Minggu, 22 Maret 2020

5 Tips Work From Home (WFH) Tanpa Ambyar

pic: sgcafe
Versi audio di: https://www.youtube.com/watch?v=AH5VPCraTFo

Pagi ini, seorang staf konsultan akuntansi menghubungi saya berkeluh kesah sulitnya kerja dari rumah atau Work From Home (WFH), banyak distraksi yang muncul. Mungkin Anda yang terpaksa menjalani WFH mengalami masalah serupa, mulai urusan anak, pembantu rumah tangga, bahkan urusan tetangga. Rasanya justru makin tidak produktif, sementara deadline pekerjaan tetap berjalan. Serasa ambyar, sobat.

So, bagaimana cara menjaga produktivitas sementara kita berada di rumah yang hiruk-pikuk-nya bisa melebihi kantor?

Perlu diingat kembali bahwa WFH bukan berarti tidak bekerja atau mengurangi pekerjaan. Membangun sense seperti seolah bekerja di kantor bukan hal mudah. Semuanya jelas berbeda. 

Kali ini saya akan membagikan 5 tips yang dapat kita upayakan untuk tetap menjaga produktivitas selama WFH:

1. Spell Your Mantra
Ucapan dari hati terdalam adalah doa atau mantra yang sangat menentukan bagaimana keadaan diri kita berikutnya. Duduk di depan catatan kerja atau laptop dan mulailah dengan membangun niat. Katakan pada diri sendiri Aku akan bekerja dan aku bisa menjalaninya dengan baik, menyelesaikan seluruh tanggungjawab hari ini. Sebuah teknik self-talk yang saya buktikan cukup efektif untuk memulai WFH. Sebuah afirmasi yang Anda bangun, sebagai perintah kepada pikiran dan tubuh Anda. Ucapkan kembali saat pikiran dan pandangan mulai terdistraksi. Mungkin Anda dapat menulis mantra tersebut di sebuah post-it yang ditempel di sisi laptop atau dinding meja kerja. 

2. Make Your Today to Do List
Gunakan to do list per hari untuk memudahkan Anda tetap fokus bekerja. Tulis di sebuah catatan yang mudah Anda lihat kembali. Berikan coretan atau tanda ✅ untuk setiap list yang telah Anda selesaikan. Hal ini akan memudahkan Anda memantau setiap progress pekerjaan Anda. Sebenarnya ini adalah teknik manajemen diri sederhana yang sering kita abaikan. Tak masalah jika di kantor biasanya ada supervisor yang mengejar dan menegur atas kelalaian, tapi di rumah, semuanya tinggal tentang pengendalian diri. Biasakan mengelola diri dengan to do list sederhana, sesuaikan dengan jam bekerja yang ideal.

3. Sense of Here and Now
Tidak hanya dalam WFH, seringkali kita sulit merasa hadir penuh dalam pekerjaan. Banyak pikiran datang dan hinggap lama, mulai urusan cicilan kendaraan, makan apa malam ini, hingga kekhawatiran COVID-19 setelah melihat peningkatan jumlah korban via berita. Ketika pikiran melayang, baik ke masa lalu dan masa depan, saat itu kita tidak benar hadir dalam pekerjaan saat ini. Anda dapat menerapkan meditasi nafas secara singkat untuk mencapai fase here and now. Menyadari dan menikmati nafas yang hadir dan pergi, beberapa menit saja. Hal ini sangat membantu untuk membangun konsentrasi dan fokus kembali.

4. Hear Relaxation Music
Untuk menjaga konsentrasi, saya kerap memanfaatkan earphone dan memutar musik relaksasi atau instrumentalia ringan. Selain menjauhkan dari suara berisik, musik relaksasi juga dapat membangun rasa dan ketenangan pikiran. Teknik ini cukup efektif. Namun perlu diketahui untuk mereka yang memiliki gaya serap informasi auditori, mungkin keberadaan musik akan menjadi distraksi tersendiri. Coba uji dan rasakan, apakah musik membantu Anda dalam berkonsentrasi.

5. Hey, Always Remember that You're in Duty
Hal utama yang tak boleh diabaikan dalam WFH adalah, sekali lagi WFH bukan holiday! Anda tetap sedang bekerja. Ini adalah masalah mindset yang harus  dijaga dengan baik. Carilah ruang atau tempat yang representatif. Mintalah pengertian dan dukungan orang rumah bahwa Anda harus bertanggungjawab dan bekerja. Tanpa dukungan ini, WFH tidak akan berhasil. Buat komitmen bersama keluarga tentang jam bekerja Anda, misalnya 7 atau 8 jam dalam sehari.


Demikian tips dari saya, semoga bermanfaat!

#WFHtanpaambyar

The Zen of Crisis Leadership During COVID-19 Pandemic

pic: tribun
COVID-19 benar melumpuhkan aktivitas manusia. Sejak akhir tahun lalu, ditemukan sebarannya di daerah Wuhan, kemudian terus bergerak bersama para carrier yang keluar masuk ke berbagai negara, menjadi bencana global. Hingga saya menulis blog, jumlah penderita dunia telah mencapai 304.528 kasus. Angka yang mungkin akan terus bertambah jika tidak ditangani dengan tepat.

Sejak Februari 2020 pemerintah kita baru mulai tanggap dan bergerak, khususnya sejak 2 kasus positif ditemukan di Depok. Upaya pemerintah yang dinilai belum optimal dibarengi dengan fenomena panic buying masyarakat. Bahan-bahan pokok diserbu, masker, tissue, hand sanitizer-pun menjadi target borongan. Semuanya menjadi langka dan mahal. Ekonomi mulai lesu. Beberapa usaha sepi konsumen, sekolah-sekolah lockdown, bisnis pariwisata terpaksa merumahkan pegawai, usaha manufaktur mengalami idle dan tanggungan biaya overhead yang berarti, cashflow tidak lagi sehat, rupiah terpuruk, bahkan harga saham menjadi anjlok.

Para pemimpin bisnis mengalami dilematis yang kompleks. Reputasi dan kecakapan mereka dipertaruhkan untuk melewati krisis multidimensi ini. Nampaknya, ini adalah masa dimana kualitas kepemimpinan kita sedang diuji. "Desakan" Work From Home (WFH) dari pemerintah bisa jadi bumerang jika tidak disikapi dan diimplementasikan dengan bijaksana. Memaksa karyawan tetap berkantor juga bukan keputusan yang dinilai manusiawi.

Tulisan Rob Asghar untuk Forbes menginspirasi saya. Dengan judul The Zen of Crisis Management: Fo The Next Right Thing, Asghar menyarankan bagaimana pemimpin bisnis dunia saat ini menyiapkan langkah ke depan yang TEPAT. Di salah satu paragraf, ia menulis:
"In this case, it’s clear that some American leaders are incapable of doing the right thing, because they view what’s right in the narrowest terms: In terms of protecting gains in the stock market (gains that may have been inflated and unsustainable in the first place); in terms of maintaining a cheap, tacky facade of invincibility; and in terms of protecting their own thrones, even as the castle walls around them crumble. It seems a tale that is Biblical or Greek in its depiction of the consequences of hubris. Less than a year after watching the fall of Cersei Lannister on Game of Thrones, we seem to be watching a real version in real time, though with dragons that are more metaphoric."
Ia memberi kritik pada sebagian pemimpin bisnis Amerika yang masih saja kekeuh memikirkan keuangan, aset, prestasi, dan posisi sebagai hal yang perlu diselamatkan, di tengah pandemi global. Tapi, secara logis, bukankah hal demikian wajar?

Tidak ada pilihan yang salah, yang ada hanya pilihan atau keputusan dengan konsekuensi.

Mempelajari Zen, membawa renungan batin saya pada kata reason for being, sebuah perjalanan berjumpa dengan diri seutuhnya. Tentunya Zen bukan sekadar tentang alasan hidup, namun jauh lebih luas, tentang pencarian jati diri, kesederhanaan, cara menjalani hidup, proses penyadaran, dan kadang tak terdefinisikan. Darinya, saya mencatat 5 prinsip Zen yang dapat membantu pemimpin bisnis menghadapi krisis:

1. Let Go Fear, Starting Clear
COVID-19 sedang menjadi obyek ketakutan manusia sejagad, tak terkecuali para pemimpin bisnis yang sedang berat-beratnya menghadapi kekhawatiran. Belum lagi ketakutan penurunan produktivitas, turunnya minat beli pasar, turunnya performa perusahaan. Tak jarang yang curhat pada saya sampai sulit tidur memikirkan bisnis esok. Kekhawatiran tak akan menambah sehasta hidup kita, justru memperburuk keadaan. Tak perlu reaktif, apalagi impulsif. Cukup jadilah responsif. Tenang dan membebaskan diri dari ketakutan adalah langkah terbaik saat ini. Kita tidak merasa damai saat ini karena masih terikat dengan ketakutan. Ketakutan telah mengambil alih pikiran sehat kita. Duduk sejenak, pejam mata sambil menikmati nafas dapat menjadi solusi terbaik untuk merasakan kedamaian pikiran. Hanya dengan pikiran yang jernih, damai, dan tenang, keputusan logis dan matang dapat dihasilkan, saya menyebutnya MINDFUL LEADER. Pemimpin yang tidak terbelenggu masa lalu, tidak terjerat ketakutan masa depan, namun fokus melakukan yang terbaik saat ini.

2. Trust & Simple Control Mechanism
Kepercayaan kini menjadi isu utama terkait WFH. Sekarang saatnya belajar untuk percaya dan dapat dipercaya. Kendali tindakan tidak lagi efektif bagi konsep WFH. Sistem kendali paling efektif saat ini adalah kendali hasil atau target. Tak mungkin atasan mengawasi 8 jam mereka yang WFH. Seperti konsep Zen, Anda dapat mengembangkan sistem kendali target SEDERHANA secara online.  Misalnya, dengan meminta staf membuat target pekerjaan harian serta daftar penyelesaiannya per hari yang disertai dokumen atau screenshot hasil pekerjaan. Anda juga dapat berkoordinasi dengan aplikasi online meeting. Lakukan cara-cara termudah dan sederhana. Jangan pernah membuat sistem kendali yang berlebihan dalam masa krisis ini, atau Anda akan kehilangan kepercayaan dari tim Anda.

3. Lean on The Go
Pandemi ini terus menggoncang aspek ekonomi, baik makro maupun mikro, khususnya pengusaha yang mengimpor barang dan bergantung pada kurs asing. Menjaga profit dengan meningkatkan pendapatan saat ini bukan impian yang bagus, kecuali Anda produsen masker dan alat-obat kesehatan atau penghasil aplikasi online meeting. Cara alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan efisiensi usaha atau perampingan aktivitas. Bersikaplah HEMAT seperti mengurangi menggunakan fasilitas kantor berlebihan, menghentikan proses rekrutmen sementara, mengatur kembali jadwal pengadaan dan produksi, atau menunda perluasan bisnis sambil memantau perkembangan keadaan. Beberapa minggu ke depan Anda mungkin akan menanggung biaya-biaya dadakan yang tidak pernah dipredikasi sebelumnya. Hematlah segalanya mulai sekarang agar cashflow Anda tetap relatif baik.

4. Let Go Ego
Selanjutnya, pemimpin dalam masa krisis ini harus menyadari bahwa segala hal yang diupayakan harus mengutamakan aspek keamanan, kehidupan, dan kemanusiaan. Bukan ego yang utama. Sangat dimungkinkan pos-pos biaya baru muncul seperti penyemprotan disinfektan untuk kantor, pengadaan masker, sabun, dan hand sanitizer tapi sekali lagi bahwa ini adalah tindakan kemanusiaan yang sifatnya mendesak. Ada yang lebih MULIA dari performa keuangan dan citra diri Anda sebagai pemimpin. Jaga karyawan dan keluarga mereka. Mereka adalah partner Anda selama ini. Mereka adalah tangan-tangan penghasil keuntungan usaha selama ini. Bahkan jika WFH adalah satu-satunya cara terbaik beberapa bulan ini, upayakan. Bukan saat yang tepat bicara untung-rugi keuangan saat ini. Niatkan segalanya dengan baik, yakini saja setiap kebaikan yang Anda tabur dan lakukan tidak akan kembali sia-sia. 

5. Get Ready for The Next Crisis
Wabah COVID-19 hanya sementara. Pada waktunya akan lewat dan selesai. Namun, bukan berarti segalanya akan baik-baik saja selamanya. Krisis dalam rupa yang berbeda akan sangat mungkin terjadi. Kita semua menjadi tersadar, kemampuan adaptasi seorang pemimpin sangat dibutuhkan. Jika saat ini Anda melihat para manajer dan supervisor Anda kelabakan menghadapi krisis, tidak mampu mengambil keputusan yang baik, terjebak pada aspek ego, maka jelas mereka belum memiliki kepemimpinan masa krisis yang baik, atau KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL. Mulai pikirkan masa depan dengan matang tentang investasi dan pembekalan kepemimpinan yang lebih baik khususnya dalam menghadapi krisis.


Semoga sehat dan bahagia!

Selasa, 10 Desember 2019

3 Prinsip Utama Merekrut Anggota Tim

pic; womansday
Dalam satu kesempatan, seorang pemimpin tingkat tengah perusahaan profesional tampak hopeless, curhat tentang bawahannya yang susah diatur. Diberi tugas, tidak diselesaikan, tidak cepat respon dalam komunikasi, tidak ada motivasi bekerja yang baik, bahkan tidak ada rasa hormat dan santun pada pimpinan. Kasus umum yang mungkin sering kita lihat. Nampak sepele, namun melelahkan dan sering makan hati, menguras emosi dan fokus pekerjaan utama. Pemimpin menjadi tak berdaya dan hanya menerima keadaan.

Suatu saat, ini akan menjadi racun yang cepat menyebar dan mematikan performa bisnis. Membiarkan staf dengan cacat motivasi ibarat melubangi kapal sendiri dan menunggu karam bersama.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Saya pikir, memberinya pelatihan-pelatihan softskill temporer bukan solusi efektif.  Penyembuhannya akan memakan waktu, biaya, dan tenaga lebih banyak. Hal demikian kembali pada karakter ketegasan sang pemimpin. 

Tindak kendali preventif sebenarnya menjadi kunci awal pembentukan tim. Saya mencatat 3 prinsip penting bagaimana menentukan anggota tim kerja.

1. Tendang jauh si bunglon
Sungguh menarik menyimak sepak terjang Eric Thohir (mas menteri), memberangus kelompok "mafia" di salah satu BUMN. Dalam sesi wawancara Mata Najwa, tentang bagaimana merekrut Dirut BUMN, ia nampak sepakat dengan tips dari Said Didu (mantan sekretais BUMN). Bang Didu menyatakan, "Siapa yang paling banyak memo-nya atau banyak nelpon-nelponin, itu yang dicoret pertama... karena seorang profesional yang punya integritas, punya etika, tidak akan pernah mau minta memo, dan tidak pernah menitipkan diri ke siapapun, dia akan menitipkan diri pada integritas dan kompetensinya..."

Jauh dari kepentingan politis dan tetap obyektif adalah kunci dalam merekrut anggota tim manajemen. Sering keputusan pemimpin menjadi bias ketika memasuki ranah politik praktis. Ia dikelilingi (EO) oknum-oknum politis yang bergerilya secara all out dan massive. Sungguh tidak wajar dan sangat mungkin memiliki agenda tersembunyi. Mereka bergerak seperti bunglon, bisa hinggap di mana saja, melakukan apa saja, untuk memenuhi kepentingannya.

Pemimpin bijaksana tidak sepenuhnya mengandalkan informasi dari para pembisik yang bermanuver secara tidak wajar. Lihat sendiri jejak rekam prestasi, karya, pertimbangkan berbagai masukan secara berimbang, dan yang lebih utama, percayakan pada hati nurani. 

2. Jangan ambil kucing dalam karung
Pepatah lama yang masih saja relevan. Artinya, jangan pernah merekrut tim secara random. Dalam perusahaan profesional sudah pasti memiliki SOP dalam merekrut karyawan. Hal ini baik. Namun tak bisa dipungkiri kahadiran orang-orang karena faktor x, seperti hubungan pertemanan, darah atau dikenal dengan istilah nepotisme. 

Apakah hal ini salah?

Tentu tidak. Yang menjadi masalah utama adalah ketika kita tidak mempertimbangkan aspek KSA (knowledge, skill, attitude) dari si calon, karena menganggap kekerabatan lebih utama. Mereka yang didatangkan tanpa proses fit and proper test secara holistik terlebih dahulu. Lepas dari aspek kekeluargaan, merekrut orang tanpa keseimbangan KSA yang memadai sangat berisiko. Memang sebuah keberuntungan jika toh ternyata ia adalah orang yang baik. Jika tidak, ini akan menjadi bumerang seperti mengambil kucing dalam karung.

Siapapun yang akan masuk dalam tim Anda, selalu ikuti prosedur tes dan lakukan evaluasi secara adil dan profesional.

