Rabu, 04 September 2013

Mengapa Pengukuran Hasil Adalah Petaka bagi Perusahaan

Bagaimana Anda mengevaluasi performa bisnis Anda? Dengan membaca setumpuk kertas berisi angka-angka rumit di atas meja? Kemudian, apa yang Anda dapatkan? Tak jarang angka-angka yang bersifat negatif (unfavorable) membawa masalah baru dan menuntun Anda untuk berpikir keras mencari akar masalah. Jika direnungkan, hasil buruk yang tercatat dalam laporan sebenarnya hanya cerminan atas ketidakmampuan kita memonitor proses. Akhirnya, kita duduk lemas dan menepok dahi sambil berkeluh, “Why me, Lord?"

Umumnya, perusahaan lebih terbiasa melakukan evaluasi berdasarkan laporan hasil kinerja dan pada akhir periode. Padahal, hasil merupakan dampak dari proses. Selain itu, hasil yang baik tidak akan pernah bisa 100% mencerminkan bahwa prosesnya juga baik. Sebagai ilustrasi sederhana, bayangkan Anda seorang Ibu mendapati anak Anda tidak lulus ujian Kalkulus. Apakah ini berarti anak Anda bodoh? Mungkin saja ia sakit sehingga tidak dapat berkonsentrasi, mungkin saja Kalkulus bukan minatnya, atau mungkin ia tidak dapat berkonsentrasi belajar karena memikirkan Anda yang setiap hari bertengkar dengan suami Anda. Sebaliknya, Anda cenderung puas melihat anak lulus dengan nilai terbaik (meskipun ia berbuat curang hanya demi menyenangkan Anda). Laporan dengan angka-angka baik mudah membuat kita terlena. 

Coba renungkan, apakah jumlah penjualan yang besar cukup menjadi indikasi bahwa kinerja marketing baik? Apakah omset penjualan kredit yang besar memberi jaminan piutang akan tertagih 100%? Yakinkah Anda bahwa konsumen akan setia menjadi pelanggan Anda, atau hanya menjadi konsumen pertama dan terakhir? Terlalu berevoria dengan angka-angka hasil yang baik (favorabel) bisa menjadi indikasi pihak menajemen sedang mengalami illusion of control seperti hasil penelitian Duhaime & Schwenk (1985) dan Rosanas & Velilla (2005). Kasus ini sangat lekat dengan kasus yang paling banyak diulas, Enron. Bagaimana hasil kinerja keuangan yang terlihat baik ternyata hanya hasil rekayasa angka dan juga membawa petaka bagi dunia akuntansi.

Tidak ada yang salah dengan evaluasi hasil. Namun perlu sebagai pemilik bisnis di era industri (harus) kreatif juga harus memiliki kendali yang kuat terhadap proses, terutama yang melibatkan orang-orang kreatif. Sistem pengukuran harus dapat memonitor proses secara tepat dan akurat. Sehingga proses kendali dan koreksi dapat dilakukan sedini mungkin. 

Bagikan pengalaman Anda di sini.

2 komentar: