Minggu, 03 November 2013

Mengurai Bahan Terbaik "Kimchi" (10 Prinsip Sukses Industri Kreatif Korea) - Bagian 1

Korea Selatan sudah menjadi salah satu trend setter dunia teknologi, fashion, animasi, game, dan pop culture. Semenjak masuknya K-Drama Winter Sonata, kemudian demam boy/ girlband atau disebut K-Pop, hingga menjamurnya produk-produk Korea semacam Samsung, telah memposisikan Korea sebagai salah satu negara yang dibanggakan, khususnya di kalangan anak muda Indonesia. Sekarang, mengkonsumsi produk Barat atau Jepang tidak cukup keren lagi dibanding produk keluaran Negeri Ginseng ini. Leveraging Korea Selatan untuk memposisikan dirinya sebagai pusat perhatian dunia begitu cepat, bahkan tak terasa prosesnya hingga menyisakan sebuah misteri, bagaimana mereka melakukannya?

Perjalanan saya di Korea Selatan beberapa waktu lalu bersama tim Kementrian Perindustrian dan para pemenang INCREFEST 2013 mengungkap prinsip keberhasilan industri kreatif Korea yang sangat layak dibagikan dan dijadikan bahan refleksi bagi kita semua. Melalui catatan perjalanan ini, saya akan menguraikan 10 prinsip sukses bisnis kreatif Korea yang saya amati selama perjalanan dan business visit di perusahaan-perusahaan yang layak dijadikan referensi pembelajaran.


1. Small professional team 
Setiba di bandara Incheon, kami langsung menuju GTEC, sebuah universitas yang fokus di bidang teknologi dan komputer, mungkin seperti Binus atau ITS di Indonesia. Turun dari rombongan mobil bemerk Hyundai, saya segera merasakan nuansa udara sejuk sekitar 12 derajat C dengan pemandangan musim gugur yang indah. Mahasiswa yang berlalu lalang dengan penampilan ala boy/ girlband sudah menjadi hal biasa di sana. Sebuah kampus yang sangat rindang dengan disain mewah di daerah Gyonggi. Setelah menikmati sebotol jus jeruk dan meregangkan otot-otot yang kaku selama perjalanan di pesawat, kami bertemu dengan presiden GTEC untuk beramah tamah sekaligus menjalin kerja sama kementrian perindustrian dan GTEC di masa mendatang.

Tanpa terasa hari menjelang siang dan tim manajemen GTEC menyambut kembali dengan hidangan makan siang ala Korea yang belum mampu diterima oleh mulut dan perut saya. Ada Bulgogi porsi superbesar dan sekumpulan Kimchi, teh Ginseng yang berasa sangir, dan teh buah. Dalam hati, saya mulai memikirkan nikmatnya masakan Indonesia. Setelah hidangan penutup usai, kami mendapat kesempatan untuk mengikuti semacam rally kampus. Kami berkeliling melihat proses perkuliahan, workshop, sambil berdiskusi dan berbagi tentang pengalaman. Secara teknis, kurikulum pendidikan, teknologi, dan skill mahasiswa di bidang IT tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Namun satu hal yang menjadi perhatian saya, bahwa untuk sebuah program studi media, mereka cukup mempekerjakan 4 orang dalam satu tim, salah satunya adalah Mr. KJ seorang evangelist Apple yang telah berpengalaman dalam compositing film box office seperti GI Joe dan Avenger. Tim yang sangat efisien dan mampu membangun brand kelas internasional serta telah bekerja sama dengan banyak bisnis di dalam dan di luar Korea. Mereka tidak butuh tim besar yang memboroskan dan menguras banyak resource. Cukup 4 orang yang sangat profesional, mereka mampu menggerakkan “Jaeger” yang sangat besar. 


2. Experience 
Hari permata diakhiri dengan kunjungan ke Samsung D’light di daerah Gangnam. Gedungnya mirip dengan kumpulan mal yang saling tehubung. Memasuki pintu utama, kami disambut oleh seorang pemandu yang menyilakan kami menuju ruang pamer. Cukup mengesankan, di dalam ruang dengan display yang cukup besar, terpampang sebuah ucapan selamat datang kepada rombongan Kemenperin Indonesia. Sejenak, rasanya begitu bangga mendapat sambutan dari Samsung. 

Sambil memamerkan produk terbaru seperti Galaxy Gear dan Ultra HD TV, pemandu mengajak kami berkeliling sambil merasakan pengalaman langsung mencoba inovasi Samsung seperti fasilitas hiburan Augmented Reality di D’light Stage, game simulasi tarian Gangnam Style, serta apliaksi pendidikan terbaru Samsung. Saya sangat menikmati hiburan dan pameran tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan. Dan tiba pada rute terakhir, kami dipandu memasuki Samsung Shop, area belanja Samsung yang cukup luas. Dalam hati, ingin sekali memborong produk-produk tersebut. 

Satu hal yang saya pelajari dari kunjungan ini, bahwa Samsung begitu sadar akan pentingnya penciptaan pengalaman terbaik bagi pengunjung sebelum menjual produk. Pengalaman tersebut akan menciptakan kesan dan persepsi. Dengan memberikan pengalaman terbaik, tentu saja kesan dan persepsi yang baik akan mengikuti. Dan saya pikir, ini adalah prinsip Apple jauh sebelum Samsung melakukannya. 

Diselimuti malam cerah yang dingin, kami kembali ke asrama untuk mengumpulkan enerji untuk acara esok yang tak kalah serunya.

...bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar