Rabu, 13 November 2013

Bagaimana Menggerakkan Kreativitas Tim?

Seringkali kita berhadapan dengan sebuah tim yang tidak kreatif, mereka orang-orang pasif, tanpa inisiatif, penikmat zona nyaman, dan pemikir mainstream. Kondisi demikian tentunya menjadi beban baru disamping beban untuk memyelesaikan pekerjaan itu sendiri. Lalu, hal terbaik apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah demikian?

Hingga saat ini, saya masih berkeyakinan bahwa setiap manusia adalah makhluk yang kreatif yang diciptakan serupa dengan gambar Sang Pencipta. Manusia adalah pribadi paling sempurna dengan kemampuan kognitif yang luar biasa. Hanya saja, kreativitas juga perlu mengalami proses pertumbuhan hingga kahirnya berbuah layaknya sebuah tanaman. Kreativitas perlu dirawat, dipupuk, disirami, dan mendapat sinar matahari cukup atau yang saya sebut sebagai proses. Kreativitas perlu dilatih. Dan Lingkungan merupakan salah satu faktor penentu terbesar bagi pertumbuhan kreativitas. Tanpa atmosfer kerja yang kondusif dan mendukung pertumbuhan kreativitas, jangan pernah berharap kita memiliki tim yang kreatif.


3 Penggerak Kreativitas
Sejak bulan lalu saya mendapat tantangan yang cukup berat untuk mengajarkan entrepreneurship bagi para praktisi akuntansi, lulusan pertanahan, dan farmasi di program Magister Akuntansi Universitas Surabaya. Saya hanya mendapat 4 kali kesempatan untuk mengajarkan konsep strategi dan business model yang sarat dengan kreativitas. Bagi saya, kami (saya dan peserta) adalah sebuah tim yang harus mencapai tujuan "memahami strategi dan business model" dengan cara kreatif. Jika peserta gagal mencapai tujuan tersebut, maka sayapun gagal sebagai "team leader". Saya harus berpikir keras mencari metode pembelajaran yang paling praktis dan efisien. Menurut pengamatan selama ini, mengajar dengan metode presentasi dan lecturing konvensional akan sangat membosankan dan menurunkan motivasi belajar. Melalui pengembangan dan modifikasi dari pemikiran konsep Drive (Daniel Pink), saya mencoba untuk menerapkan 3 Faktor Penggerak Manusia yang ia tawarkan, yaitu: 
  1. Tujuan, 
  2. Otonomi,
  3. Masteri. 
Hasil evaluasi yang saya dapatkan sangat mengagumkan, seluruh mahasiswa merespon secara positif dan mengaku bahwa kreativitas mereka sangat terasah selama sebulan. Bagaimana caranya?


1. Tujuan
Pada awal perjumpaan, saya menanyakan motivasi dan tujuan mengikuti subyek entrepreneur tersebut. Setiap peserta harus bercerita dan menyampaikan harapannya. Semua memberi jawaban positif seperti menambah wawasan, membangun network, dan merubah cara berpikir. Jawaban tersebut menjadi sebuah komitmen yang terpublikasi sehingga secara psikologis, setiap orang akan lebih berkomitmen terhadap targetnya. Kemudian saya memberikan feedback dan tantangan, bahwa harapan tersebut hanya dapat tercapai ketika kita mau berproses, serius, bertanggungjawab, dan tekun. Dalam perjalanannya, sesering mungkin saya mengingatkan motivasi-motivasi mereka.


2. Otonomi
Dalam setiap pertemuan, saya mencoba memberikan tugas-tugas yang cukup berat dan membiarkan mereka menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Kelas tersebut memiliki seorang leader. Saya tidak pernah peduli siapa yang akan bertugas presentasi pada minggu-minggu berikutnya. Bukan karena malas berurusan dengan hal teknis, namun saya ingin memberi otoritas pada kelas (tim) untuk menciptakan sistem dan prosedurnya sendiri seperti pepatah, "Seseorang akan lebih menghargai sebuah dunia dimana ia ikut membangunnya." Dan hasilnya, semua sesi kuliah berjalan dengan baik dan teratur.


3. Masteri
Setelah membangun komitmen tujuan yang jelas, sistem kerja otonomi yang baik, tantangan saya terakhir adalah bagaimana membuat setiap peserta mau dan mampu mengoptimalkan potensi dan bakatnya (masteri) di dalam setiap sesi kuliah. Saya jadi teringat strategi optimalisasi kekuatan pasukan Sun Zi. Ia menyatakan, "Bawalah pasukan menaiki tangga dan memasuki tembok lawan, kemudian buang tangga tersebut." Inti dari pernyataan ini adalah, buatlah sebuah tantangan. Sebuah tantangan yang dapat memfasilitasi pengembangan diri anggota tim. Saya memberikan banyak buku bisnis terbaik dan meminta mereka (yang terbagi dalam tim) untuk membaca dan menjadi pengajar, bukan sekadar presenter. Saya memberikan larangan penggunaan mic, memegang kertas apapun (termasuk contekan), dan larangan menggunakan presentasi konvensional kepada setiap performer. Mereka harus memastikan seluruh audien mendengar dan memberi perhatian selama sesi. Mereka wajib kreatif dan tampil menarik. Dan hasilnya, 3 minggu berjalan dengan rasa permainan, bukan perkuliahan. Ada yang tampil dengan drama, simulasi bisnis, gaya storyteller, game, dan penggunaan multimedia yang menarik. Mereka belajar sambil bersenang-senang. Saya tidak menerapkan nilai keaktifan di kelas atau tes-tes yang berorientasi pada skor. Bagi mereka, ini bukan semata-mata perjuangan meraih nilai, namun lebih dari itu, aktualisasi diri dan pengembangan potensi.


Bagi saya setidaknya pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap orang seharusnya bisa kreatif, selama lingkungan/ kondisi memberi dukungan yang kuat dalam hal penajaman tujuan, otonomi, dan peluang masteri. Tidak peduli latar belakang pendidikannya, setiap orang dikaruniai otak dan kemampuan kognitif yang luar biasa.

Terima kasih seluruh peserta subyek Talentpreneurship & Business Plan Angkatan 10-11 Magister Akuntansi Universitas Surabaya.



Testimoni Peserta:
"Perkuliahan sangat menarik, mahasiswa dipaksa membaca dan menyampaikan materi dengan menarik. Banyak memberi inspirasi, juga menggoyahkan dari keinginan membuat thesis ke business plan."
Reynard (Konsultan Akuntansi Manajemen)

"Membantu saya memberi ide bisnis orang tua. Saya belajar untuk bisa menjadi pencerita. Terima kasih untuk value yang diberikan."
Irene Widiartha (Pengelola usaha batubara)

"Sangat menyenangkan. Banyak hal baru yang saya dapatkan."
Intan P F (Karyawan Accounting)

"Luar biasa!"
Johan A

"Kelas menarik, tidak boring. Awalnya merasa terbeban, setelah dijalani, sangat menarik dan mendorong saya untuk kreatif. Saya memahami materi dengan mudah. Kelas juga hidup dan aktif, mungkin hal ini bisa diterapkan di perusahaan saya."
Febriana Octavia (Owner perusahaan ekspedisi)

"Baru kali ini saya diajarkan untuk lebih kreatif dalam menyampaikan materi kuliah. Kita diajar mengembangkan otak kanan agar suasana kelas lebih menyenangkan."
Kiki Suciningtias (Konsultan Manajemen)

"Menarik. Materi tidak monoton. Kuliahnya menginspirasi dan menambah keyakinan untuk memulai menjalani apa yang selama ini diimpikan."
Stecia (Konsultan Herbalife Nutrition, Owner Bianca Shop & After 5 Photobooth)

"Semua materi menarik. Memberi saya wawasan dan cara berpikir baru untuk kedepannya menjadi pebisnis sendiri. Saya sangat antusias terhadap kulian ini, saya menjadi lebih berani bicara di depan kelas. Sangat menginspirasi saya banget."
Faizah (Karyawan Swasta)

"Materinya menarik. Apalagi Blue Ocean dan Predictably Irrational. Menggugah pikiran saya dalam renacana membuka usaha sendiri."
Lia Intansari (Karyawan PT Pakuwon)

"Unik. Sesuatu yang belum pernah dijumpai di kelas sebalumnya. Biasanya kalau presentasi saya selalu pegang kertas dan saya dituntut untuk lepas kertas dan saya mulai terbiasa."
Fani Chrisyanti (Senior Consultant Synergy)

"Menarik, bagus, kreatif, kompak, terharu."
Pristanto (Apoteker)

"Metode pengajaran fun dan memberi semangat dalam berbisnis dengan wawasan berbagai macam strategi."
Achmad E F (Calon penguasaha apotek)

"Memberi inspirasi membangun bisnis tanpa modal dan berhasil."
Kurniawan S (Konsultan Pajak)

"Memotivasi sekali dengan apa yang saya lakukan sebagai konsultan dan ingin memberikan solusi inovatif bagi klien terutama dari sisi marketing. Membantu branding bisnis kedua saya, Pastel Tutup Bulan. Karena itu ide bisa langsung saya praktikkan."
Andreas (Konsultan Manajemen dan Pemilik Bisnis Kuliner Pastel Tutup Bulan)


Bagikan pengalaman Anda di sini.

Jumat, 08 November 2013

Mengurai Bahan Terbaik "Kimchi" (10 Prinsip Sukses Industri Kreatif Korea) - Bagian 3

7. Focus 
Tepat jam 15.00 kami tiba di sebuah gang kecil. Terdapat sebuah bangunan 2 lantai mungil bertuliskan FX Gear. Perusahaan yang telah menghasilkan teknologi core effect untuk produksi film Disney dan Dreamwork. Jika Anda pernah mendengar beberapa plug in 3D application Maya seperti Qualoth, FluX, FXHair, atau EzCloth, di ruang mungil di daerah Apgujeong mereka diciptakan.

Membuka acara, CEO FX Gear memberikan pidato sederhana yang dilanjutkan oleh tim manajemen untuk menyambut kami. Mereka adalah orang-orang hebat di bidang software. Skill mereka sangat mumpuni untuk membuat game atau animasi kelas Holywood. Namun mereka tetap saja berkecimpung pada proses produksi software saja. Mengapa?

COO FX Gear menyampaikan bahwa kami hanya ingin menjadi fokus. Kami fokus pada penyedia core effect untuk produksi produk lain. Saya pikir, strategi ini sangat membantu FX Gear dalam melakukan positioning dan proses manajemen resource dengan baik. Mereka mampu mengoptimalkan resource untuk fokus dan tujuan yang jelas dan tegas. 

Lihat demo Qualoth di sini: http://www.youtube.com/watch?v=3xL52oMjUL4


8. Academic atmosphere 
Sambil menikmati sebotol jus lidah buaya, kami melanjutkan diskusi dengan tim FX Gear. Bagi saya, tim ini adalah tim paling ramah, terbuka, dan menyenangkan. Mereka siap menjawab berbagai pertanyaan kami dengan memuaskan. Nama besar FX Gear mulai bersinar sejak mereka mendapat proyek kerja sama dengan Disney sebagai penyedia teknologi efek. Nama Disney menjadi typing point penting bagi kemajuan FX Gear hingga saat ini. Setelah mendapat social proof dari Disney, mudah bagi FX Gear untuk mendapat klien lain. Mereka juga “bermain” di area software Maya yang memang sudah well-known. Saya pikir ini bukan kebetulan dan idealisme, ini adalah strategi bisnis yang matang.

Selain fokus, FX Gear nampaknya memiliki milestone yang sangat rapih. Saya sangat terkejut saat mereka berbagi tentang kulitas SDM. Sebagian besar anggota tim mereka adalah PhD alias doktor di bidangnya. Dari cara berbicara dan wawasan tampak jelas bahwa pendidikan mereka sangatlah tinggi. Satu poin lagi yang saya catat di sini, bahwa pendidikan itu penting. Dalam memajukan industri kreatif, tidak cukup mengandalkan kemampuan otodidak. Minimal, pendidikan yang baik akan menciptakan cara berpikir yang baik. Dan cara berpikir yang baik akan mendorong sikap dan tindakan yang baik. Inilah kekuatan human capital dari FX Gear yang mampu meningkatkan market value. 


9.Network 
Perjalanan hari ke-3 diakhiri dengan diskusi dengan ENEM, sebuah perusahaan atau studio animasi dengan IP andalan Garlic Boy. Hmm, saya sangat asing dengan nama Garlic Boy. Setelah memperkenalkan diri, tim ENEM mengajak kami untuk meliat demo IP tersebut. Dilanjutkan dengan demo-demo animasi lain produksi ENEM. Bagi saya, tidak ada yang istimewa dari karya mereka. Saya memperhatikan pertumbuhan animasi di Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan ENEM. Di Indonesia ada Didi Tikus, Songgo Rubuh, Hebring, Nini, Vienetta, Garuda Riders, dan beberapa IP lain yang dalam beberapa aspek jauh lebih baik.

Sesaat memperhatikan demo mereka, saya tertegun melihat cuplikan film Sammy Adventure, salah satu film favorit saya. Dalam hati bertanya, apakah ENEM yang mengerjakan Sammy? Dan ternyata, mereka hanya menerima order untuk melanjutkan pipeline produksi film tersebut dengan standar animasi dan modeling yang sudah disediakan oleh Canal Studio. Namun bagi ENEM, ini adalah sharing knowledge yang sangat bernilai. Bagaimana mereka mampu menjadi pabrikan dari film ternama?

Inilah kekuatan network. ENEM adalah salah satu studio “didikan” GTEC. Di sini, GTEC lebih dominan berperan sebagai konektor yang mempertemukan ENEM dengan klien. Network GTEC yang sudah sangat luas dan kuat dengan berbagai perusahaan Barat menjadi jembatan yang saling menguntungkan. Dan inilah kekuatan industri kreatif Korea, mereka saling berjejaring dan saling mempromosikan satu sama lain.

Melepas lelah, malam harinya kami mengunjungi pusat belanja 24 jam, Tungdaemun. Sambil cuci mata, sekalian membeli beberapa oleh-oleh yang tidak ada di Indonesia. 


10. Emphaty 
Hari ini, hari ke-4 bisa menjadi hari terakhir saya di Korea Selatan mengingat esok hari kami sudah harus bangun pagi dan bergegas ke bandara Incheon. Sebagai formalitas, pagi hari kami berkunjung ke Kedutaan Besar Inonesia di Yeuido sekadar ramah tamah dan urusan administrasi. Memasuki area ruang tamu, tidak ada sambutan sama sekali. Kami yang harus proaktif mendatangi meja resepsionis yang cukup “dingin”. Hampir 1 jam kami menunggu tanpa hasil. Tak ada satupun pihak yang bisa menemui kami berikut menyelesaikan urusan administrasi perjalanan tersebut. Akhirnya kami hanya bertemu dengan salah seorang kawan pak Dirjen yang kebetulan lewat di sana. Herannya, mereka (staf) begitu ramah dengan tamu-tamu orang Korea, namun tidak dengan sebangsanya. 

Tanpa berlama-lama, kami segera keluar dan menuju perjalanan terakhir, Nami Island. Sepanjang jalan, pepohonan dengan daun berwarna kuning dan merah menyapa saya sambil berpose ingin diabadikan. 2 jam perjalanan dan tibalah kami di dermaga penyeberangan menuju pulau “Winter Sonata”. Setelah membeli tiket, kami mengantri cukup panjang hingga kapal feri yang mengangkut kami tiba. Saya langsung menuju dek atas untuk menikmati pemandangan Nami. Saya sangat terkejut menoleh ke arah kanan dan melihat bendera Indonesia ada di kapal tersebut, berjajar dengan bendera-bendera negara lain, seolah Nami Island telah menantikan kahadiran saya, warga negara Indonesia.

Hanya beberapa menit, saya sudah menginjakkan kaki di pulau romantis tersebut. Pemandangannya sangat indah, pohon-pohoh berwarna khas musim gugur dengan selentingan instrumentalia lirih yang mendayu-dayu, seolah mengiringi pohon-pohon berdansa. Beberapa puluh meter berjalan, sekali lagi saya melihat bendera Indonesia dengan kalimat dibawahnya, “Selamat Datang” dipasang di sana, berjajar dengan bendera negara lain. Hati saya makin bahagia mendapat sambutan hangat, berbeda dengan saat menghadapi resepsionis Kedubes tadi. 

Lepas dari keindahan Nami, membangun empati atau hubungan emosional dengan pengunjung adalah salah satu strategi terbaik yang telah diaplikasikan oleh tim manajemen Nami Island. Sambil mengenang romantisme Nami Island, perjalanan hari itu diakhiri dengan shopping fiesta di Namdaemun, pusat perbelanjaan Korea Selatan lainnya.


Tak terasa berakhir sudah perjalanan menyusuri pusat industri kreatif Korea Selatan. Semoga 10 bahan-bahan terbaik "Kimchi" ini dapat menjadi teman "sarapan" yang menyehatkan.

Rabu, 06 November 2013

Mengurai Bahan Terbaik "Kimchi" (10 Prinsip Sukses Industri Kreatif Korea) - Bagian 2

3. Validation 
Hari ke-2 di Gyonggi cukup cerah. Setelah menikmati menu breakfast yang masih belum dapat saya telan dengan nyaman, mobil tour telah menunggu mengajak kami melihat sisi indah lain kota Seoul. Tepat pukul 09.30 kami berangkat menuju XLGames, sebuah perusahaan game berbasis online yang sangat terkenal dengan IP Archeage. 

Kami memasuki kantor XL yang masih terlihat sepi-sepi saja, hanya disain ruangan yang cukup artistik dan lalu lalang beberapa staf saja. Diawali dengan demo game Archeage, tim manajemen XL memperkenalkan diri sambil berbagi pengalaman dengan kami. XL dapat digolongkan sebagai perusahaan startup yang sukses. Mereka berhasil mendapat jaminan dari pemerintah serta dukungan investasi dari swasta yang sangat besar hingga 24 milyar rupiah untuk pengerjaan game. Dengan mempekerjakan ratusan tim, XL berhasil membuktikan kualitas game Korea di mata dunia. Saya sangat tertegun ketika mereka memberi data tentang proses validasi. Hanya untuk satu karakter saja, mereka harus mendisain sebanyak 100 hingga 150 alternatif untuk kepentingan validasi calon pengguna. Wow, ini bukan hal yang mudah. Mereka memiliki pipeline produksi yang sangat baik. Para karyawan tidak wajib datang kantor pada jam tertentu, namun mereka memiliki pengendalian diri yang kuat untuk bekerja minimal 8 jam sehari. 

Tim XL selanjutnya mengajak kami berkeliling memasuki ruang kerja disainer. Sebuah ruang dengan banyak sekat yang indah menurut saya. Setiap meja kerja memiliki disain dan asesoris unik. Ada yang dihiasi dengan action figure atau statue Evangelion, Black Rock Shooter atau Gundam, ada pula yang dikelilingin patung-patung khas Bishojo. Sebuah pemandangan surga bagi pekerja seni.



4. Environment first 
Sambil melanjutkan perjalanan menuju SK Telecom, kami istirahat sejenak sambil menyusuri sungai Cheong Gye Cheon, sebuah sungai di tengah kota yang sangat indah, bersih, dan ramah. Sungai sepanjang 7 km ini lebih mirip tempat wisata daripada sekadar tempat mengalirkan air. 

Di sana, kita dapat melihat berbagai hiburan seperti festival lampion, lempar koin keberuntungan, air terjun mini, sambil menikmati keindahan kota Seoul. Kami cukup sibuk berfoto karena hampir setiap spot menawarkan background yang indah. Melanjutkan penelusuran bersama pak Triharso (Direktur Industri Elektronik & Telematika), saya tersentuh saat beliau menyampaikan salah satu impiannya, Jakarta perlu memiliki sungai demikian. 

Sungai ini merupakan salah satu hasil inovasi walikota Seoul Lee Myung Bak yang selanjutnya sempat menjadi presiden Korea Selatan. Menurut catatan sejarah, beliau adalah presiden yang sangat memprioritaskan lingkungan. Dengan biaya lebih dari 281 juta USD, Lee telah membangun sungai terindah sekaligus melakukan revolusi besar atas perbaikan lingungkan hidup. Semoga pak Jokowi dapat melakukannya dengan caranya. 


5. Story designer 
Tepat menjelang pukul 16.00 waktu Korea, kami berjalan menuju SK Telecom, perusahaan provider semacam PT Telkom di Indonesia. Tidak berbeda dengan Samsung, kami disambut dengan hangat oleh seorang pemandu pria dan dua asisten wanita. Sambil membagikan sebuah smartphone, pemandu menjelaskan roadmap wisata SK Telecom yang diberi tajuk T.UM. Kami diminta untuk mengaktifkan gadget tersebut dan melakukan beberapa aktifitas menciptakan sebuah karakter fantasi yang dapat melayang-layang di layar kaca smartphone. Di bagian lain lantai ruang terdapat sebuah display 1 x 2 meter yang juga menampilkan karakter-karakter kreasi kami sambil beranimasi. Betapa menariknya permainan ini. 

Kami berjalan menikmati sajian entertainment SK mulai dari aplikasi masa depan U.Home, visi rumah masa depan; U.Entertainment dan U.Media, permainan dan hiburan yang cukup dikendalikan dengan smartphone; U.Driving, aplikasi smartphone pengendali mobil; U.Shopping, CLOUD, dan sebagainya. Seolah-olah kami berada di masa depan yang segalanya dapat dikendalikan secara praktis, instan, dengan gadget kita dengan teknologi SK Telecom. Pada akhir spot, pemandu mengajak kami untuk berdonasi dalam program CSR SK. 

Pertunjukkan tidak selesai begitu saja. Pemandu mengajak kita melakukan refleksi tentang apa yang telah kita lewati. Mulai dari proses penciptaan (karakter), perjalanan hidup, hingga kebermaknaan hidup dengan berbagi (lewat donasi). Ini adalah konsep story yang mengagumkan. Mereka tidak membangun brand lewat jual produk (hardselling), namun mereka hanya membangun cerita yang melekat di kepala saya hingga detik ini. 

Pengalaman hari ke-2 makin menarik saja dan setelah dinner, kami kembali menuju penginapan dan saya sangat menantikan petualangan menarik lain esok hari. 


6. Time management 
Belum cukup istirahat, tiba-tiba pemandu wisata kami mengetuk pintu kamar saya untuk segera bergerak dan berkumul di lobi tepat waktu. Saya terpaksa harus berjuang membuka mata dan melawan malas demi jadwal yang sudah dirancang. Setelah menikmati nasi goreng khas Korea, saya bergegas menuju lobi dan sekali lagi mobil yang siap membawa kami berkeliling sudah siap beberapa jam sebelum jadwal keberangkatan. 

Hari ini (hari ke-3), kami mengawali perjalanan dengan mengunjungi SBS di kawasan Mokdong. Salah satu stasiun televisi dan radio terbesar di Korea Selatan. Setiba di sana, kami disambut oleh seorang pemandu wanita cantik, rasanya menambah semangat pagi itu. Kami berkeliling tepat selama 40 menit melihat proses produksi, pemberitaan, proses audio, dan sebagainya yang terpisah di beberapa lantai. Perhatian saya terhenti saat memasuki ruang dokumentasi program acara yang tersimpan secara digital, mirip dengan teknologi U.Media di SK Telecom. Ternyata ini salah satu rahasia kemajuan industri Korea Selatan. Mereka (antarperusahaan) saling bekerja sama memanfaatkan dan memasarkan teknologinya melalui sinerji yang kuat. Ada teknologi SK yang telah ditanamkan di Samsung dan SBS, dan begitu seterusnya. 

Sebenarnya tidak ada hal baru bagi saya di SBS. Hal yang sama telah dilakukan oleh stasiun TV dan radio di Indonesia. Namun satu poin yang saya catat selama pagi itu, bahwa bangsa Korea sangat menghargai integritas dan ketepatan waktu. Selama mengikuti jadwal pemandu, rasanya tidak ada kompromosi dan toleransi waktu. Setidaknya, bagi saya, ini adalah tamparan yang langsung membuat saya hampir pingsan, bahwa waktu sangat berharga untuk dihargai.

...bersambung

Minggu, 03 November 2013

Mengurai Bahan Terbaik "Kimchi" (10 Prinsip Sukses Industri Kreatif Korea) - Bagian 1

Korea Selatan sudah menjadi salah satu trend setter dunia teknologi, fashion, animasi, game, dan pop culture. Semenjak masuknya K-Drama Winter Sonata, kemudian demam boy/ girlband atau disebut K-Pop, hingga menjamurnya produk-produk Korea semacam Samsung, telah memposisikan Korea sebagai salah satu negara yang dibanggakan, khususnya di kalangan anak muda Indonesia. Sekarang, mengkonsumsi produk Barat atau Jepang tidak cukup keren lagi dibanding produk keluaran Negeri Ginseng ini. Leveraging Korea Selatan untuk memposisikan dirinya sebagai pusat perhatian dunia begitu cepat, bahkan tak terasa prosesnya hingga menyisakan sebuah misteri, bagaimana mereka melakukannya?

Perjalanan saya di Korea Selatan beberapa waktu lalu bersama tim Kementrian Perindustrian dan para pemenang INCREFEST 2013 mengungkap prinsip keberhasilan industri kreatif Korea yang sangat layak dibagikan dan dijadikan bahan refleksi bagi kita semua. Melalui catatan perjalanan ini, saya akan menguraikan 10 prinsip sukses bisnis kreatif Korea yang saya amati selama perjalanan dan business visit di perusahaan-perusahaan yang layak dijadikan referensi pembelajaran.


1. Small professional team 
Setiba di bandara Incheon, kami langsung menuju GTEC, sebuah universitas yang fokus di bidang teknologi dan komputer, mungkin seperti Binus atau ITS di Indonesia. Turun dari rombongan mobil bemerk Hyundai, saya segera merasakan nuansa udara sejuk sekitar 12 derajat C dengan pemandangan musim gugur yang indah. Mahasiswa yang berlalu lalang dengan penampilan ala boy/ girlband sudah menjadi hal biasa di sana. Sebuah kampus yang sangat rindang dengan disain mewah di daerah Gyonggi. Setelah menikmati sebotol jus jeruk dan meregangkan otot-otot yang kaku selama perjalanan di pesawat, kami bertemu dengan presiden GTEC untuk beramah tamah sekaligus menjalin kerja sama kementrian perindustrian dan GTEC di masa mendatang.

Tanpa terasa hari menjelang siang dan tim manajemen GTEC menyambut kembali dengan hidangan makan siang ala Korea yang belum mampu diterima oleh mulut dan perut saya. Ada Bulgogi porsi superbesar dan sekumpulan Kimchi, teh Ginseng yang berasa sangir, dan teh buah. Dalam hati, saya mulai memikirkan nikmatnya masakan Indonesia. Setelah hidangan penutup usai, kami mendapat kesempatan untuk mengikuti semacam rally kampus. Kami berkeliling melihat proses perkuliahan, workshop, sambil berdiskusi dan berbagi tentang pengalaman. Secara teknis, kurikulum pendidikan, teknologi, dan skill mahasiswa di bidang IT tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Namun satu hal yang menjadi perhatian saya, bahwa untuk sebuah program studi media, mereka cukup mempekerjakan 4 orang dalam satu tim, salah satunya adalah Mr. KJ seorang evangelist Apple yang telah berpengalaman dalam compositing film box office seperti GI Joe dan Avenger. Tim yang sangat efisien dan mampu membangun brand kelas internasional serta telah bekerja sama dengan banyak bisnis di dalam dan di luar Korea. Mereka tidak butuh tim besar yang memboroskan dan menguras banyak resource. Cukup 4 orang yang sangat profesional, mereka mampu menggerakkan “Jaeger” yang sangat besar. 


2. Experience 
Hari permata diakhiri dengan kunjungan ke Samsung D’light di daerah Gangnam. Gedungnya mirip dengan kumpulan mal yang saling tehubung. Memasuki pintu utama, kami disambut oleh seorang pemandu yang menyilakan kami menuju ruang pamer. Cukup mengesankan, di dalam ruang dengan display yang cukup besar, terpampang sebuah ucapan selamat datang kepada rombongan Kemenperin Indonesia. Sejenak, rasanya begitu bangga mendapat sambutan dari Samsung. 

Sambil memamerkan produk terbaru seperti Galaxy Gear dan Ultra HD TV, pemandu mengajak kami berkeliling sambil merasakan pengalaman langsung mencoba inovasi Samsung seperti fasilitas hiburan Augmented Reality di D’light Stage, game simulasi tarian Gangnam Style, serta apliaksi pendidikan terbaru Samsung. Saya sangat menikmati hiburan dan pameran tersebut sebagai pengalaman yang menyenangkan. Dan tiba pada rute terakhir, kami dipandu memasuki Samsung Shop, area belanja Samsung yang cukup luas. Dalam hati, ingin sekali memborong produk-produk tersebut. 

Satu hal yang saya pelajari dari kunjungan ini, bahwa Samsung begitu sadar akan pentingnya penciptaan pengalaman terbaik bagi pengunjung sebelum menjual produk. Pengalaman tersebut akan menciptakan kesan dan persepsi. Dengan memberikan pengalaman terbaik, tentu saja kesan dan persepsi yang baik akan mengikuti. Dan saya pikir, ini adalah prinsip Apple jauh sebelum Samsung melakukannya. 

Diselimuti malam cerah yang dingin, kami kembali ke asrama untuk mengumpulkan enerji untuk acara esok yang tak kalah serunya.

...bersambung

Jumat, 01 November 2013

Sumpah Pemuda 2.0, Transferabilitas Spirit di Era Industri Kreatif

Memora Sumpah Pemuda 28/10/28 meninggalkan jejak ritual yang kerap kali diperingati dengan upacara, dianggap formalitas, dan diharapkan lekas usai. Seakan bangsa ini telah melunturkan semangat sebenarnya Sumpah Pemuda. Bahkan sindiran dan guyonan bertema Sumpah Pemuda hari ini banyak berlalu lalang di BBM, WA, dan Facebook. Inikah cara kita menghargai sejarah?

Saya ingin mengajak seluruh pemuda/di bangsa untuk berempati dan mengalami kembali prosesi heroik Sumpah Pemuda 1928. Tidak mudah hidup di zaman bangsa yang tercerai-berai seolah semua ingin menjadi penting dan berjuang sendiri-sendiri. Bagi sebagian besar anak, menghadapi keluarga yang tercerai-berai saja bagaikan neraka dunia, apalagi bagi ibu pertiwi yang melihat buah hatinya tidak bersatu dan saling menumpahkan darah. Pada masa itu, bukan kaum elit politik birokrat, atau pemuka suku atau agama yang tergerak hatinya akan hakikat persatuan. Justru inisiatif pemuda dari berbagai daerah yang akhirnya mampu menggerakkan persatuan bangsa. Sebuah kebesaran hati untuk melepaskan atribut daerah, suku, budaya demi satu tekad dan nama, Indonesia. Proses moral demikian bukan hal yang mudah. Hanya dengan sinkronisasi visi yang baik saja sebuah persatuan akan menjadi berarti.

Kekhawatiran saya atas terkikisnya mental Sumpah Pemuda di zaman modern membawa proses perenungan saya terhenti pada keprihatinan atas penjajahan dan eksploitasi kreativitas pemuda bangsa. Opini ini mungkin dapat menjadi jawaban mengapa industri kreatif Indonesia, khususnya industri intellectual property (ip) tidak bisa berkembang layaknya seorang anak normal yang belajar merangkak, berdiri, berjalan dan berlari. Di sisi lain, kreativitas dan kehebatan anak Indonesia tidak perlu diragukan. Mereka tergabung dalam film-film box office kelas dunia, mereka mengerjakan proyek-proyek game dunia. Saat saya menulis opini ini, saya berada di Gyeonggi Korea. Dan kebetulan siang ini berdiskusi cukup panjang tentang kualitas ip Korea dengan pihak GTEC hingga saya sampai pada satu kesimpulan, potensi pelaku kreatif Indonesia dalam beberapa hal sudah lebih baik dari mereka. Lalu mengapa tidak satupun ip Indonesia menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan dan kebanggan bangsa dimata internasional? Seperti Tsuburaya atau Rovio yang setiap tahun mengantongi revenue sekitar 2 trilyun rupiah hanya dari merchandising/consumer goods saja?


Jawabannya sederhana sekali, karena pelaku kreatif Indonesia tercerai-berai. Mereka, para oknum, berjuang membangun ip sendiri-sendiri bahkan merasa saling bersaing satu sama lain. Pergerakan mereka berskala kecil dan penuh keterbatasan. Mereka, para oknum, masih kenta dengan ego dan atribut kelompoknya. Yang lainnya lebih nyaman memainkan resource negara dan menjadi "antek-antek Belanda". Mungkin Anda pembaca bijak sudah mulai menemukan benang merah, sebuah dejavu dari tahun 1928.

Hanya melalui persatuan industri kreatif Indonesia akan bangkit. Hanya dengan kebesaran hati dan sinkronisasi visi, industri ip kita akan menjadi besar dan membanggakan. Semangat persatuan ini tidak hanya akan menggoncang Semeru, namun negara penguasapun akan gentar. Tanpa sadar kita dibentuk sebagai negara konsumen dan pekerja (labor). Kita hampir tidak punya waktu untuk menjadi pencipta (creator). Sekali lagi, dengan memaknai dan mengaplikasikan kembali semangat Sumpah Pemuda 1928, kita mampu menciptakan ip ip hebat di masa mendatang. Tidak perlu 17 tahun lagi untuk merdeka, leveraging untuk mencari kemerdekaan industri kreatif Indonesia dapat dicapai lebih cepat. Gerakan pemerintah dan swasta sudah nyata terlihat, hanya diperlukan sebuah grand strategy yang tepat dalam spirit yang saya sebut SUMPAH PEMUDA 2.0.


3 Level SP 2.0

Saya mencoba mengurai 3 level implikasi SP 2.0, yaitu:
  1. Persatuan dalam satu atap perusahaan. Ini adalah proses penyatuan yang paling sulit dan penuh tantangan moral dan mental. Tidak mudah melepas atribut perusahaan dan bergabung dengan perusahaan lain yang memang lebih berprospek. Tidak mudah membiarkan nama perusahaan hilang dan digantikan dengan nama baru yang bukan pilihan kita. Namun bagaimanapun juga, inilah kegalauan para pemuda dari berbagai daerah hingga mereka berbesar hati menerima satu nama, Indonesia.
  2. Persatuan dalam satu industri. Proses ini lebih mudah karena kita tidak harus bergabung atau meleburkan perusahaan kita. Kita cukup berstrategi bersama, beraliansi, dan berkomitmen untuk membesarkan satu atau beberapa ip yang tervalidasi siap menjadi produk andalan dan dicintai pasar, bukan kecintaan kretornya semata. Perusahaan animasi, game, komik, merchandising, dan sebagainya bersatu hati untuk bersinerji dan menjadi besar bersama.
  3. Jika kedua implikasi persatuan di atas masih sulit dan tidak memungkinkan, setidaknya bersatulah dalam tekad saling mendukung dan membesarkan sesama ip Indonesia. Mulai dengan niat baik dan ketulusan mempromosikan ip-ip Indonesia, membiasakan saling mengapresiasi dan berbagi pengalaman, dan menciptakan komunitas insan kreatif yang positif dan bermakna.

Semoga perenungan sederhana ini dapat menjadi manfaat bagi kita semua,

salam SUMPAH PEMUDA 2.0