Senin, 02 September 2013

Kenali Medan Bisnis Era Konseptual, Sebelum Terlambat!

Tahukah Anda...

  • Setiap komponen laptop atau gadget bermerek dikerjakan oleh pabrik yang menyebar di daratan Cina.
  • Pembuatan laporan pajak yang Anda percayakan pada perusahaan akuntansi kelas dunia dikerjakan di negeri “kumuh” India.
  • Harga barang Wal-Mart relatif murah karena ia berbagi informasi kepada pemasoknya melalui Supply Chain hingga mencapai efisiensi 5-10%.
  • Rahasia Apple menghasilkan produk pemimpin pasar dengan omset penjualan diikuti munculnya para evangelis di tengah sesaknya pasar barang teknologi adalah satu kata, inovasi. 
  • Body Shop besar hanya karena mengusung kepedulian lingkungan.
Beberapa fenomena ini hanya gambaran kecil dari sekian banyak revolusi bisnis sukses abad 21. Di luar itu, ternyata cukup banyak contoh kasus perusahaan yang akhirnya collapse karena tidak mampu bertahan seperti Lehman’s, New 7 Wonders, atau Kodak. Bahkan dikabarkan bahwa Sony-Erricson dan Nokia masuk dalam daftar “lampu kuning” dan siap ditinggalkan investornya. Mengapa demikian? Apakah hanya karena masalah persaingan. Sesederhana itukah? Darwin mengatakan, “bukan yang terkuat, bukan yang paling berintelejensi tinggi, tapi yang bisa beradaptasi dengan lingkungan yang bertahan”. Adaptasi adalah kunci utamanya. Mengenali lingkungan adalah kunci berikutnya. Sun Tzu menyatakan:

"Kenali diri, lawan, medan, dan cuaca, maka Anda akan meraih 100 kemenangan dalam 100 perang"

Medan bisnis sudah berubah! Hanya yang mampu mengenali dan beradaptasi yang akan bertahan bahkan memimpin.


3A
Daniel Pink mencatat 3 hal yang merubah dunia saat ini, yaitu Abundance (kelimpahan), Automation (teknologi), dan Asia (Cina dan India) atau diistilahkan 3A. Bisnis apapun, pada masa kini menghadapi pasar yang relatif padat, jumlah pesaing makin melimpah. Mau jual bakso, bisnis fashion, properti, otomotif, teknologi, semua sudah ada pemainnya. Ukuran pasar yang tetap dengan penjual yang makin banyak. Hanya “menjadi berbeda dan lebih bernilai”lah satu-satunya solusi agar tetap mendapat posisi di pasar. Di sisi lain, teknologi begitu pesat berkembang hingga tak terkendalikan. Fungsi-fungsi yang dahulu dilakukan manusia sekarang telah digantikan oleh komputer, seperti transaksi, proses akuntansi, hingga produksi. Tentu saja perusahaan yang tanggap teknologi segera merespon dan memanfaatkannya dengan alasan efisiensi (meskipun kondisi demikian memicu meningkatnya jumlah pengangguran). Jika tidak, maka ancaman inefisiensi sudah di depan mata. Terakhir, keterbukaan Cina dan India menjadi peluang dan ancaman tersendiri bagi pemain bisnis. India terkenal sebagai negara orang pintar dan programmer dengan lokasi kunci di Bangalore seperti Silicon Valley. Sedangkan Cina sebagai negara pemegang resep produksi produk-produk bermerek dunia. Tentu saja peluang ini sangat menarik bagi pebisnis yang jeli untuk segera melakukan outsourcing bahkan offshoring di Asia. 


"A" Keempat
Kelimpahan, Otomatisasi, dan Asia (3A) membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan dan peradapan manusia. Munculnya isu-isu dan masalah lingkungan sosial sebagai akibat dari fenomena 3A seperti pengangguran, masalah limbah, kerusakan lingkungan, dan kapitalisasi. Dalam Hot, Flat, and Crowded, Friedman menjabarkan fakta menarik tentang perlunya perusahaan turut berperan dalam mengembalikan kesejukan bumi. Body Shop sering diangkat sebagai ikon peduli lingkungan dunia. Penekanan serupa juga disampaikan oleh Daniel Goleman dalam buku larisnya, Ecological Intelligent. Era pergerakan komunitas dan stakeholder turut menjadi kendali sosial perusahaan. Bahkan dalam dunia manajemen, sudah didengungkan bahwa kepedulian sosial dan lingkungan merupakan cara efektif untuk menjaga sustainability. Perhatian baru ini saya sebut dengan "A" yang keempat, Awareness (kepedulian). Tidak hanya 3, tapi 4 tantangan yang dapat kita pandang sebagai peluang atau ancaman: "Abundance, Automation, Asia, Awareness."


Bagikan pengalaman Anda di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar