, masyarakat Indonesia kian lekat dengan kisah Mahabarata karya sutradara Siddharth Anand Kumar, dkk. Sebuah serial yang meningkatkan rating bahkan sempat menduduki peringkat kedua dalam survey Daily Rating mengalahkan GGS. David Pardede, Corporate Secretary IMC (ANTV) membenarkan hal ini. Di tengah tren acara pencarian bakat, sinetron "plagiat", YKS, K-Drama, kisah Mahabarata mampu bersaing merebut hati masyarakat Indonesia. Apa rahasianya?

Aktor dan aktris yang cakep? Visual FX yang lumayan? Mungkin iya, mungkin tidak. Stasiun televisi tersebut menanyangkan beberapa serial dengan tokoh yang rupawan dan FX yang memadai (untuk kelas serial) namun ratingnya tidak setinggi Mahabarata. Ada sesuatu yang lain yang mampu membius penonton. Saya mencoba menganalisis produk ini dan menemukan 3 rahasia hebat dibalik kesuksesan sinetron Mahabarata. 

1. Cerita (story)
Sederhananya, kisah Mahabarata telah memenuhi pola storytelling yang ideal. Dari istana lalu terbuang ke hutan, mengalami kekelaman, pertemuan dengan para mentor, perjuangan dan pengasahan kompetensi, hingga pada "perang" besar dan akhirnya menang dan mengalami pencerahan. Coba perhatikan dengan cerita-cerita hebat lain seperti Ramayana atau kisah Nabi Musa atau Yusuf yang juga memiliki pola yang serupa. Dibanding sinetron lain (seperti Hatim), Mahabarata karya Wiyasa jelas memiliki kekuatan dan kualitas cerita yang jauh lebih baik. Mahabarata mampu menampilkan keindahan bahasa yang luar biasa hingga pesan-pesan moral yang diucapkan oleh para tokohnya terasa sebagai pesan pribadi untuk pemirsa.

2. Pesan Spiritual (meaning)
Sebagian kawan saya (terutama wanita) mengaku menyukai tokoh Krisna, ganteng dan bijaksana, kata-kata bijaknya mengena. Selain Krisna, pemirsa dapat belajar kebijaksanaan dan filosofi dasar kehidupan melalui penokohan tokoh-tokoh yang ada di dalam epos ini, bahkan Sengkuni-pun membawa pesan moral yang baik bagi umat manusia. Mahabarata merupakan epos India yang diinspirasi oleh proses hermeneutika dan pengalaman spiritual Wiyasa terhadap Weda. Hebatnya, pesan moral Mahabarata sangat kontekstual dan dapat diimplementasikan di berbagai aspek kehidupan, pekerjaan, rumah tangga, bahkan percintaan. Kisah demikian sangat relevan dengan kehidupan masyarakat yang sedang dalam tahap pencarian makna kehidupan (meaning).
"Kemenangan terbesar adalah kemenangan di dalam menguasai pikiran" -Bima
3. Terlalu Tervalidasi (validation)
Tidak ada bukti yang pasti kapan penyusunan epos tersebut. Beberapa sumber menyatakan sekitar 400-300 tahun SM. Mahabarata telah diterjemahkan dalam ratusan bahasa sejak zaman tersebut hingga saat ini. Inilah yang menjadi kekuatan penetrasi Mahabarata ke pasar. Secara alami, Mahabarata telah teruji waktu lebih dari dua ribu tahun. Kisah ini telah diterima masyarakat sebagai salah satu way of life. Mahabarata telah terlalu banyak melewati proses validasi. Sebagai contoh, di Jawa kisah Mahabarta telah megalami alkulturasi dengan budaya Jawa yang dapat dimaknai bahwa Mahabarata telah tervalidasi dan termodifikasi sebagai epos "baru" yang dinilai lebih pas dengan cara hidup masyarakat Jawa.

Cerita, pesan moral, dan validasi yang sangat kuat adalah kunci dasar suksesnya serial Mahabarata. Meskipun Mahabarata terus dikemas ulang dalam berbagai versi, selama alur dan esensi kisah tetap sama, serta penokohannya kuat, kisah Mahabarata akan terus diminati.

Semoga bermanfaat!

Selasa, 02 September 2014

Hakikat, Aturan Alam yang Wajib Diketahui Kreator

Hello Kitty, karakter imut dikembangkan oleh Sanrio sejak tahun 60an. Lepas dari kontroversi Hello Kitty adalah kucing atau gadis kecil, yang pasti pengaruh karakter ini sudah sangat kuat. Tokoh ini telah melekat di benak pikiran anak-anak hingga orang tua sejak populer di tahun 70an. Berbagai merchandise Hello Kitty sukses di pasar internasional. Sanrio mencatat total pendapatan mereka di tahun 2012 sebesar  ¥74, 233 juta atau setara 8.3 trilyun rupiah. Apa rahasianya?

Disamping model bisnis yang kokoh, kekuatan Hello Kitty terletak pada aspek disain. Disain karakter Hello Kitty begitu sederhana, hanya sedikit goresan dengan warna minimalis. Namun berkat kesederhanannya inilah karakter Hello Kitty mampu membius hati anak-anak di dunia, bahkan menjadi magnet perusahaan-perusahaan besar untuk meminangnya sebagai "bintang iklan" produk-produknya. Kesederhanaan dan keimutan Hello Kitty mampu merepresentasi karakter dan cara berpikir anak-anak.

Suatu ketika, seorang guru bertanya pada saya, "Apa itu bunga?" Spontan saya menjawab "Sesuatu yang memiliki tangkai, kelopak, mahkota, benang sari, dan putik". Beliau melanjutkan, jika sesuatu itu tidak memiliki salah satu bagian bunga (yang Anda sebutkan), apakah ia tetap disebut bunga? "Bisa jadi", jawab saya. "Lalu, apa itu bunga?" Ia bertanya lagi. Terdiam beberapa detik, dan akhirnya saya berhasil tidak menjawab sepatah katapun. Ia mencoba memberi sebuah ilustrasi, "Seandainya Anda datang ke sebuah hutan dan melihat sebuah tanaman, bisakah Anda membedakan mana yang bunga, mana buah, mana daun?" "Tentu bisa", spontan jawab saya. Ia melanjutkan pertanyaannya, "Tanpa tahu arti bunga, mengapa Anda dapat berpikir bahwa Anda dapat membedakan bunga dengan bagian tanaman lainnya?" "Itulah yang disebut sebagai hakikat", tegasnya.

Hakikat adalah aturan alam, sesuatu yang melekat pada sesuatu, namun tidak mengikat sesuatu itu. Contohnya, secara naluri seorang anak anak berpikir sederhana, seorang anak gadis akan menyukai boneka, atau anak laki-laki menyukai mobil-mobilan. Aturan alam ini berlaku pada seluruh aspek kehidupan. Segala sesuatu harus bergerak seirama dengan hakikatnya. Melawan hakikat sama dengan melawan aturan alam. Jika kita kaitkan hal ini dengan kasus Hello Kitty, mungkin Anda mulai dapat mereka-reka rahasia dibalik kesuksesan disain Hello Kitty.

Hello Kitty didisain untuk anak-anak (khususnya perempuan). Hakikatnya, seorang anak gadis menyukai sesuatu yang cantik, pink, imut, dan sederhana. Hello Kitty memiliki semua aspek tersebut. Anak-anak tidak berpikir kompleks, mereka berpikir heuristik. Disain Hello Kitty sangat sederhana bahkan anak-anak usia 2 tahunpun mudah menirunya. Inilah aplikasi hakikat di dalam pengembangan produk.

Sebagian besar kegagalan awal proses disain produk adalah kurangnya perhatian pada aspek hakikat. Seringkali kreator mendisain produk sesuai apa yang ia sukai dan berharap pasar akan menyukai kesukaannya. Bagaimanapun juga, produk yang baik adalah produk yang terjual dan mampu memberi value added bagi konsumen. Sebagai contoh di dalam bisnis animasi, disain karakter dan cerita semacam Transformer memang keren abis, namun anak kecil akan cepat bosan dan gagal paham kompleksitas ceritanya karena memang ditujukan pada segmen remaja, bukan anak-anak.

Setiap segmen memiliki hakikat/ personanya sendiri, melawan hakikat sama dengan membangun kegagalan. Sebuah disain yang kompleks dan dewasa tidak akan pernah diterima oleh segmen anak-anak, sebuah disain yang terkesan lowend akan ditolak oleh segmen highend, dan seterusnya. Prinsip pengembangan produk wajib mengikuti hakikat segmen yang dituju. Dengan kata lain, langkah utama di dalam disain produk adalah mempelajari dengan sangat baik hakikat segmen yang dituju kemudian berusaha berempati terhadap segmen tersebut. Prinsip hakikat demikianlah yang juga membawa IP  besar seperti Dora the Explorer, Pororo, Naruto, Ultraman, dan Avengers suskes besar di segmennya masing-masing.

Semoga bermanfaat!

Jumat, 01 Agustus 2014

7 Prinsip Membangun Teamwork Ala Avengers

Bekerja dalam sebuah tim bisa jadi terasa lebih sulit daripada bekerja sendiri. Apa yang kita mau, seringkali tidak seperti yang anggota tim lain mau. Ya, itulah uniknya manusia yang memiliki kehendak bebas dan ego. Ketakutan, kekhawatiran demikianlah yang sering menjadi momok bagi kita untuk berani terjun membangun tim baru. Memang, usaha dan pengorbanan untuk membangun tim akan lebih besar daripada bekerja 1 man show. Namun hakikinya, manusia juga diciptakan sebagai makhluk sosial. Ada satu enerji besar ketika sebuah tim bisa bekerja dalam "satu tubuh" yang disebut sinerji, dimana 1 + 1 bukan lagi sama dengan 2, tapi lebih dari 2. Sebenarnya yang menjadi tantangan utama dalam hal ini adalah, bagaimana cara membangun tim baru yang baik?