3. Jangan pelihara anjing yang menggigit tuannya
Mungkin terdengar kurang sopan. Saya ingin mengajak Anda untuk melihat pesan dibalik pernyataan metaforik ini. Anjing adalah hewan peliharaan yang setia dan mengabdi pada tuannya. Tentunya, tuan yang baik, merawat, dan bertanggung jawab. Dalam ilmu biologi, hubungan demikian disebut simbiosis mutualisme. Hewan mendapat perawatan, kasih sayang, dan pemenuhan kebutuhan hidup. Sedangkan manusia mendapat teman bahkan penjaga rumah yang baik. 

Lalu, bagaimana jika suatu ketika anjing tersebut menjadi buas dan menyerang pemeliharanya? Selamanya, Anda akan hidup dalam ketakutan jika sewaktu-waktu ia menggigit Anda. Anda tidak lagi memelihara, tapi Anda yang akan dikendalikannya. 

Intinya, jangan pernah pekerjakan orang yang tak dapat Anda kendalikan, egois, terlalu keras kepala dan semau gue. Anda akan tampak "bodoh", tak tahu harus melakukan treatment apa. Membiarkannya sama dengan memberi kesempatan switching power. Anda yang akan dikendalikan olehnya.  Kepemimpinan Anda tak lagi memiliki kuasa. Bangun karakter pemimpin yang kuat dan sistem penilaian kinerja yang mendukung Anda, tanpa harmoni keduanya, keterkendalian tak akan pernah eksis. 


Semoga bermanfaat!

Rabu, 06 November 2019

5 Cara Keluar dari Belenggu Multitasking

pic: shutterstock
Setelah posting artikel sebelumnya (Waspada! Multitasking Picu Kerusakan Otak), saya mendapat beberapa pertanyaan serupa, "Jika tak boleh multitasking, lalu bagaimana mungkin kita bisa menyelesaikan target-target pekerjaan?"

Ada yang perlu kita luruskan. Saya tidak merekomendasikan Anda tidak bekerja secara produktif. Seperti diungkap pakar neuroscience, Earl Miller bahwa otak kita tidak tertata (set) untuk bekerja multitasking. Saat seseorang berpikir dirinya sedang multitasking, sesungguhnya ia hanya sedang meningkatkan intensitas switch dari satu pikiran ke pikiran lain dan Setiap intensitas peralihan ini meningkatkan cognitive cost atau risiko kerusakaan sel otak. Sebaliknya, menghindari multitasking selain kita menjadi makin produktif, fokus dalam bekerja, juga menjaga kesehatan otak. 

Bagaimana mungkin?
Ingat perumpamaan, bagaimana mungkin seorang pemburu dapat mengejar dua rusa dalam waktu yang sama. Mengejar keduanya berarti kehilangan keduanya. Demikianlah dampak buruk multitasking. Kita tidak akan pernah mencapai performa prima saat memecah pikiran ke dalam lebih dari satu obyek konsentrasi.

Lalu, bagaimana menghindari multitasking?
Saya akan membagikan lima cara untuk membiasakan hidup anti-multitasking:
  1. Mulai dengan hening, jika Anda memulai hari kerja Anda dengan pikiran yang penuh, urusan keluarga, utang KPR, uang sekolah anak, cekcok dengan mertua, coba lakukan proses hening. Tutup mata dan mulailah bernafas perlahan. Rasakan oksigen yang Anda hirup hingga masuk ke dalam kepala, hembuskan melalui mulut. Rasakan beban pikiran Anda keluar bersamaan udara yang keluar. Bawa pikiran Anda pada momen saat ini. Lepaskan segala kekhawatiran masa depan dan problema masa lalu. Ulangi hingga Anda merasa rileks.
  2. Komitmen untuk tidak multitasking, niatkan diri Anda untuk menghindari multitasking. Di dalam kantor yang berisik, apalagi penuh aktivitas gibah, cari tempat yang tenang untuk bekerja lebih fokus. Anda juga dapat menutup telinga dengan earphone mendengar instrumen meditasi. Jika Anda pemimpin, titipkan pesan pada asisten untuk tidak diganggu untuk beberapa waktu hingga Anda berhenti (sejenak) menyelesaikan pekerjaan. Sementara, say no pada hal-hal yang bukan prioritas. Tanpa komitmen diri, keluar dari kebiasaan multitasking hanyalah wacana forever.
  3. Heningkan notifikasi dan panggilan gadget, distraksi utama era teknologi datang dari gadget. Sementara, pada saat bekerja heningkan gadget Anda. Simpan pada tempat yang tidak mudah Anda jangkau (misalnya di dalam tas). Tentukan jadwal kapan Anda berhenti bekerja senenak untuk memeriksa pesan-pesan chat atau email.
  4. Buat to-do list, setiap pagi, tentukan to-do list hari ini. Tentukan mana yang penting dan mendesak dan mana yang tidak penting dan tidak mendesak. Dahulukan yang utama dan berusahalah disiplin dengan jadwal Anda. Teknik sederhana ini akan membantu Anda menyelesaikan segalanya satu per satu.
  5. Istirahat, jika Anda mendapat banyak pekerjaan, pastikan Anda mengistirahatkan otak/ pikiran sejenak sebelum melakukan proses switch konsentrasi pada obyek lain. Cukup 2 hingga 3 menit. Anda dapat berjalan keluar ruang menghidup udara, melemaskan otot tubuh, atau melakukan proses hening.

