Jumat, 08 November 2013

Mengurai Bahan Terbaik "Kimchi" (10 Prinsip Sukses Industri Kreatif Korea) - Bagian 3

7. Focus 
Tepat jam 15.00 kami tiba di sebuah gang kecil. Terdapat sebuah bangunan 2 lantai mungil bertuliskan FX Gear. Perusahaan yang telah menghasilkan teknologi core effect untuk produksi film Disney dan Dreamwork. Jika Anda pernah mendengar beberapa plug in 3D application Maya seperti Qualoth, FluX, FXHair, atau EzCloth, di ruang mungil di daerah Apgujeong mereka diciptakan.

Membuka acara, CEO FX Gear memberikan pidato sederhana yang dilanjutkan oleh tim manajemen untuk menyambut kami. Mereka adalah orang-orang hebat di bidang software. Skill mereka sangat mumpuni untuk membuat game atau animasi kelas Holywood. Namun mereka tetap saja berkecimpung pada proses produksi software saja. Mengapa?

COO FX Gear menyampaikan bahwa kami hanya ingin menjadi fokus. Kami fokus pada penyedia core effect untuk produksi produk lain. Saya pikir, strategi ini sangat membantu FX Gear dalam melakukan positioning dan proses manajemen resource dengan baik. Mereka mampu mengoptimalkan resource untuk fokus dan tujuan yang jelas dan tegas. 

Lihat demo Qualoth di sini: http://www.youtube.com/watch?v=3xL52oMjUL4


8. Academic atmosphere 
Sambil menikmati sebotol jus lidah buaya, kami melanjutkan diskusi dengan tim FX Gear. Bagi saya, tim ini adalah tim paling ramah, terbuka, dan menyenangkan. Mereka siap menjawab berbagai pertanyaan kami dengan memuaskan. Nama besar FX Gear mulai bersinar sejak mereka mendapat proyek kerja sama dengan Disney sebagai penyedia teknologi efek. Nama Disney menjadi typing point penting bagi kemajuan FX Gear hingga saat ini. Setelah mendapat social proof dari Disney, mudah bagi FX Gear untuk mendapat klien lain. Mereka juga “bermain” di area software Maya yang memang sudah well-known. Saya pikir ini bukan kebetulan dan idealisme, ini adalah strategi bisnis yang matang.

Selain fokus, FX Gear nampaknya memiliki milestone yang sangat rapih. Saya sangat terkejut saat mereka berbagi tentang kulitas SDM. Sebagian besar anggota tim mereka adalah PhD alias doktor di bidangnya. Dari cara berbicara dan wawasan tampak jelas bahwa pendidikan mereka sangatlah tinggi. Satu poin lagi yang saya catat di sini, bahwa pendidikan itu penting. Dalam memajukan industri kreatif, tidak cukup mengandalkan kemampuan otodidak. Minimal, pendidikan yang baik akan menciptakan cara berpikir yang baik. Dan cara berpikir yang baik akan mendorong sikap dan tindakan yang baik. Inilah kekuatan human capital dari FX Gear yang mampu meningkatkan market value. 


9.Network 
Perjalanan hari ke-3 diakhiri dengan diskusi dengan ENEM, sebuah perusahaan atau studio animasi dengan IP andalan Garlic Boy. Hmm, saya sangat asing dengan nama Garlic Boy. Setelah memperkenalkan diri, tim ENEM mengajak kami untuk meliat demo IP tersebut. Dilanjutkan dengan demo-demo animasi lain produksi ENEM. Bagi saya, tidak ada yang istimewa dari karya mereka. Saya memperhatikan pertumbuhan animasi di Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan ENEM. Di Indonesia ada Didi Tikus, Songgo Rubuh, Hebring, Nini, Vienetta, Garuda Riders, dan beberapa IP lain yang dalam beberapa aspek jauh lebih baik.

Sesaat memperhatikan demo mereka, saya tertegun melihat cuplikan film Sammy Adventure, salah satu film favorit saya. Dalam hati bertanya, apakah ENEM yang mengerjakan Sammy? Dan ternyata, mereka hanya menerima order untuk melanjutkan pipeline produksi film tersebut dengan standar animasi dan modeling yang sudah disediakan oleh Canal Studio. Namun bagi ENEM, ini adalah sharing knowledge yang sangat bernilai. Bagaimana mereka mampu menjadi pabrikan dari film ternama?

Inilah kekuatan network. ENEM adalah salah satu studio “didikan” GTEC. Di sini, GTEC lebih dominan berperan sebagai konektor yang mempertemukan ENEM dengan klien. Network GTEC yang sudah sangat luas dan kuat dengan berbagai perusahaan Barat menjadi jembatan yang saling menguntungkan. Dan inilah kekuatan industri kreatif Korea, mereka saling berjejaring dan saling mempromosikan satu sama lain.

Melepas lelah, malam harinya kami mengunjungi pusat belanja 24 jam, Tungdaemun. Sambil cuci mata, sekalian membeli beberapa oleh-oleh yang tidak ada di Indonesia. 


10. Emphaty 
Hari ini, hari ke-4 bisa menjadi hari terakhir saya di Korea Selatan mengingat esok hari kami sudah harus bangun pagi dan bergegas ke bandara Incheon. Sebagai formalitas, pagi hari kami berkunjung ke Kedutaan Besar Inonesia di Yeuido sekadar ramah tamah dan urusan administrasi. Memasuki area ruang tamu, tidak ada sambutan sama sekali. Kami yang harus proaktif mendatangi meja resepsionis yang cukup “dingin”. Hampir 1 jam kami menunggu tanpa hasil. Tak ada satupun pihak yang bisa menemui kami berikut menyelesaikan urusan administrasi perjalanan tersebut. Akhirnya kami hanya bertemu dengan salah seorang kawan pak Dirjen yang kebetulan lewat di sana. Herannya, mereka (staf) begitu ramah dengan tamu-tamu orang Korea, namun tidak dengan sebangsanya. 

Tanpa berlama-lama, kami segera keluar dan menuju perjalanan terakhir, Nami Island. Sepanjang jalan, pepohonan dengan daun berwarna kuning dan merah menyapa saya sambil berpose ingin diabadikan. 2 jam perjalanan dan tibalah kami di dermaga penyeberangan menuju pulau “Winter Sonata”. Setelah membeli tiket, kami mengantri cukup panjang hingga kapal feri yang mengangkut kami tiba. Saya langsung menuju dek atas untuk menikmati pemandangan Nami. Saya sangat terkejut menoleh ke arah kanan dan melihat bendera Indonesia ada di kapal tersebut, berjajar dengan bendera-bendera negara lain, seolah Nami Island telah menantikan kahadiran saya, warga negara Indonesia.

Hanya beberapa menit, saya sudah menginjakkan kaki di pulau romantis tersebut. Pemandangannya sangat indah, pohon-pohoh berwarna khas musim gugur dengan selentingan instrumentalia lirih yang mendayu-dayu, seolah mengiringi pohon-pohon berdansa. Beberapa puluh meter berjalan, sekali lagi saya melihat bendera Indonesia dengan kalimat dibawahnya, “Selamat Datang” dipasang di sana, berjajar dengan bendera negara lain. Hati saya makin bahagia mendapat sambutan hangat, berbeda dengan saat menghadapi resepsionis Kedubes tadi. 

Lepas dari keindahan Nami, membangun empati atau hubungan emosional dengan pengunjung adalah salah satu strategi terbaik yang telah diaplikasikan oleh tim manajemen Nami Island. Sambil mengenang romantisme Nami Island, perjalanan hari itu diakhiri dengan shopping fiesta di Namdaemun, pusat perbelanjaan Korea Selatan lainnya.


Tak terasa berakhir sudah perjalanan menyusuri pusat industri kreatif Korea Selatan. Semoga 10 bahan-bahan terbaik "Kimchi" ini dapat menjadi teman "sarapan" yang menyehatkan.

2 komentar:

  1. Selamat datang kembali di Indonesia, senang mendengar cerita anda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas Aaq. Senang juga memiliki kesempatan berbagi.

      Hapus