Kisah Avengers karya Marvel menyimpan prinsip hebat tentang bagaimana membangun sebuah tim yang ideal. Saya mencatat 7 hal penting yang dapat kita jadikan sebagai referensi:

1. Visi yang sama
Tim Avengers sangat jelas memilki visi yang sama, mereka kumpulan orang baik yang ingin melindungi umat manusia dari serangan teroris. Kesamaan visi adalah hal utama di dalam membangun tim. Sebagai contoh, di dalam teori organisasi dikenal 2 norma, yaitu norma ekonomi dan norma sosial. Norma ekonomi berasumsi bahwa organisasi bertujuan untuk bisnis, bukan sebagai alat sosial. Sebaliknya, norma sosial berasumsi bahwa organisasi harus berada pada jalur sosial. Penggabungan keduanya dapat merisikokan organisasi berada dalam status stuck in the middle. Umumnya, perusahaan mulai bergerak menuju norma sosial setelah mencapai fase kemakmuran. Tanpa kesamaan visi, proses penyatuan akan sulit dicapai. Kita bisa belajar dari episod Avengers Disassembled dan Civil War, ketika Cap dan Ironman berbeda visi dan tidak ada lagi rekonsiliasi, tim Avengers terpecah.

2. Anggota tim harus unik
Coba pikirkan, bagaimana jika tim Avengers terdiri dari 5 Hulk? atau 5 Captain America? Tentu tidak akan sinerjis. Setiap karakter adalah unik dari aspek kemampuan, skill, dan personaliti. Ada yang keras kepala, suka narsis, kuat secara fisik, pandai, dan sebagainya. Selama 10 tahun saya memperhatikan sekian ratus mahasiswa (dalam tim penyelesaian proyek) terjebak di dalam ilusi kesamaan. Orang-orang dengan IP tinggi bergabung dengan sesamanya, mereka berpikir homogenitas adalah solusi yang baik. Begitu pula sebaliknya, akhirnya, anak-anak dengan IP pas-pasan berkumpul sendiri. Pada dasarnya, setiap orang itu hebat, punya kelebihan dan kekurangan. Hanya saja dunia pendidikan yang buta hanya mengukur kehebatan dengan cara otak kiri. Sinerji akan terjadi ketika kita mendedikasikan kelebihan kita untuk mengisi kekurangan orang, dan membuka diri mempersilahkan kelebihan orang mengisi kekurangan kita. 

3. Menekan ego
Ego adalah sesuatu yang baik jika dikelola dengan baik. Diperlukan pengendalian diri yang kuat untuk mampu mengelola ego. Kesabaran, kemampuan empati, dan kepercayaan adalah unsur utama manejemen diri dalam sebuah tim. Di dalam Avengers, masing-masing anggota nampak hebat ketika menjadi solois, namun ketika tergabung dalam sebuah tim, setiap anggota harus belajar mau dipimpim oleh orang (yang mungkin secara IQ tidak lebih baik dari kita). Hulk dan Ironman jelas memiliki kemampuan IQ paling baik, namun kekuatan tim tidak hanya ditentukan oleh aspek intelektual. Kemampuan mengendalikan diri jauh lebih penting, bahkan seorang pemimpinpun harus berjuang untuk menahan godaan gaya kepemimpinan diktator yang sudah tidak cukup relevan di era konseptual.

4. IQ bukan syarat utama pemimpin 
Dari pengamatan terhadap perilaku mahasiswa, saya memperhatikan kecenderungan sebuah tim untuk memilih pemimpin yang punya IP paling baik, atau setidaknya ahli di bidang yang sedang dijalani. Ini adalah kesalahan fatal! Coba perhatikan plot Avengers, apakah Nick Fury punya kemampuan bertarung paling baik? Tentu tidak. Mengapa? Karena kepemimpinan bukan sekadar tentang intelejensi, namun tentang sikap dan personaliti. Ahli perang Sun Tzu mencatat 5 karakter pemimpin yang baik, yaitu sikap bijaksana, kasih, ketulusan, keberanian, dan integritas. Pemimpin yang baik tidak harus hebat di semua bidang, tapi ia secara cerdas mampu men-simfoni-kan orang-orang hebat.

5. "Nepotisme" itu penting
Nick mengenal dengan baik dan menyimpan data para superhero. Ketika ada proyek/ misi baru, ia akan memilih orang yang sesuai dan menyatukannya dalam tim. Merekrut orang yang sudah kita kenal dan jelas pribadi dan kompetensinya akan meminimalkan risiko kegagalan misi. Bagi saya, pertimbangan demikian bukanlah kesalahan atau ketidakprofesionalan. Itulah mengapa surat rekomendasi itu cukup berperan. Selain itu, prosedur rekrutmen konvensional juga tidak menjamin the right man on the right place.

6. Size does matter
Jumlah, inilah bedanya Avengers dan AKB48 :) Tim inti avengers hanya terdir sekitar 5-7 orang (tergantung versi universe), selebihnya adalah tim gabungan. Membangun tim perlu mempertimbangkan efisiensi atau bahasa kerennya, lean (ramping). Tim yang tidak efisien akan menciptakan kondisi idle, pembesaran biaya, dan potensi konflik yang makin besar. Model operasi bisnis saat ini sudah megarah pada efisiensi melalui outsourcing, bahkan offshoring. Sebisa mungkin, mereka menghindari beban fixed cost yang besar, bukan sebaliknya. Sebagian besar barang yang Anda pakai adalah made in China, walupun konsep dan strategi bisnis tetap dipegang oleh negara pencipta IP. Tim kecil yang efektif akan mendatangkan keuntungan bagi bisnis Anda.

7. Selalu dinamis
Inovasi adalah kunci dari dinamisasi perusahaan. Kita bisa belajar dari sikap Tony Stark yang haus akan inovasi. Musuh dan kondisi alam yang berbeda memerlukan disain armor yang berbeda. Ia terus menciptakan armor baru yang relevan dengan medan tempurnya. Demikian pula prinsip survival sebuah perusahaan. Menghadapi proyek baru membutuhkan strategi baru dan mungkin komposisi tim baru. Tim Avengers tidak selalu sama dan dibangun berdasarkan kebutuhan kompetensi pada misi yang akan dihadapi. Perusahaan yang inovatif selalu siap menghadapi tantangan baru, pemimpin yang inovatif selalu siap mengelola dan bekerja sama dengan orang-orang baru dan beradaptasi dengan cepat. Di sinilah perlunya kecerdasan emosi dan spiritual yang baik.

Semoga bermanfaat!

Sabtu, 05 Juli 2014

Apa yang Terjadi di Benak Kita Saat Mengambil Keputusan?

Ada 3 hal yang konstan dalam kehidupan, yaitu perubahan, pilihan, dan prinsip” –Stephen Covey
Setiap saat, dalam setiap aspek, kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Kadang, kita dilema. Dalam kondisi ini, kita mengalamai semacam “tween”, suatu masa dan proses berurutan yang terjadi di benak kita, sebelum memutuskan pilihan, termasuk pilihan membeli produk, memilih pasangan, atau calon pemimpin Indonesia.

Sementara itu, pakar psikologi populer (Ariely, Kahneman, Tversky, dan Heath) mengungkap bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk irasional, bukan rasional seperti diungkap oleh teori ekonomi atau teori agensi terdahulu. Lalu, selama ini berarti keputusan yang kita ambil adalah irasional?

Coba simak ilustrasi berikut:
Bayangkan Anda dihadapkan dengan 2 pilihan (X atau Y), sesuatu yang "gratis". Ketika Anda tetap harus memilih, Anda akan menghadapi alternatif kondisi berikut:
  • Memilih Y karena Anda menyukainya
  • Memilih Y karena Anda tidak menyukai X
(atau sebaliknya)

Seringkali kita mengambil keputusan memilih sesuatu (misalnya Y) atas dasar karena sudah terlanjur jatuh cinta, kesan pertama yang mengesankan, pesona, prestis, atau kekaguman terhadap hal yang kita pilih. Kita memutuskan sesuatu belum kita hitung atau analisis terlebih dahulu. Bisa saja keputusan itu hanya berdasar atas cerita orang yang kita percaya atau hormati dan kadang hanya berdasar intuisi. Dalam konteks pemilihan figur (seperti pemimpin), adanya kesamaan impian, prinsip, keyakinan, keadaan, dan kisah yang melekat dapat pula menjadi penguat keputusan.

Kemudian, ketika saat itu seseorang bertanya “Mengapa Anda pilih Y?” Maka otak kita akan bekerja keras mencari dalih atau pembenaran untuk memantabkan/ menggenapkan pilihan kita. Otak kita akan melakukan proses asosiasi dari dari serangkaian data/ informasi atau dikenal sebagai discontent construction sehingga pilihan kita akan terkesan logis.

Begitu pula dengan alternatif kedua. Mungkin saja kita “terpaksa” memilih Y karena kita tidak suka atau membenci pilihan X. Rasa tidak suka, sentimen juga terjadi karena kita adalah pemikir yang irasional. Selanjutnya, kita akan mencari dalih dan pembenaran/ penggenapan yang meyakinkan diri kita bahwa pilihan kita adalah benar. Konsekuensinya, kita akan mencintai berita-berita yang menyudutkan pilihan X dan merasa nyaman mendengar berita yang positif tentang pilihan Y, dan sebaliknya.

Sulit memang menjadi pribadi yang obyektif, setidaknya tips berikut dapat membantu kita menjadi pengambil keputusan yang lebih obyektif:
  1. Selalu berefleksi diri dan mengklarifikasi pilihan yang telah diambil, setidaknya untuk meningkatkan obyektifitas.
  2. Sebagai penunjang tips pertama, cari data dan informasi hanya dari sumber yang dipercaya dan bebas kepentingan karena era teknologi memungkinkan setiap orang bisa membuat berita semau gue.
  3. Hindari membuka mengikuti comment atau post negatif yang belum terkonfirmasi kebenarannya karena hal ini akan menyesakkan jiwa kita.


Selamat mengambil keputusan, Semoga bermanfaat!

Senin, 23 Juni 2014

Renungan Kepemimpinan: Tragedi "Kiskenda"

"Tragedi terbesar Negeri Kiskenda bukan terjadi akibat ketidakmampuan raja memimpin rakyat, tapi ketidakmampuannya memimpin diri sendiri."
Senja itu, di sebuah hutan, keheningan terpantul dari rupa-rupa makhluk tanpa dosa, gemercik air menyejukkan jiwa yang dahaga atas belaian Sang Kasih, hembusan angin dan gemulai tari dedaunan bagai malaikat Suwargaloka yang sedang bersuka cita. Namun dalam sekejab, suara gaduh bergerak begitu cepat membelah kenikmatan sabat itu. Sekilas, 5 sosok makhluk dari 2 ras yang berbeda beekejar-kejaran, Wanara dan Sura. Mereka, Subali (raja Kiskenda, raja kaum Wanara) dan Sugriwa (adik subali) nampaknya menghadapi serangan sekelompok siluman Sura, separuh kerbau, Maesasura, Lembusura, dan Jatasura. Pertarungan mahasakti berkecamuk mengusik kedamaian flora-fauna. Serangan saling balas menyambarkan kilatan sinar sakti sekejab merusak ruang suci semesta. 

Pertarungan sengit nampak berimbang. Berpikir cepat, spontan Subali memancing para siluman untuk masuk ke dalam sebuah goa untuk bertarung habis-habisan di sana. Subali memiliki kesaktian Pancasona yang membuatnya sulit ditembus senjata dan serangan apapun. Sambil melesat terbang, ia berpesan pada Sugriwa,"Jika nanti keluar darah merah, berarti aku kalah (karena darah siluman itu hijau warnanya). Saat itu, kau segera tutup goa dengan batu besar. Lebih baik kami mati bersama di dalam goa." Beberapa jam terdengar terus besutan senjata dan suara pukulan dengan tenaga dalam hingga akhirnya sampai pada titik sunyi. Tidak ada suara apapun. Sugriwa mulai cemas, jangan-jangan... Perlahan cairan berwarna merah dan putih mengalir keluar merembas diantara bebatuan. Melihat ini, Sugriwa sigap mengambil batu besar dan menutup goa seperti perintah kakanda Subali. Sekali lagi ia mencermati apakah benar itu darah Wanara dan memang benar.

Sugriwa sedih, menangis. Ia pergi menyampaikan kabar duka ke kerajaan Wanara. Sungguh nasib, semua sudah terjadi. Dewi Tara, permaisuri Subali yang cantik rupa dan hati, langsung jatuh tersungkur meratapi kepergian suami yang dicintainya. Tak seorangpun tahu, dari dalam goa, terdengar teriakan Subali, "Sugriwa adikku, kau begitu tega menjebakku. Kurang ajar! Pengkhianat laknat! Serendah itu ternyata ambisimu selama ini." Subali belum seda, hanya luka tusukan tanduk Maesasura yang membuatnya berdarah-darah. Cairan putih yang mengalir adalah cairan dari otak para siluman yang kepalanya dipecahkan oleh Subali. Ia terlajur terperangkap dan Sugriwa terlanjur diangkat menjadi raja pengganti. Dalam hati, Subali terus mengutuki saudaranya, ia pikir Sugriwa sengaja bermain politik kotor, menggingkan tahta dengan cara kotor. Mengumpulkan tenaga dalam beberapa hari, akhirnya Subali berhasil memecah batu raksasa penutup goa dengan satu jari. Ia bangkit menuntut balas dan pertarungan saudara dimulai. 


Betapa kaget Sugriwa melihat Subali kembali dengan penuh luka namun tetap tegar. Pelukan Sugriwa dihempaskan begitu saja oleh Subali yang kalap karena kemarahan. Subali langsung memukul habis Sugriwa sampai hampir mati. Hujaman ribuan pukulan Subali diringi fitnah dan tuduhan murahan yang sangat menyakitkan hati Sugriwa. Untung, Sugriwa masih bisa kabur meloloskan diri bersama beberapa pasukan, termasuk Hanoman. Dalam hatinya, Sugriwa tidak merasa salah. Ia hanya korban arogansi dan gengsi Subali. Ia merasa ditelanjangi dengan fitnahan keji Subali di depan rakyat. Serangan mendadak telak ini memicu amarah dan kebencian Sugriwa kepada saudaranya. Berbulan-bulan ia mencari akal membalas nista Subali hingga ia dipertemukan dengan Rama dan Laksmana. Pertemuan ini menjadi harapan besar baik bagi Sugriwa yang ingin memberi pelajaran saudaranya, juga bagi Rama yang sedang mencari dukungan untuk melakukan serangan ke Alengka demi menyelamatkan istrinya, Sinta. Mereka beraliansi dan singkat cerita Subali berhasil dikalahkan dan tewas ditangan Rama. 

Apa yang dapat kita pelajari dari Epos menakjubkan ini? Saya mencatat 3 moral penting yang saya pandang dari perspektif kepemimpinan dan penyelesaian masalah (leadership & problem solving skill), baik itu kepemimpinan bisnis, maupun bentuk organisasi lain. Semoga 3 pesan moral berikut bisa kita jadikan bahan renungan untuk berpikir lebih dewasa tentang kepemimpinan, khususnya kepemimpinan diri.

1. Tidak ada yang salah, yang ada hanya saling merasa paling benar
Antara Subali dan Sugriwa, keduanya pada dasarnya tidak bersalah. Yang terjadi hanya misunderstanding dan miscommunication. Subali merasa dikhianati, Sugriwa merasa dizolimi di depan publik. Akhirnya keduanya saling menyalahkan, mencari dalih untuk saling menjatuhkan. Berbicara kebenaran dalam tataran logika manusia sangat relatif hasilnya. Dengan otaknya yang hebat, setiap orang mampu membangun pembenaran untuk mencapai tujuannya. Kericuhan kedua Wanara kuat ini akhirnya memecah Kiskenda menjadi 2 kubu yang dipimpin oleh Subali dan Sugriwa dan perang dimulai. Pastinya, dalam perang apapun, rakyat hanya menjadi korban. Bagaimana dengan fenomena di sekitar Anda? 

2. Siapa musuh kita sesungguhnya
Mari kita selami semiotik kisah ini lebih dalam. Sebenarnya, ada segerombol sosok yang menjadi aktor perpecahan dan Subali dan Sugriwa. Bukan para siluman yang menjadi musuh mereka, bukan pula kemiskinan, keadaan buruk, kursi raja, atau permaisuri cantik. Mereka adalah hawa nafsu, ambisi, arogansi, amarah, kecurigaan, dan kebencian. Sosok inilah yang tengah asyik bermain memainkan kehidupan manusia. Mereka mampu memainkan saudara sebagai tokoh antagonis. Segala aspek keidupan selalu terdiri dari 2 kutub, hitam dan putih. Jika kita mengabdi pada kebencian, maka kita kehilangan kasih. Jika kita mengabdi pada kasih, kita akan terjauhkan dari kebencian. Seperti konon pernah dikatakan Hanoman, "Lebih baik kera berhati manusia, daripada manusia berhati kera." Bagaimana dengan fenomena di sekitar Anda?

3. Tidak ada win-win solution tanpa kerendahan dan kebesaran hati
Adakah win-win solution itu? Solusi utopia ini tidak akan pernah terjadi tanpa adanya kerendahan dan kebesaran hati. Kebesaran hati mengakui orang lain lebih baik, lebih sukses dan kerendahan hati menghargai perbedaan pendapat. Tidak ada kemerdekaan hati yang dibangun dari arogansi. Tanpa sikap hati yang baik, yang terjadi hanyalah perasaan menjadi korban dan perasaan diperlakukan tidak adil, pemberontakan, permusuhan yang menghalalkan segala cara, termasuk cara yang tidak hahal. Departemen Pengadilan Ilahi tetap buka walaupun hukum manusia tidak pernah adil. Setiap orang dianugerasi kesempatan untuk menang/ sukses, namun tidak semua orang mau memperbesar kapasitas diri untuk sukses dan berlari menjemput sukses. Mereka memilih sibuk mencari kesalahan pada orang lain dan Tuhan seperti yang dilakukan Subali. Ini adalah masalah kepemimpinan diri. Bagaimana dengan fenomena di sekitar Anda?


Semoga bermanfaat!

Kamis, 19 Juni 2014

Belajar dari Negeri Tokusatsu: Local Identity, Golden Ticket Masuk Arena Bisnis

Suka atau tidak, saat ini kita masih dijajah Jepang! "Penjajahan" kali ini bukan serangan fisik atau perebutan area dan penguasaan resource. Penjajahan kali adalah penjajahan moral dengan medan pertempuran yang melibatkan hati dan pikiran anak (muda). Bayangkan saja saat ini sebagian besar generasi muda kita lebih mencintai dan mengenal cerita dan tokoh kejeJepangan daripada cerita lokal sendiri. Mereka lebih bangga menggunakan atribut sono daripada atribut sendiri. Anda ingat? Sejak 80an kita mengenal film kartun (anime) Voltus V, Go Shogun, Ultraman, Doraemon, Kamen Rider, dan sebagainya. Saat itulah, "penjajahan" kedua mulai dilakukan.

Tak bisa dipungkiri, anime, manga (komik) yang berisi karakter-karakter made in Japan menarik untuk disimak. Ada Dragon Ball, Naruto, Bleach, One Piece, Gundam, hingga sederet nama jagoan berkostum (Tokusatsu) yang lekat dengan hati anak muda. Tanpa sadar, kita  mulai mengenal istilah dorayaki, ramen, samurai, shogun, ninja, bahkan mulai mampu berbahasa Jepang karena kebiasaan menonton anime. Jepang adalah salah satu negara yang sukses membawa produk industri kreatifnya goes international sejak tahun 50an. Industri tersebut telah menjadi penopang ekonomi Jepang secara luar biasa. Bagaimana mereka melakukannya?

Mempelajari karakteristik beberapa Intellectual Property (IP) menghantarkan saya pada satu kesimpulan, terdapat kesamaan pola pengembangan produk antar IP. Mereka percaya diri menjual muatan lokal (local content). Coba perhatikan beberapa gambar berikut:

IP Kamen Rider Gaim

 IP Gundam & Kostum Samurai Shogun

IP One Piece & Bleach

Pola apa yang dapat Anda simpulkan? Selalu ada unsur budaya Jepang disana!

Mereka begitu yakin bahwa unsur budaya inilah yang membuat mereka eksis dan berasa unik. Mereka mampu mengkombinasikan budaya tradisional dengan budaya pop secara tepat melalui disain alur cerita yang baik dan benar. Saya mencoba mendekonstruksi 3 poin kunci dari aturan pengembangan IP Jepang yang dapat kita pertimbangkan:

1. Jadilah diri sendiri
Local content adalah keunikan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Tidak perlu menjadi Amerika, Eropa, Jepang, atau Korea untuk dapat bersaing. Kita pasti kalah jika menjadi seperti mereka karena mereka jauh lebih ahli. Jadilah diri Anda sendiri. Apapun produk Anda, apapun brand yang sedang Anda kembangkan (entah itu personal brand), menemukan keunikan diri/ muatan lokal adalah hukum pertama keunggulan besaing. Keunikan potensial menjadi kekuatan. Hanya dengan jatidiri yang jelas, daya saing akan muncul dengan sendirinya. 

2. Bagaimana membuat jadi menarik
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana membuat keunikan tersebut menjadi menarik dan layak dinikmati pasar masa kini. Jepang melakukannya melalui strategi sintesis dan sinerji. Mereka selalu meramu dan mengkombinasikan secara apik antara budaya tradisional dan pop. Local content sebagai simbol keunggulan bersaing dan jatidiri, sedangkan budaya pop dan teknologi sebagai "media" untuk memasuki kekinian pasar. Seringkali kita perlu sedikit memutar jalan sebelum sampai ke tujuan. Industri kreatif Jepang tidak menjual budaya tradisional secara vulgar. Mereka tidak terang-terangan menampilkan opera klasik untuk konsumsi pasa sekarang. Mereka menggunakan strategi softselling. Mereka sedikit men-twist budaya lokal menjadi seolah-olah budaya pop modern. 

3. Jual pada pasar yang tepat dengan cara yang tepat
Hal terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah bagaimana cara jual yang tepat? Tentunya kita wajib memahami persona segmen kita. Saya menulis dalam artikel lain tentang Ultraman (baca selengkapnya) . Saya menceritakan analisis saya atas alasan Tsuburaya tetap mempertahankan teknik live action yang antik dan cerita sederhana yang diulang-ulang. Semua ini dipertahankan karena segmentasi. Audien Ultraman adalah anak-anak yang sederhana dan menyukai pengulangan. Selain mengenal persona, poin penting dari menjual adalah gunakan channel dan media yang tepat. Sebagian besar bisnis IP Jepang menggunakan strategi transmedia storytelling. Strategi yang akhirnya juga "diadopsi" perusahaan hebat seperti Apple dan Walt Disney.

Sukses industri konten kreatif Jepang telah mengajarkan kita semua pentingnya local identity, satu keunikan yang menjadi golden ticket memasuki industri, arena bisnis kelas nasional maupun internasional. Konsep ini tidak hanya efektif untuk bisnis IP. Semua jenis bisnis perlu membangun diferensiasi. Menariknya, Tuhan telah menciptakan masing-masing kita dengan keunikan. Keunikan yang jelas bertujuan. Temukan, kemas, dan jual keunikan bisnis Anda dan semoga sukses!

Rabu, 18 Juni 2014

American Dream: Mengakhiri Offshoring, Membangun Autobots

"If you're thinking of outsourcing/ offshoring as the most efficient procurement strategy, you are quite out of date"
Dalam The World is Flat, Thomas Friedman memberikan visi besar tentang outsourcing dan offshoring sebagai dampak dari globalisasi. Menurutnya, pergeseran ini akan merubah tatanan model bisnis dunia. Negara besar seperti Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa tengah melemparkan proses produksi dan pekerjaan jasa mereka ke Asia, terutama China dan India. 

