Minggu, 15 Desember 2013

Tsuburaya Smart Story Marketing

Di era 60an, Tsuburaya Production, perusahaan IP Jepang mulai memproduksi film yang mengangkat Ultraman, alien dari planet M78 yang datang ke bumi dengan tujuan menjaga keutuhan bumi dari serangan Seijin (alien) dan Kaiju (monster). Tidak ada yang spesial dibanding IP-IP buatan Barat, hanya karakter berukuran raksasa memakai kostum ketat kombinasi warna silver-merah dengan alur cerita yang diulang-ulang tiap episodnya. Hebatnya, Ultraman dengan teriakan "schowachh!-nya" telah bertahan lebih dari 50 tahun, melewati generasi ke generasi dan hingga saat ini, Tsuburaya masih melanjutkan inovasinya melalui IP yang sama, Ultraman. Apa rahasianya?

Beberapa bulan lalu, anak saya sedang getol-getolnya menyelesaikan serial Ultraman Never Ending Oddisey. Sejak itu, ada saja permintaan untuk dibelikan action figure Kaiju (monster). Suatu sore, saya mendampingi anak saya nonton salah satu episod film tersebut dan saya menemukan alasan utama mengapa anak saya mulai tergila-gila dengan mainan Ultraman. Setiap episod, film ini menampilkan adegan pertarungan monster antik dengan efek yang pas-pasan dibanding Pacific Rim. Begitu pula dengan teknologi senjata dan armada tempur yang masih mempertahankan teknik live action jadul dengan warna warni yang norak. Tiap episod mengisahkan latar belakang dan kekuatan monster imajinatif, pesan-pesan sederhana yang diulang-ulang dan lebay tentang teamwork, persahabatan, semangat juang, dan kemenangan kebaikan (lightness) atas kejahatan (darkness). Begitu seterusnya. 

Satu hal yang menarik, pada akhir episod, para aktor dengan cosplay terang-terangan menawarkan berbagai merchandise action figure sambil menjelaskan kembali “fitur-fitur” kekuatan monster. “Ini dia penyebabnya!”

Saya mulai berpikir alasan mengapa mereka mempertahankan teknik live action tradisional (dengan mengambil gambar perabotan fisik berwarna norak, bukan digital melalui software 3D dan tone warna yang keren), tidak lain adalah agar produk mainan yang dibuat memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dengan filmnya. Perusahaan menggunakan film sebagai media “iklan”. Anak-anak dipengaruhi melalui story dengan pesan-pesan sederhana (sesuai psikografi anak), baru diberi tawaran merchanidise. Keterikatan stori inilah yang menggerakkan passion, keinginan untuk memiliki. Film berfungsi sebagai media marketing ketimbang revenue stream. Dan story sebagai sarana penyampaian value yang mampu bekerja melalui alam bawah sadar anak-anak. Alur story yang diulang-ulang justru memudahkan kisah-kisah Ultraman melekat di benak anak-anak. 

Revenue stream dari lisensi sudah pasti sangat menjanjikan. Tidak hanya mainan dan merchandising, bahkan lagu (OST) juga jadi obyek penjualan. Lisensi merchandising Tsuburaya dipegang oleh Bandai, perusahaan mainan terbesar di Jepang. Dan yang perlu Anda ketahui, Yamashina Makoto, CEO Bandai dalam Asiaweek.com menyampaikan:
“One enduring icon: the alien Ultraman, who has been "protecting the earth since 1966." The silver-and-red super hero has appeared in more than 500 live-action TV episodes. Ultraman merchandise brings in some $200 million (app. to Rp. 2.000.000.000.000) a year.”
Wow! Tsuburaya terus berinovasi membuat karakter dan cerita baru untuk terus membesarkan revenue stream lisensi dan merchandise melalui story (cerita). Coba cari dengan kata kunci “Ultraman Ginga” dan Anda akan menemukan strategi bisnis Tsuburaya yang makin menjadi-jadi (lihat trailer di: ultraman ginga trailer-opening).

Semoga bermanfaat!

Kamis, 12 Desember 2013

Mengapa Masih Mengandalkan Strategi 20 Tahun Silam untuk Menghadapi Arena Bisnis Masa Kini?

Strategi fokus pada pesaing mulai populer sejak Michael Porter memperkenalkan model five forces dalam buku Competitive Strategy di tahun 90an. Proposisi Porter ini menjadi bagian dari kurikulum pendidikan bisnis, termasuk Indonesia. Strategi ini memang sangat relevan dan efektif ketika sebuah bisnis berada dalam era industri. Namun waktu telah berjalan lebih dari 20 tahun.