Semoga bermanfaat!

Minggu, 03 November 2019

Waspada! Multitasking Picu Kerusakan Otak

pic: seguros.elcorteingles
Multitasking, sebuah keahlian baru yang diburu oleh pemberi kerja masa kini. Seolah, mereka yang mampu bekerja demikian memiliki keunggulan bersaing lebih baik. Benarkah?

Bayangkan, Anda bekerja dengan komputer. Pada saat yang sama Anda terus membuka banyak aplikasi. Apa yang terjadi? Jelas, kinerja komputer Anda akan makin lemot, bahkan hang. Beberapa file yang Anda buka berisiko rusak atau hilang. Demikian pula sesungguhnya yang sedang terjadi pada diri kita saat kita melakukan multitasking.

Memang ada manusia yang memiliki kecenderungan mampu multitasking. Peneliti Stanford membuktikan bahwa mereka yang merasa dirinya mampu melakukan banyak tugas dalam satu waktu ternyata hasil pekerjaannya tidak sebaik mereka yang melakukannya secara fokus. Otak memerlukan jeda waktu untuk melakukan switch, atau peralihan dari satu fokus ke fokus yang lain. Memaksa diri untuk multitasking berarti pula memaksa dengan keras kinerja otak Anda. Psychology Today melansir beberapa temuan terkini tentang dampak buruk multitasking:
  1. Memicu kerusakan otak pada jangka panjang, khususnya terkait fungsi kognitif dan pengaturan semangat juang serta emosi.
  2. Menyebabkan gangguan memori (ingatan), multitasking berdampak pada penurunan daya ingat jangka panjang.
  3. Meningkatkan risiko gangguan penentuan prioritas, peneliti menemukan bahwa mereka yang terbiasa multitasking cenderung menjadi sulit dalam menentukan prioritas.
  4. Meningkatkan risiko kecelakaan, dalam sebuah riset pada 1400 pejalan kaki korban tabrakan di NY ditemukan bahwa 20% dari mereka adalah remaja yang sedang sibuk dengan gadget-nya.
  5. Menurunkan performa, ditemukan bahwa siswa yang melakukan multitasking saat mengerjakan tugas sekolah mendapatkan nilai rata-rata lebih buruk.
  6. Merusak hubungan, terutama gadget, telah membuat sebuah hubungan tidak lagi intim, personal akibat distraksi yang besar dari notifikasi dan telepon masuk. Dalam bisnis, hal ini berdampak besar pada kepuasan konsumen.
  7. Memicu stress kronis dan depresi, derasnya arus informasi berakibat pada kondisi overload, meningkatkan kekhawatiran, kegelisahan, dan hilangnya konsentrasi penuh.
  8. Mengurangi produktivitas kerja, terutama terkait dengan kualitas pekerjaan, bukan hanya penyelesaian pekerjaan.
Jadi, masihkah Anda ingin mengasah keahlian multitasking? Mungkin saja, saat muda semuanya tak terlalu terasa karena sekali lagi dampak dari kebiasaan ini bersifat jangka panjang, saat kita menua risko gangguan otak akan lebih besar. Mulailah merawat diri dan berkarya secara berimbang. Ketika target pekerjaan mulai mengeksploitasi Anda, setidaknya berhentilah Anda mengeksploitasi diri sendiri.