Thesis ini diperkuat kembali dengan hadirnya A Whole New Mind karya Daniel Pink yang juga menegaskan tentang dominasi China dan India terhadap perekonomian dunia karena perannya sebagai tujuan offshoring. Akibatnya, salah satu tugas berat presiden Amerika Serikat adalah menanggulangi masalah pengangguran besar-besaran yang terjadi di sana. Kenyataan ini menjadi paradoks bagi negara-negara besar, khususnya Amerika. Di satu sisi, perusahaan ingin melakukan outsourcing/ offshoring dengan tujuan efisiensi besar-besarnya untuk mencapai kemakmuran yang makin besar pula. Di sisi lain, pengangguran mulai berkembang luas. Lapangan pekerjaan makin tertutup bagi pekerja Amerika.

Tanpa disadari secara penuh, proses transfer pengetahuan, teknologi, dan inovasi juga telah terjadi secara gratis ke China dan India, serta negara produsen lain. Mereka, khususnya China mulai membangun bran-bran sendiri yang siap bersaing berebut pasar dengan bran Amerika. Zhang Xin, ratu properti China dalam sebuah wawancara memprediksi bahwa suatu saat China tidak lagi menjadi negara sasaran offshoring, bangsa China bukan lagi pekerja murahan, namun akan bangkit dan sejajar dengan negara-negara penguasa dunia lainnya. Bahkan, diam-diam saat ini para akademia India tengah sibuk membangun fokus penelitian bagi permodelan bisnis India yang jelas tujuannya, untuk bersejajar dengan negara besar lain, seperti yang dituturkan oleh Ranjit Goswami, Dekan IMT Nagpur. Revolusi bisnis China dan India sangat identik dengan revolusi yang dilakukan Jepang setelah revolusi Meiji. Mereka berawal dengan memposisikan diri sebagai negara penjiplak, pengembang tanpa henti, hingga akhirnya menjadi negara “pencipta”.

Lalu, bagaimana dengan Amerika?

Amerika bukan negara newbie. Mereka tidak diam saja. Rethink Robotics, salah satu perusahaan manufaktur pencipta robot di Boston telah sepakat membangun The Dream of America dengan menarik kembali pekerjaan-pekerjaan yang telah dilemparkan ke negara lain. Mereka siap membangun pasukan autobot untuk mengurangi outsourcing dan offshoring. Baxter, salah satu robot ciptaan RR yang memiliki kepekaan dan kemampuan membaca dan menirukan gerakan fisik manusia siap untuk menjiplak kegiatan operasional rutin yang dilakukan secara otomatis, lebih stabil, cepat, dan efisien. Memang secara perhitungan, hal ini belum cukup mengembalikan lapangan kerja Amerika yang teralihkan. Namun setidaknya, pembangunan infrastruktur robot diharapkan akan mengembalikan peredaran kapital (termasuk resep intellectual capital) yang telah lama berpindah tangan. Selamat datang di pergeseran era baru, Autosourcing, sebuah era yang sedang benar-benar serius berambisi menggantikan pekerjaan manusia.


Semoga bermanfaat!

Sabtu, 14 Juni 2014

Mengapa Seseorang Gagal?

Saat itu, musim kering melanda desa. Sudah beberapa musim tidak turun hujan. 2 orang petani terancam gagal panen lagi tahun ini. Tiga bulan mereka berdoa memohon welas asih Sang Kuasa untuk sudi meneteskan hujan.

Hari berikutnya, mereka bertemu dan salah satu diantara mereka berkata, "Aku sudah capek berdoa, aku juga sudah capek menunggu. Sekarang aku pasrah saja." Petani ini akhirnya menjadi pesimis, menyerah dan berpangku tangan meratapi nasib yang yang memang selalu sial. Petani lainnya, tetap optimis. Ia mengambil langkah baru. Sambil tetap menjalankan ritualnya, ia mulai berjalan tegap menuju ladang, mencangkul tanah dan menyiapkan sebidang besar lahan untuk menanam benih. 

Tiga hari selanjutnya, si optimis mulai menanam benih jagung. Tepat hari kelima, keajaiban terjadi! Hujan lebat datang. Betapa bahagianya hati si optimis. Ia bersujud mengucap syukur pada Sang Pencipta. Dalam batinnya, Tuhan berkata, "terima kasih nak, kau telah menyiapkan wadah agar Aku dapat berkarya lewat hidupmu." Sebaliknya, si pesimis begitu menyesal. Sekali lagi ia harus melewati musim tanpa panen. Ia punya keyakinan yang baik, tapi tidak bersabar dan bertekun. Ia memang berdoa, namun tidak banyak bertindak.

Menjadi sukses bukan semata-mata tentang bermimpi dan berharap. Menjadi sukses perlu tindakan nyata. Sukses yang nyata akan dialami ketika seseorang mampu memperbesar kapasitas diri (wadah) untuk menerima kesuksesan. Makin besar sukses yang diharapkan, makin besar pula wadah yang harus disiapkan. Kapasitas dapat berupa bakat yang dikembangkan, perbaikan sikap dan karakter diri, atau kesiapan mental dan moral yang baik. Jika saat ini Anda telah berupaya memperbesar kapasitas Anda, tetap yakin dan bertekun, karena mungkin besok, minggu depan, atau bulan depan akan tiba masa panen Anda.

Semoga bermanfaat!