Sebagian besar startuper maupun pengusaha mapan mengeluhkan kondisi bisnis yang dianggap makin sulit. Persaingan lokal, masuknya produk asing, kebijakan pemerintah, dan berbagai faktor eskternal lain menjadi sumber masalah. Jalan pemangkasan biaya dan efisiensi (strategi low cost) menjadi pilihan terbaik setidaknya untuk survive. Pilihan demikian tidak selalu menyelesaikan masalah karena pemangkasan biaya-biaya dan efisiensi yang tidak tepat akan berdampak langsung pada kualitas resource, terutama sumber daya manusia.

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan manfaat strategi “fokus pada persaingan” yang ditawarkan Porter lebih dari 10 tahun silam. Bahkan baru saja saya mempelajari kejatuhan Monitor Group, perusahaan konsultan bisnis Porter. Analisis berita online Forbes mengungkap:
“What’s gone wrong here was Porter’s initial thought. The purpose of strategy—or business or business education—is not about coping with competition–i.e. a contest in which a winner is selected from among rivals. The purpose of business is to add value for customers and ultimately society. There is a straight line from this conceptual error at the outset of Porter’s writing to the debacle of Monitor’s bankruptcy. Monitor failed to add value to customers. Eventually customers realized this and stopped paying Monitor for its services.”
Kondisi bisnis masa lampau tidak sama dengan kondisi saat ini. Dua puluh tahun yang lalu, suntikan dana dari investor, teknologi tinggi, akses informasi relatif lebih langka dari sekarang. Penguasa resource pada saat itu memiliki jaminan sukses yang lebih besar. Sekarang, era telah bergeser dari industri menuju era informasi. Perolehan resource menjadi jauh lebih mudah. Akses internet memungkinkan siapa saja untuk saling mendapat peluang investasi, melalui teknologi informasi yang cepat dan murah, bahkan sangat mudah untuk memperoleh data industri dan pesaing melalui penyedia database seperti Euro Monitor, Osiris, atau Global Vantage. Keterbatasan modal juga dapat segera diatasi melalui program-program kompetisi, crowd funding, atau kehadiran angel investor, selama kita mampu memberikan value kepada stakeholder.

Bahkan, para pakar menyebut bahwa saat ini dunia kembali bergeser memasuki era baru, era konseptual, era yang menuntut pelaku bisnis fokus pada kemampuan kreasi dan inovasi value dengan baik. Bukan lagi terfokus pada strategi rival movement dan product development semata, namun harus sudah bergeser pada customer value development.

Semoga bermanfaat!

Senin, 02 Desember 2013

Inspirasi dari Disney: Oswald The Unlucky Rabbit

Seluruh dunia mengenal nama Walt Disney. Dia seorang seniman, seorang entrepreneur hebat, dan family man. Pertama kali mempelajari biografi Walt, perhatian saya terhenti pada pengalaman saat ia mendapat kesempatan menciptakan Oswald Rabbit untuk Charles Mintz, Universal Studio. Bagai kejatuhan durian, Walt sangat bersemangat dengan kerja sama tersebut dan berharap mendatangkan sukses besar bagi studio mungilnya. Namun kenyataan tak selalu seindah harapan. Alih-alih mendapat keuntungan, tokoh Oswald ternyata diambil alih kepemilikannya oleh Mintz secara sepihak dan Walt “disingkirkan” dari sana. Saat itu, Oswald the lucky rabbit sudah menjadi the unlucky rabbit. Keputusan strategis yang telah diyakininya membawa sukses akhirnya membawa petaka bagi studio Walt yang saat itu belum memiliki ikon andalan, Mickey Mouse.
Dalam buku Strategy Paradox, Michael Raynor menyebutkan:
“Strategies with the greatest possibility of success also have the greatest possibility of failure”. 
Tanpa disadari, seringkali rasa percaya diri pebisnis yang terlalu tinggi dalam bertindak akan mengaburkan risiko gagal yang tersembunyi dibalik peluang sukses. Yang menjadi masalah adalah ketika kepercayaan diri yang sangat tinggi tadi tidak diimbangi dengan strategi dan skenario yang cermat dan cerdik. Saat itu, Walt tidak mempertimbangkan adanya kemungkinan skenario terburuk karena eforia yang sedang ia nikmati. 
Apa yang dapat kita pelajari dari kisah sederhana ini adalah pentingnya kewaspadaan untuk mengimbangi overkonfiden yang melekat di dalam benak tiap manusia. Sebagai contoh implikasinya, selalu pelajari setiap kontrak kerja sama dengan sangat rinci, lindungi setiap ciptaan kita berlandaskan hukum yang berlaku, dan kenali partner bisnis dengan sangat baik sebelum menjalani kerja sama.
Semoga bermanfaat, bagikan pengalaman dan komentar Anda di sini.