Kamis, 26 September 2013

Mengapa Perancangan Strategi Seringkali... Gagal?

Dari sekian banyak buku dan penelitian yang pernah saya baca, belum pernah saya menemukan pernyataan bahwa strategi itu tidak penting. Namun kenyataannya, bagi sebagian besar pelaku bisnis, mengapa merancang strategi masih dianggap sebagai nonvalue added activity atau kadang hanya sebagai ritual formal saja? Tentu saja ada gap di sini. Secara filosofis, saya menemukan jawaban atas masalah ini dalam Seni Perang Sun Zi. Ia mangatakan:
“Jadi, orang-orang yang menjalankan perencanaan (strategi) di kuil sebelum pecahnya perang akan menang jika berbagai rencana itu menyeluruh dan terinci. Orang-orang yang melakukan perencanaan di kuil sebelum perang meletus tidak akan menang jika rencana itu tidak menyeluruh dan juga tidak terinci. Dengan perencanaan yang menyeluruh dan terinci, seseorang dapat menang. Dengan perencanaan yang kurang menyeluruh atau terinci, seseorang tidak dapat menang. Betapa pastinya kekalahan bila seseorang tidak merencanakan sama sekali.”
Sun Zi menjelaskan bahwa pembuatan strategi itu harus menyeluruh dan terinci. Membuat strategi yang hanya bertujuan untuk memenuhi ritual, dapat dipastikan hasilnya tidak pernah maksimal. Menyeluruh dalam arti perancang strategi harus mampu menganalisis seluruh faktor internal dan eksternal yang relevan. Strategi yang hanya dirancang berdasarkan perspektif dan kepentingan internal atau separuh-separuh dapat dipastikan gagal. Atau sebaliknya, strategi yang hanya terobsesi memuaskan stakeholder atau mengalahkan pesaing, namun tidak mempertimbangkan kemampuan resource internal juga akan berakhir dengan kekacauan.

Sabtu, 14 September 2013

When Lovers Became Haters

Tahun 80an adalah mimpi buruk bagi Coca-Cola Company setelah melampaui perjalanan selama ratusan tahun pembangunan brand. Hanya karena panas terhadap persaingan dan kepercayaan diri yang berlebihan, Coca-Cola Company dengan gegabah mengganti brand-nya dengan New Coke yang ternyata membawa mimpi buruk bagi perusahaan minuman soda ternama ini. 

Sejak tahun 70an, Coca-Cola Company menghadapi persaingan ketat dengan Pepsi Company. Coca-Cola Company sangat terpukul dengan gerakan gebrakan provokatif Pepsi baik dalam iklan maupun blind test Pepsi Challenge yang diteruskan dengan program Pepsi Generation pada tahun 1980 sebagai upaya repositioning-nya. Menanggapi hal ini, setahun berikutnya Coca-Cola Company memutuskan untuk memperkenalkan New Coke untuk menggantikan brand cola orijinalnya. Coca-Cola Company melakukan uji rasa pada 200.000 orang dan mereka menyukainya (tanpa mengetahui merk baru New Coke), dibandingkan dengan Pepsi. Coca-Cola Company terlalu percaya diri dan me-replace brand cola orijinalnya begitu saja. Di luar prediksi, keputusan ini memicu “boikot” dari penduduk Amerika. Akibatnya, penjualan New Coke sangat rendah. 


MENGAPA?

Lepas dari kualitas rasa, kegagalan New Coke lebih dipicu oleh faktor emosional. Coca-Cola telah menjadi bagian hidup dari Amerika yang tidak mudah tergantikan. Dalam konferensi pers, Donald Keough (chief operating officer) mengatakan:

“The passion for original Coca-Cola – and that is the word for it, passion – was something that caught us by surprise. It is a wonderful America mystery, a lovely American enigma, and you cannot measure it any more than you can measure love, prode or patriotism.”

Coca-Cola Company menyadari bahwa value mereka adalah: orijinalitas. Strategi New Coke tidak sesuai dengan komitmen dan value awal yang diluncurkan di tahun 1880an yaitu sebagai “The New Pop Soda Fountain Drink, yang mengandung sifat-sifat mengagumkan tanaman Coca dan kacang Cola yang terkenal. Selain itu, perjalanan Coca-Cola telah mewarnai sejarah Amerika seperti keterlibatannya dalam perjalanan angkasa Amerika. Atau dalam bahasa Al Ries, Coca-Cola telah menjadi “agama” yang memiliki kekhusukan dan hubungan emosional kuat dengan masyarakat Amerika. Pada akhirnya, Coca-Cola Company sadar dan kembali me-relaunch produk orijinalnya. Apresiasi positifpun kembali berdatangan dari masyarakat Amerika. 


APA YANG DAPAT KITA PELAJARI DARI COCA-COLA?

Kasus ini telah banyak dibahas oleh pembicara dan buku-buku populer. Namun saya mencoba mengajak Anda untuk melihat dari perspektif yang berbeda. Jika kita amati, masalahnya cukup sederhana. Mereka menciptakan produk baru (untuk menggantikan produk lama) berdasarkan emosi, intuisi, dan interpretasi hasil ujicoba berdasarkan perspektif perusahaan. Mereka hanya menguji rasa, tanpa menguji brand. Mereka tidak menyadari emotional value yang terbangun dalam fanatisme masyarakat Amerika terhadap brand Coca-Cola sejak ratusan tahun silam. Mereka gagal mempertimbangkan customer value yang sebenarnya. Dengan kata lain, New Coke begitu saja memutus hubungan emosional cola original dengan masyarakat Amerika yang telah terbangun ratusan tahun. Tidak hanya Coca-Cola, brand-brand ternama lainnya juga tercatat pernah mengalami pengalaman buruk selama perjalanannya.

Pengalaman ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan emosional (bahkan spiritual) antara brand dengan konsumen, layaknya manusia dengan manusia atau tuhan dengan manusia. Jika tidak para pecinta (lover) brand Anda akan segera menjadi pembenci (hater) dan mimpi buruk Anda.

Bagikan pengalaman Anda di sini.

Rabu, 04 September 2013

Mengapa Pengukuran Hasil Adalah Petaka bagi Perusahaan

Bagaimana Anda mengevaluasi performa bisnis Anda? Dengan membaca setumpuk kertas berisi angka-angka rumit di atas meja? Kemudian, apa yang Anda dapatkan? Tak jarang angka-angka yang bersifat negatif (unfavorable) membawa masalah baru dan menuntun Anda untuk berpikir keras mencari akar masalah. Jika direnungkan, hasil buruk yang tercatat dalam laporan sebenarnya hanya cerminan atas ketidakmampuan kita memonitor proses. Akhirnya, kita duduk lemas dan menepok dahi sambil berkeluh, “Why me, Lord?"

Umumnya, perusahaan lebih terbiasa melakukan evaluasi berdasarkan laporan hasil kinerja dan pada akhir periode. Padahal, hasil merupakan dampak dari proses. Selain itu, hasil yang baik tidak akan pernah bisa 100% mencerminkan bahwa prosesnya juga baik. Sebagai ilustrasi sederhana, bayangkan Anda seorang Ibu mendapati anak Anda tidak lulus ujian Kalkulus. Apakah ini berarti anak Anda bodoh? Mungkin saja ia sakit sehingga tidak dapat berkonsentrasi, mungkin saja Kalkulus bukan minatnya, atau mungkin ia tidak dapat berkonsentrasi belajar karena memikirkan Anda yang setiap hari bertengkar dengan suami Anda. Sebaliknya, Anda cenderung puas melihat anak lulus dengan nilai terbaik (meskipun ia berbuat curang hanya demi menyenangkan Anda). Laporan dengan angka-angka baik mudah membuat kita terlena. 

Coba renungkan, apakah jumlah penjualan yang besar cukup menjadi indikasi bahwa kinerja marketing baik? Apakah omset penjualan kredit yang besar memberi jaminan piutang akan tertagih 100%? Yakinkah Anda bahwa konsumen akan setia menjadi pelanggan Anda, atau hanya menjadi konsumen pertama dan terakhir? Terlalu berevoria dengan angka-angka hasil yang baik (favorabel) bisa menjadi indikasi pihak menajemen sedang mengalami illusion of control seperti hasil penelitian Duhaime & Schwenk (1985) dan Rosanas & Velilla (2005). Kasus ini sangat lekat dengan kasus yang paling banyak diulas, Enron. Bagaimana hasil kinerja keuangan yang terlihat baik ternyata hanya hasil rekayasa angka dan juga membawa petaka bagi dunia akuntansi.

Tidak ada yang salah dengan evaluasi hasil. Namun perlu sebagai pemilik bisnis di era industri (harus) kreatif juga harus memiliki kendali yang kuat terhadap proses, terutama yang melibatkan orang-orang kreatif. Sistem pengukuran harus dapat memonitor proses secara tepat dan akurat. Sehingga proses kendali dan koreksi dapat dilakukan sedini mungkin. 

Bagikan pengalaman Anda di sini.

Senin, 02 September 2013

Kenali Medan Bisnis Era Konseptual, Sebelum Terlambat!

Tahukah Anda...

  • Setiap komponen laptop atau gadget bermerek dikerjakan oleh pabrik yang menyebar di daratan Cina.
  • Pembuatan laporan pajak yang Anda percayakan pada perusahaan akuntansi kelas dunia dikerjakan di negeri “kumuh” India.
  • Harga barang Wal-Mart relatif murah karena ia berbagi informasi kepada pemasoknya melalui Supply Chain hingga mencapai efisiensi 5-10%.
  • Rahasia Apple menghasilkan produk pemimpin pasar dengan omset penjualan diikuti munculnya para evangelis di tengah sesaknya pasar barang teknologi adalah satu kata, inovasi. 
  • Body Shop besar hanya karena mengusung kepedulian lingkungan.
Beberapa fenomena ini hanya gambaran kecil dari sekian banyak revolusi bisnis sukses abad 21. Di luar itu, ternyata cukup banyak contoh kasus perusahaan yang akhirnya collapse karena tidak mampu bertahan seperti Lehman’s, New 7 Wonders, atau Kodak. Bahkan dikabarkan bahwa Sony-Erricson dan Nokia masuk dalam daftar “lampu kuning” dan siap ditinggalkan investornya. Mengapa demikian? Apakah hanya karena masalah persaingan. Sesederhana itukah? Darwin mengatakan, “bukan yang terkuat, bukan yang paling berintelejensi tinggi, tapi yang bisa beradaptasi dengan lingkungan yang bertahan”. Adaptasi adalah kunci utamanya. Mengenali lingkungan adalah kunci berikutnya. Sun Tzu menyatakan:

"Kenali diri, lawan, medan, dan cuaca, maka Anda akan meraih 100 kemenangan dalam 100 perang"

Medan bisnis sudah berubah! Hanya yang mampu mengenali dan beradaptasi yang akan bertahan bahkan memimpin.


3A
Daniel Pink mencatat 3 hal yang merubah dunia saat ini, yaitu Abundance (kelimpahan), Automation (teknologi), dan Asia (Cina dan India) atau diistilahkan 3A. Bisnis apapun, pada masa kini menghadapi pasar yang relatif padat, jumlah pesaing makin melimpah. Mau jual bakso, bisnis fashion, properti, otomotif, teknologi, semua sudah ada pemainnya. Ukuran pasar yang tetap dengan penjual yang makin banyak. Hanya “menjadi berbeda dan lebih bernilai”lah satu-satunya solusi agar tetap mendapat posisi di pasar. Di sisi lain, teknologi begitu pesat berkembang hingga tak terkendalikan. Fungsi-fungsi yang dahulu dilakukan manusia sekarang telah digantikan oleh komputer, seperti transaksi, proses akuntansi, hingga produksi. Tentu saja perusahaan yang tanggap teknologi segera merespon dan memanfaatkannya dengan alasan efisiensi (meskipun kondisi demikian memicu meningkatnya jumlah pengangguran). Jika tidak, maka ancaman inefisiensi sudah di depan mata. Terakhir, keterbukaan Cina dan India menjadi peluang dan ancaman tersendiri bagi pemain bisnis. India terkenal sebagai negara orang pintar dan programmer dengan lokasi kunci di Bangalore seperti Silicon Valley. Sedangkan Cina sebagai negara pemegang resep produksi produk-produk bermerek dunia. Tentu saja peluang ini sangat menarik bagi pebisnis yang jeli untuk segera melakukan outsourcing bahkan offshoring di Asia. 


"A" Keempat
Kelimpahan, Otomatisasi, dan Asia (3A) membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan dan peradapan manusia. Munculnya isu-isu dan masalah lingkungan sosial sebagai akibat dari fenomena 3A seperti pengangguran, masalah limbah, kerusakan lingkungan, dan kapitalisasi. Dalam Hot, Flat, and Crowded, Friedman menjabarkan fakta menarik tentang perlunya perusahaan turut berperan dalam mengembalikan kesejukan bumi. Body Shop sering diangkat sebagai ikon peduli lingkungan dunia. Penekanan serupa juga disampaikan oleh Daniel Goleman dalam buku larisnya, Ecological Intelligent. Era pergerakan komunitas dan stakeholder turut menjadi kendali sosial perusahaan. Bahkan dalam dunia manajemen, sudah didengungkan bahwa kepedulian sosial dan lingkungan merupakan cara efektif untuk menjaga sustainability. Perhatian baru ini saya sebut dengan "A" yang keempat, Awareness (kepedulian). Tidak hanya 3, tapi 4 tantangan yang dapat kita pandang sebagai peluang atau ancaman: "Abundance, Automation, Asia, Awareness."


Bagikan pengalaman Anda di sini.