Semoga bermanfaat!

Jumat, 25 Oktober 2019

Mengenal Meditasi, Hidup Berkesadaran

pic: gettyimages
Tak jarang orang bertanya kepada saya, "Pak, meditasi itu apa? Lalu kita berdoa kepada siapa?"
Dalam kamus, meditasi diartikan sebagai kemampuan berpikir mendalam atau fokus pada satu hal dalam satu waktu. Jadi meditasi adalah metoda atau cara, bukan sebuah keyakinan atau agama. Meditasi bersifat netral. Kepada apa dan siapa kita memusatkan pikiran, itu tergantung niat yang melakukannya. Mungkin saja karena istilah ini lebih sering dipakai oleh umat agama tertentu, namun bukan berarti bahwa meditasi adalah urusan reliji. Meditasi adalah konsep universal.

Lalu, apakah berarti juga kita mengosongkan pikiran?
Meditasi bukan mengosongkan pikiran, namun lebih tepatnya menarik pikiran-pikiran dari jerat masa lalu dan obsesi masa depan kembali pada titik saat ini. Menyadari dan menerima apa yang ada saat ini tentang kejadian yang dapat ditangkap oleh indera dan rasa. 

Dalam bahasa lebih umum, meditasi adalah cara hidup berkesadaran (mindful), yang dalam bahasa Jawa disebut Eling Lan Waspada. Konsep meditasi telah lahir sejak zaman kuno sebagai budaya Timur. Hidup berkesadaran demikian ditujukan agar pikiran kita lebih damai, hening, sabar, konsentrasi, serta fokus dalam bekerja, dan hidup. Cara hidup yang menghindarkan diri dari disraksi pikiran, ambisi berlebihan, termasuk kekhawatiran yang berlebihan. 

Jadi, tidak perlukah kita memiliki ambisi capaian masa depan?
Ini juga tidak sepenuhnya benar. Kita wajib memiliki visi dan tujuan hidup. Tujuan jelas akan menggerakkan kita untuk terus maju, tumbuhkembang. Hidup berkesadaran berarti kita tidak melekati ambisi yang kita bangun. Kita perlu menjalaninya, berusaha mencapainya, namun juga selalu siap dan waspada akan apapun hasilnya.

Bagaimana cara melatih meditasi?
Meditasi dilakukan dengan cara berkonsentrasi pada satu hal. Latihan memperhatikan nafas adalah teknik yang paling dasar, mudah, dan tak berbiaya. Anda dapat memulainya dengan memperhatikan nafas yang masuk dan nafas yang keluar bergantian. Perhatikan dengan saksama serta tetap berusaha kembali konsentrasi saat pikiran mulai melayang. Demikian seterusnya.

Perlukan bersila dengan posisi tangan di lutut?
Yah, sekali lagi ini adalah teknik, yang bisa dikembangkan menurut tradisi dan keyakinan komunitas tertentu. Namun esensi meditasi bukan karena duduk bersila dan memperhatian nafas. Pada tahap selanjutnya, berkesadaran perlu dilatih dalam aktivitas lain, seperti saat berjalan, mengendarai kendaraan, atau makan. Konsentrasi, perhatikan, sadari apa yang terjadi dalam diri Anda serta lingkungan sekitar. Sebagai contoh, saat makan, cukup perhatikan dan nikmati hidangan Anda. Tak perlu sambil buka gadget, nonton TV, atau mendengar musik. Ciptakan momen hanya ada Anda dan makanan. Sadari dan nikmati gerakan tangan Anda terangkat memegang sendok, perhatikan suara tabrakan sendok dengan piring, rasakan mulut Anda terbuka, makanan masuk, dan gigi Anda mengunyah merasakan berbagai sensasi rasa, dan seterusnya. Sebuah momen here and now yang akan menjaga kesehatan organ pencernaan dan pikiran Anda. 

Bahkan di dalam pekerjaan Anda dapat membiasakan hidup meditatif dalam menghadapi tantangan, tekanan, membangun relasi, rapat, hingga keputusan bisnis. Anda akan lebih waspada, peka, bijaksana dalam berucap dan bertindak.

Berapa lama hasilnya?
Melatih diri hidup meditatif membutuhkan ketekunan dan intensitas. Tanpa membiasakan dan mendisiplikan diri, jelas tidak akan pernah ada perubahan dalam diri kita. Pada titik tertentu, cara hidup berkesadaran demikian secara otomatis akan menjadi kebiasaan dan gaya hidup kita.

Apa dampaknya?
Perusahaan sekelas Garuda Food, bahkan kampus sekelas Stanford atau perusahaan mega Google telah mengembangkan program-program human capital terkait. Mereka meyakini dan membuktikan bahwa sense of purpose, hubungan baik antarkaryawan, inovasi, hingga produktivitas terus meningkat.

Semoga bermanfaat!

Rabu, 23 Oktober 2019

Pesan Jokowi Tentang Sense of Purpose dan Mindfulness

pic: koran-jakarta

Sungguh menarik melihat strategi dan manuver Joko Widodo, presiden terpilih. Jika tahun lalu netizen heboh dengan terpilihnya ibu Susi Pudjiastuti, kali ini kembali netizen ramai dengan nama Nadiem, Terawan, dan Prabowo. Seluruh lapisan masyarakat menunggu, apa gebrakan nyata Indonesia Maju.

Ada yang paling menarik perhatian saya saat membaca 7 pesan Pak dhe Jokowi kepada kabinetnya, perhatikan pesan nomor 4 "JANGAN TERJEBAK RUTINITAS KERJA YANG MONOTON". Saya melihatnya sebagai pesan "to be mindful". Mungkin beliau berpikir, belum optimalnya pekerjaan kabinet sebelumnya karena mereka masih terjebak pada rutinitas, pokoknya kerja kerja kerja. Pesan Jokowi seolah mengingatkan kita semua, bukan hanya kepada para menteri. Dalam bekerja, beraktivitas jangan biarkan semuanya menjadi tugas yang berulang dan monoton. 

Sejenak pikirkan, bagaimana relasi Anda dengan pekerjaan Anda saat ini. Bagaimana Anda memandang pekerjaan yang sedang Anda jalani, sekadar sebagai tanggungjawab rutin, atau lebih dari itu? Mengapa kemudian kita merasa jenuh dengan pekerjaan pilihan kita sendiri? Itu semua karena kita bekerja secara monoton. Menganggap pekerjaan hanya sebatas ritual, akan menghilangkan makna yang esensial, yaitu alasan bekerja. Hal yang sama dapat terjadi pada kehidupan di luar pekerjaan seperti membina rumah tangga. Jika Anda menjalaninya sebatas rutinitas, tanpa menyadari tujuan dan makna, Anda akan segera bosan. Anda akan kehilangaan sesuatu yang di dalam konsep Ikigai disebut Reason for Being.

Saya mewancarai secara acak peserta pelatihan di berbagai perusahaan. Tidak banyak yang mampu menjelaskan dengan baik, apa tujuan menjalani pekerjaan saat ini? Sebagian besar berpikir hanya untuk insentif. Insentif yang nanti membawanya membeli rumah, mobil, atau jalan-jalan ke luar negeri. Sesungguhnya, tidak ada yang salah dengan keinginan ini. Namun pemikiran sempit demikian berpotensi menghilangkan makna pekerjaan itu sendiri. Kita menjadi terlalu transaksional, bahkan tidak peduli satu sama lain.
Purpose (SDT's Deci & Ryan)

Dalam Self Determination Theory, tersebutlah PURPOSE atau tujuan sebagai salah satu motivator penting dalam kehidupan seseorang. Ketika ia kehilangan tujuan, ia akan terjebak dalam rutinitas tak berarti. Membangun sense of purpose diawali dari proses kesadaran diri (mindfulness), untuk apa aku bekerja? Apa yang sebenarnya sedang saya jalani? Apa manfaat gambaran kerja yang sedang saya lakukan, bagi diri, sekaligus orang lain? Selain berkesadaran tentang tujuan, menjadikan pekerjaan bermakna juga dapat ditunjang oleh hubungan atau relasi di tempat kerja yang baik, saling membangun, komunikasi, dan kepeduian satu sama lain.

Saat ini, berhentilah sejenak, renungkan kembali, apa alasan Anda bekerja, apa kontribusi pekerjaan Anda bagi orang lain? Jika Anda menyadarinya, melalui pekerjaan Anda, setiap detik adalah kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang-orang terdekat.


Salam bahagia!